
Malam, tiga hari setelah kejadian itu.
Adam memutuskan untuk kembali ke Kota B sendirian. Dia tidak berniat membawa Bella sama sekali. Pemuda itu hanya ingin melihat apakah ada kejanggalan atau identitasnya sebagai Owl terungkap.
Adam sendiri telah membuat alibi yang pas yaitu untuk mengurus bisnis di luar kota. Karena … itu memang hal yang dia lakukan dalam tiga hari terakhir. Kembali ke apartemen miliknya, pemuda itu terkejut karena tidak ada yang berubah sama sekali.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar, membuat Adam langsung waspada. Dia tidak langsung menjawab dan memilih untuk mengabaikannya. Pada saat itu, suara lemah terdengar.
“Apakah kamu belum kembali, Adam? Apakah kamu benar-benar meninggalkan Kota B begitu saja? Kenapa kamu mematikan ponselmu? Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan.
Aku …”
Pintu apartemen terbuka. Memandang Jennifer yang bergumam dalam diam, Adam menghela napas panjang.
“Menggumamkan hal yang tidak jelas. Bukankah itu malah membuat banyak orang curiga dengan identitasku? Apakah kamu benar-benar sebodoh itu?”
Melihat sosok Adam yang muncul di hadapannya, Jennifer langsung memeluknya. Terisak pelan. Benar-benar terlihat lemah dan pucat dibandingkan biasanya.
“Maaf …” gumam Jennifer.
“Tidak apa-apa.”
“Maaf, karena kecerobohanku …”
“Aku bilang tidak apa-apa.”
Melihat bagaimana Jennifer terus melingkarkan tangan ke lehernya, Adam hanya bisa tersenyum pahit sebelum menutup pintu. Tidak ingin situasi semacam itu dilihat banyak orang.
“Jennifer?” Adam memanggil.
“Jangan tinggalkan aku.”
“Aku hanya melakukan tindakan pencegahan, sama sekali tidak berniat untuk meninggalkanmu.”
“Lalu kenapa kamu tidak mengirim pesan, Bodoh!”
“Bagaimana kalau ternyata aku akan dilacak?”
“Apakah kamu tidak percaya kepadaku, Bodoh!”
“Bisakah kamu berhenti memanggilku seperti itu-”
“Katakan! Apakah kamu tidak percaya kepadaku!”
“Itu hanya pencegahan. Aku-”
“Bilang saja jika kamu tidak bisa mempercayaiku! Tidak bisa mempercayai aku baik sebagai polisi atau sebagai perempuan!”
“Kamu hanya terlalu banyak berpikir, Jenn. Sebaiknya kamu-”
“Aku tidak banyak berpikir! Aku … aku ingin kamu percaya kepadaku! Karena itu … jadikan aku milikmu seutuhnya!”
Melihat ke arah Jennifer yang memandangnya dengan ekspresi penuh tekad, Adam menggeleng ringan.
__ADS_1
“Aku sudah memiliki Bella. Kamu bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik. Sebaiknya-”
“Bella dan Aku tidak peduli itu! Jika kamu menolak! Jangan gunakan kebaikanku sebagai alasan! Bilang saja kamu tidak menyukaiku! Berhenti membuat alasan yang-”
Adam langsung membungkam Jennifer dengan bibirnya. Melihat gadis yang terpana dengan wajah merah seperti apel, dia langsung menggendong Jennifer layaknya seorang putri lalu membawanya ke kamar.
Keesokan paginya.
Membuka mata, Jennifer yang tidur sambil memeluk Adam tiba-tiba tersipu. Merasakan perasaan lemah dan nyeri, wanita itu bergumam.
“Bella benar. Kamu memang binatang buas.”
“Lalu siapa wanita yang mencoba menunggangi dan menaklukkan binatang buas itu semalam?”
Adam yang membuka matanya bergumam sebelum memeluk tubuh Jennifer.
“Dasar penjahat! Ternyata kamu sudah bangun!”
Jennifer menggertakkan gigi sambil memelototi Adam dengan wajah merah seperti apel. Dia kemudian dengan kejam menggigit leher pemuda tampan yang sedang memeluknya itu.
“Hentikan! Kenapa kamu sangat suka menggigit!”
Duduk di atas ranjang, Adam mengelus bekas gigitan di lehernya lalu melihat ke arah Jennifer yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Benar-benar bersembunyi seperti kura-kura.
“Jangan kira aku akan memaafkanmu begitu saja.”
Setelah mengatakan itu, Adam kemudian mengajak Jennifer berolahraga pagi.
Setelah hampir satu jam berolahraga, Jennifer benar-benar tampak kelelahan dan tidak bisa bergerak. Belum sembuh dari rasa lelah semalam, wanita itu merasakan rasa lelah yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Namun … Jennifer juga merasa sangat bahagia.
“Aku merawatmu hari ini,” ucap Adam dengan senyum tulus.
“Kalau begitu perlakukan aku dengan baik!”
Adam kemudian menyuruh Jennifer meminum air dan menelan pil bernutrisi. Meski membantu wanita itu untuk mengembalikan kebugarannya, seperti yang pemuda itu janjikan … hari ini dia merawat Jennifer dengan baik.
Dari mandi, mengganti pakaian, menyuapi ketika makan, bahkan memijatnya dengan lembut.
Sore harinya.
“Aku merasa ingin berhenti jadi polisi dan menghabiskan waktu dengan cara seperti ini.”
Jennifer yang duduk di sofa sambil bersandar pada Adam berkata dengan ekspresi malas.
“Kamu boleh keluar dari kepolisian. Aku masih bisa mendukungmu dan Bella sendirian.”
“Hmph!” Jennifer mendengus dingin. “Kata-kata manis.”
“Aku serius …”
“Aku tidak memiliki bakat bagus dalam urusan rumah tangga. Tidak terlalu lembut juga. Jika aku berhenti dari kepolisian, tidak akan ada yang membantumu untuk mendapatkan beberapa informasi tentang keberadaan makhluk-makhluk aneh.
Selain itu … apa yang harus aku lakukan jika keluar dari kepolisian? Menghangatkan ranjangmu sepanjang hari?”
“Bukankah itu yang kamu inginkan?” Adam terkekeh.
__ADS_1
“Kamu … hmph!” Jennifer mendengus dingin.
“Aku hanya bercanda.”
Adam berkata sambil mengelus kepala wanita itu.
Jennifer memegang pergelangan tangan Adam lalu menariknya.
“Hey … aku tidak menyangka.”
“Apanya?” tanya Adam.
“Kamu terlihat ramping, tetapi memiliki tangan yang besar.”
“Itu normal. Biasanya tangan laki-laki lebih besar daripada tangan perempuan.”
Kedua tangan bergandengan ketika jari-jari mereka mulai terjalin. Melihat itu, Jennifer tersenyum.
“Hmmm … jadi begitu. Entah kenapa, ketika seperti ini … aku merasa aman di dekatmu.”
“Benarkah?” tanya Adam dengan senyum lembut.
“Benar.” Jennifer mengangguk dengan ekspresi serius. Menoleh ke arah Adam, wanita itu tersenyum tulus.
“Karena itu … mulai sekarang, tolong jaga aku, Adam!”
Mengecup kening wanita itu dengan lembut, Adam kemudian menjawab.
“Aku pasti akan menjagamu.”
...***...
Dalam sebuah ruangan yang begitu gelap dengan beberapa lilin dengan nyala api biru aneh sebagai penerangan, sosok wanita duduk sambil merangkai karangan bunga di sebuah vas.
Wanita itu menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan pakaian serba hitam, bahkan memakai cadar yang menutup sebagian wajahnya. Tangannya tampak begitu ramping dengan kulit putih pucat seperti mayat.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk,” ucap wanita itu.
Suaranya terdengar begitu datar dan dingin, tanpa emosi sama sekali.
“Saya datang untuk melapor, Nona.”
Suara seorang wanita terdengar. Sosok berjubah hitam kemudian masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa?” tanya sosok yang sedang merangkai bunga.
“Empat perhiasan Giok Darah Iblis tidak bisa dilacak keberadaannya, Nona.”
Gerakan tangan sosok yang sedang merangkai bunga berhenti sesaat sebelum kembali menjadi seperti biasa. Kemudian, suara datar dan dingin kembali terdengar.
“Kota ini sepertinya tidak sesederhana yang dikatakan orang-orang itu. Ya … cukup menarik.”
>> Bersambung.
__ADS_1