
“Kalau begitu, aku ingin menyimpan benda ini. Tidak apa-apa kan, Jennifer?”
Melihat bagaimana Jennifer terus menatapnya, Adam merasa tidak berdaya. Pada akhirnya, dia mencoba mengalihkan perhatian gadis itu ke topik lain.
Jennifer tampak terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Adam. Wanita itu kemudian melihat bangkai ulat sebesar kepalan tangan yang tampak menjijikkan.
“Kamu boleh membawanya.”
“Terima kasih kalau begitu.”
Pada saat Adam hendak mengambil bangkai Darkblood Caterpillar, ekspresinya stagnan. Dia hampir lupa dan ingin memasukkan benda itu ke dalam Items Bag. Jika itu adalah Spirit Bead yang tidak bisa dilihat semua orang selain dirinya, tidak apa-apa. Namun, dia tidak bisa menjelaskan bagaimana bangkai seperti itu bisa menghilang secara tiba-tiba.
“Ada apa, Owl?”
“Aku lupa membawa wadah yang cocok,” ucap Adam dengan nada agak malu.
“Hah? Kalau begitu aku akan memberimu satu kantung plastik yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang bukti.” Jennifer menggeleng ringan sebelum berbalik pergi menuju mobil.
“Terima kasih.”
“Kalau begitu tolong borgol orang itu,” ucap Jennifer sambil melemparkan borgol ke arah Adam.
Pemuda itu menangkapnya dengan santai lalu mengangguk.
“Baik.”
Beberapa waktu kemudian.
Setelah menyimpan bangkai Darkblood Caterpillar, Adam memasukkan pria paruh baya yang tak sadarkan diri itu ke dalam mobil polisi. Sekarang dia dan Jennifer berdua berencana untuk segera melanjutkan patroli. Namun sebelum mereka pergi, pria paruh baya itu tiba-tiba membuka matanya.
Pria paruh baya itu tampak begitu lemas, merasa sama sekali tidak bertenaga. Ketika melihat kedua tangannya diborgol, ekspresinya yang sudah pucat menjadi semakin pucat.
“I-Ini … Apa yang terjadi di sini?” tanya pria paruh baya dengan ekspresi ketakutan.
“Berhenti berpura-pura, Bob! Jika tidak, aku benar-benar akan memukulmu!”
Mendengar lalu melihat sosok Jennifer, pria paruh baya bernama Bob itu menggigil ketakutan. Dia menyusut ke sudut. Benar-benar ingin menjauhi wanita itu.
“...”
Melihat pemandangan itu, Adam terdiam. Pura-pura batuk, dia kemudian menepuk pundak Jennifer lalu mendekati Bob.
“Bisakah kamu berhenti melakukan itu, Jennifer? Daripada polisi, kamu malah mirip dengan preman yang meminta jatah kepada pedagang di pasar.”
Mendengar ucapan Adam, Jennifer tersipu. Gadis itu memelototi Adam sambil menggertakkan gigi.
Mengabaikan penampilan Jennifer yang kelihatannya akan menggigit dia kapan saja, Adam mengalihkan pandangannya ke arah pria paruh baya bernama Bob itu.
“Kamu bisa memanggilku Owl, Paman Bob. Tidak perlu cemas, kami tidak berniat menyakiti kamu. Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan kami dengan jujur. Jadi-”
__ADS_1
“J-Jangan mendekat! K-Kamu pasti orang yang di suruh oleh wanita jahat itu untuk membunuhku, kan?” Bob berusaha menjauhi Adam.
“Aku sudah bilang-”
“Siapa yang akan percaya perkataan manis itu ketika melihat penampilan kamu yang mencurigakan!” potong Bob dengan nada cemas.
“Pfftt …” Mendengar itu, Jennifer nyaris tidak bisa menahan tawa. Wanita itu memandang Adam dengan tatapan tertarik.
Sementara itu, Adam yang berusaha bersikap ramah merasa tertekan. Ditambah dengan Jennifer yang menatapnya sambil menahan tawa, pemuda itu merasa agak jengkel.
Adam langsung memegang dan menarik Bob keluar dari mobil. Di depan tatapan terkejut Jennifer, pemuda itu langsung melemparkan Bob ke tanah. Sebelum pria paruh baya itu merespon, Adam tiba-tiba menamparnya.
PLAK!
“Bersyukurlah aku melakukannya perlahan, Bob. Jawab saja pertanyaanku atau aku akan menamparmu lebih keras.”
“...”
Melihat Adam yang lebih ganas, Bob tercengang. Dia ingin mengeluh, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa.
Kamu bilang ini perlahan? Aku merasakan darah di mulutku. Bahkan aku merasa beberapa gigiku hampir copot!
Kalau ini pelan? Bagaimana dengan yang keras? Apakah kamu akan memecahkan kepalaku!
Adam menatap Bob yang memandangnya dengan tatapan penuh dengan keluhan. Dia ingin marah, tetapi masih menahan diri.
“Bob …”
“Katakan! Kenapa kamu menyerang beberapa orang tidak bersalah yang bahkan tidak ada hubungannya denganmu di klub malam sebelumnya!”
“Eh???” Bob memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya. “A-Apakah anda bercanda, Pak?”
“Apakah kamu benar-benar tidak mengingat sesuatu sama sekali? Lalu apa yang kamu ingat terakhir kali!”
“...”
Melihat ke arah Adam yang siap menghajar dirinya kapan saja, Bob segera mengingat apa yang bisa dia ingat. Dengan gugup, pria paruh baya itu berusaha menjawab sebaik mungkin.
“I-Ingatan terakhis saya. S-Saya pergi ke klub malam untuk minum dengan rekan-rekan saya. Namun karena minum terlalu banyak … s-saya tidak mengingat apa yang terjadi selanjutnya.
A-Apakah saya tanpa sengaja melukai seseorang, Pak?”
“...”
Menyadari bahwa pria paruh baya itu memang tidak mengingat semuanya, Adam menggeleng ringan.
Sudah aku duga, dia dikendalikan dan kehilangan kesadaran serta kewarasan.
Pikir Adam. Dia kemudian bertanya dengan tatapan dingin.
__ADS_1
“Apakah kamu membeli benda-benda aneh sebelumnya.”
“Benda aneh???” Bob memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
“Benda-benda antik, benda dengan sejarah, atau perhiasan yang unik … seperti liontin giok misalnya?”
Mengatakan itu, mata Adam langsung menyempit. Dia mengamati gerakan tubuh Bob dengan serius.
Bob sendiri mencoba mengingat. Pada saat itu, dia memiringkan kepalanya.
“Bukan benda antik atau semacamnya. Namun belum lama ini saya memang membeli cincin giok yang bisa dibilang … cukup langka?”
“Giok berwarna abu-abu?” tanya Adam dingin.
“Eh??? Bagaimana anda tahu itu, Pak? Apakah itu barang curian atau semacamnya? Namun … saya benar-benar membelinya dari toko perhiasan, Pak!”
“Di mana kamu membelinya!” seru Adam dingin.
“D-Di toko Blue Mist Jewelry, Pak!” jawab Bob dengan gugup.
Adam hendak mengatakan sesuatu, tetapi sirene mobil polisi terdengar dari kejauhan. Dia hanya menatap pria paruh baya itu sebelum berkata dengan nada penuh peringatan.
“Polisi akan menjelaskan apa yang terjadi kepadamu, Bob. Namun kamu harus ingat, kamu sedang berurursan dengan hal yang sangat berbahaya dan nyawa kamu terancam.
Sebaiknya kamu berpura-pura tidak tahu ketika teman-temanmu bertanya. Percaya atau tidak, semua tergantung pada keputusanmu, Bob.”
“...”
Melihat Bob yang terdiam, Adam mengangguk ke arah Jennifer sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Melihat bagaimana Adam menghilang dalam kegelapan malam, Jennifer dan Bob tidak bisa berkata-kata.
...***
...
Sementara Jennifer mengurus kasus itu, Adam kembali ke apartemennya.
Itu masih pagi buta dan Bella belum bangun dari tidurnya. Adam memutuskan untuk mandi, berganti pakaian, lalu pergi untuk bermeditasi. Dia tidak tahu kenapa, setelah menembus level Silver Spirit, pemuda itu merasa dirinya bahkan tidak kelelahan bahkan tanpa tidur semalaman.
Selesai bermeditasi, Adam menghela napas panjang sembari melihat mentari pagi.
“Blue Mist Jewelry, kah?” gumam Adam dengan ekspresi serius.
Meski awalnya pemuda itu tidak ingin banyak terlibat dengan kasus semacam itu, Adam tidak bisa diam karena kasus itu juga menyulitkan Jennifer. Ya, dia tidak memiliki alasan naif seperti ingin menyelamatkan seluruh dunia atau semacamnya.
Adam hanya ingin orang-orang di sekitarnya aman. Selain itu, dia hanya berusaha sebisanya untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah.
Ya … tidak kurang, tidak lebih.
__ADS_1
>> Bersambung.