Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Tanggung Jawab


__ADS_3

“Apakah kamu tidak penasaran bagaimana aku bisa melakukan semua itu, Bella?”


Mendengar pertanyaan Adam, Bella yang duduk di sofa tak jauh dari pemuda itu berkedip. Dia kemudian menggeleng ringan dengan senyum lembut di wajahnya.


“Sebenarnya saya ingin mengetahuinya, tetapi karena anda diam dan tidak berbicara … saya juga tidak akan memaksa anda untuk mengatakannya. Saya akan menghargai privasi anda.”


“...”


Adam yang mendengar jawaban Bella tampak terkejut. Melihat gadis cantik yang begitu lembut, baik, sekaligus pemalu itu membuatnya merasa sangat kagum. Dia kemudian mendekati Bella lalu meraih pinggangnya, membuat gadis itu langsung tersipu malu.


“K-Kak Adam …”


Adam mengelus pipi gadis itu dengan tangan lain lalu mengecup bibirnya dengan lembut.


“Tidakkah itu terlalu formal, Bella?”


“T-Tapi … tapi …” gumam Bella dengan wajah merah.


“Ada apa? Apakah kamu tidak menikmatinya?”


Mendengar suara Adam yang menggodanya, Bella menunduk dan tidak berani menatap wajah pemuda tampan itu.


Sementara itu, Adam yang merasakan tubuh Bella yang lembut dalam pelukannya menghela napas dalam hati. Meski jarang makan dengan baik, tubuh gadis itu benar-benar nyaris sempurna. Belum lagi, meski cembung di depan dan belakang, tubuh gadis itu begitu ringan dan tampak rapuh ketika dipeluk.


Adam merasa dirinya adalah lelaki tak tahu malu yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bahkan, sekarang dia membuat gadis cantik dan polos seperti Bella luluh serta patuh kepadanya.


Bahkan, Adam merasa kalau Bella menganggap dirinya sebagai penyelamat hidup dan cukup bergantung kepadanya.


Adam yakin, jika itu adalah kebanyakan orang, mereka hanya akan memanfaatkan kepolosan dan kebaikan Bella. Setelah itu, menenggelamkan gadis itu ke jurang gelap. Memaksanya untuk melakukan hal-hal kotor hanya untuk mempertahankan hidup.


Entah itu hanya kebetulan atau takdir, Adam merasa bertanggung jawab untuk menerima dan merawat gadis itu. Memang benar apa yang dikatakan banyak orang, kecantikan terkadang hanya akan membawa kemalangan semata.


Jika Bella terlahir di keluarga yang baik atau sangat kaya, dia pasti akan diincar menjadi menantu idaman. Namun karena dirinya berada di bawah lapisan masyarakat, bahkan tidak memiliki keluarga. Pasti banyak yang menatapnya karena memiliki pemikiran jahat.


Aku seharusnya merasa bersyukur. Siapa sangka takdir akan mengirim istri lembut dan baik seperti itu ke depan pintu? Bahkan, perempuan sekarang yang tampak baik itu … belum tentu baik.


Siapa yang peduli dengan latar belakang? Menurutku, asalkan perempuan itu baik dan setia, semuanya bukan lagi masalah.


Permasalah ekonomi? Itu sudah tanggung jawab suami.


Sedangkan masalah memasak, mengurus rumah, merawat dan mendidik anak … itu urusan istri. Perihal wanita itu tidak bisa melakukannya? Dia masih bisa belajar.


Sedangkan wanita yang hanya mau dimanja tanpa melakukan apa-apa? Maaf, menurutku menikahi perempuan seperti itu tidak ada gunanya.

__ADS_1


Adam memiliki pendirian sendiri. Sebagai laki-laki, tentu dia ingin memiliki keluarga dan menjadi kapala keluarga yang baik. Sosok yang bisa menjadi contoh baik bagi anak-anaknya, suami yang bisa menafkahi istri secara lahir serta batin, dan sosok yang bisa diandalkan.


Tentu saja, karena Adam mencoba yang terbaik, dia juga ingin memiliki calon istri yang mau mencoba untuk menjadi lebih baik. Tipe perempuan yang ingin lelaki sempurna tetapi tidak mau bercermin sendiri? Itu konyol.


Ingin lelaki dengan tubuh kekar bak dipahat dari marmer, sementara dirinya sendiri makan dan tidur sehingga tubuhnya bulat seperti bola? Itu tidak realistis.


Begitu pula sebaliknya, bagi seorang lelaki yang ingin memiliki istri yang baik dan bisa diandalkan, dirinya sendiri juga harus berusaha memperbaiki diri.


Adam menggeleng ringan. Dia kemudian mengecup kening Bella dengan lembut.


“Sudah hampir waktunya makan siang. Bagaimana kalau keluar untuk membeli makanan?”


Mendengar ucapan Adam, Bella menggeleng ringan.


“Bagaimana … bagaimana kalau makan di sini saja?”


“Bukannya aku tidak bisa memasak atau tidak mau, Bella. Karena belum lama aku mulai tinggal di sini, tidak banyak bahan yang ada di dalam kulkas.” Adam menghela napas panjang. “Bagaimana kalau makan siang di luar? Setelah itu, kita pergi ke supermarket, membeli bahan makanan untuk mengisi kulkas?”


“En.”


Keduanya kemudian pergi ke luar untuk membeli makan siang dan berbagai macam bahan makanan untuk mengisi kulkas. Ketika hendak kembali, keduanya duduk di mobil dalam diam. Seolah memikirkan sesuatu, Bella akhirnya berkata.


“K-Kak Adam ... S-Saya harus kembali ke kampus. Hari ini saya-”


“L-Lalu … beasiswa saya akan-”


“Bahkan jika kamu mencoba banyak alasan, itu adalah alasan yang paling rasional. Tidak peduli apapun yang kamu lakukan. Sudah pasti kalau beasiswa kamu akan dicabut.”


“...”


Mendengar ucapan Adam, Bella juga mengetahuinya. Namun jika beasiswa dicabut, dia harus keluar karena tidak mampu membayar. Setelah keluar, gadis itu tidak tahu harus melakukan apa.


Melihat gadis yang duduk di sampingnya itu tampak sedih, Adam menghela napas panjang. Dia kemudian tersenyum lembut.


“Lakukan saja apa yang aku katakan.”


“En.” Bella mengangguk.


“Bukannya itu hal yang buruk, Bella. Tanpa beasiswa, kamu lebih bebas.”


“T-Tapi aku …”


“Aku akan menanggung semua biaya kuliah sampai wisuda.”

__ADS_1


“Tapi itu akan merepotkan anda, Kak Adam. Saya tidak bisa melakukannya.”


“Lalu berhenti kuliah. Jika kamu bingung akan melakukan apa setelahnya, kamu bisa bekerja di cafe. Aku juga bisa memberi kamu modal untuk memulai usaha kecil. Jika kamu merasa masih lelah, kamu juga bisa tinggal di rumah dan mengurus pekerjaan rumah.”


“Eh???”


Mendengar ucapan Adam, khususnya kalimat terakhir membuat Bella terkejut. Dia menunduk, tubuhnya sedikit gemetar.


“M-Maksud Kak Adam … rumah itu?”


Adam mendengar Bella bergumam dengan suara terputus-putus. Pemuda itu menggeleng ringan.


“Tentu saja apa yang dimaksud dengan rumah adalah apartemen itu. Baik kamu memilih kuliah, bekerja di cafe, atau memulai usaha sendiri … aku ingin kamu pulang ke apartemen.”


“Rumah … pulang …” gumam Bella.


“Mungkinkah kamu tidak ingin tinggal bersama denganku?” tanya Adam. “Jika demikian, aku juga bisa menyewa apartemen lain untukmu. Sedangkan membeli, itu-”


“Tidak! Tidak perlu! S-Saya mau … saya mau tinggal dengan anda, Kak Adam!”


Sadar bahwa dirinya menjawab terlalu bersemangat karena takut hanya ingin memanfaatkan harta Adam, Bella langsung menutup wajahnya yang merah karena malu. Dia bahkan tidak pernah merasakan malu sampai seperti itu sebelumnya.


Setelah memikirkan sesuatu, Bella yang merasa semua itu hanya mimpi berusaha berpikir jernih. Menggigit bibirnya, gadis itu mencoba melawan rasa bimbang dan bertanya.


“Kenapa … kenapa anda sangat baik terhadap saya, Kak Adam? Jika masalah bertanggung jawab. Biasanya, orang-orang itu akan memberi sejumlah uang. Selain itu, bahkan ada banyak gadis yang mau melakukannya hanya untuk membeli tas bermerk.


Kenapa … kenapa anda begitu baik?”


“Memang, dengan uang untuk membayar biaya kuliah atau memulai bisnis kecil, aku mungkin bisa menyewa beberapa gadis cantik untuk melakukannya. Namun, aku tidak mau.


Selain itu, aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa terpesona oleh dirimu. Setelah mengenal sebagian dari dirimu, aku yakin kamu adalah gadis baik. Aku rasa, uang adalah hal vulgar dan tidak pantas untuk membeli kesucian dan harga dirimu.


Aku ingin bertanggung jawab. Selain itu … aku merasa mungkin kita akan cocok. Jadi, apakah kamu juga mau menerima aku?”


“...”


Bella menunduk. Memandang pahanya sendiri, setiap ucapan Adam meluluhkan hatinya. Dalam hidupnya, gadis itu tidak pernah bermimpi akan mengalami hal seperti itu. Dia tidak menyangka akan diperlakukan sebaik itu.


Pandangannya mulai berkabut. Air mata mulai mengalir, dan membasahi wajahnya. Dengan suara sedikit gemetar, Bella akhirnya berkata.


“T-Tolong jaga saya mulai sekarang.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2