
Mendengar ucapan Adam, Shawn tertawa canggung. Dia menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi agak malu.
“Aku Shawn dari kamar asrama nomor 89, Senior Adam. Satu angkatan dengan kamu.”
Asrama no. 89?
Adam mencoba mengingat. Karena dia berada di kamar nomor 88, seharusnya dia bisa mengingat jelas ‘tetangga’ yang ada di sekitar kamarnya. Pemuda itu kemudian menatap ke arah Shawn, mencoba mengingatnya.
Pada saat itu, Adam tiba-tiba mengingat sosok kurus, pendek, dan lemah mirip dengan Renald. Melihat ke arah Shawn, dia agak terkejut.
“Kamu … Si Lidi, Shawn?” tanya Adam dengan heran.
Tidak marah atau malu karena diejek, Shawn malah berkata dengan ekspresi bersemangat.
“Benar! Ini aku, Si Lidi Shawn, Senior Adam!” ucap Shawn.
“Bisakah kamu berhenti memanggilku senior? Kita berada di angkatan yang sama.”
“Tidak bisa.” Shawn menggeleng dengan pasti. “Hampir semua yang di angkatan kita memanggimu dengan cara seperti itu, Senior Adam.”
“...”
“Aku mengingat saat itu, ketika aku dibully dan uangku diambil para senior yang suka menindas itu. Kamu benar-benar sering menyelamatkanku, Senior Adam! Terima kasih banyak!”
“...”
Melihat Shawn yang bersemangat seperti fan kecil, sudut bibir Adam bergerak-gerak. Tidak menunggumu dirinya berbicara, Shawn kembali berkata.
“Broc, Randy … ini adalah Senior Adam yang sering aku ceritakan sebelumnya.”
Meski terlihat tidak normal, Randy adalah orang yang cerdas. Dia buru-buru menyapa Adam dengan sopan.
“Yang satu ini bernama Randy, tetapi anda bisa memanggil saya Ran … Senior Adam.”
Melihat bagaimana Randy mengedip ke arahnya, Adam merinding dan merasa agak mual.
Sementara itu, keraguan tampak jelas di wajah Brock. Karena sering mendengar cerita dari Shawn, dia berpikir sosok ‘Senior Adam’ adalah lelaki putih setinggi 2,5 meter dengan tubuh penuh otot, wajah gagah, dan tampak garang. Bisa meremas orang lain hanya dengan auranya.
Namun melihat lelaki campuran antara timur dan barat yang tampak lembut serta sopan, Brock jelas enggan menerimanya. Tentu saja, Shawn menegtahui apa yang dipikirkan Brock.
“Senior Adam, tunjukan satu trik agar Brock percaya.”
__ADS_1
Mendengar Shawn yang menatapnya dengan mata berkilauan, Adam merasa silau. Sudut bibirnya berkedut. Pada akhirnya … dia berdiri dari kursinya sambil menghela napas.
“Brock, kan?” ucap Adam santai.
“Ya! Aku … maksudku, saya adalah Brock.” Brock mengangguk dengan ekspresi tegas.
“Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini. Ngomong-ngomong, ini tidak akan sakit, jadi tahan saja … okay?”
Mendengar ucapan Adam yang santai, Brock langsung terlihat serius. Dia bersiap untuk menahan serangan pemuda tampan di depannya. Namun sebelum dirinya merespon, Brock merasa pandangannya berputar.
Bruk!
Dengan ekspresi terkejut di wajahnya, Brock menatap langit-langit Bar Golden Grass. Dia tidak tahu bagaimana, dirinya tiba-tiba jatuh begitu saja. Pada saat itu, Brock melihat sebuah tangan terulur kepada dirinya.
Brock meraih tangan itu, tetapi dikejutkan oleh tarikan kuat yang membantu dirinya berdiri. Kemudian, dia melihat pemuda tampan menepuk pundaknya dengan senyum lembut.
“Tidak menyakitkan, bukan? Atau tanpa sengaja aku melukai kamu?”
Mendengar itu, Brock langsung tersadar dari lamunannya.
“Tidak … sama sekali tidak, Senior Adam.”
“Baiklah kalau begitu,” ucap Adam santai.
Memperhatikan sosok Adam, Brock sadar bahwa tubuh pemuda tampan itu sama sekali tidak lembut. Dia melihat garis-garis otot dengan jelas. Namun daripada kekar seperti binaragawan, tubuh itu terlihat ramping tetapi kuat.
Brock yang kelihatan ganas sebenarnya suka memainkan game RPG online. Pada saat mengingat Adam, dia tiba-tiba berpikir.
Jika dalam RPG ... Senior Adam jelas bukan seorang Knight yang tampak kuat, juga bukan seorang Ranger yang hanya memiliki trik-trik licik. Dari penampilan, kekuatan, dan kecepatannya yang berlebihan …
Assassin? Apakah itu job Assassin?
Semakin Brock memikirkannya, dia menjadi semakin kagum sekaligus heran. Semasa hidupnya, dirinya tidak pernah mengagumi sosok yang terlihat ‘lemah dan lembut’ seperti itu. Namun sekarang dirinya mengagumi Adam.
“Kenapa kamu masih berdiri melamun di sana, Brock? Senior Adam menyuruh kita untuk duduk.”
Perkataan Shawn langsung membangunkan Brock dari lamunannya. Dia kemudian mengangguk, memilih tempat lalu duduk. Sesekali, pria kekar itu memandang ke arah Adam dengan kagum.
Merasakan tatapan Shawn dan Brock, Adam merasa agak pahit. Belum lagi Renald yang sekarang menatapnya dengan cara yang sama. Ditambah Randy yang sesekali berkedip ke arahnya, pemuda itu merasakan banyak tekanan psikologis.
Orang-orang ini sangat menjengkelkan …
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, apakah itu adikmu, Senior Adam?”
Mendengar pertanyaan Shawn, Adam menggeleng ringan.
“Namanya Renald. Dia adalah temanku sekaligus junior pacarku di kepolisian.”
“Oh … polisi.”
Shawn dan dua lainnya mengangguk, sebelum ekspresi mereka tiba-tiba stagnan. Si pirang itu langsung manatap ke arah Adam dengan kaget.
“Kamu bercanda kan, Kak Adam?”
Mendengar pertanyaan Shawn, Adam menggeleng ringan. Renald sendiri terlihat malu sambil menggaruk belakang kepalanya. Pemuda itu kemudian mengeluarkan kartu tanda anggota kepolisian dan meletakkannya di atas meja.
Melihat itu, Shawn dan dua orang lainnya terdiam. Mereka memandang ke arah Renald lalu ke arah KTA di atas meja. Pada saat itu, Shawn tiba-tiba menoleh ke arah Adam dengan ekspresi penuh keterkejutan.
“Kamu … kamu bilang junior pacarmu, Senior Adam?”
“Ya … tidak bisa disebut sebagai pacar juga. Kami cukup dekat, tetapi hubungan kami agak rumit.”
Melihat ke arah Shawn yang memandangnya dengan mulut ternganga, sudut bibir Adam berkedut.
“Apakah kamu berpikir aku tidak normal? Aku jelas normal dan menyukai perempuan!” ucap Adam dengan ekspresi tidak puas.
“Bukan … Bukan begitu, Senior Adam. Hanya saja …” Shawn menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi canggung. “Kamu benar-benar menolak semua gadis di universitas, bahkan salah satu bunga universitas yang sangat cantik.”
“Oh … gadis itu, mungkin terlalu glamor, jadi tidak cocok dengan lelaki sederhana seperti aku.”
“...”
Jika yang nyaris perfect sepertimu masih sederhana? Lalu kami apa? Butiran debu?
Shawn mengeluh dalam hatinya. Seolah mengingat sesuatu, dia akhirnya menanyakan sesuatu yang masih menjadi banyak misteri bagi semua orang di angkatan yang sama.
“Aku dengar kamu ‘cukup dekat’ dengan Putri Es, Senior Adam?”
Mendengar julukan itu sekali lagi masuk ke dalam telinganya, ekspresi Adam mandek. Menyesap mocktail, pemuda itu menggeleng ringan kemudian.
“Bukankah gadis itu memang idola banyak orang? Jika menurutku … setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Aku dan dia, meski mungkin sempat tertarik satu sama lain …
Jalan kami jelas berbeda.”
__ADS_1
Adam menatap Shawn dengan senyum lembut dan tulus di wajahnya.
>> Bersambung.