
"Apakah ada bahan lain yang kalian butuhkan? Atau ... aku bisa menggantinya dengan hal lain?"
Sosok Adam duduk berhadapan dengan Lei Fan dan Lei Na. Di depan mereka ada sebuah kotak kayu panjang yang terbuka. Di dalam kotak kayu tersebut, terlihat delapan kaki Rose Pattern Blood Spider yang tampak kokoh dan kuat.
Selain itu, masih ada dua taring dalam kotak kayu yang lebih kecil. Sedangkan kantung racun, pemuda itu sama sekali tidak berniat mengeluarkannya.
"Benar-benar kaki dari Blood Spider yang langka," ucap Lei Na dengan ekspresi terkejut.
"Ya. Itu memang bahan yang bagus untuk membuat senjata."
Melihat keduanya yang tampak cukup kagum, Adam mengerutkan kening. Bahkan mereka yang memiliki latar belakang Sekte Thunder Fang menganggapnya cukup luar biasa. Berarti, sosok yang sengaja menyembunyikan dan memelihara Rose Pattern Blood Spider secara diam-diam sama sekali bukan Kultivator acak.
Menurut Lei Fan dan Lei Na sendiri, memerlukan banyak usaha untuk membesarkan Rose Pattern Blood Spider yang ganas seperti itu.
Tidak ingin memikirkan lagi, Adam akhirnya menggeleng ringan sebelum menghela napas panjang.
"Untuk bahan dan biaya pemrosesan, bagaimana kalau anda membayarnya dengan pil gizi, Mr Owl?"
"..."
Mendengar perkataan Lei Fan, Adam tertegun. Sepertinya tidak memikirkan hal itu sebagai alat tawar-menawar sebelumnya.
"Tentu saja, kami akan menghitungnya dengan harga pasar."
Melihat sosok Adam yang hanya diam, Lei Fan langsung menambahkan.
"Baik." Adam mengangguk. "Kalau begitu aku akan menyiapkan semuanya. Ketika sudah selesai, sebutkan saja harganya."
"Baik!"
Mendengar ucapan Adam, Lei Fan mengangguk dengan ekspresi bersemangat.
"Delapan kaki panjang lebih dari satu meter. Solid dan kokoh, cukup untuk membuat beberapa senjata. Jadi ...
Senjata macam apa yang kamu pesan, Mr Owl?"
"Coba dengan pengaturan seperti ini. Lima kaki laba-laba digunakan untuk membuat satu katana.
Tiga kaki laba-laba digunakan untuk membuat dua belati. Untuk belati sendiri, satu belati dilebur dan ditambahkan dengan taring laba-laba.
Apakah itu baik-baik saja?"
"Kami tidak tahu takaran yang pas, Mr Owl." Lei Fan menggelengkan kepalanya. "Namun aku rasa itu terlalu berlebihan. Tampaknya dua atau tiga kaki bisa digunakan untuk membuat katana. Jadi, aku rasa ... pengaturan seperti itu cukup boros."
__ADS_1
Melihat keraguan Lei Fan, Adam menjelaskan dengan ramah apa yang ada dalam pikirannya.
"Katakan saja kepada master pengrajin untuk menggunakannya dengan baik. Jika memang terlalu banyak bahan membuat efeknya terlalu buruk, biarlah beliau yang mengatur.
Jika memang bisa dipadatkan dan membuat kualitas senjata lebih baik, tidak masalah jika dibuat dengan pengaturan seperti tadi."
"Meski itu akan menjadi boros?" tanya Lei Fan dengan ekspresi ragu.
"Jika bisa ..." Adam menaruh satu kotak kayu kecil lalu membukanya. "Tolong tambahkan ini untuk membuat senjata."
"Ini???" Lei Na dan Lei Fan bertanya bersamaan.
Di dalam kotak, tampak beberapa tulang melengkung seperti belati. Jumlahnya ada enam. Ya ... itu adalah bagian lancip dari punggung Mutated Catfish.
"Bagian duri punggung makhluk air yang bermutasi."
"..."
Lei Na dan Lei Fan saling memandang dengan ekspresi terkejut di wajah mereka.
"Jika tidak bisa digabungkan karena bahan tidak cocok atau semacamnya, tidak apa-apa. Bawa saja terlebih dahulu ..."
"Baik, Mr Owl!"
Lei Fan mengangguk dengan ekspresi serius. Pemuda itu merasa telah dipercayai. Jadi dia sama sekali tidak berniat membuat kecewa Adam. Lagipula, dia telah mendapatkan banyak manfaat karena menjadi penjual pil yang dibuat oleh Adam.
Dengan begitu, kesepakatan antara mereka berdua pun akhirnya terjadi.
***
Beberapa hari berlalu, hari minggu akhirnya tiba.
Dalam markas Departemen Misteri cabang Kota B, tampak sosok para anggota yang memakai pakaian rapi. Total tujuh anggota tidak termasuk Nam hadir karena ini adalah acara resmi di mana mereka semua akan melakukan tugas, lebih tepatnya ... berkumpul bersama.
Bahkan sosok Glenn dan Evan yang jarang muncul juga datang.
"Aku tidak ingin ikut."
Menoleh ke sumber suara, James melihat Evan si bocah pirang yang sedang cemberut.
"Bukankah aku sudah bilang ini wajib, Evan?"
"Tapi aku hanya anak SD! Menurut ibu, aku tidak perlu mengikuti jamuan makan orang dewasa seperti itu!
__ADS_1
Aku akan tinggal menjaga markas bersama dengan Nam!"
"..."
Omong kosong suci! Kamu hanya ingin bermain dengan Nam!
James berseru dalam hati. Sejak Evan melihat Nam, bocah itu merasakan bahwa dirinya mendapat saingan. Namun karena sadar bahwa Nam tidak memiliki kekuatan khusus, Evan menjadi lega.
Bocah itu menganggap Nam seperti juniornya sendiri. Itu karena dia sering pamer ilmu Telekinesis miliknya kepada Nam, dan anak polos itu benar-benar takjub. Tentu, hal itu membuat Evan yang sombong menjadi lebih bangga. Bahkan mulai sering membual.
"Tidak apa-apa untuk tinggal," ucap Adam santai. "Evan ada benarnya. Kita tidak bisa membawa anak kecil untuk minum atau mungkin berdebat, kan?"
"Kamu ada benarnya, Mr Owl."
Melihat Adam yang menganggap hal itu santai, James merasa lega. Dia takut pemuda bertopeng itu merasa kesal karena harus terpaksa mengikuti acara semacam ini.
Mengabaikan tatapan James, Adam malah menghampiri Nam lalu mengelus kepalanya.
"Jangan lupa untuk melakukan tugas harian dan belajar sebelum bermain dengan Evan, Nam. Kami harus ingat tujuan aku membawamu kembali."
"Saya mengerti, Guru!" jawab Nam dengan hormat.
Mendengar ucapan Adam, Evan merasa tertekan. Dia bahkan mulai mencoba untuk mencari alasan untuk Nam.
"Bukankah ini hari libur? Setidaknya kamu bisa membuatnya beristirahat sehari
... kan?"
Setelah mengatakan itu, Evan langsung menjadi pusat perhatian. Anggota lain menatapnya dengan senyum main-main, sementara Adam sendiri menatapnya dengan ekspresi tak acuh.
"Nam berbeda denganmu, Nam. Ada alasan kenapa aku membawanya ke sini.
Dia bukan anggota Departemen Misteri, tetapi muridku. Sebagai guru, aku sudah mengatur semuanya. Jadi kamu tidak memiliki hak untuk mengatur."
"Tapi aku—"
"Tidak apa-apa, Kak Evan." Nam menggelengkan kepalanya. "Tuan memang benar, dan saya tidak keberatan dengan itu. Menurut saya sendiri, apa yang Tuan atur itu bagus untuk perkembangan saya. Jadi, saya lebih merasa senang daripada tertekan."
"..."
Setelah beberapa saat berbicara, semuanya akhirnya setuju Evan tinggal di markas bersama dengan Nam. Selain itu, enam orang termasuk Adam akhirnya berpamitan.
Melewati pintu keluar, James yang melihat langit biru langsung menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kalau begitu ... mari kita berangkat sekarang."
>> Bersambung.