
Keesokan harinya.
"Huh ... Aku tidak menyangka kalau kamu memiliki hobi aneh semacam ini, Adam."
Melihat ke arah Adam lalu ke tumpukan kotak kayu, Jennifer tidak bisa tidak menghela napas.
Adam, Bella, dan Jennifer memindahkan beberapa kotak kayu yang diantar ke rumah baru menggunakan truk kontainer.
Sebenarnya, selain pakaian, buku, beberapa perhiasan, dan gadget, mereka sama sekali tidak perlu memindahkan perabot lain. Lagipula, rumah baru telah dilengkapi dengan perabotan rumah tangga lengkap dengan peralatan dapur.
Tentu saja, alasan Adam membawa kotak-kotak kayu tersebut karena di dalamnya ada 'barang-barang berharga' miliknya.
"Aku akan menangani sisanya. Kalian urus saja pakaian milik kalian. Kamar ada di lantai tiga."
"Kalau begitu kami akan memilih kamar."
"Eh???" Mendengar ucapan Jennifer, Adam agak terkejut. "Kenapa? Di kamar tidur utama ada ranjang king size, bahkan muat untuk beberapa orang."
"Apanya yang kenapa? Karena memiliki banyak kamar, tentu kami memilih untuk tidur sendiri. Kami tidak ingin tidur dengan binatang buas setiap malam."
"Tapi—"
"Lihat Bella. Apakah kamu tidak kasihan dengannya? Tidak seperti kamu yang bersantai di Departemen Misteri, kami masih harus bekerja dan kuliah di siang hari."
Adam melihat ke arah Bella. Meski setiap pagi dan sore minum ramuan serta memakan pil gizi, energinya telah digunakan untuk latihan intens. Jadi ... olahraga malam memang masih memerlukan tenaga ekstra.
Pemuda itu bahkan merasa Bella sedikit kehilangan berat badannya.
Adam langsung merasa tidak enak. Namun, sebagai lelaki yang terlalu sehat, dia benar-benar merasa kalau mengayuh dua perahu setiap malam benar-benar memuaskan. Hampir lupa kalau keduanya memiliki kekuatan fisik yang berkali-kali lipat lebih lemah dibanding dirinya.
__ADS_1
"Maaf, Bell ..."
Mendengar permintaan maaf Adam, Bella menggelengkan kepalanya dengan wajah malu-malu. Benar-benar merasa tidak keberatan, meski memang kelelahan.
Menatap ke arah Jennifer, Adam kemudian berkata.
"Aku akan menahan diri. Jadi, kita tidak perlu tidur terpisah, okay?"
"Maaf, Sayang." Jennifer langsung memeluk Adam sebentar sebelum berbalik pergi sambil menarik Bella. "Biasakan untuk menghadapi malam yang sepi."
"..."
Melihat dua wanita yang pergi menaiki tangga, sudut bibir Adam berkedut.
'Padahal baru pindah, tetapi ... entah kenapa aku malah merindukan apartemen yang hangat itu."
Adam tersenyum masam. Pada akhirnya, dia mencoba melupakan hal itu sejenak sambil memindah kotak-kotak kayu.
Setelah mengatur mereka dengan baik, Adam kemudian pergi menuju ke halaman belakang. Di sana, dia langsung disambut oleh pemandangan indah kebun bunga penuh warna dengan lapangan kecil yang cocok digunakan latihan pribadi.
Sebenarnya Adam juga memiliki ruang gym miliknya sendiri. Namun halaman belakang masih sangat cocok untuk digunakan sebagai tempat melakukan latihan senjata.
Adam kemudian berjalan terus sampai ke depan pintu kayu besar yang tampak indah sekaligus kuno.
Mendorong pintu terbuka, Adam kemudian melangkah ke tempat yang benar-benar berbeda daripada pemandangan taman bunga khas Eropa.
Sebaliknya, di depan Adam tampak sebuah kolam raksasa yang ditumbuhi oleh teratai. Di sana juga tampak banyak ikan koi besar yang berenang dengan tenang. Di sudut, tampak sebuah air terjun pendek yang tampak alami, meski sebenarnya buatan. Ada juga sebuah jembatan kecil indah untuk menyeberangi kolam ke sisi lainnya.
Melihat pemandangan tersebut, Adam mengangguk puas.
__ADS_1
Pemuda itu kemudian berjalan melewati jembatan dan sampai di sebuah rumah kayu kecil. Tampak kuno, tetapi juga indah dengan caranya sendiri.
Memasuki rumah kayu kecil, Adam cukup puas. Dalam rumah, tampak tiga ruangan dengan ukuran agak kecil. Satu kamar tidur, satu ruang kerja, dan satu ruang santai.
Ya. Adam berniat untuk menggunakan rumah kayu itu untuk tempat bersantai sekaligus tempat pembuatan obat.
Adam kemudian turun ke ruang bawah tanah nomor dua lewat pintu rahasia di kamar tidur.
Pemuda itu kemudian mempersiapkan rumah baru bagi ratu dan anakan ratu lebah, serta menanam jamur khusus di sana.
Setelah mempersiapkan semuanya, Adam akhirnya tersenyum puas.
"Dengan begini, aku bisa pergi ke menuju tahap berikutnya."
Adam yang puas kemudian pergi ke kamar tidur utama. Di sana, dia menata pakaiannya dan memasukkannya ke lemari dengan ekspresi kosong.
Menyadari kalau dua wanita itu benar-benar memilih kamar mereka sendiri dan tidak hanya menggertak, Adam tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
'Benar-benar harus melewati malam sunyi dan dingin sendirian!'
Mengabaikan itu, Adam kemudian pergi ke sebuah kamar di lantai tiga. Kamar kecil di sudut dengan pintu yang sengaja dia kunci.
Membuka kunci pintu, Adam masuk ke dalam ruangan.
Ruangan tersebut sedikit lebih sempit daripada kamar-kamar lainnya, tetapi juga telah didekorasi dengan indah, dengan sebuah cermin besar di dinding.
Berjalan menuju cermin dan melihat sosok gothic lolita yang memandangnya, Adam tersenyum dengan lembut.
"Mohon bantuannya mulai sekarang, Mia."
__ADS_1
>> Bersambung.