
"Karena kamu hampir menghancurkan keluarga kami, kamu harus bertanggung jawab, Kak Adam."
Mendengar ucapan Yui, Adam memiringkan kepalanya.
"Tanggung jawab?"
"Ya ..."
Yui dan Hikari saling memandang sebelum memandang tepat ke mata Adam sambil tersenyum.
"Kamu harus bertanggung jawab atas kami!"
"..."
Mendengar ibu dan putri yang berkata bersamaan, Adam tiba-tiba merasakan sebuah dorongan untuk menjatuhkan lalu 'memakan' mereka.
Setelah beberapa saat, pemuda itu akhirnya menjadi lebih tenang. Menatap ke arah pasangan ibu dan putri cantik itu, dia berkata dengan suara tenang.
"Jangan membuat pernyataan yang membuat salah paham seperti itu."
Hikari dan Yui tertegun. Setelah berpikir cukup lama, mereka berdua tiba-tiba menundukkan kepalanya dengan wajah merah.
"Maksud kami, kamu tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi! Juga, Yui akan bekerja di Cafe milikmu, dan aku akan bekerja di restoran yang kamu katakan sebelumnya.
Sekarang kamu adalah dukungan kami, jadi kamu tidak boleh mengabaikan kami hanya karena telah memberi pekerjaan dan kehidupan baru."
"Ya! Apa yang dikatakan Ibu benar!"
Yui menambahkan, sambil menahan sensasi panas di wajahnya.
"Kalau begitu, aku akan bertanggung jawab."
Adam berkata dengan senyum menawan, membuat Hikari dan Yui sempat terpana sejenak.
Hikari yang sadar terlebih dahulu langsung berdiri. Dia berjalan menuju ke dapur sembari berkata.
"Karena kamu sudah repot-repot membantu dari pagi buta, pasti kamu belum makan. Aku akan memasak untuk kalian."
Yui hendak bangkit, tetapi Adam berkata dengan ekspresi tenang.
"Kamu masih kelelahan. Lebih baik kamu beristirahat saja. Biarkan aku membantu ibumu."
Mengatakan itu, Adam langsung bangkit dari kursinya. Dia kemudian pergi menuju dapur.
"Kamu tamu, jadi lebih baik duduk di sana."
Mendengar ucapan Hikari, Adam menghampiri wanita cantik itu sambil berkata.
"Kamu tidak tidur nyenyak semalam. Kamu mungkin akan membakar rumah jika aku tidak membantumu. Lagipula ...
Kamu bilang aku harus bertanggung jawab, kan?"
Mendengar ucapan Adam, wajah Hikari langsung berubah merah.
Adam pura-pura tidak melihatnya. Dia membuka kulkas. Melihat hanya ada tomat dan telur di sana, pemuda itu mengangguk.
"Karena tidak ada bahan—"
"Tidak apa-apa. Ini sudah cukup. Ada mie instan, kan? Aku akan memakannya untuk kalian, kamu bisa beristirahat."
"Tapi—"
"Anggap saja sebagai permintaan maaf karena telah membuat kalian salah paham, okay? Dan ...
__ADS_1
Hutang itu, anggap saja sudah lunas. Aku akan menyelesaikan kontraknya besok."
Hikari yang awalnya malu-malu tertegun. Dia kemudian melihat ke arah Adam lalu menarik kerahnya.
"Hanya karena kamu memiliki uang, jangan meremehkan kami, Adam.
Kamu juga sudah memecahkan masalah kami, jadi semuanya impas. Kamu tidak perlu lagi untuk menambah semuanya.
Meski kami tidak kaya, kami masih memiliki harga diri. Kami tidak ingin mengemis belas kasihan darimu karena masalah ini.
Apakah kamu mengerti???"
Mendengar itu, Adam tersenyum.
Jika mereka berdua memilih untuk menerima dengan mudah, Adam akan tetap baik, tetapi agak menjaga jarak dengan mereka. Namun melihat 'harga diri' semacam itu, entah kenapa pria egois itu memiliki dorongan untuk mengambil dan memiliki. Tentu saja, dia masih bisa menahan dorongan atas keinginan sementara semacam itu.
Adam tersenyum lalu berbisik ke telinga Hikari.
"Apakah kamu yakin ... tidak mau menjadi yang ke-3?"
Mendengar ucapan Adam, wajah Hikari langsung merah seperti tomat.
Wanita itu langsung melepas kerah kemeja pemuda itu. Dia menginjak kaki Adam sebelum pergi dari dapur sambil mendengus dingin.
Tingkahnya yang sedikit kekanak-kanakan membuat Adam terkekeh.
Lima belas menit kemudian, Adam telah menyiapkan tiga mangkuk mie di atas meja makan.
Hikari dan Yui saling memandang dengan ekspresi heran.
"Apakah ini benar-benar hanya mie instan yang kita beli, Bu?"
"Karena tidak ada bahan lain, seharusnya memang begitu."
Melihat reaksi keduanya, Adam menggeleng ringan.
"Selamat makan!"
Memakan mie dengan telur dan tomat, Hikari dan Yui merasa terkejut. Tidak menyangka kombinasi sederhana itu benar-benar menjadi sangat nikmat di tangan Adam.
Bagi Adam, selama cara memasaknya benar, bahan apa saja (yang bisa dan boleh dimakan) pasti bisa menjadi hidangan nikmat.
Makan bersama ibu dan putri itu, Adam merasa senang karena masalah terselesaikan dan mereka juga menjadi lebih akrab.
Ya. Setidaknya dia berpikir demikian karena tidak tahu ...
Kalau ada sebuah tanda bunga kecil hitam yang tampak indah dan aneh di telapak tangan kiri Yui.
***
Satu minggu kemudian.
Di malam hari, Adam menatap ke arah rumah tiga lantai gaya Eropa yang tampak megah dan mewah dengan senyum puas.
Kemarin Brock dan rekan-rekannya telah menyelesaikan renovasi, bahkan juga telah membawa alat-alat dan merapikan rumah.
Atas dorongan Adam, mereka juga telah menyelesaikan perbaikan pagar dan gerbang. Menyisakan taman depan, taman belakang, dan pagar tinggi belakang rumah untuk diurus sebelum akhirnya benar-benar bisa menjadi rumah impian yang layak huni.
Setelah puas melihat, Adam segera pergi menuju ke dalam rumah. Melihat kalau semua kabel tanam telah dipasang, pemuda itu semakin puas.
Apa yang Adam perlukan adalah mengurus tiga tempat sebelumnya. Setelah itu, mengurus listrik ke kantor, dan membeli perabotan. Dia juga berencana memasang kamera pengawas sebagai tambahan keamanan. Namun sebelum itu semua ...
Adam perlu untuk mengurus yang masih tersisa.
__ADS_1
Pemuda itu berjalan menuju ke ruang rahasia. Berbeda dengan bagian rumah lainnya, tempat itu sama sekali tidak direnovasi karena memerlukan trik untuk membukanya.
Jika bukan karena para remaja yang ditangkap sebelumnya, Adam pasti tidak berpikir kalau ada ruang bawah tanah rahasia.
Menuruni tangga, Adam sampai di tempat yang begitu familiar. Hanya saja, dia telah membersihkan dan membuah seluruh rantai, hanya menyisakan berbagai alat penyiksa (karena dia bingung mau membuangnya ke mana), dan sebuah cermin.
"Lama tidak berjumpa, Mia."
Melihat cermin besar pada dinding, Adam menyapa. Beberapa saat kemudian, sosok gadis kecil dengan pakaian gothic lolita muncul dalam cermin.
"Meski kamu menghilang hampir satu bulan, kamu telah melakukan pekerjaan baik, Adam."
Mendengar suara Mia yang monoton, Adam mengangguk. Dia tidak terlalu peduli dengan nada gadis itu. Dia hanya tahu kalau Mia berusaha memujinya, ya ... meski rasanya agak aneh.
"Kamu bisa melihat seluruh rumah, Mia?"
"Karena aku terikat dengan tempat ini, aku bisa melihat seluruh rumah termasuk taman depan dan belakang.
Aku juga melihatmu tersenyum konyol ketika datang tadi."
"..."
"Tidak perlu malu. Rumah ini memang bagus, kamu patut bangga. Juga—"
"Bisakah kamu berhenti membicarakan itu, Mia?"
"..."
Suasana menjadi sunyi sejenak. Beberapa saat kemudian, suara monoton Mia kembali terdengar.
"Sebelum pindah, kamu akan mengurus taman depan, kan? Apakah kamu berniat mengurusnya segera, atau ...
Kamu berencana untuk membereskan sisanya?"
"Aku berniat menyelesaikan semuanya malam ini. Aku tidak ingin menundanya lebih lama."
"Aku mengerti, tapi ..."
"Iya?"
Adam dan Mia saling memandang. Loli gothic itu membuka mulutnya, berbicara dengan nada lebih serius.
"Kamu harus berhati-hati."
Mendengar saran Mia, Adam tersenyum.
"Dipahami!"
Setelah berpamitan dengan Mia, Adam kembali ke atas lalu menutup pintu rahasia.
Pemuda itu kemudian berjalan menuju ke halaman belakang. Di sana, ada sebuah pagar membatas dipenuhi tulisan 'do not cross'. Dia sengaja membuatnya sebagai batas, agar para pekerja tidak dengan sembrono lewat.
Benar saja, karena tidak ada yang melanggar pantangan, sama sekali tidak ada korban.
Mr Brock dan rekan-rekannya sangat puas bekerjasama dengan Adam. Tidak hanya segi keuangan, tetapi mereka merasa kalau permintaan Adam sangat jelas. Meski agak rumit, lebih baik daripada pada pelanggan yang berbicara 'terserah', tetapi akhirnya protes karena tidak puas dengan hasilnya.
Belum lagi, Adam berani membayar uang jaminan keamanan dengan harga tinggi.
Melewati pembatas, Adam sampai di bagian kebun belakang rumah. Dia berjalan terus ke depan dan berdiri di tengah kebun sambil melihat ke arah ruang penyimpanan alat kecil di sisi lain kebun.
Pintu terbuka. Bersama dengan suara gesekan akar yang melewati rerumputan tidak terawat, sosok itu akhirnya muncul.
Melihat ke arah tanaman humanoid yang memegang pot berisi bunga aneh, Adam menghirup napas dalam-dalam lalu berkata dengan senyum percaya diri di wajahnya.
__ADS_1
"Lama tidak berjumpa, Mr Gardener!"
>> Bersambung.