
"Apakah ada yang salah dengan penglihatan anda, Mr Owl?"
Mengabaikan pertanyaan lelaki itu, Adam menghampiri bocah itu sembari bertanya dengan lembut.
"Siapa namamu, Nak?"
"Nama saya Kevin," ucap bocah itu sambil mengerutkan kening. "Apakah anda teman paman dan bibi aneh kemarin? Apakah anda juga menganggap saya gila?"
"Kevin, kamu tidak boleh seperti itu Nak."
Sang ibu segera memperingatkan putranya. Dia tahu sosok pemuda bertopeng putih itu berbeda dengan rekan-rekannya kemarin. Wanita itu takut pemuda itu menyakiti putranya karena nada bicaranya.
"Aku memang rekan mereka, tetapi aku datang untuk memastikan apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Sepertinya kekhawatiranku memang benar ...
Apakah kamu merasakan sakit di tangan kananmu, Kevin?"
Kevin kecil agak bingung, tetapi akhirnya memutuskan untuk menjawab jujur.
"Tidak. Sama sekali tidak. Hanya saja ..."
"Ada apa? Katakan saja," ucap Adam dengan lembut.
"Tidak. Saya—"
"Aku sama sekali tidak akan menganggap kamu gila, berfantasi, atau berhalusinasi."
Mendengar Adam yang menyela, ekspresi bocah itu menjadi terkejut.
"Sungguh?"
"Sungguh." Adam langsung mengangguk pasti.
"Sebenarnya ... saya merasa, terkadang tangan saya bergerak sendiri. Juga, saya sering mendengar bisikan seorang perempuan di malam hari."
"Jadi begitu ..."
Adam mengangguk.
"Apakah anda tahu bagaimana cara menyembuhkan putra kami, Mr Owl? Tidak peduli biayanya—"
"Tenanglah, Sayang." Ayah Kevin menghentikan istrinya.
"Aku hanya bisa mencoba. Namun ini agak berbahaya, apakah kalian benar-benar ingin menonton?
Juga ... Apakah kamu setuju dengan itu, Kevin?"
"Apakah itu menyakitkan?" tanya Kevin ragu.
"Tidak jelas, tetapi kemungkinan besar menyakitkan."
"Apakah aku tidak akan mendengar suara perempuan itu lagi di malam hari?"
"Jika berhasil, seharusnya kamu tidak akan mendengar hal itu lagi."
"Kalau begitu biarkan saya mencobanya, Paman!"
__ADS_1
"..."
Adam terdiam. Dia ingin marah, tetapi hanya bisa tersenyum pahit di balik topengnya.
"Kami juga ingin melihat prosesnya, Mr Owl!"
"Kalian serius?" tanya Adam.
"Kami serius."
"Kalau begitu kalian boleh tinggal."
Adam kemudian mengangkat Kevin yang bingung dan membaringkannya di atas ranjang. Melihat bocah itu agak panik, dia langsung mengaktifkan skill Suzaku's Cry.
"Tenang ..." ucap Adam.
Suara Adam bagai angin hangat di musim semi. Pada saat suaranya terdengar, pemuda itu melihat warna hitam di tangan Kevin seperti air yang beriak.
Ekspresi Adam menjadi lebih serius. Dia mengulurkan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang jimat pelindung.
"Kalian berdua ... tolong lihat dari kejauhan. Lebih baik dekat pintu sehingga bisa segera keluar dari kamar jika ada yang salah terjadi."
Adam sekali lagi mengingatkan.
Awalnya pasangan suami-istri itu tampak ragu. Namun setelah itu, mereka tidak berani mengabaikan peringatan Adam.
Melihat keduanya berada di dekat pintu yang terbuka, Adam mengangguk ringan. Dia menarik napas dalam-dalam.
Energi emas melapisi tangan kanannya. Menurut Lei Fan dan Lei Na, energi semacam ini bisa digunakan untuk melawan hampir segala bentuk kenajisan.
Bagai besi panas bertemu dengan balok es. Suara mendesis terdengar di telinga, Adam sendiri melihat zat hitam itu sedikit menguap.
Detik berikutnya, aroma amis sekaligus busuk memenuhi ruangan. Adam mengerutkan keningnya, tetapi masih terus menekan zat aneh yang menyelimuti tangan kanan Kevin.
Pada saat zat hitam menghilang dari jari-jari dan telapak tangan Kevin, Adam merasakan bahaya.
"Jimat es pelindung."
Lapisan pelindung berwarna biru muda menyelimuti Adam. Detik kemudian, zat aneh yang menyelimuti tangan kanan Kevin tiba-tiba menjadi rambut tak terhitung jumlahnya dan menusuk ke arahnya.
Dipantulkan oleh jimat es pelindung, rambut-rambut tajam itu menggaruk dinding bahkan memecahkan beberapa kaca dalam ruangan.
Melihat tembok yang tergores dan kaca yang pecah begitu saja membuat pasangan suami-istri itu menjadi ketakutan. Mereka tahu apa yang mereka lihat itu nyata.
Melihat istrinya yang linglung, ayah Kevin langsung menariknya keluar kamar.
Adam mengabaikan keduanya dan fokus meraih pusat di mana pangkal rambut itu berada. Pemuda itu kemudian langsung menariknya, seperti sedang mencabut tanaman rambat dari tanah. Mungkin karena sudah mengakar cukup dalam, Kevin langsung berteriak kesakitan.
"ARRGHH!!!"
Setelah berusaha keras, Adam benar-benar berhasil mencabut benda itu. Entah tanaman atau rambut, intinya ... dia berhasil mencabutnya.
Ketika berhasil dicabut, Adam merasa benda itu berhenti bergerak dan kehilangan kekuatannya. Beberapa saat kemudian, setelah beberapa kali menggeliat, benda itu memudar dan hilang.
Masalahnya ... tidak ada Spirit Bead!
__ADS_1
Bukan berarti Adam tamak, sebaliknya, dia tahu jika makhluk itu benar-benar musnah ... pasti akan ada Spirit Bead. Yang berarti, apapun makhluk itu ... dia belum binasa.
Adam kemudian melihat tangan Kevin yang kembali normal. Namun matanya menyempit ketika melihat sebuah tanda kecil aneh di punggung tangan bocah itu.
"Ini ..."
Melihat tanda seperti angka 3 yang tidak jelas berwarna merah, ekspresi pemuda itu berubah.
Apakah ... ini sebuah kutukan? Jika itu benar ...
Ekspresi Adam menjadi lebih serius. Apabila dugaannya benar, berarti musuhnya sangat kuat. Bisa membuat kutukan sekuat itu ... dia merasakan ancaman cukup besar.
"Apakah semuanya telah selesai, Mr Owl?"
Suara ayah Kevin menyadarkan Adam dari lamunannya. Menghela napas panjang, dia menjawab.
"Ya. Kalian boleh masuk."
Mendapatkan izin dari Adam, sepasang suami-istri itu masuk ke dalam kamar. Melihat kamar yang berantakan dan aroma amis serta menyengat itu membuat keduanya mengerutkan kening. Bahkan ibu Kevin terlihat ingin muntah.
Melihat Kevin yang tak sadarkan diri, mereka berdua segera menghampirinya. Melihat bahwa putra mereka hanya pingsan karena kelelahan, keduanya tampak lega.
"Apakah semuanya sudah diurus, Mr Owl?"
"Untuk sementara, semua aman."
Mendengar ucapan tak acuh Adam, keduanya tampak terkejut.
"Maksud anda ..." Ayah Kevin tampak ragu.
"Apakah kalian berdua memiliki musuh dalam bisnis, mungkin urusan cinta, atau semacamnya?"
"Kenapa anda tiba-tiba menanyakan itu, Mr Owl?" tanya Ibu Kevin.
"Putramu mendapatkan sejenis kutukan aneh. Saking anehnya aku tidak mengerti kutukan apa itu.
Jika kutukan normal, seharusnya sudah dihilangkan. Namun ini berbeda, tandanya masih ada. Kelihatannya bisa kembali kapan saja. Lebih tepatnya, tumbuh lagi."
Mendengar ucapan Adam, keduanya saling memandang dengan ekspresi ketakutan. Mereka berdua tampak berpikir keras. Namun akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Saya tidak tahu. Setahu kami ... kami tidak memiliki banyak musuh, belum lagi musuh yang sangat membenci.
Sama sekali tidak ada. Setidaknya kami pikir begitu. Kami tidak pernah merasa menyakiti atau merebut bisnis orang lain. Kami juga tidak merasa memiliki masalah dalam hubungan. Jujur saja ... kami benar-benar tidak tahu, Mr Owl."
Melihat keduanya yang tampak tertekan, Adam hanya bisa menghela napas panjang. Pada saat itu, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Dia langsung mengamati seluruh area di sekitarnya, tetapi tidka menemukan apa-apa.
Siapa yang mengawasiku barusan?
Merasa dirinya terbuka di bawah cahaya sementara musuh bersembunyi dalam bayangan membuat Adam merasa tertekan.
Melihat sosok Kevin, tangannya mengepal erat. Pemuda itu kemudian bergumam pelan.
"Sepertinya ... aku hanya bisa menunggu Kevin sadar terlebih dahulu."
>> Bersambung.
__ADS_1