
Note :
Dari chapter 158 sudah ditulis ulang. Silahkan baca agar ceritanya bisa nyambung. Terima kasih, dan maaf untuk ketidaknyamanan selama beberapa hari ini.
---
Adam bangkit. Dia menatap ke arah sosok wanita tersebut.
"Sepertinya tidak ada cara lain ..."
Mengatakan hal tersebut, Adam menatap ke arah sosok wanita yang menunduk diam lalu tiba-tiba berbalik dan melarikan diri.
Keluar dari kamar, pemuda itu merasa kalau akar itu sama sekali tidak berusaha menyerang dan hanya mengabaikannya.
'Bukankah mereka bilang bahwa tempat ini hanya sepuluh besar di antara banyaknya tempat angker Kota B? Namun kenapa aku merasa ini tidak lebih buruk daripada SMA Blue Rose?'
Memikirkan hal itu, Adam tidak bisa tidak menghela napas panjang. Penjaga taman, dan sekarang wanita yang menunggu kamar.
Jika bukan karena keduanya tidak bisa pergi dari tempat mereka berada, Adam sendiri tidak yakin bisa mengalahkan mereka bersama-sama. Bahkan tidak yakin bisa melarikan diri dari keduanya.
Melirik ke arah kamar tidur utama, Adam hanya bisa menghela napas panjang. Dia mencatat dua tempat yang harus diperhitungkan. Pemuda itu berniat untuk kembali ke rumah untuk menyiapkan strategi.
Meski agak enggan, Adam juga tahu, semuanya tidak akan dimulai jika makhluk-makhluk tersebut tidak dimurnikan atau disingkirkan.
Dan itu bukanlah hal baik baginya!
"Kalau begitu, mundur terlebih dahulu."
Mengatakan itu, Adam kemudian pergi meninggalkan rumah tua itu lalu kembali ke apartemennya.
***
Sampai di apartemen, itu hampir pagi.
"Baru pulang?"
Adam yang baru saja kembali mendengar pertanyaan itu.
Menoleh ke sumber suara, dia melihat sosok Jennifer yang baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis cantik dengan kulit cokelat eksotis itu hanya memakai celana minim dan kaos lengan pendek.
Jennifer sendiri tidak menyukai tidur memakai piyama, jadi biasanya tidur dengan pakaian yang lebih terbuka semacam itu.
Melihat sosok Jennifer, Adam mengangguk.
"Maaf jika membangunkan kalian."
"Sama sekali tidak, Adam. Kamu—"
Belum menyelesaikan ucapannya, Jennifer tertegun. Dia kemudian segera bergegas mendekati Adam. Melihat beberapa bekas luka yang tidak sepenuhnya sembuh, wanita itu menyipitkan matanya.
"Kamu ... bagaimana kamu bisa sampai terluka?"
Bagi Jennifer, Adam adalah tipe lelaki yang tidak hanya kuat di atas ranjang ... tetapi juga sangat kuat di pertempuran nyata. Wanita itu sama sekali belum pernah melihat Adam mengalami kerugian.
"Jika aku berkata, aku dipukuli dua kali ... Apakah kamu akan percaya?"
"..."
__ADS_1
Mendengar itu, Jennifer tertegun. Beberapa saat kemudian, dia tertawa. Namun akhirnya, sekali lagi wanita itu terdiam. Melihat ke arah Adam dengan kemampuan yang begitu kuat bisa terluka cukup serius, dia jelas sangat heran.
"Benar-benar ada yang bisa melukai dirimu, Sayang?"
Mendengar ucapan Jennifer, Adam menghela napas pendek.
"Memangnya kamu pikir aku abadi atau semacamnya? Aku masih bisa terluka, bahkan mati Jenn ..."
"Hmph!"
Jennifer mendengus dengan ekspresi tidak puas di wajahnya. Bukan karena Adam kalah, tetapi karena pemuda itu benar-benar menyembunyikan hal penting dari dirinya. Dia jelas tahu bahwa Adam mencoba untuk membuat dirinya dan Bella tidak terlibat dengan hal-hal sulit serta berbahaya.
Akan tetapi, kedua wanita itu merasa tidak puas. Mereka benar-benar ingin Adam jujur kepada mereka tanpa mempedulikan resikonya. Karena mereka adalah pasangan.
"Duduk di sofa, aku akan mengambil peralatan P3K."
"Tapi aku sudah tidak merasakan—"
PLAK!
Adam meringis kesakitan ketika Jennifer dengan kejam menampar bahu kirinya. Wanita itu bahkan mengeluarkan semua kekuatannya untuk memukul pundak kiri Adam.
"Masih tidak terasa??"
"..."
'Wanita ini benar-benar gila.'
Pikir Adam ketika menatap sosok Jennifer yang tersenyum ke arahnya.
"Kalau begitu mohon bantuannya."
Meski dirinya menang dalam survei sebelumnya, pemuda itu masih sadar bahwa masih ada banyak yang lebih kuat dibandingkan dengan dirinya.
'Tampaknya aku benar-benar harus membuat rencana sesingkat dan seefisien mungkin.'
Memikirkan itu, Adam tidak bisa tidak menghela napas panjang. Setelah itu, dia kemudian mengikuti Jennifer.
Melihat ke arah wanita yang dengan teliti merawatnya, Adam tersenyum lembut.
"Terima kasih, Jennifer."
"Itu sudah tugasku," ucap Jennifer yang fokus membersihkan luka-luka Adam tanpa menoleh.
"Tapi—"
"Bisakah kamu diam? Aku sedang berkonsentrasi di sini."
"..."
Melihat sisi keras dan tegas Jennifer, Adam sama sekali tidak merasa jijik atau membencinya.
Meski tampak agak kasar, Adam tahu bahwa Jennifer itu hangat dan lembut di dalam. Benar-benar berkebalikan dari sikapnya sekarang, wanita itu adalah tipe yang suka berpura-pura keras ... padahal lembut.
Setelah beberapa waktu berlalu, seluruh luka Adam benar-benar telah dirawat oleh Jennifer dengan baik.
Pada saat itu juga, sosok Bella keluar dari kamar sambil menggosok matanya. Tampaknya wanita itu masih mengantuk, tetapi masih mencoba memenuhi tugasnya untuk memasak di pagi hari. Padahal, dia bisa meminta bantuan Jennifer dan Adam.
__ADS_1
"Eh? A-Apa yang terjadi pada anda, Kak Adam? Apakah anda terluka? Kenapa anda tidak membangunkan saya?"
Melihat ekspresi panik di wajah Bella, Adam menggeleng ringan.
"Hanya luka kecil. Akan segera sembuh, kamu tidak perlu terlalu khawatir. Aku telah dirawat oleh Jennifer dengan baik."
"Hmph!"
Mendengar ucapan Adam, Jennifer mendengus dingin. Namun jika diperhatikan, tampaknya sudut bibir wanita itu sedikit. Jelas mirip apa yang Adam katakan sebelumnya.
Berpenampilan kasar, tetapi nyatanya masih memiliki hati selembut tahu.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita bertiga."
Mendengar ucapan Bella, Jennifer dan Adam mengangguk ringan.
***
Pukul 07.00, ruang makan apartemen Adam.
"Kenapa ... hanya aku yang makan bubur?"
Melihat ke atas meja, Adam benar-benar merasa agak tertekan.
"Bukankah kamu sakit? Bella membuatkannya untukmu secara khusus! Kamu benar-benar tidak mau memakannya?"
"..."
Mendengar ucapan Jennifer, Adam menghela napas panjang.
"J-Jika Kak Adam tidak mau, itu tidak apa-apa. Lagipula, saya tidak tahu kalau—"
"Aku akan memakannya, Bella. Tidak apa-apa, ini juga enak." Adam berkata santai. "Lagipula, tidak semua bisa memasak makanan dengan rasa yang begitu enak seperti ini."
Bella yang mendengar ucapan Adam tersenyum manis. Sebaliknya, Jennifer tampak agak muram karena merasa lelaki itu menargetkannya karena tidak begitu baik dalam memasak. Benar-benar langsung membalas dendam!
"Cih! Dasar berpikiran sempit," gumam Jennifer.
"..."
Karena level Adam bisa dibilang seperti manusia super, dia bisa mendengar jelas gumaman Jennifer. Namun memilih untuk tetap diam.
Tentu saja, pemuda itu masih menggerutu dalam hatinya.
'Ya ... mungkin ini yang mereka sebut dada besar dan otak kecil?'
Jika Jennifer apa yang sedang Adam lamunkan, wanita itu pasti akan menantang Adam untuk bertarung habis-habisan padahal tahu akan kalah.
Bella yang melihat mereka berdua tersenyum lembut. Wanita itu merasa kalau kehidupannya yang sekarang benar-benar menjadi lebih baik. Bukan hanya dalam segi ekonomi, tetapi juga dalam segi kebahagiaan jiwa.
Tinggal bersama dengan Adam dan Jennifer, Bella telah menganggap mereka sebagai keluarga.
Meski terdengar aneh, Bella sendiri sama sekali tidak keberatan dengan hubungan mereka. Bahkan, dia merasa kalau dirinya dan Jennifer seperti saudari sendiri.
Meski harus berbagi lelaki yang sama, keduanya sama sekali tidak berniat menyingkirkan satu sama lainnya. Sebaliknya, mereka malah saling mendukung. Bisa dibilang ...
Kerukunan antara para kekasih Adam pasti membuat para lelaki iri!
__ADS_1
>> Bersambung.