Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Bukankah Kita???


__ADS_3

Sepulang kuliah, Bella, Tina, dan Nina akhirnya pergi ke rumah kontrakan Lulu.


Sampai di sana, mereka melihat sebuah rumah satu lantai yang tak terlalu luas, tetapi juga tidak terlalu kecil. Tampilannya cukup modern dan minimalis. Lengkap dengan sebuah taman kecil di depan rumah.


Mereka memutuskan untuk menaruh mobil di tempat parkir terdekat. Itu karena halaman depan rumah kontrakan tersebut tidak bisa digunakan untuk memarkir mobil. Lagipula, kebanyakan rumah di kota yang padat memang seperti itu. Khususnya untuk kontrakan atau semacamnya.


Setelah berjalan sebentar dari tempat parkir, mereka akhirnya sampai di rumah Lulu.


Bella, Tina dan Nina saling memandang. Meski tidak berbicara, dari mata mereka, mereka tampak senang karena tampaknya Lulu telah memiliki kehidupan baru yang lebih baik.


"Anggap rumah sendiri," ucap Lulu ketika membuka pintu.


Bella, Tina, dan Nina mengikut Lulu masuk ke dalam rumah. Di sana mereka langsung disambut dengan ruang tamu yang rapi, tanpa banyak barang atau hiasan. Hanya kursi, meja, dan beberapa lukisan di dinding, dan jam dinding.


Sama sekali tidak ada vas bunga, foto, atau semacamnya. Sementara itu, di ruang keluarga juga tampak ringkas. Hanya di salah satu kamar terbuka, tampak beberapa tumpukan kardus, tampaknya barang-barang yang dibawa oleh Lulu ketika pindah.


"Bolehkah kami membantumu untuk menata barang, Lulu?" tanya Bella.


"Tidak perlu. Itu hanya barang-barang bekas dan tidak pernah penting."


Lulu membalas dengan nada datar.


"Tidak usah malu-malu, Lulu. Bukankah kita teman?" ucap Tina dengan senyumnya.

__ADS_1


"Mereka benar, Lulu. Santai ... Don't mind ..." tambah Nina dengan nada santai.


"..."


Lulu menatap ke arah ketiga temannya. Melihat mereka, wanita itu menghela napas panjang. Menggelengkan kepalanya, dia kembali berkata.


"Sungguh, sama sekali tidak perlu."


Lulu tersenyum. Ya ... senyum yang agak dipaksakan.


"Duduk saja di sana, aku akan membuatkan kalian minuman. Untuk makanan, tidak apa-apa kalau memesan take out, kan?"


"Hou hou hou ... tampaknya Lulu mulai membuka hati pada kita. Mulai bertingkah seperti gadis normal."


"Ya ya ya ..."


Lulu berjalan ke dapur sambil tersenyum. Nina dan Bella juga ikut duduk di sofa santai. Melihat punggung wanita itu, mereka merasa turut bahagia. Namun ...


Bella merasa ada sesuatu yang aneh.


Beberapa saat setelah Lulu datang pergi ke dapur, asap tipis memenuhi rumah. Pada saat itu juga, ekspresi Bella menjadi lebih serius.


"Tina, Nina ..."

__ADS_1


Bella menoleh ke arah kedua temannya, tetapi terkejut ketika melihat ke arah dua temannya yang entah kapan telah tertidur. Langkah kaki yang pelan tapi pasti terdengar.


Menoleh ke sumber suara, Bella melihat sosok Lulu yang berjalan keluar dari dapur sambil membawa sebuah pisau tajam.


"Lulu???"


"Sudah kuduga kamu memang berbeda, Bella. Ini benar-benar tidak adil ..."


"Apa maksudmu, Lulu? Kamu kenapa?"


Ekspresi dingin di wajah Lulu berangsur-angsur berubah menjadi ekspresi terdistorsi. Dia memeras senyum di wajahnya, yang membuatnya tampak lebih mengerikan.


"Kamu seharusnya bernasib lebih buruk daripada aku. Kamu tidak memiliki orang tua, kamu tidak mendapatkan banyak warisan, kamu sebenarnya tidak begitu pintar ... Lalu kenapa???


Kenapa kamu yang beruntung? Kenapa kamu yang mendapatkan pasangan baik? Kenapa kamu?!


Bukankah kita sama?! BUKANKAH KITA SEHARUSNYA SAMA, BELLA?!!"


Lulu berteriak dengan ekspresi gila di wajahnya.


Saat itu juga, sosok hitam muncul dari bayangan Bella. Tiba-tiba merubah bentuk menjadi seekor serigala besar berwarna hitam legam. Ya ... itu adalah Kyoko.


Melihat makhluk itu, Lulu menggertakkan gigi dengan ekspresi terdistorsi. Tampaknya menjadi semakin benci dengan wanita itu.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2