Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Berkumpul Bersama


__ADS_3

"Mr Owl ... Mr Thomas datang untuk menemuimu."


Kebetulan, sore hari setelah Adam mandi dan barpakaian lebih santai, Thomas datang menuju ke markas Departemen Misteri cabang Kota B. Kelihatannya dia telah berhasil mengumpulkan para pemain yang terlibat. Jika tidak, seharusnya dia tidak terburu-buru untuk menemui Adam.


Keluar dari kamar, Adam mengikuti James turun ke lantai pertama. Keduanya berpisah di ruang keluarga. Adam langsung saja menuju ruang santai untuk menemui Thomas.


Sampai di sana, Adam melihat sosok Thomas yang duduk sambil menikmati teh. Meski masalahnya belum selesai, pria itu tampaknya terlihat lebih lega daripada sebelumnya. Kemungkinan besar karena dia tidak khawatir Owl akan 'melarikan diri' dan meninggalkan keluarganya pada saat genting. Belum lagi mengingat kekuatan Owl, Thomas menjadi lebih percaya diri. Jika awalnya dirinya berpikir kemungkinan selamat hanya 10%, maka sekarang ...


Kemungkinan selamat paling tidak 50%!


Apakah 50% itu banyak? Ya ... itu tidak banyak, tetapi juga tidak sedikit. Berada di pertengahan, itu berarti satu dari dua kartu adalah hidup. Berbeda dari sebelumnya, di mana dari sepuluh kartu hanya ada satu yang melambangkan kehidupan.


"Maaf membuatmu menunggu lama, Mr Thomas."


Sejak dirinya telah menjadi 'penjaga' keluarga Thomas sekaligus harapan mereka, Adam tidak lagi memanggil pria itu dengan sebutan formal karena tidak perlu. Dia tidak perlu lagi membujuk mereka. Bahkan, situasinya sekarang berbalik karena mereka sangat memerlukan dirinya.


"Sama sekali tidak."


Thomas meletakkan cangkir teh ke atas meja sebelum berdiri dan bersalaman dengan Adam. Pria itu melihat penampilan sosok di depannya. pemuda bertopeng putih dengan kemeja lengan pendek berwarna hitam. Masih mengenakan sarung tangan kulit, dan kaos kaki hitam meski berada di dalam rumah. Melihat tubuh yang tampak ramping tetapi kuat, ditambah dengan kulit putih yang tidak kalah dari kulit terawat seorang gadis ... Thomas merasa cukup iri.


"Silahkan duduk," ucap Adam setelah dia duduk di sofa.


Melihat Thomas yang kembali duduk, pemuda itu kemudian melanjutkan.


"Kevin baik-baik saja, kan?" tanya Adam.


"Ya." Thomas mengangguk. "Di antara kami bertiga, mungkin anak itu yang paling aktif dan tidak merasa terganggu dengan kasus ini. Padahal, dia sendiri juga tahu bahwa nyawanya dalam bahaya. Namun Kevin bersikeras kalau semuanya akan baik-baik saja karena anda akan melindunginya."


"..."


Mendengar itu, Adam tidak langsung menjawab. Pemuda itu malah tersenyum di balik topengnya. Meski agak berlebihan, sepertinya Kevin benar-benar menganggapnya seperti seorang pahlawan dalam kehidupan nyata. Tentu saja, dia juga tahu bahwa Thomas juga sengaja menyanjung dirinya agar senang dan benar-benar melindungi Kevin dengan segenap tenaga.


Sebenarnya, tanpa disuruh pun Adam berniat untuk melindungi Kevin dengan segenap tenaga. Alasannya sebenarnya cukup sederhana. Dia terlibat dalam permainan tebak-tebakan ini karena Kevin. Jika sampai bocah itu 'tertangkap' terlebih dahulu, Adam tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya. Untuk mencegah segala kemungkinan yang membuatnya dalam bahaya fatal jika ceroboh, pemuda itu benar-benar berniat melindungi dirinya dan Kevin dengan seluruh kemampuannya.


"Bagaimana dengan teman-teman Kevin dan 'wali' mereka?" tanya Adam.


"Itu ... sebenarnya ada sedikit masalah, Mr Owl."


"Oh?" Adam mengangkat sudut alisnya. "Ada apa? Apakah ada yang tidak setuju?"

__ADS_1


"Bukan begitu ..."


"Lalu?" tanya Adam.


"Kami bingung harus bertemu di mana. Haruskah saya membawa mereka ke markas Departemen Misteri?"


"Jangan." Adam menggeleng ringan.


Pemuda itu merasa cukup lega. Dia tidak menyangka bahwa semua orang akan setuju. Alasan mereka setuju kemungkinan karena mereka tertekan dan bingung mencari solusi. Jadi, bahkan jika itu kemungkinan kecil ... mereka akan memilih mencobanya.


"Lalu ... di mana kita harus berrtemu, Mr Owl? Apakah anda memiliki saran?"


"Tentu saja," ucap Adam dengan nada tak acuh.


"Di mana?"


"Rumah kosong tempat anak-anak pertama kali bertemu dengan 'Dia' dan dijebak."


"Maksud anda ..."


"Ya." Adam menyeringai di balik topengnya. "Daripada kita menunggu 'Dia' datang untuk bermain, lebih baik kita pergi menghampirinya, kan?"


"Bukankah itu agak terlalu ceroboh?" tanya Thomas dengan ekspresi khawatir.


"..."


Melihat Thomas hanya diam, Adam menjelaskan.


"Jika bukan karena Kevin yang menjelaskannya kemarin, aku tidak akan tahu di mana lokasinya. Meski tidak tahu apa yang dilawan dan seberapa kuat 'Dia', paling tidak ... kita tidak bisa hanya diam dan menunggu kematian."


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Thomas.


"Telepon mereka. Undang mereka untuk datang ke lokasi pada hari permainan, tentu saja ... pastikan mereka datang sebelum matahari terbenam."


Mendengar ucapan serius Adam, Thomas mengangguk.


"Dimengerti."


Melihat ke arah Thomas yang mulai sibuk menelepon, Adam melakukan peregangan. Merasa lebih rileks, pemuda itu berkata dalam benaknya.

__ADS_1


Mari kita segera akhiri permainan yang menyebalkan ini.


***


Sore, tiga hari kemudian.


Di daerah pinggiran Kota B, terlihat sebuah rumah tua dua lantai yang terbuat dari kayu. Melihat rumah yang begitu tua, berjamur, dan kelihatannya bisa roboh kapan saja membuat Adam mengedipkan matanya.


Aku tahu lokasinya berada di daerah pinggiran Kota B. Hanya saja ... bagaimana bisa anak-anak itu sampai ke tempat ini dari area tengah kota?


Berpikir dari sudut mana saja, Adam sama sekali tidak mengerti. Melihat halaman depan dan belakang rumah yang ditumbuhi ilalang tinggi membuatnya menggeleng ringan. Pagar kayu yang berperan sebagai pembatas hak tanah juga tampak reyot. Bahkan tanpa keberadaan 'Dia', sudah sangat jelas kalau tempat ini berbahaya. Baik itu rumah yang bisa roboh kapan saja, ilalang yang mungkin dipenuhi serangga beracun atau ular, dan beberapa hal lainnya yang bisa membahayakan keselamatan. Khususnya keselamatan anak-anak.


"Apakah orang-orang itu belum tiba?" tanya Adam dengan senyum di balik topengnya.


Kali ini, Adam datang bersama dengan Thomas dan Kevin. Linda sebenarnya juga ingin ikut, tetapi Adam menolak dengan tegas karena wanita itu kemungkinan hanya akan menjadi beban. Belum lagi, Linda memang tidak ada hubungannya.


Sedangkan Thomas? Adam sebenarnya ingin membuat pria itu menunggu di rumah karena tidak termasuk dalam kategori 'pemain'. Namun pria itu terus memohon agar bisa pergi untuk melindungi putranya. Ya ... Adam hanya bisa berharap bahwa Thomas tidak malah menjadi beban baginya. Lagipula, ini bukan hanya permainan anak-anak biasa, tetapi permainan yang mempertaruhkan nyawa.


"Belum." Thomas menggeleng ringan.


"Apakah kita datang terlalu awal?" tanya Adam.


"Tidak. Kita datang tepat waktu."


"Lalu ... kenapa mereka belum tiba? Mereka tidak akan cukup bodoh untuk mencoba melarikan diri, kan?"


"Seharusnya tidak," ucap Thomas sambil menggeleng ringan. "Paling-paling, mereka sekarang ragu. Namun mereka pasti akan datang sebelum matahari tenggelam."


"Apakah kamu yakin?" tanya Adam main-main.


"Mereka mungkin sombong, bahkan cukup bodoh. Namun mereka tidak akan melanggar janji karena mereka memiliki harga diri yang besar."


"Katakan saja mereka tidak ingin dicap sebagaip pembohong yang terus bersembunyi dalam topeng kemunafikan." Adam berkata dengan nada santai.


"..."


Thomas tidak langsung menjawab, tetapi dia jelas setuju dengan apa yang diucapkan oleh Adam.


Setelah menunggu beberapa waktu sampai matahari hampir tenggelam, suara mobil terdengar dari kejauhan. Melihat beberapa mobil yang akhirnya datang, Adam mengangkat sudut bibirnya. Melihat langit jingga, nyaris merah ... dia berkata dengan nada dingin.

__ADS_1


"Karena semuanya telah tiba, mari bersiap untuk memulai gamenya."


>> Bersambung.


__ADS_2