
"Sudah selesai?"
Mendengar suara itu, James dan anggota lainnya menoleh ke belakang. Mereka langsung berdiri tegak lalu memberi hormat.
"Ya, Pak!"
Mendengar jawaban mereka, Adam menggeleng ringan.
"Nilai 6 dari 10."
Para anggota Dark Wings terkejut mendengar ucapan Adam. Sebelum mereka sempat berbicara, pemuda itu kembali berkata.
"Kalian tidak mengepung rumah. Jika aku tidak bersiap, akan ada 5 orang lolos. Mereka semua adalah inti dari Morayz Club.
Kalian kurang berhati-hati dan hanya memenangkan semuanya dengan cara kasar. Ya, kurang rapi dan mirip preman.
Nilai 6 dari 10."
"..."
Mendengar Adam yang blak-blakan, sudut bibir para anggota Dark Wings berkedut. Mereka merasa kalau pemuda itu memang tidak mengingatkan mereka. Membuat mereka semua ceroboh dan berakhir melakukan kesalahan.
"Dari satuan petugas mana kalian? Apakah kalian tidak tahu siapa ayahku?!"
Adam dan rekan-rekannya mendengar suara salah satu lelaki yang ditangkap.
Adam menoleh, lalu menghampiri sosok lelaki itu.
"Katakan sekali lagi?"
"Aku bilang ... Dari satuan petugas mana kalian! Ayahku tidak akan melepaskan kalian!"
Adam mengeluarkan recorder dari sakunya.
"Okay, bukti sudah direkam."
BRUAK!
Adam langsung menendang wajah pemuda itu. Darah langsung mengalir dari hidung dan mulutnya.
"Aku ingin tahu identitasnya, juga ayahnya. Aku ingin hukumannya digandakan, dan ayahnya harus diperiksa."
Adam melirik ke arah James dengan suara datar.
"Ngomong-ngomong, kami adalah satuan petugas khusus baru. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepolisian atau ketentaraan.
Mengancam petugas khusus dengan dukungan orang dalam? Maaf, kamu terlalu sombong."
Adam menarik kerah pria itu dengan tangan kiri. Mengepalkan tangan kanannya, pemuda itu langsung memukul tepat di wajahnya.
Bruak! Bruak! Bruak!
Wajah pria itu hitam dan biru, bahkan dipenuhi memar serta berdarah. Dia melihat sepasang mata dingin di balik topeng merah. Tampak memandangnya dengan tak acuh.
"Apakah kamu tahu? Bahkan jika aku membunuhmu, pemerintah akan menutup mata.
Kenapa? Itu karena aku lebih berguna bagi mereka. Juga, mereka tidak ingin membuat pembunuh sepertiku menjadi musuh mereka.
Latar belakang? Bagaimana rasanya menghadapi orang yang memiliki dukungan yang tidak bisa kamu bayangkan?
Menyesal? Apakah kamu menyesal?"
__ADS_1
BRUK!!!
Adam langsung menjatuhkan pria itu, lalu melirik ke arah para anggota Morayz Club dan para wanita nakal itu. Mereka semua langsung menundukkan kepala ketakutan.
Aura dingin yang terpancar dari sosok bertopeng merah itu membuat mereka merasa tertekan, bahkan terasa tercekik dan sulit bernapas!
Adam kemudian melirik ke arah James.
"Hubungi orang-orang itu, biarkan mereka segera datang dan menangani sisanya."
Mendengar ucapan Adam, James mengerutkan kening.
"Tapi Pak, menurut prosedur—"
"Kita bukan bagian dari prosedur itu! Departemen kita dibangun dengan hak khusus, kan? Gunakan itu!
Aku akan jujur. Aku tidak percaya dengan petugas lokal yang mudah disuap. Aku perlu anggota ketentaraan Kota B untuk mengurusnya.
Apakah kamu mengerti?!"
Mendengar nada Adam yang tegas dan mendominasi, James langsung memberi hormat.
"Baik, Pak!"
Adam kemudian melihat James menghubungi kenalannya. Pada saat itu, dia tiba-tiba mengingat seseorang.
Menatap ke arah James, Adam berkata.
"Pinjam ponselmu sebentar."
Meski bingung untuk apa, James masih memberikan ponselnya kepada Adam.
Adam yang membawa ponsel James pergi keluar rumah lalu mulai menghubungi nomor yang dia ingat.
"Ya. Aku benar-benar tidak menyukai hal merepotkan seperti itu."
"Soal tawaranmu sebelumnya, aku setuju untuk melakukannya. Namun, sebagai manusia yang serakah ...
Aku ingin lebih."
"Hmm? Kamu yakin akan setuju begitu saja? Kelihatannya aku masih meremehkan latar belakangmu."
"Ya. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Kalau begitu, aku akan memutus telepon."
Menyelesaikan panggilan, Adam menatap ke arah langit malam lalu menghela napas panjang. Pemuda itu kemudian bergumam.
"Pada akhirnya, aku masih harus terlibat di dalamnya."
***
Keesokan harinya, di markas Departemen Misteri cabang Kota B.
Adam tidak menyangka hari ini dia akan kedatangan dua tamu yang cukup penting. Ya, mereka adalah kenalannya, Lei Fan dan Lei Na.
Duduk di ruang santai, Adam menatap dua sosok di sisi lain meja.
"Bagaimana keadaan beliau?"
Mendengar pertanyaan Adam yang begitu langsung, Lei Fan dan Lei Na saling memandang.
"Lebih baik, tetapi belum sembuh seutuhnya," ucap Lei Fan.
__ADS_1
"Meski begitu, kondisinya tidak menjadi semakin buruk. Jadi paling tidak, beliau masih bisa diselamatkan," tambah Lei Na.
"Jadi, maksud kedatangan kalian ..."
"Ya!" Lei Fan mengangguk. "Kami berniat untuk membeli pil penawar racun dari anda, Mr Owl."
Mendengar ucapan Lei Fan, Adam mengangguk. Dia juga merasa agak kebetulan. Lagipula, pemuda itu juga jarang menggunakan pil semacam itu.
"Kali ini tidak gratis."
"Tentu saja kami tidak memintanya secara gratis!" Lei Na berkata dengan ekspresi serius.
"Aku juga tidak membutuhkan uang kalian. Penjualan pil gizi sudah cukup bagiku."
"..."
Mendengar ucapan Adam, Lei Fan dan Lei Na saling memandang. Mereka agak bingung dan ragu. Sama sekali tidak mengerti maksud Adam.
"Aku ingin hal lain sebagai ganti uang."
"Kalau bertanya, apa yang anda butuhkan sebagai ganti pil penawar racun, Mr Owl?"
"Herbal."
Adam berkata santai. Menatap ke arah Lei Fan, dia mengangkat sudut bibirnya sebelum melanjutkan.
"Karena kalian dari sekte besar, aku yakin kalian memiliki tempat untuk menanam dan menumbuhkan herbal yang baik daripada kualitas pasar.
Aku ingin herbal kualitas baik. Tentu, aku tidak memerlukan herbal dengan usia tua karena itu terlalu berharga.
Untuk harganya, tukar saja dengan herbal baik sesuai harga pasar. Jenis herbal bebas, dan kuantitas tergantung pada kalian.
Bukankah itu penawaran yang baik?"
Mendengar ucapan Adam, Lei Fan dan Lei Na menghela napas lega. Mereka berdua berpikir kalau pemuda itu ingin memeras Sekte Thunder Fang yang menderita kemalangan. Jika herbal berusia ratusan tahun, mereka jelas harus kembali untuk membicarakannya dengan tetua lain.
Bahkan jika para tetua setuju, hubungan Adam dan Sekte Thunder Fang akan menjadi lebih renggang. Sebaliknya, jika yang dibutuhkan hanya herbal biasa dengan kualitas baik, itu berarti Sekte Thunder Fang memiliki rasa syukur dan berhutang budi kepada Adam.
Adam sendiri tidak begitu ceroboh. Kecerdasannya tidak akan mudah hilang hanya karena ada pot emas di depan matanya, karena dia melihat lebih jauh ke depan.
"Kalau begitu kami setuju, Mr Owl!" ucap Lei Fan dengan ekspresi tegas.
"Kalau begitu sepakat."
Adam mengangguk ringan.
"Ngomong-ngomong ... Mr Owl?"
Mendengar Lei Na memanggilnya, Adam memiringkan kepalanya.
"Iya?"
"Sebenarnya, selain mendapatkan tugas untuk membeli obat penawar racun, kami juga menerima tugas lain."
"Apakah itu juga ada hubungannya denganku?"
"Ya." Lei Na mengangguk. "Para tetua mengundang anda untuk datang ke Sekte Thunder Fang sebagai tamu. Mereka ingin mengenal dan berteman dengan anda."
"..."
Mendengar ucapan Lei Na, Adam mengelus dagu. Setelah beberapa saat, pemuda itu mengerutkan keningnya. Pada akhirnya, dia menghela napas panjang sebelum berkata.
__ADS_1
"Masalah itu ... biarkan aku memikirkannya terlebih dahulu."
>> Bersambung.