
“Saya sudah tidak kuat lagi, Kak Adam.”
“Cukup …”
“Tidak bisakah saya beristirahat sebentar, Kak Adam?”
“Kaki saya benar-benar lemas …”
“...”
Melihat Bella yang mengeluh, Adam bergeming. Dia masih memandang gadis itu dengan ekspresi serius.
“Bagus! Kamu boleh beristirahat.”
Setelah mendengar ucapan Adam, Bella jatuh berbaring di lantai dengan napas naik-turun.
“100x push up, 100x sit up, dan 100x squat. Ditambah nanti berlari 10 kilometer, itu adalah jadwal latihanmu mulai hari ini.”
“Eh???” Mendengar ucapan Adam, Bella tampak putus asa.
Gadis yang biasanya hanya mengerjakan pekerjaan rumah dan jarang berolahraga itu merasa tertekan. Bagi para profesional, mungkin menu latihan semacam itu sama sekali tidak terlalu berat. Namun bagi Bella yang nyaris tidak pernah berolahraga, itu benar-benar seperti latihan neraka.
“Ini juga demi kebaikanmu, Bell.”
Melihat ekspresi tulus Adam, Bell akhirnya mengangguk lembut.
“Saya mengerti, Kak Adam.”
Adam kemudian menghampiri Bella sambil memberinya sebotol air mineral dan satu butir pil hitam.
“Minumlah,” ucap Adam lembut.
Bella sama sekali tidak memiliki keraguan terhadap Adam, jadi dia memilih untuk meminum pil itu.
Beberapa saat kemudian, Bella memiringkan kepalanya dengan ekspresi heran.
“Obat apa yang anda berikan kepada saya, Kak Adam?”
“Kenapa? Apakah tidak enak?”
“Sedikit pahit tetapi menyegarkan seperti mint. Selain itu, kenapa saya merasa kalau rasa lelah saya begitu cepat sembuh?”
Mendengar itu, Adam mengelus dagu. Kelihatannya bagi orang yang jarang berolahraga seperti Bella, efeknya akan menjadi lebih manjur. Oleh karena itu, pemuda itu memutuskan dalam hati.
Satu pil per hari. Satu bulan kemudian, naikkan menjadi dua pil per hari sambil melatih Bell seni bela diri.
Ya. Adam memiliki rencana untuk membuat Bella lebih kuat dan bisa menjaga diri. Hal itu akan membuatnya merasa lebih nyaman dan tenang. Selain itu, jika Bella sudah cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri …
Tidak lagi masalah untuk menyeret Nix untuk bekerja lembur dan berlatih sampai sekarat!
Membayangkan ekspresi putus asa Nix, Adam mengangkat sudut bibirnya. Tampak begitu bahagia.
Sementara itu, Nix yang sedang menikmati jagung di mangkoknya tiba-tiba menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada apa-apa di sekitar, si ayam tampak curiga.
‘Perasaan buruk apa ini? Kenapa Tuan Ayam ini merasakan ancaman yang mengerikan?’
...***...
__ADS_1
Malam harinya.
“Ah! Benar-benar melelahkan!”
Duduk di kursinya, Jennifer menatap beberapa makanan di atas meja sambil merentangkan tangannya. Dia kemudian melihat sosok Bella yang duduk tidak jauh darinya.
“Seperti biasanya, kamu benar-benar handal dalam memasak, Bella.”
Meski hubungan Adam dan Jennifer belum resmi, tetapi Bella telah menerima wanita itu dengan baik. Belum lagi, dia merasa senang karena Jennifer memperlakukannya seperti seorang adik.
Setiap malam minggu biasanya Jennifer akan datang untuk makan malam. Wanita itu kemudian melirik Adam yang makan dengan ekspresi tenang.
“Tidak bisakah setidaknya kamu menanyakan kabarku atau kasus yang sedang aku kerjakan, Adam? Kamu benar-benar dingin!”
“Bilang saja kamu ingin meminta bantuanku. Jangan memainkan kartu perasaan di sini sehingga aku merasa bersalah.” Adam berkata dengan tenang. Masih sibuk dengan makanannya sendiri.
“Cih! Dasar dingin.”
Mendengar ucapan Adam, Jennifer tahu strateginya tidak berhasil. Dia mendecak tidak puas sebelum mengambil garpu dan melemparnya ke arah pemuda itu.
Adam yang menangkap garpu itu langsung memandang ke arah Jennifer.
“Sudah berapa kali aku bilang, Jennifer? Berhenti melakukan hal berbahaya seperti ini. Jika itu orang lain, aku takut kepalanya sudah dilubangi oleh garpu yang kamu lempar!”
“Justru aku melakukannya karena itu kamu. Aku masih heran, bagaimana bisa kamu menangkap lemparan sepecat itu dalam jarak pendek?”
“...”
Melihat Adam hanya diam, Jennifer menjulurkan lidahnya. Tampak seperti anak kecil.
“Aku melakukannya sebagai cara aku mengungkapkan perasaanku kepadamu, Adam.”
“I-Itu … sebenarnya aku peduli denganmu,” ucap Jennifer malu-malu.
Melihat wajah Jennifer yang merona, Adam tercengang. Pemuda itu sampai bertanya dalam hati.
Bukankah itu aneh? Bagaimana bisa seorang wanita mengungkapkan rasa sayangnya dengan cara melempar garpu, bahkan pisau makan ke arah orang yang disayanginya?
Itu aneh!
Adam merasa campur aduk dan Jennifer merasa malu-malu. Melihat keduanya, Bella tersenyum lembut. Dia merasa sangat senang karena hidupnya lebih berwarna dan berada di antara orang-orang yang peduli padanya.
“Jadi … apa kamu perlu bantuan lain?” tanya Adam.
“Kami menemukan dua dari empat orang yang meloloskan diri dari Rumah Sakit Jiwa.”
“Kalian sudah menangkap mereka?” tanya Adam.
“Belum. Hanya mengetahui lokasi di mana keduanya berada.”
“...”
Adam terdiam sebelum berbisik pelan.
“Tidak berguna.”
Karena apartemen itu agak sunyi tanpa suara televisi atau musik, Jennifer masih bisa mendengar ucapan Adam. Dia langsung memelototi pemuda itu.
__ADS_1
“Itu bukan karena kami tidak berguna. Banyak peraturan dalam kepolisian. Kami tidak mungkin membunuh mereka begitu saja, kan? Benar kan, Bella?”
Bella yang namanya tiba-tiba dipanggil tampak agak panik dan buru-buru menjawab, “I-Iya. Itu benar, Kak Jennifer.”
“Lihat! Bahkan Bella setuju!” ucap Jennifer sambil mengangkat kepala tinggi-tinggi.
“Baik. Terserah padamu.” Adam mengangkat bahu dengan ekspresi lelah.
“Kamu akan membantu, kan?” tanya Jennifer.
“...”
Melihat sosok Jennifer yang bersemangat, Adam menghela napas panjang sebelum mengangguk.
“Kapan? Nanti malam kita akan mengepung mereka.”
“...”
Okay … kenapa aku merasa ini adalah pemaksaan?
Pada saat Adam merasa atk berdaya, suara Bella tiba-tiba terdengar.
“Sepatu dan sarung tangan anda juga selesai, Kak Adam. Seperti yang anda katakan … topeng juga!”
“...”
Bukannya merasa baikan, mendengar itu membuat Adam merasa agak tertekan. Namun melihat tatapan antusias Bella, dia memaksakan diri untuk tersenyum sambil mengangguk ringan.
“Sepatu? Sarung tangan?” tanya Jennifer dengan ekspresi penasaran.
Melihat Jennifer yang penasaran, Bella menatap Adam dengan mata berbinar. Kelihatannya ingin pemuda itu segera berganti pakaian.
Setelah menghela napas panjang, Adam berkata.
“Kita makan malam terlebih dahulu.”
Merasakan makan malam di piringnya, entah kenapa … Adam merasa itu menjadi agak hambar.
Satu jam kemudian.
“Pfftt … Hahaha! Aku tidak tahan … aku tidak tahan lagi!”
Melihat Jennifer yang tertawa sambil memegang perutnya, Adam yang memakai ‘pakaian tempur’ miliknya tampak tertekan. Memegang topeng merah di tangannya, pemuda itu hanya bisa menghela napas panjang.
“A-Apakah itu tidak cocok, Kak Jennifer?” tanya Bella dengan ekspresi sedih.
Melihat ke arah Bella, Jennifer tahu bahwa dirinya agak kelewatan. Dia segera menghibur gadis itu.
“Sebenarnya sangat cocok, bahkan terlihat tampan. Hanya saja … aku rasa setelan semacam itu terlalu mencolok untuk digunakan sebagai pakaian tempur. Ini berbeda dengan pahlawan dalam film, Bella.”
Sadar kalau dirinya agak salah menilai, Bella mengangguk. Namun dia masih agak lega. Gadis itu takut apa yang dia buat tampak aneh bahkan lucu.
Jennifer berjalan menuju Adam lalu menepuk pundak pemuda itu.
“Karena awalnya kamu disebut Owl, ditambah dengan topeng merah itu … aku akan manggilmu Crimson Owl mulai sekarang.”
Melihat Jennifer yang menyeringai ke arahnya, sudut bibir Adam berkedut.
__ADS_1
>> Bersambung.