
Karena merasa tidak nyaman, Kevin akhirnya dipindahkan ke kamar orang tuanya.
Pasangan suami-istri itu kemudian meminta pembantu mereka untuk membersihkan kamar Kevin. Merapikan apa yang bisa dirapikan dan membuang sisanya.
Duduk di ruang tamu sambil menunggu Kevin bangun, Adam tampak tenang. Beberapa saat kemudian, sosok ayah Kevin datang lalu memberi hormat.
"Maaf kami awalnya tidak mempercayai anda dan bersikap tidak sopan, Mr Owl. Sekali lagi perkenalkan, nama saya Thomas, ayah Kevin."
"Sama sekali bukan masalah."
Adam menggeleng ringan, sama sekali tidak mempermasalahkan hal sepele semacam itu. Orang tua normal pasti akan marah ketika nyawa anak mereka yang dalam bahaya tetapi malah dikira menipu atau semacamnya.
"Bukankah apa yang anda gunakan tadi ... sebuah jimat, Mr Owl?"
"Apakah anda juga tahu jimat, Mr Thomas?"
"Meski seperti ini, saya masih memiliki informasi tentang keberadaan kalian, Para Kultivator terhormat."
"Jadi begitu ..." Adam mengangguk.
"Saya sedikit bingung, Mr Owl."
"Ada apa?"
"Kenapa Kultivator terhormat seperti anda ikut ke dalam Departemen Misteri yang baru dibentuk seperti itu?"
"Setiap orang memiliki alasannya sendiri ..."
"Juga ..." Thomas tampak ragu.
"Tolong katakan saja."
"Saya dengar jimat pelindung semacam itu berharga sampai 500.000 dollar aliansi. Anda bisa tenang ... saya pasti akan menggantinya."
"Sebenarnya jimat memang berharga, tetapi tidak setinggi itu. Jimat sendiri selalu menjadi pegangan bagi para Kultivator untuk memastikan keselamatan.
Harga jimat sendiri mungkin 150.000-250.000 tergantung tingkatnya. Alasan kenapa bisa menjadi begitu mahal adalah karena kelangkaannya.
Dalam dunia Kultivator, benda itu wajib dibawa untuk memastikan keselamatan. Jadi daripada pil, jimat lebih dibutuhkan oleh para Kultivator. Jadi apa yang beredar di dunia normal sangat sedikit, itu pun juga dengan kualitas kurang baik dan minim.
Sedangkan masalah mengganti, anda tidak perlu memikirkannya. Ini sudah tugas saya, dan saya juga perlu mengurus keselamatan saya sendiri. Jadi anda tidak perlu menggantinya."
"Tapi ..."
"Kasus ini juga belum selesai. Jadi, mari kita bahas saja setelah semuanya selesai."
Menghela napas panjang, Thomas mengangguk.
"Kalau begitu keinginan anda ... saya hanya bisa menurut. Apakah anda benar-benar tidak meminum teh itu, Mr Owl? Atau anda ingin sesuatu yang lain?"
"Sama sekali tidak perlu."
Adam tidak berniat melepaskan topengnya ketika menjalankan misi di luar. Namun karena dirinya sesekali juga harus makan dan minum, pemuda itu sempat terpikir untuk membuat topeng separuh wajah.
Beberapa waktu berbincang dengan Thomas, pembantu datang dan memberitahu mereka berdua bahwa Kevin telah bangun. Adam dan Thomas saling mengangguk sebelum pergi menemui bocah itu.
Di dalam kamar tidur utama, sosok Kevin yang pucat bersandar di tempat tidur. Melihat ekspresi khawatir di wajah istri yang sedang menemani putranya, Thomas segera menghampiri mereka.
"Apakah ada yang salah?" tanya Thomas dengan nada khawatir.
"Tidak. Kevin berkata bahwa dirinya merasa sangat baik. Hanya saja, dia agak lemas."
__ADS_1
"Jangan membuatku khawatir seperti itu."
Tidak mempedulikan penampilan keluarga itu, Adam malah menghampiri Kevin.
"Apakah kamu merasa mendingan, Kevin?"
"En. Saya merasa lebih baik, Paman." Bocah itu mengangguk lemas.
"Bagus." Adam mengangguk ringan. "Lalu ... bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"En." Sekali lagi bocah itu mengangguk.
"Apa yang kamu lakukan sebelum tanganmu menjadi seperti ini, Kevin? Apakah ada orang yang memberimu sesuatu untuk dimakan atau semacamnya?"
"Tidak." Bocah itu menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu bisa menjadi seperti itu?"
"..."
Melihat bocah itu ragu, Adam melirik sekeliling lalu berkata dengan tulus.
"Bisakah kalian meninggalkan kami berdua?"
Ibu Kevin tampak ragu, tetapi Thomas memegang tangannya sembari menggeleng ringan. Menyuruh wanita itu tidak terlalu khawatir.
"Kalau begitu kami pergi," ucap Thomas.
Setelah yang lainnya pergi, Adam menatap ke arah Kevin.
"Apakah itu rahasia yang tidak boleh dikatakan?"
Mendengarkan ucapan Adam, Kevin tertegun sejenak. Dia menggeleng ringan sebelum mengangguk, tampak kebingungan.
"En." Kevin mengangguk.
"Apakah kamu tidak ingin mengatakannya? Kalau tidak, tidak perlu kamu paksakan." Adam tampak lembut.
"Aku mau mengatakannya kepada Paman."
"Kenapa?" tanya Adam dengan ragu.
"Karena aku percaya Paman bisa mengalahkan 'dia'. Ya ... Paman pasti bisa mengalahkannya."
"Apakah ada suatu perjanjian?"
"En." Kevin mengangguk. "Katanya, siapa saja yang mendengar kami membahasnya harus ikut dalam permainan. 'Dia' akan datang untuk menghampiri dan mengajak bermain."
"Siapa 'dia'? Apakah perempuan yang suaranya kamu dengar setiap malam?"
"En."
"Jadi dia yang membuatmu seperti ini?"
"En."
"Kenapa?"
"Karena ini permainannya."
"Permainan apa?" tanya Adam.
__ADS_1
"Tebak-tebakan. Kami akan bermain tebak-tebakan bersama 'dia'."
"Tunggu ... kami?" tanya Adam dengan ekspresi terkejut.
"Iya. Aku dan teman-temanku sekolah."
"Bagaimana cara permainan tebak-tebakan itu?"
"Bertanya tiga kali, menjawab tiga kali.
Kami disuruh bertanya kepadanya. Jika 'Dia' tidak bisa menjawab, 'Dia' akan memberi apa yang kami mau. Permen, uang, dan banyak hal.
Bahkan membuat keajaiban kecil. Selama kami bisa memberi 'Dia' tiga pertanyaan sulit sehingga tidak bisa dijawab, berarti kami menang. Kami mendapatkan tiga permintaan."
"Bagaimana jika dia bisa menjawab salah satunya?" tanya Adam.
"Itu berarti kita harus pergi ke babak berikutnya."
"Babak berikutnya?"
"En. Di babak berikutnya, 'Dia' akan bertanya kepada kami. Jika kami menjawab satu saja pertanyaan, kami menang."
"Lalu jika kalian tidak bisa menjawab pertanyaan?"
"Jika satu pernyataan, dia tidak mendapatkan apa-apa. Namun jika kami tidak bisa menjawab pertanyaan, menurut peraturan ... kami harus mengabulkan satu keinginannya."
"Lalu ... apa yang terjadi?"
"Kami semua berhasil membingungkan 'Dia' dalam dua pertanyaan awal, tetapi pertanyaan terakhir ... 'Dia' bisa menjawab pertanyaan kami semua.
Pada saat 'Dia' memberi pertanyaan sederhana, entah kenapa kami semua tidak bisa menjawab pertanyaannya. Jadi kami harus mengabulkan satu permintaannya."
"Sejak awal ... kenapa kalian mau melakukan itu?"
"Karena 'Dia' bodoh." Kevin memiringkan kepalanya.
"Kami membuat banyak keajaiban dari menemukan uang sepulang sekolah, guru absen karena sakit, memenangkan pertandingan sepak bola antar sekolah di daerah sekitar.
Kami menginginkan lebih ..."
Dan akhirnya tertipu.
Pikir Adam. Tentu saja, dia tidak akan percaya roh jahat semacam itu hanya akan mengabulkan permintaan para anak-anak tanpa sedikit pun rencana.
Mengalah dua kali, hanya untuk memancing para anak-anak agar mengikuti pertanyaan ke tiga yang menggiring mereka ke babak berikutnya. Pada akhirnya, mereka tidak akan bisa menjawab pertanyaan si penipu tersebut.
Melihat Kevin yang sama sekali tidak merasa dibodohi, tetapi malah terlihat seperti merasa kurang beruntung membuat Adam menggelengkan kepalanya
Ya ... Mereka memang anak-anak.
Adam kemudian bertanya kepada Kevin dengan ekspresi penasaran di bawah topengnya.
"Lalu, apa yang dia minta?"
"Dia meminta ..."
Mendengar perkataan Kevin, mata Adam menyempit. Ekspresinya berubah menjadi lebih dingin. Pada saat itu dia juga tahu ... lawannya bukan seseorang, tetapi roh jahat yang suka menipu anak-anak.
Menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan, Adam menjadi tenang.
Berusaha bersikap normal, Adam berkata dengan nada lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, Kevin."
>> Bersambung.