Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Senang Mengenalmu


__ADS_3

'Tidak pernah bisa keluar?'


Pertanyaan itu langsung terlintas dalam benak Adam. Bukannya langsung percaya, dia menatap ke arah gadis itu dengan ekspresi curiga. Pemuda itu tampak serius. Benar-benar telah siap menghadapi serangan mendadak atau semacamnya, tetapi ...


Sama sekali tidak ada yang terjadi!


"Kamu terlalu waspada."


Mendengar ucapan Melly, Adam mengerutkan keningnya. Dia mengamati sekitar dan akhirnya menghela napas panjang karena tidak bisa menemukan apa-apa kecuali ruang hitam sejauh mata memandang.


Entah karena lelah atau karena sudah tidak lagi peduli, Adam langsung duduk di lantai. Sama sekali tidak peduli apakah gadis di depannya akan menyerang atau tidak. Dia malah lebih fokus untuk memulihkan tenaga serta tubuhnya.


'Ya ... tidak begitu sakit seperti sebelumnya.'


Adam merasa agak lega melihat tangan kirinya menjadi lebih baik. Pada awalnya, dia takut kalau tangan kirinya tidak bisa disembuhkan jika terlambat atau semacamnya. Namun pemuda itu ternyata masih meremehkan kemampuan penyembuhan tubuhnya.


'Tampaknya aku harus makan lebih banyak hal-hal bergizi agar cepat sembuh. Lagipula, energi untuk menyembuhkan diri juga berasal dari sana.'


Adam yang sedang merenung terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba diguncang.


"Hey! Hey! Kenapa kamu mengabaikan aku, Adam?"


"..."


Mendongak ke atas, Adam melihat sosok Melly yang mengguncang tubuhnya dengan ekspresi marah.


Melihat pemandangan yang bisa dibilang indah dan lucu itu membuat Adam menghela napas panjang. Jika bukan karena Melly adalah hantu, mungkin dia bisa tertarik dengan penampilan gadis polos seperti itu. Pemuda itu tiba-tiba memikirkan Bella yang ada di rumah.


"Ada apa?" tanya Adam.


"..."


Melihat ekspresi datar di wajah Adam, sudut bibir Melly berkedut. Dia tidak menyangka kalau pemuda itu benar-benar mengabaikan dirinya.


"Kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan tadi, Adam?"


"Yang mana?"


"..."


Menerima balasan yang singkat itu, Melly tertegun sejenak. Napasnya mulai naik turun sebelum akhirnya dia juga ikut duduk di depan Adam.


"Ceritakan padaku. Sekarang, dunia luar tampak seperti apa?"


"..."


Adam yang mendengar pertanyaan Melly melihat ke kanan dan kiri. Tidak menemukan petunjuk apa-apa, dia akhirnya menggelengkan kepalanya.


"Kamu ingin tahu?"


"Tentu saja!" Melly mengangguk.


"Jadi, dunia sekarang itu ..."


Adam mulai menjelaskan kepada Melly bahwa banyak yang telah berubah. Sekarang banyak yang memiliki mobil, banyak gedung bertingkat, dan masih banyak lagi.


Mendengar cerita Adam, mata Melly berbinar. Tampaknya gadis itu membayangkan semuanya dan benar-benar terkejut dengan perubahan yang telah terjadi.


"Wow ... apakah apa yang kamu ucapkan itu benar, Adam?"


"Ya, begitulah." Adam mengangguk ringan.


"Tampaknya puluhan tahun kembali berlalu. Terakhir kali aku mendengar cerita, semuanya tidak secanggih yang kamu ucapkan."


Melly berkata dengan ekspresi penuh kerinduan.


"..."


Ekspresi Adam tiba-tiba berubah ketika mendengar ucapan Melly. Pemuda itu langsung tahu, kalau selama ini bukan hanya dirinya yang jatuh ke tempat ini. Pertanyaannya adalah ...

__ADS_1


'Dimana orang-orang yang terjatuh?'


Adam menatap ke arah Melly dengan ekspresi seriusan.


"Aku tahu kamu sama sekali bukan gadis jahat, Melly. Jadi, bisakah kamu katakan ... dimana jalan keluarnya?"


Melly yang awalnya melamun terkejut dengan pertanyaan Adam. Gadis itu memiringkan kepalanya lalu berkata dengan datar.


"Aku sudah bilang, aku tidak tahu, Adam."


"Jika kamu tidak tahu, lalu kemana orang-orang itu pergi?"


"..."


Adam dan Melly saling memandang.


"Dari mana kamu tahu kalau bukan hanya kamu yang datang ke tempat ini, Adam?"


"Kamu sempat keceplosan." Adam langsung menjawab jujur. "Jadi ... bagaimana cara keluar dari tempat ini, Melly?"


"Itu ..." Melly terus menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak tahu."


"Aku tahu kamu kesepian, tapi aku harus kembali. Banyak yang telah menungguku kembali.


Kekasihku, teman-temanku, muridku ... banyak yang sekarang sedang menungguku."


"..."


Melihat ke arah Adam yang penuh dengan tekad, Melly tampak agak ragu. Pada awalnya dia ingin mencoba mengalihkan pembicaraan, tetapi gadis itu tidak bisa berkata apa-apa ketika Adam terus menatapnya dengan intens.


Pada akhirnya, Melly menghela napas panjang.


"Aku benar-benar tidak tahu, tapi ..."


"Tapi?" ucap Adam mengikuti.


Mendengar jawaban Melly, mata Adam langsung menyempit.


Menatap ke arah Melly dengan ekspresi serius, Adam kemudian bertanya.


"Dimana jalan keluarnya?"


"..."


Melly yang melihat tekad Adam hanya bisa menampilkan senyum pahit. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum balik bertanya.


"Jika aku bilang, ketika kamu gagal kamu akan tersiksa selamanya ...


Akankah kamu juga akan tetap mencoba pergi?"


"Aku harus pergi!"


Melly yang mendengar ucapan Adam tersenyum lembut.


"Sudah aku duga, kamu akan mengatakan itu, Adam."


Melly hanya bisa menghela napas panjang. Dibandingkan beberapa roh yang terjebak sebelumnya, dia bisa melihat tekad kuat di mata Adam.


Gadis itu menganggap para roh sebelumnya sebagai pengecut atau orang bodoh. Namun entah bagaimana, dia merasa kalau lelaki tampan yang tubuhnya dipenuhi luka mungkin saja selamat. Karena ...


Tidak tahu kenapa, Melly merasa bahwa Adam terasa begitu akrab dan tidak asing baginya.


"Jadi, jawabanmu?"


"Ikuti aku."


Melly menjawab singkat dengan senyum di wajahnya. Dia mengulurkan tangannya ke arah Adam, dan terkejut ketika melihat pemuda itu tanpa ragu langsung meraihnya.


'Pemuda ini ...'

__ADS_1


Pikir Melly ketika menatap ekspresi tegas di wajah Adam.


***


Adam dikejutkan oleh perubahan ruangan ketika dirinya meraih tangan Melly.


Tidak jauh dari mereka berdua, sebuah pusaran aneh muncul di lantai. Pusaran itu berhenti berputar ketika menunjukkan sebuah lubang.


Dalam lubang itu, tampak anak tangga yang mengarah ke bawah. Menuju ke tempat gelap yang tidak bisa Adam jangkau dengan penglihatannya. Satu hal yang pasti ...


Adam mencium aroma yang familiar!


"Ini ..."


Pemuda itu bergumam pelan.


"Jika kamu tidak percaya—"


"Aku percaya kalau ini memang satu satu-satunya jalan."


Adam langsung menyela Melly yang berkata dengan nada agak khawatir. Dia juga merasakan bahwa tangan gadis itu juga menggenggam tangannya lebih erat.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu."


Adam mengangguk sebagai jawaban.


Melly bergandengan tangan dengan Adam lalu berjalan menuju ke tangga. Mereka kemudian berjalan ke bawah bersama.


Tak! Tak! Tak!


Suara sepatu yang menginjak anak tangga terus terdengar. Entah kenapa, tangga itu tampaknya sangat panjang karena mereka sama sekali tidak mencapai dasar padahal telah lama berjalan.


"Hey, Adam?"


"Ya?"


"Kenapa kamu ingin kembali? Mungkin saja di sana, tubuhmu tidak bisa lagi diselamatkan. Kamu mungkin sudah mati?"


"Ada banyak orang yang menungguku. Bagaimana denganmu?"


"Aku?"


"Ya. Apakah kamu tidak ingin keluar dari tempat ini? Meski kamu adalah roh, bukannya lebih baik untuk pergi ke alam berikutnya daripada terkurung dalam ruang gelap ini?"


"..."


"Maaf, aku tidak ingin mengungkitnya. Aku hanya penasaran."


"Sebenarnya, aku juga ingin keluar dan muak, tapi ..."


Tak! Tak! Tak!


Adam dan Melly melihat cahaya merah di bawah. Gadis itu menggenggam erat tangan Adam.


Pemuda itu sendiri menatap Melly yang memiliki ekspresi kompleks di wajahnya. Dia ingin tahu alasan gadis itu, tetapi sama sekali tidak berniat memaksa.


Mereka berdua sampai dan berhenti di anak tangga terakhir. Di sana ada tirai cahaya merah yang mengarah entah kemana.


"Kamu akan tahu jawabannya ketika terus berjalan ke depan, Adam."


Mendengar itu, Adam melepaskan tangan Melly. Dia hendak berjalan ke depan, tetapi langkahnya terhenti.


Menoleh ke arah Melly, Adam tersenyum.


"Senang bisa mengenalmu, Melly."


Tepat ketika menyelesaikan ucapannya, Adam langsung melangkah ke depan. Melewati sebuah pintu, tampak seperti portal merah yang akan membawanya entah kemana.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2