
"Katakan padaku, Guren. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Bahkan setelah Darwin mendapatkan hukuman yang pantas, penyesalanmu belum sepenuhnya terhapus. Jadi ...
Apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Adam menunjuk ke arah Guren dengan ekspresi dingin di wajahnya.
"Aku hanya ingin pergi, tapi aku belum bisa melakukannya."
Guren memandang gedung utama sekolah. Meski senyum tampak di wajahnya, tatapan matanya menggambarkan kesedihan yang tidak bisa ditutupi.
"Akankah kamu masih mau membantuku, Adam?"
"..."
Adam menarik napas dalam-dalam. Menatap ke arah Guren, dia menghembuskan napas perlahan. Beberapa saat kemudian, pemuda itu menjawab.
"Bahkan jika kamu kerabat mereka, bukan berarti kamu bisa membohongi seseorang sesuka hati, Guren. Kamu benar-benar tidak tahu malu karena masih berani memintaku membantumu.
Apa kamu pikir aku tidak bisa marah? Mungkin daripada repot-repot mendengarmu, karena kamu sudah tidak lagi terikat dengan tempat ini ...
Aku bisa saja langsung mengirim kamu ke jalan!"
"Lalu, kenapa kamu tidak melakukannya?"
"..."
Adam diam, tetapi dia masih menunjuk ke arah Guren dengan katana merahnya.
"Kamu tahu, setelah tidak lagi terikat, aku menjadi lebih lemah. Bahkan kamu bisa menyaingiku tanpa harus memanggil para binatang yang kamu kontrak. Lalu ...
Kenapa kamu masih ragu untuk melakukannya?"
"..."
"Itu karena kamu terlalu baik, Adam."
"Jangan salah paham, Guren! Aku telah melakukan banyak kejahatan dan membunuh orang. Tanganku sama sekali tidak lagi bersih!"
"Lalu???"
__ADS_1
Guren bertanya kepada Adam dengan senyum lembut di wajahnya. Melihat pemuda itu masih tidak menjawab, wanita dengan gaun merah itu melanjutkan.
"Sepertinya kamu tipe lelaki bermulut keras, tetapi berhati lembut, Adam.
Belum lagi, tampaknya kamu menderita sindrom ksatria putih, Adam."
"Apanya yang sindrom ksatria putih? Penyakit itu sama sekali tidak ada."
Adam mendecak tak puas. Dia menghela napas panjang setelah melihat Guren tersenyum ke arahnya.
"Kamu selalu bertindak seperti ksatria dengan kuda putihnya. Tidak tega untuk melakukan hal buruk kepada orang-orang atau makhluk yang terluka dan membutuhkan bantuan.
Kamu tidak ragu untuk mengotori tanganmu sendiri demi orang lain. Kamu adalah lelaki yang baik, tapi ...
Kamu juga harus berhati-hati agar tidak dijebak dan digunakan oleh orang lain, Adam."
"Tsk! Tanpa kamu beritahu pun, aku pasti tidak akan menjadi begitu sembrono."
Guren hanya tersenyum ketika melihat Adam semakin kesal. Tidak lagi menahan diri, wanita itu bertanya.
"Jadi ... apakah kamu sudah memutuskannya?"
Adam menghela napas panjang. Benar-benar tidak bisa membantah wanita itu. Pada akhirnya, dia hanya bisa membalas.
"Ini yang terakhir kali."
Pemuda itu menyingkirkan kembali katana di tangannya. Mengembalikan senjatanya ke inventori.
"Kamu benar-benar terlalu lembut, Adam. Namun aku sama sekali tidak membencinya."
"Sekarang apa?"
Mengabaikan Guren, Adam langsung bertanya apa yang akan mereka lakukan sekarang.
"Membebaskan mereka dari penderitaan yang mereka alami selama ini."
"..."
Adam terdiam sejenak. Menatap ke arah mata Guren, pemuda itu bertanya dengan ekspresi penuh keraguan.
__ADS_1
"Bukankah kamu bilang mereka abadi dan tidak bisa dikalahkan?"
"Kecuali aku sendiri yang datang ke sana."
"..."
Adam menatap ke arah Guren dengan ekspresi tak tertahankan.
'Wanita ini ...'
Menghela napas panjang, pemuda itu kemudian berkata.
"Semuanya akan berakhir setelah kita mengalahkan mereka, kan?"
"Tentu saja, semuanya akan berakhir."
"Kamu yakin?" tanya Adam dengan ekspresi ragu.
"Tentu saja."
"..."
Adam menatap ke arah Guren penuh dengan keraguan. Setelah ditipu, tentu dia tidak akan begitu mudah percaya. Namun, dia juga tidak menolak permintaan Guren karena dirinya ragu.
Jika 'MEREKA' bebas, Adam ragu apakah mereka akan menjadi lebih lemah seperti Guren. Mungkin sebaliknya, seperti yang dikatakan roh wanita itu ...
Mereka akan melahap makhluk-makhluk lain dan segera menembus level Platinum Spirit.
Jika yang terakhir adalah jawabannya, jelas ... Adam pasti akan kewalahan dan mungkin berakhir terbunuh. Bahkan jika bisa lolos, pasti akan ada kekacauan di Kota B. Bukan jenis kekacauan media, tetapi kekacauan yang terjadi karena banyaknya korban.
Adam berusaha mencegah hal itu terjadi!
Pemuda itu berjalan menuju ke bangunan utama sekolah bersama dengan Guren di sisinya.
Kali ini, baru sampai di depan pintu masuk utama, Adam telah mencium aroma terbakar dan busuk yang teramat kuat. Menatap ke arah kegelapan dibalik pintu yang terbuka lebar layaknya iblis yang membuka mulutnya, pemuda itu berpikir dalam hati.
'Tidak peduli apa ... Aku berharap ini benar-benar memang yang terakhir kalinya.'
>> Bersambung.
__ADS_1