Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Pasti Sengaja!


__ADS_3

“Bagaimana kalau makan siang bersama lalu mengantarmu pulang?”


Mendengar ucapan Adam, Jennifer langsung cemberut.


“Apakah kamu tidak mengengar semuanya dengan baik? Diam-diam kamu mengabaikanku, kan?”


“Aku mendengar semuanya.”


Adam sudah berkendara santai mengelilingi Kota B. Di jalan, Jennifer terus memarahinya, tetapi pemuda itu mendengarnya dengan saksama. Mendengar semua keluhannya, seolah mencoba bertanggung jawab atas kekacauan yang wanita itu perbuat dalam satu bulan ini.


“Tetap saja …” Jennifer menghela napas panjang. “Kalian berdua benar-benar cocok.”


“Aku dan Bella?” tanya Adam.


“Iya.” Jennifer mengangguk.


Setelah memarahi Adam sampai puas, wanita itu terlihat lebih lega. Ya … meski masih ada jejak kesedihan dalam matanya.


“Bella, kah?” gumam Adam. “Kalau Bella … dia adalah nyonya kecilku.”


“Eh???”


Mendengar Adam yang berkata dengan nada setengah bercanda, Jennifer terkejut. Melihat wajah santai di wajah pemuda tampan itu, dia tiba-tiba merasa ingin marah.


“Maksudmu … kamu hanya main-main dengannya?”


“Bukan.” Adam langsung menggeleng. “Maksudku-”


“Aku tidak percaya kamu orang seperti itu, Adam! Jadi selama ini kamu hanya bermain-main dengan para gadis lalu berniat meninggalkan mereka begitu saja? Aku yakin soal ciuman pertama itu bohong! Kamu-”


“Bisakah kamu diam sebentar, Jennifer? Biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu.”


“Hmph!” Jennifer mendengus dingin.


“Jadi seperti ini …”


Adam mulai menceritakan kisah hidup Bella kepada Jennifer. Dia juga menceritakan pertemuan mereka. Tentu saja, dengan sedikit editan. Pemuda itu hanya berkata secara tidak sengaja membantu Bella saat sedang diganggu. Tidak mengatakan di mana dan siapa yang mengganggu.


“Gadis baik seperti itu …” ucap Jennifer sebelum menghela napas panjang.


“Ya. Dia gadis yang sangat baik.”


“Kalau begitu seharusnya kamu menjaganya baik-baik,” ucap Jennifer.


“Aku akan menjaganya.”


Mendengar itu, Jennifer melihat ke luar, memalingkan wajahnya dari Adam.


“Seharusnya … kamu menjadikan gadis itu sebagai istrimu.”


“Aku sudah membujuknya, tetapi dia masih keras kepala.”


Adam menggeleng ringan, benar-benar tidak memperhatikan ekspresi sedih di wajah Jennifer. Mungkin karena asyik membicarakan orang lain, dia lupa bahwa wanita di sebelahnya juga menyukai dirinya.


“Bella bersikeras menolak. Dia bilang aku harus menemukan istri.” Adam tersenyum pahit. “Istri yang mau suaminya memiliki nyonya lain … aku rasa tidak ada yang seperti itu di dunia.”


“...”


Adam menoleh ke arah Jennifer. Melihat wajah wanita itu menjadi merah, ekspresinya berubah. Tampak bingung dan merasa aneh.


“Apakah kamu baik-baik saja, Jennifer?”


“K-Kamu pasti mengatakan itu dengan sengaja, kan! Dasar penipu ulung!”

__ADS_1


“Eh?” Adam tampak bingung.


“Maksudku, mana mungkin Bella mau menjadi nyonya seperti yang kamu katakan! Kamu hanya membuatnya menjadi alasan agar bisa menggoda perempuan lain! Dasar penipu!”


“...”


Itu terdengar aneh, tetapi nyata … okay?


Adam menghela napas dalam hatinya. Merasa agak tidak berdaya. Seolah mengingat sesuatu, pemuda itu tiba-tiba bertanya.


“Mungkinkah kamu mau jadi istriku, Jennifer? Istri yang mau menerima kalau suaminya punya nyonya lain?” Adam kemudian terkekeh sebelum melanjutkan. “Maaf, aku hanya bercan-”


Menoleh dan melihat wajah Jennifer yang merah seperti apel, Adam terkejut.


“K-Kamu tidak serius kan, Jenn?”


“I-Itu salahmu karena menggodaku! A-Aku akan mengigitmu, B-rengsek!”


“Hey! Hentikan itu! Kita masih di jalan! Jenn … Jennifer!”


Adam langsung menginjak rem. Melihat mobilnya nyaris menabrak pembatas jalan, pemuda itu menghela napas lega.


Nyaris … benar-benar nyaris …


Melihat Jennifer yang memalingkan wajahnya dengan ekspresi cemberut dan tidak merasa bersalah, Adam tersenyum kecut. Pada akhirnya, dia kembali mengemudikan mobil. Namun, kali ini pemuda itu hanya diam.


Setelah cukup lama berkendara tanpa tujuan, Adam akhirnya bertanya.


“Mau makan siang bersama?”


“Hmph! Antarkan saja aku pulang. Aku ingin beristirahat untuk hari ini.”


Melihat Jennifer yang masih cemberut, Adam menghela napas panjang.


Dengan arahan Jennifer, Adam akhirnya mengantar gadis itu ke salah sebuah gedung apartemen. Tempat itu tidak terlalu jauh daripada gedung apartemen tempat dirinya tinggal.


Setelah mobil berhenti, Jennifer yang hendak keluar tiba-tiba bertanya.


“Kalau ucapanmu tadi benar. Jadi … bolehkah besok sore aku datang bermain ke tempatmu untuk bertemu dengan Bella?”


Karena Jennifer memunggunginya, Adam tidak bisa melihat wajahnya. Namun pemuda itu masih menjawab dengan senyum di wajahnya.


“Tentu saja. Kamu boleh datang kapan saja.”


Keluar dari mobil lalu menutup pintu, Jennifer berbalik, menatap Adam dengan senyum di wajahnya.


“Sampai jumpa besok.”


Melihat Jennifer menjadi lebih ceria, Adam juga menjawab.


“Sampai jumpa besok.”


... ***


...


Malam harinya, di apartemen Adam.


Usai makan malam bersama, Adam tiba-tiba berkata.


“Besok Jennifer akan datang ke sini, Bell. Tidak apa-apa, kan?”


Gerakan tangan Bella yang sedang mencuci piring tiba-tiba terhenti. Ekspresinya sedikit berubah sebelum kembali normal. Tersenyum lembut seperti biasa, gadis itu pun menjawab.

__ADS_1


“Tentu saja tidak apa-apa, Kak Adam. Kalau begitu aku akan memesan hotel besok.”


“Eh? Kenapa harus memesan hotel?” tanya Adam dengan ekspresi bingung.


“Kehadiranku pasti akan mengganggu kalian, jadi aku akan memesan hotel. Setelah pulang kuliah aku akan ke sana.”


Mendengar ucapan Bella, Adam menggeleng ringan.


“Kenapa harus pergi? Jennifer datang ke sini untuk menemui kamu, Bell.”


“Eh???”


Kali ini Bella yang terkejut. Setelah memikirkan sesuatu, ekspresinya berubah. Gadis itu menjadi agak gugup.


Mungkinkah Petugas Jennifer ingin menyuruhku untuk berhenti dekat dengan Kak Adam? Jika … jika aku tidak memiliki tempat di sini, aku harus-


“Kamu pasti berpikir negatif lagi.”


Adam yang entah kapan ada di belakang dan memeluk pinggangnya membuat Bella terkejut.


“A-Aku …”


“Percayalah, meski agak kasar, Jennifer adalah perempuan yang baik. Dia hanya ingin berteman denganmu. Jangan terlalu memikirkannya.”


“Teman?” gumam Bella.


“Iya. Karena besok teman datang berkunjung, kita harus membeli bahan makanan lebih banyak dan enak.”


Bersandar di dada Adam, Bella mengangguk.


“En. Aku akan berusaha memasak yang terbaik untuk Petugas Jennifer.”


Adam sedikit menunduk lalu mengecup pipi gadis itu dengan lembut.


“Itu baru Bella yang aku kenal.”


... ***


...


Larut malam, di atap gedung apartemen.


Selesai bermeditasi, Adam duduk sambil menatap langit penuh bintang. Dia memainkan liontin di tangan kanannya. Liontin yang dia dapat dari wanita gila sebelumnya.


Adam mengangkat tangannya, melihat liontin indah dengan batu kelabu mengkilat sebagai intinya.


“Seandainya benda ini bisa ditukar dengan Spirit Bead,” gumam Adam.


[ Refined Abyss Jade ]


Dapat dijual di toko system.


20 Spirit Bead (bronze)



Melihat itu secara tiba-tiba, sudut bibir Adam berkedut. Dia tidak menyangka kalau benda-benda dalam inventory dapat dijual dengan Spirit Bead di toko system.


Pemuda itu menghela napas panjang. Merasa sangat jengkal.


System ini … pasti sengaja!!!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2