Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Bunga Matahari Merah


__ADS_3

Melihat ke arah bunga aneh yang tidak menghilang meski Gardener telah menghilang, Adam sadar kalau benda itu sama sekali bukan bagian dari makhluk tersebut.


Pemuda itu waspada, tetapi juga merasa penasaran. Setelah memerhatikan bunga itu sama sekali tidak tiba-tiba menyerang dan hanya terus berkedip sambil diam di sana, Adam membulatkan tekadnya. Dia mengulurkan tangan untuk meraih bunga itu.


Namun ketika jemari Adam menyentuh pot tersebut, kesadaran pemuda tiba-tiba menghilang. Dia benar-benar langsung jatuh dalam kegelapan.


***


Membuka matanya, Adam melihat mentari cerah menerangi bumi.


Melihat ke arah dirinya sendiri, pemuda itu terkejut. Dia melihat tubuhnya benar-benar semi transparan dan tembus cahaya.


"Apakah aku mati?"


Mengingat yang terjadi sebelumnya, Adam langsung menepis gagasan tersebut. Dia kemudian melihat sekeliling. Selain rumah bergaya Eropa tiga lantai yang indah, dia melihat banyak rumah masih bergaya cukup tua.


Tidak ada banyak gedung pencakar langit. Dia malah melihat sebuah kota yang belum sepenuhnya berkembang.


Meski sudah ada jalan raya, tetapi Adam masih melihat banyak kebun dan pepohonan. Tampaknya lokasinya sama, tetapi sekarang dia berada di masa lampau. Berbeda dari tempat seharusnya pemuda itu berada.


"Apakah aku terlempar ke masa lalu? Ilusi? Atau ... kenangan?"


Pada saat itu, Adam menyadari bahwa di sebelahnya ada sosok lelaki tua dengan baju penuh dengan tambalan berdiri.


Adam mencoba melambai kepada lelaki tua itu, tetapi tampaknya tidak merespon karena tidak bisa melihat dirinya.


Pemuda itu melihat lelaki tua itu duduk di gubuk sambil menyeka keringatnya.


Adam melihat sekeliling. Sama seperti sebelumnya, dia berada di kebun belakang rumah, tetapi berbeda dengan kebun yang suram, tempat ini dipenuhi berbagai jenis bunga warna-warni.


Tampak begitu indah dan memanjakan mata!


Pada saat Adam mencoba berjalan menjauh lebih dari lima meter dari lelaki tua tersebut, tubuhnya mulai memudar. Sama sekali tidak panik, dia malah mencoba untuk melihat apa yang terjadi kepadanya sekarang.


Ketika menjauh lebih dari lima meter dari pria tersebut, Adam pudar. Ketika dia cukup dekat, tubuhnya kembali begitu saja.


Dari itu saja dia dapat menarik kesimpulan bahwa alasan dia berada di sini ada sangkut pautnya dengan lelaki tua itu.


Pada saat itu, Adam melihat gadis kecil keluar dari rumah. Dia langsung terkejut karena penampilan gadis kecil itu mirip dengan Mia, tetapi lebih muda.


Gadis kecil itu memiliki ekspresi tak acuh, tampak apatis. Dia berjalan ke arah lelaki tua itu sambil membawa buku.


"Kakek Ozzie?"


"Iya, Nona?"


"Jika dilihat, matahari itu putih atau kuning, kan?"


Gadis itu berkata dengan nada monoton.


"Benar." Pak Ozzie mengangguk.


"Lalu kenapa dalam buku tertulis kalau matahari berwarna merah?"


"Karena jika dilihat lebih jelas atau lebih dekat, matahari sebenarnya merah. Seperti sebuah bola api raksasa.


Itu yang saya dengar, tapi saya juga tidak begitu tahu, Nona."

__ADS_1


"Lalu ..." Gadis kecil itu menunjuk ke arah bunga matahari. "Kenapa bunga itu dinamai bunga matahari meski warnanya tidak merah?"


"Karena terlihat seperti matahari yang sedang bersinar terang."


"Meski tidak merah?"


"Hahaha! Tentu saja karena tidak ada bunga matahari seperti itu, Nona."


"Padahal aku ingin melihatnya."


"..."


Mendengar suar monoton gadis kecil itu, Pak Ozzie tersentak. Ekspresinya yang ramah menjadi semakin lunak.


"Bagaimana kalau aku mengajari Nona menanam bunga matahari? Mungkin bunga yang Nona tanam akan tumbuh dengan warna merah?"


"Benarkah?" Gadis kecil itu memiringkan kepalanya dengan ekspresi hampa.


"Mungkin saja."


"Kalau begitu besok aku akan mencobanya."


Seperti yang dijanjikan, keesokan harinya gadis itu pergi ke taman belakang rumah dan menemui Pak Ozzie.


Lelaki tua itu kemudian mengajari gadis kecil itu menanam bunga.


Beberapa hari berlalu begitu saja. Gadis itu sering datang dan banyak bertanya kepada Ozzie.


"Kenapa tanaman harus dipupuk?"


"Bagaimana cara A?"


"Bagaimana cara B?"


"..."


Banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh gadis itu.


Pak Ozzie menjawab semua pertanyaan dengan sabar, bahkan juga mengajari gadis itu untuk melakukannya.


Hari-hari terus berlalu, sampai suatu ketika, Pak Ozzie terkejut melihat gadis kecil itu datang ke kebun dengan darah mengalir dari dahinya. Namun anehnya, gadis itu memiliki ekspresi datar dan tidak tampak kesakitan.


"Apa yang terjadi kepadamu, Nona? Kenapa anda bisa terluka?"


"Anak-anak lain melempari aku dengan kerikil."


Mengatakan hal itu, di gadis kecil tersebut sama sekali tidak merubah ekspresinya. Dia tidak tampak sedih, kecewa, atau marah. Benar-benar apatis.


"Bocah-bocah nakal itu ... ksnapa mereka melakukannya?"


"..." Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


"Ikut aku, Nona. Aku akan memarahi mereka."


"Tidak usah."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa."


"Apakah Nona tidak marah?"


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa? Jelas mereka telah melukai Nona dengan begitu buruk."


"..."


Gadis itu menatap ke arah Pak Ozzie dengan ekspresi kosong. Lebih tepatnya, agak bingung karena lelaki tua itu marah karena alasan yang tidak dia pahami.


"Ikut saja denganku, Nona. Aku akan memarahi mereka."


Pak Ozzie menggandeng tangan gadis kecil itu kemudian pergi menuju ke tempat anak-anak bermain.


Melihat anak-anak sedang bermain kejar-kejaran sambil tertawa, Pak Ozzie berteriak.


"Kemarilah, Anak-anak! Siapa yang mengajari kalian untuk berbuat jahat seperti itu! Datang untuk minta maaf sekarang!"


Mendengar teriakan Pak Ozzie, anak-anak ketakutan. Mereka kemudian melarikan diri. Hanya saja, beberapa bocah ceroboh sempat tersandung dan jatuh.


Mereka menangis kencang dan membuat banyak warga keluar dan berkumpul.


Orang tua anak-anak yang terluka itu tidak terima dan malah memarahi Pak Ozzie.


"Lihat apa yang kamu lakukan, Pak Ozzie! Kamu benar-benar menakuti anak-anak, bahkan membuat mereka terluka!"


"Anak-anak kecil itulah yang bermasalah karena telah menyakiti Nona! Nona jelas tidak bersalah, tetapi dia dilempari batu!


Itu jelas perbuatan salah!"


Mendengar perkataan Pak Ozzie, banyak warga yang mulai berbisik. Mereka sama sekali tidak peduli dengan gadis kecil itu dan malah berkata.


"Gadis itu bahkan tidak mengeluh atau menangis. Kamu yang sudah melebih-lebihkannya, Pak Ozzie."


"Kami tahu kalau kamu begitu terpukul karena kehilangan putri dan calon cucumu. Kami juga tahu kamu menganggap gadis kecil itu sebagai cucumu sendiri.


Kamu harus ingat, Pak Ozzie. Putri dan cucumu telah tiada bertahun-tahun yang lalu! Seharusnya kamu sudah merelakan mereka!"


Mendengar itu, Pak Ozzie menggertakkan gigi. Dia menunjuk ke arah orang yang berbicara dengan ekspresi marah.


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan putri atau cucuku! Anakmu bersalah! B-jingan kecil itu harus minta maaf!"


Melihat Pak Ozzie marah, mereka ketakutan. Mendengus dingin, mereka akhirnya membawa anak mereka datang untuk minta maaf.


"Sudah puas?!"


"Pergi!" ucap Pak Ozzie dengan ekspresi marah.


Lelaki tua itu kemudian menggandeng gadis kecil itu untuk kembali ke rumah. Gadis itu memiliki ekspresi kosong, sama sekali tidak mengerti kenapa mereka semua berteriak dan saling memarahi. Ketika ada Pak Ozzie, mereka tidak berani berbicara. Namun saat Pak Ozzie pergi, banyak yang melirik dan mulai menghina lelaki tua itu. Karena ...


Begitulah manusia. Begitu egois untuk kepentingannya. Bahkan tidak mau mengakui kesalahan dan selalu merasa benar karena berada di pihak 'banyak orang'.


Ya ... bagian menjijikkan dari sifat manusia sebagai makhluk sosial.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2