Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Keputusan Adam


__ADS_3

"Tiga hari."


Adam tiba-tiba berkata dengan nada cukup serius. Hal itu membuat James sedikit terkejut. Namun mendengar bahwa pemuda bertopeng merah itu tidak langsung menolak, dia merasa agak lega.


Paling tidak usulannya masih dipertimbangkan. Meski bukan hal yang membahagiakanmu, itu juga bukan kabar buruk.


"Ngomong-ngomong ... apa yang dimaksud dengan rank ini?" tanya Adam.


"Sebenarnya tidak harus menjawabnya, tetapi karena anda kemungkinan masih akan menjadi rekan ... saya akan menjelaskannya.


Rank itu sendiri sebenarnya dianggap tingkat bahaya. Kami membuatnya menjadi beberapa tingkatan.


AA, A, B, dan C. Yang pertama adalah yang kuat, terakhir yang lebih lemah.


Kekuatan dari rank C bisa dianggap biasa-biasa saja dan cukup mudah ditangani oleh para prajurit profesional.


Rank B, masih bisa diselesaikan dengan senjata api. Tentu saja, itu masih sangat merepotkan karena mereka pasti memiliki cara-cara tertentu untuk menanganinya.


Rank A sendiri adalah beberapa sosok yang sulit ditaklukkan dengan senjata. Mereka seperti senjata hidup. Kemungkinan besar hanya bisa ditundukkan dengan senjata berat seperti bazoka, tank, dan semacamnya.


Hanya saja ... menggunakan senjata semacam itu di kota hampir tidak mungkin."


Mendengarkan itu, Adam mengangguk.


"Bagaimana dengan rank AA? Juga ... apakah masih ada rank khusus? Seperti rank S misalnya?"


"Tidak." James menggeleng ringan. "Saya tidak tahu. Namun, yang pernah saya dengar adalah rank AA, makhluk yang bahkan sulit untuk dibunuh bahkan setelah dikelilingi oleh tank.


Ya ... Meski itu hanya dianggap mitos karena belum benar-benar terbukti."


Bahkan bisa menahan serangan meriam?


Memikirkan itu membuat Adam agak takut. Hanya saja, pemuda itu sendiri tidak tahu bahwa makhluk yang berada di rank AA bukanlah manusia. Lebih tepatnya, belum ada manusia yang mencapai rank tersebut.


Batas manusia dalam tingkat bahaya adalah rank A+. Itu adalah para Kultivator yang telah berada di level Spiritualist Master cukup lama. Sangat mengancam secara pertempuran langsung atau tidak langsung.


Alasan kenapa Adam ditempatkan di level itu jelas karena kecepatannya dan skill yang bisa membuatnya menghilang. Meski tidak terlalu kuat dibandingkan dengan beberapa monster tua dalam beberapa sekte atau kelompok lain, kemampuan itu sudah sangat berbahaya.


Tentu, itu karena Adam belum mengeluarkan beberapa kartu truf miliknya.


"Terima kasih atas penjelasannya," ucap Adam dengan tulus.


"Sama-sama." James mengangguk.


Adam merasa berterima kasih karena dia akhirnya mengetahui tolok ukur kekuatan. Pemuda itu langsung bertekad untuk segera menaikkan tingkatnya, paling tidak sampai ke tingkat Golden Spirit.


Adam yakin, di tingkat itu ... paling tidak dia akan bisa menyaingi para ahli atau makhluk top di dunia ini. Meski bukan keberadaan puncak, tetap berada di bagian atas rantai makanan.


"Kalau begitu ... sampai jumpa tiga hari lagi."


"Di mana kita akan bertemu, Mr Owl?"


"Karena aku akan mengecek kondisi Clara dan Lei Fan di sini, kita bertemu di tempat ini."


Mendengar ucapan Adam, James mengangguk.


"Baik."


Setelah bertukar salam, Adam kemudian pergi. Menghilang dalam kegelapan malam.

__ADS_1


...***...


Beberapa jam kemudian, apartemen Adam.


Pada saat Adam kembali, itu sudah larut malam. Namun dia cukup terkejut melihat sosok Jennifer yang duduk di sofa ruang keluarga sambil menunggu dirinya.


"Aku pulang."


Mendengar ucapan Adam, Jennifer langsung menoleh. Ekspresi di wajah wanita itu sama sekali tidak terlihat baik.


"Apakah ada yang salah denganmu, Jennifer?" tanya Adam.


"Jangan berpura-pura tidak bersalah. Ini adalah kesalahanmu," ucap Jennifer sebelum mendengus dingin.


"Maksudmu?" Adam memiringkan kepalanya.


Jennifer langsung menghampiri Adam, memeluk lalu menggigit leher pemuda tampan itu. Dia kemudian berbisik dengan nada dingin.


"Aku sudah mendapatkan informasi yang jelas. Kejadian dua hari yang lalu ... kamu adalah pelakunya."


Melihat ekspresi tertekan di wajah Jennifer, Adam menghela napas panjang. Dia kemudian menggeleng ringan.


"Maaf. Aku benar-benar membuatmu repot sekaligus khawatir."


"Jadi itu benar-benar perbuatanmu?" Jennifer tercengang.


Wanita itu terus berusaha tidak percaya bahwa pembunuhnya adalah kekasihnya sendiri. Namun ketika fakta di depan mata, dia tidak bisa mengelak. Jennifer tampak agak kecewa dan menyesal.


"Maaf, aku tidak berniat menyembunyikan dari kalian. Aku hanya—"


"Cukup! Aku tahu yang kamu maksud. Dibandingkan kecewa karena kamu adalah pembunuhnya, aku lebih kecewa karena hal lain.


"Aku tidak ingin kalian takut, apalagi khawatir karena aku."


"Kamu hanya tidak mempercayai kami!" ucap Jennifer dingin.


"Maaf."


Adam sama sekali tidak merasakan sakit karena digigit oleh Jennifer, tetapi merasa menyesal karena membuat wanita itu kecewa. Bella sendiri pasti juga sudah menebak, tetapi memilih untuk diam.


Hal itu benar-benar membuat Adam merasa menyesal dan tidak nyaman.


Bersandar kepada Adam, Jennifer terus menggerutu.


"Kamu bodoh. Seharusnya kamu lebih mempercayai aku dan Bella. Kamu selalu saja menyembunyikan semuanya dan menanggungnya sendiri.


Lalu apa gunanya kami berada di sisimu? Beban? Pemuas? Apakah kamu berpikir seperti itu?"


"Aku tidak berpikir seperti itu. Maaf."


"Lain kali jangan menyimpan semuanya sendiri. Ada aku dan Bella, okay?"


"Okay ..."


Setelah berbicara singkat, Adam menggendong Jennifer layaknya seorang putri. Mereka berdua kemudian duduk di sofa bersama.


Karena sudah menghabiskan sore bersama dengan Bella, Adam juga tidak lupa menghabiskan waktunya bersama dengan Jennifer.


"Rasanya seperti drama ..." Jennifer tiba-tiba berkata.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Adam.


"Polisi wanita dan seorang buronan? Bukankah kisah cinta seperti itu mirip yang ada di drama?"


Mendengar itu, Adam tiba-tiba tersenyum.


"Siapa bilang aku adalah buronan?"


"Lalu?" Jennifer berkedip, tampak agak bingung.


"Aku adalah agen khusus. Apa yang aku lakukan sama sekali tidak melanggar hukum." Adam berkata santai.


"Teruslah membual." Jennifer mendengus dingin.


Sementara itu, Adam hanya terkekeh. Melihat Jennifer dan memikirkan Bella, pemuda itu kemudian membuat keputusan.


Aku akan bergabung dengan Departemen Misteri. Aku tidak ingin lagi membuat mereka berdua khawatir!


Meski dirinya awalnya cukup ragu, pemuda itu pada akhirnya membulatkan tekad dalam hatinya.


...***...


Sementara itu, di sebuah ruang yang dan diterangi beberapa lilin dengan cahaya biru redup.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Ketika suaranya terdengar, suara pintu bergeser terdengar.


Sosok wanita cantik, Lady Myra langsung masuk. Setelah menutup pintu, wanita itu langsung maju beberapa langkah sebelum berlutut.


"Ada apa, Myra?"


Myra melihat sosok yang memunggungi dirinya. Menatap punggung kecil di depannya, wanita itu merasa agak takut. Namun masih segera melapor.


"Maafkan saya, Nona. Karena kecerobohannya saya, si bodoh Obi benar-benar terjebak dan terbunuh oleh pihak lawan."


"..."


Sama sekali tidak ada jawaban. Setelah beberapa saat, sosok Nona Kurona itu menghela napas panjang. Pada saat itu juga, Lady Myra bergidik.


Sebuah sayatan tipis muncul di lehernya. Meski kaget dan ingin lari, wanita itu pada akhirnya tetap memilih untuk berlutut dalam diam. Benar-benar mengabaikan luka kecil di lehernya.


"Kita terlalu banyak mengalami kerugian. Pihak atas tidak akan senang dengan semua ini. Jadi ...


Tidak ada kata lain kali."


"Baik, Nona" seru Lady Myra.


"Kamu boleh kembali."


"Sesuai dengan perintah anda, Nona."


Setelah  itu, Lady Myra bangkit lalu keluar dari ruangan tersebut. Setelah menutup pintu, wanita itu memegang lehernya di mana ada luka kecil di sana.


Mengetahui bahwa dia bisa terbunuh kapan saja oleh Nona Kurona, Lady Myra tidak bisa tidak bergidik ngeri.


Terlalu menakutkan!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2