
Tiga hari kemudian, di ruang kantor Cafe Starlight.
"Apakah ibumu baik-baik saja?"
Melihat sosok Yui yang duduk tidak jauh darinya, Adam bertanya dengan ekspresi tenang. Meski masih tampak lesu, tetapi dia merasa kalau penampilan gadis itu membaik. Tampaknya ibunya telah lolos dari masa kritis.
"Terima kasih banyak atas bantuan anda, Bos!"
Yui menunduk sopan. Gadis itu benar-benar berterima kasih atas kebaikan Adam. Lagipula, tanpa pemuda itu ... dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dan ibunya.
"Bukan masalah besar." Adam menggeleng ringan. "Namun, kenapa kamu sudah datang untuk bekerja? Bukankah seharusnya kamu tinggal di rumah sakit dan merawat ibumu?"
"Ibu ... Beliau telah keluar dari rumah sakit dan beristirahat di rumah. Dia tidak ingin membuang banyak biaya untuk rawat inap," ucap Yui dengan senyum pahit di wajahnya.
"..."
Melihat ke arah Adam yang terkejut, Yui buru-buru menjelaskan.
"Kondisi ibu tampak lebih baik. Beliau sudah bisa makan dan berjalan sendiri. Yah, walau masih agak sempoyongan.
Saya ingin tinggal di rumah, tetapi beliau bersikeras bahwa saya tidak perlu mengurusnya. Jadi, saya datang untuk bekerja."
Adam menatap ke arah Yui. Awalnya dia agak ragu. Namun hanya bisa menghela napas ketika dia tahu bahwa gadis itu tidak berbohong. Pemuda itu juga tahu, apa yang dipikirkan oleh Ibu Yui.
"Kalau begitu, kamu bisa mulai bekerja seperti biasa."
"Anu ..."
"Ada apa, Yui?"
"Bolehkah ... bolehkah saya meminta izin, Bos?"
"Izin untuk apa?"
Adam memiringkan kepalanya, merasa agak bingung dengan permintaan Yui yang tiba-tiba.
"Saya ... tampaknya mulai sekarang saya akan terlambat 30 menit setiap hari kerja."
"En? Kenapa?"
"Saya ... saya berencana untuk putus sekolah dan mulai mencari pekerjaan.
Ah! Tentu saja, saya tidak akan melarikan diri dan masih bekerja di Cafe Starlight pada sore sampai malam hari."
__ADS_1
"Kamu, ingin putus sekolah?"
Mendengar keraguan Adam, Yui mengangguk ringan. Menurutnya, daripada membuang waktu untuk sekolah, lebih baik dirinya bekerja untuk segera melunasi hutang.
Meski itu bukan pemikiran yang buruk (karena didasari dengan keinginan melunasi hutang), bagi Adam, itu terlalu berlebihan.
"Kamu tidak perlu putus sekolah."
"T–Tapi ..."
"Gaji dari Cafe Starlight. Selain 50% diambil untuk mencicil hutang, bukankah 50% sisanya masih cukup untuk biaya hidup untuk kamu dan ibumu?
Ya ... Walau harus lebih berhemat."
"..."
Melihat Yui yang penuh keraguan, Adam menghela napas panjang.
"Bahkan jika kamu bekerja 24 jam, kamu mungkin tidak bisa membayar hutang dalam 1 tahun. Lebih buruknya, jika kamu terlalu lelah karena kerja, kamu mungkin akan jatuh sakit ... dan semuanya akan menjadi lebih dan lebih buruk lagi.
Tentu saja, ada beberapa pengecualian."
Mengatakan kalimat terakhir, Adam langsung menatap tubuh Yui.
Hal itu membuat Adam mengangguk ringan.
"Tampaknya kamu sudah tahu, dan ... aku yakin kamu tidak ingin melakukan itu, kan?"
"Tentu saja saya tidak mau, Bos! Juga, meski saya bekerja, saya juga akan menjaga kondisi—"
"Tubuh manusia itu memiliki batasan. Waktu juga sangat terbatas. Jika kamu memang bertekad, aku yakin kamu akan jatuh dalam waktu 6 bulan atau kurang.
Pada saat itu, meski kamu tidak mau, pada akhirnya kamu akan menemui jalan buntu dan jatuh di jalan itu.
Aku sarankan sekali lagi. Tetap bersekolah, dan ambil part time di sini. Fokus pada studi, karena bisa memengaruhi masa depanmu.
Masalah hutang, aku tidak terlalu memikirkannya."
"..."
Melihat Yui agak keras kepala, Adam akhirnya mendecak tak puas.
"Aku mengatakan ini karena aku khawatir dan merasa kasihan kepadamu. Jika kamu bersikeras ... lakukan saja.
__ADS_1
Untuk 30 menit lebih lambat, aku tidak peduli. Namun ...
Jika kamu bertemu jalan buntu dan jatuh, jangan pernah menemuiku. Aku tidak akan mengulurkan tangan saat itu!"
Mendengar ucapan tegas Adam, tubuh Yui gemetar. Gadis itu agak bingung, tetapi pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa.
Pada saat itu, suara Adam kembali terdengar.
"Untuk sekarang, jangan datang bekerja. Aku tidak mengizinkan kamu bekerja dalam kondisi seperti ini.
Kembali dan renungkan terlebih dahulu. Senin depan, kamu boleh kembali bekerja."
Setelah beberapa waktu, Yui akhirnya menjawab.
"Saya mengerti, Bos."
Usai mengatakan itu, Yui pergi meninggalkan ruangan.
Melihat ke arah Yui pergi, Adam hanya bisa menghela napas panjang. Meski dia agak keras, pemuda itu juga memiliki dasar.
Menghabiskan waktu untuk bekerja, merawat ibu, dan mengurus rumah ...
Gadis itu pasti benar-benar tidak tahan!
Meski agak kasar, Adam hanya mencegah gadis itu tersesat. Meski hidup dalam kemiskinan, dia tahu bahwa kehidupan Yui masih cukup baik. Juga, gadis itu masih belum melihat sisi buruk dan kejamnya dunia.
Itulah yang membuatnya menjadi keras kepala.
***
Malam harinya.
Usai mempersiapkan seluruh alat, termasuk dengan jimat dan berbagai jenis pil ... Adam berangkat dari apartemen dengan ekspresi penuh tekad.
Tujuannya juga jelas ...
Kembali ke 'rumah baru', kemudian menantang roh jahat di lantai tiga!
Melihat ke langit kelabu, di mana awan gelap telah menutupi bintang-bintang, pemuda itu bergumam.
"Meski kemungkinan masih cukup berat. Dengan persiapan penuh ...
Aku harus berhasil kali ini!"
__ADS_1
>> Bersambung.