Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Aku Membencimu


__ADS_3

“A-Apakah kamu baik-baik saja, Senior?”


Melihat ke arah Jennifer yang muram, Renald tampak ragu dan agak takut.


“Diam, Renald.”


“...”


Mengikuti Jennifer di belakangnya, pemuda itu sedikit menunduk. Dia menghela napas dalam hati. Merasa tak berdaya karena sikap wanita itu.


Renald dan dua rekannya adalah yang paling junior di kantor kepolisian setempat. Mereka bertiga baru saja bergabung kira-kira satu setengah bulan yang lalu.


Pada saat itu, ketiganya merasa bahwa sosok Jennifer adalah senior yang baik dan ramah. Selalu membimbing mereka dalam melakukan banyak pekerjaan. Pada saat Renald ditugaskan dalam kelompok Jennifer, dua orang lainnya sangat iri. Namun, semua itu berubah sekitar satu bulan yang lalu.


Jennifer lebih sering diam dan cukup murung. Dia juga sering marah karena hal-hal kecil. Bahkan, wanita itu agak sering melakukan kesalahan kecil dalam pekerjaannya.


Pada saat itu, Renald mengingat sosok lelaki tampan yang dengan mudah menjatuhkan wanita gila itu. Rambut hitam legam, mata biru bak safir, dan kulit putih. Bukan hanya tampan dan menawan … Renald tahu lelaki itu sangat kuat.


Wanita gila itu bisa lolos dari tiga orang polisi, tetapi dengan mudah menjatuhkannya. Mengingat sosok itu, Renald tahu bahwa dia ada hubungannya dengan Jennifer. Terlebih, ketika keduanya bertemu dan saling mengalihkan pandangan seolah tidak ingin saling menatap. Jelas, keduanya saling kenal.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku harap hubungan mereka membaik.


Pikir Renald ketika melihat ekspresi dingin Jennifer.


...***...


Sementara itu, Adam mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit Jiwa.


Pemuda itu merasa bahwa kegilaan yang terjadi tidak sederhana. Melihat bahwa liontin itu merupakan benda yang mirip dengan apa yang dia temukan di mulut Mutated Catfish, ekspresinya menjadi lebih serius.


“Aku harap semua itu tidak seperti yang aku pikirkan.”


Setelah mengemudi cukup lama, Adam akhirnya tiba. Melihat ke arah bangunan putih bersih di sana, pemuda itu hanya bisa menghela napas pendek. Karena liontin itu termasuk item khusus, dia memasukkannya ke items bag. Adam melakukannya karena ingin menghindari pelacakan.


Meski sangat tipis, bukan berarti benda itu akan dilacak oleh polisi sebagai barang bukti. Adam sendiri memiliki keperluan untuk menyimpannya, jadi dia tidak ingin benda itu diambil oleh polisi.


Turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam bangunan, Adam dikejutkan dengan kedatangan dua mobil polisi. Pemuda itu melihat Jennifer dan beberapa rekannya menarik wanita gila itu menuju ke dalam Rumah Sakit Jiwa untuk segera diurus.


Pada saat dirinya hendak masuk, Adam mendengar suara dari belakang.


“T-Tunggu sebentar, Pak.”


“En?”


Menoleh ke belakang, Adam melihat sosok polisi muda yang tampak gugup.


“P-Perkenalkan, nama saya Renald.” Renald memberi hormat.


“Adam Bladefield,” balas Adam dengan senyum lembut.


“Bisakah kita berbicara sebentar, Pak?”


“Apakah soal kejadian sebelumnya?”tanya Adam.


“B-Bukan.”


Melihat Renald yang menjadi lebih gugup membuat Adam menggeleng ringan. Dia kemudian berkata dengan senyum di wajahnya.


“Kalau begitu, haruskah kita berbicara di sini atau tempat lain?”


“S-Saya tahu bar yang nyaman tidak jauh dari sini, Pak.”


“Bar?” Adam memiringkan kepalanya. “Baik. Kamu bisa menunjukkan jalannya, Petugas Renald.”

__ADS_1


Sekitar setengah jam kemudian, dalam bar bernama Golden Grass.


Memilih tempat duduk di sudut, Adam dan Renald duduk saling berhadapan.


“Karena masih siang dan harus mengemudi, bagaimana kalau dua gelas mocktail dan beberapa camilan ringan.”


“B-Baik,” jawab Renald dengan gugup.


Setelah memesan, Adam menatap ke arah Renald dengan ekspresi penasaran.


“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Petugas Renald?”


Menahan rasa gugupnya, Renald berkata, “I-Ini soal Senior Jennifer.”


“Jennifer …” gumam Adam.


Melihat ke arah pemuda di depannya, ekspresi Adam sedikit berubah. Lagipula, sudah lebihd dari satu bulan mereka tidak berhubungan. Itu bukan salah siapa-siapa, tetapi karena salah paham … hubungan mereka menjadi canggung.


“A-Apakah anda dan Senior Jennifer bertengkar, Pak?”


“...”


Mendengar pemuda yang kira-kira satu tahun lebih muda darinya itu, Adam menggeleng ringan dengan senyum di wajahnya.


“Aku tidak terlalu tua, panggil saja Adam seperti orang biasa memanggil.”


“B-Baik, Pak … maksudku, Kak Adam.”


“Kenapa kamu berpikir kami berdua sedang bertengkar?” tanya Adam. “Kami sama sekali tidak bertengkar.”


“T-Tapi … tapi Senior Jennifer berubah total sekitar satu bulan yang lalu. Perubahannya terlalu tiba-tiba, jadi saya pikir …”


“Jennifer berubah?” tanya Adam.


“Sudah aku duga, kamu di sini!”


Pintu masuk terbuka, sosok Jennifer memasuki bar. Dia langsung bergegas ke arah Adam dan Renald.


“Senior Jennifer, aku-”


PLAK!


Jennifer langsung menampar wajah Renald sambil memberi pemuda itu tatapan dingin.


“Pergi ketika bertugas begitu saja. Apakah kamu pikir kamu bisa melakukan apa saja hanya karena ayahmu ada di atas?”


“Senior Jennifer, ini tidak ada hubungannya dengan ayah. Aku-”


Jennifer hendak menampar Renald, tetapi Adam langsung berdiri dan memegang pergelangan tangannya.


“Hentikan, Jennifer.”


“Maaf, Pak. Ini urusan polisi, sebaiknya anda tidak ikut campur.”


“Urusan polisi bukan berarti berhak melakukan tindak kekerasa semacam itu kepada rekan kerja. Belum lagi, di depan umum.” Adam berkata dengan ekspresi dingin.


Mendengar ucapan Adam, ekspresi Jennifer berubah. Dari berpura-pura tak acuh, wanita itu terlihat sangat marah.


“Adam, kamu …”


“Berikan kunci mobilnya,” ucap Adam dingin.


“Apa yang kamu-”

__ADS_1


“Berikan saja!” ucap Adam.


Menggertakkan gigi, Jennifer akhirnya mengeluarkan kunci mobil dan memberikannya kepada Adam.


Adam meletakkan kunci di atas meja lalu menatap Renald.


“Kamu bisa menyetir kan, Renald?”


“B-Bisa, Kak Adam.”


Adam mengangguk. Melepaskan tangan Jennifer, dia mengeluarkan dompet lalu mengambil beberapa lembar uang kertas dan menaruhnya di atas meja.


“Ini untuk membayar pesanan tadi. Setelah menghabiskan pesanan, tolong bawa mobilnya kembali.”


“I-Itu …” Renald tampak ragu.


“Tolong.” Adam menegaskan.


Melihat ekspresi serius Adam lalu ke arah wajah Jennifer yang muram, Renald akhirnya mengangguk.


“Saya mengerti, Kak Adam.”


“Terima kasih, Renald.” Adam berkata dengan senyum lembut di wajahnya.


“Sama-sama.”


Adam kemudian melihat ke arah Jennifer lalu berkata pelan.


“Jennifer … kamu ikut denganku.”


“Tidak. Aku sedang bekerja dan-”


“Bekerja?” Adam memiringkan kepalanya. “Kamu mengacaukan pekerjaanmu. Sekarang, lebih baik ikut denganku. Aku ingin berbicara denganmu.”


“Aku …”


Adam memegang tangan Jennifer. Wanita itu mengangguk. Pada akhirnya, keduanya pergi.


Di dalam mobil, Adam berkendara tanpa tujuan dengan Jennifer duduk di posisi co-pilot.


“Apakah kamu tidak ingin mengucapkan sesuatu?” tanya Adam lembut.


“Itu semua salahmu,” ucap Jennifer dengan kepala tertunduk.


“Maaf …”


“Aku mencoba melupakanmu tetapi kamu selalu muncul dalam pikiranku!”


“Maaf …”


“Selalu memikirkan dirimu dalam kepalaku membuat semuanya berantakan! Kehidupanku kacau karena kamu!”


“Maaf …”


“Sekarang … bahkan sekarang kamu kembali muncul di hadapanku! Lalu bagaimana aku bisa melupakanmu!”


“...”


Jennifer mengangkat kepalanya, memandang Adam dengan air mata yang membasahi wajahnya.


“Adam … Aku membencimu.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2