
Keesokan harinya.
Setelah sarapan, Adam duduk sambil memejamkan mata. Menerima banyak manfaat dari pertemuan semalam, dia mengamati panel statusnya.
...***...
[ Spirit Hunter System ]
Name : Adam Bladefield
Level : Silver Spirit (Mid)
Cultivation Technique : Golden Sun and Silver Moon
Battle Skill : Autumn Sword (competent), Spring Sword (competent)
Other Skill : Elemental Seal (novice), Basic Alchemy Art (-)
Spirit Beast :
- Black-gold Chicken (Low-Silver)
- Shadow Beast (High-Bronze)
- Lesser White Sneak (Low-Silver)
Beast Skill :
- Suzaku’s Cry (Silver), Suzaku’s Golden Talons (Silver)
- Shadow Stealth (Bronze)
- Ice Control (Silver), Seiryuu’s Azure Scales (Silver)
Items Bag : Spirit Bead (bronze) x6, Mutated Catfish Carcass (bronze) x1, Darkblood Caterpillar Carcass x2
...***...
Setelah menggunakan 10 Spirit Bead (bronze) untuk menaikkan level Kyoko, Adam merasa kebutuhannya untuk Spirit Bead menjadi lebih boros. Melihat sisa 6 Spirit Bead (bronze) dalam Items Bag, pemuda itu menghela napas panjang.
“Masih kurang 39 untuk menaikkan level Kyoko,” gumam Adam begitu pelan.
“Apakah anda mengatakan sesuatu, Kak Adam?”
Melihat Bella yang sedang sibuk mencuci piring, Adam menggeleng ringan.
“Tidak ada apa-apa.” Adam menggeleng ringan.
Sebelumnya, Adam juga melihat berapa banyak yang dibutuhkan untuk menaikkan level dari Silver ke tahap berikutnya. Setelah memeriksa, kecuali item evolusi, hal yang dibutuhkan sama.
Low ke Mid, 5 Spirit Bead (silver).
__ADS_1
Mid ke High, 10 Spirit Bead (silver).
High untuk menembus batas ke Gold, 20 Spirit Bead (silver).
Selain itu, masih perlu menggunakan 5 benda tambahan. Satu dari level silver, dan empat dari level bronze.
Memikirkan bahwa 1 Spirit Bead (silver) \= 10 Spirit Bead (bronze), Adam benar-benar terdiam. Belum termasuk item khusus, 45 Spirit Bead (silver) berarti 450 Spirit Bead (bronze).
Belum lagi … dia memerlukan Nix dan Yuki untuk naik ke tingkat Gold agar batasannya juga bisa dipecahkan.
Sembilan ratus Spirit Bead (bronze), belum termasuk item khusus. Di mana aku bisa mendapatkan sebanyak itu!
Adam memijat pelipis dengan ekspresi agak muram. Dia akhirnya tidak ingin memikirkannya lagi. Pemuda itu hanya ingin menjalankan semuanya seperti biasa, tanpa sedikit pun terburu-buru.
Dibanding dengan kultivator lain, kami sudah seperti rajawali dan siput. Tenang, Adam … tenang!
Jika kultivator lain tahu bahwa Adam menghina kecepatan mereka demi kepuasan hati, mereka pasti sudah batuk darah lalu pingsan karena marah.
Setelah keduanya bersiap, Adam dan Bella kemudian pergi dari apartemen. Setelah mengantar gadis itu, Adam menuju ke Cafe Starlight untuk bersantai. Ya, karena cafe dibuka ketika sore dan diurus oleh teman-temannya dari panti asuhan, Adam yang berada di sana awal hanya datang untuk memeriksa persediaan bahan.
Siang harinya, Adam memutuskan untuk pergi jalan-jalan untuk menenangkan pikiran.
Adam merasa bahwa dia jatuh ke tempo yang terlalu cepat. Perlu menyesuaikan diri agar tidak berlebihan dan berakhir dengan menghancurkan dirinya sendiri.
Karena pertemuan dengan Lei Fan, Adam menjadi sedikit tertarik dengan meramu pil atau membuat jimat. Oleh karena itu, dia akhirnya memutuskan untuk membeli bahan-bahan obat di area pasar yang dikhususkan untuk menjual herbal.
Menurut pengetahuan dalam benak Adam, membuat pil atau meramu sebenarnya tidak memerlukan tungku khusus. Apa yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan suhu, pencampuran bahan, efek dan reaksi, penambahan energi Qi untuk mencampur, dan beberapa hal lain.
Sebenarnya dia juga ingin membeli tungku kuno, tetapi hal semacam itu sudah tidak lagi diproduksi dan sulit untuk didapatkan.
“Mungkin … lain kali aku harus membeli lewat Lei Fan sebagai perantara.”
Setelah mengatakan itu, Adam malah mengingat jimat dan obat pemberian dari Lei Fan. Karena efek yang tidak terlalu baik dari jimat serta pil yang dianggap buruk karena terlalu banyak kotoran tercampur di dalamnya, System bahkan tidak menganggap benda pemberian dari Lei Fan itu sebagai item berguna.
Spirit Hunter System miliknya benar-benar terlalu sombong karena tidak mau menyimpan hal-hal semacam itu. Pada akhirnya, jika ingin item penyelamat yang selalu tersedia dalam Items Bag …
Adam harus membuatnya sendiri.
“System ini memaksaku untuk menkonsumsi hal-hal berkualitas. Masalahnya, aku juga yang harus membuatnya sendiri!” gumam Adam dengan tidak puas.
Setelah membeli banyak sekali bahan obat yang akan dia gunakan untuk membuat pil nutrisi (bronze) dan pil penyembuhan (bronze), Adam segera kembali ke mobilnya. Meletakkan semuanya ke bagasi mobil, dia tampak lega.
“Untuk sekarang, coba pil obat terlebih dahulu. Satu minggu kemudian, coba buat jimat,” gumam Adam.
Selain kesibukannya dalam menyerap Qi dan berlatih teknik pedang. Kecuali menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang dekat dengannya atau terkadang bekerja, Adam benar-benar tidak memiliki kesibukan lain.
Jadi, sekarang dia memutuskan untuk menjadikan pembuatan jimat dan pil sebagai hobi.
Ketika hendak kembali, dia melihat sebuah kedai ramen tradisional. Karena belum makan siang, dia berniat untuk mampir. Hanya saja, dia tidak menyangka akan melihat drama di sana.
“Lulu … kenapa kamu tega melakukan ini, Lulu?”
__ADS_1
Seorang pemuda pirang yang tampak tampan, tetapi sedikit berlebihan berat badan mengejar sosok gadis dengan rambut cokelat bergelombang. Gadis itu sebenarnya terlihat cantik, tetapi cantik karena didukung make up yang mumpuni.
“Berhenti mengejarku, Henric. Hubungan kita telah berakhir.”
Gadis bernama Lulu itu tampak jijik ketika melihat Henric yang mengejarnya.
“Tapi kita sudah berhubungan sejak kelas XI SMA. Sudah tiga tahun lamanya. Kenapa sejak kamu masuk ke universitas, kamu begitu berubah … kenapa?”
“Itu karena aku menjadi lebih realistis, Henric!” ucap Lulu jijik.
“Bukankah dulu kamu bilang kita akan melewati suka dan duka bersama?” tanya Hendric. “Aku berjanji, setelah wisuda segera mencari pekerjaan yang baik untuk membahagiakanmu.”
“Aku tahu kalau kamu memperlakukanku dengan baik, Henric. Namun itu tidak cukup! Lihat penampilanmu! Belum lagi … aku tidak cukup sabar untuk selalu berada di sisimu.”
“Penampilan? Aku akan diet dan berolahraga. Soal uang? Aku akan mencoba bekerja keras untuk membahagiakanmu.”
“Cukup, Henric. Aku sudah punya pacar baru, kamu tidak perlu lagi mengejarku.”
Lulu mendengus dingin sebelum pergi ke pinggir jalan, tempat di mana sebuah mobil Honda Civic terparkir. Di sana juga tampak pemuda tampan dengan rambut diwarnai kuning serta memakai kacamata hitam.
“Apakah kamu sudah menunggu lama, Sayang?” tanya Lulu.
“Tidak terlalu.” Pemuda itu mendengus dingin. “Apakah itu mantan pacarmu?”
“Jangan lagi membahasnya,” ucap Lulu dengan cemberut.
Melihat ke arah Henric yang tertegun di tempatnya, pemuda itu mendengus dingin. Dia memeluk pinggang Lulu sebelum berkata.
“Cobalah bercermin, Bung. Jika tidak bisa menjamin finansial, paling tidak tata dengan benar penampilanmu. Hahaha!”
“...”
Melihat Henric hanya diam, pemuda itu mendengus dingin. Tidak lagi tampak tertarik. Masuk ke dalam mobil, dia buru-buru berkata.
“Kita pergi, Lulu.”
Lulu melirik ke arah Henric dengan ekspresi angkuh sebelum mengikuti pemuda itu masuk ke mobil.
“Baik, Sayang.”
Melihat mobil Honda Civic yang pergi dengan segera, para orang di sisi jalan memandang sosok Henric dengan tatapan iba. Namun pada akhirnya, selain beberapa pemuda yang mengambil foto, bahkan tidak ada yang mencoba menghiburnya.
Melihat sosok Henric yang berjalan menuju ke motor tua di tempat parkir, Adam menghela napas sebelum menghampirinya.
“Hey, Bocah.”
Mendengar Adam memanggil, Hendric menatap sosok pemuda tampan yang berjalan ke arahnya itu. Dia siap untuk dihina atau dilecehkan karena pacarnya direbut di depan umur. Namun, apa yang dia dengar benar-benar berbeda dengan apa dibayangkan.
Dengan senyum lembut di wajahnya, Adam bertanya.
“Bagaimana dengan semangkuk ramen atau yang lainnya? Biarkan aku yang membayar tagihannya.”
__ADS_1
>> Bersambung.