Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Menghalangi Jalan


__ADS_3

“Benarkah kami boleh memesan sesuka hati?”


Nina yang duduk sambil memegangi menu bertanya dengan ekspresi tertarik.


Setelah pembicaraan singkat, Adam mengajak Bella dan teman-temannya untuk makan di restoran depan kampus mereka. Pemuda itu sama sekali tidak berniat membedakan mereka hanya karena ketiganya adalah ‘cewek nakal’ atau semacamnya. Hal itu tentu membuat ketiga gadis itu cukup terkejut.


“Selama kalian memakannya, yang mana saja dan berapa banyak … klian boleh memesannya.” Adam menjawab santai dan tenang.


Mendengar itu, Tina, Nina, dan Lulu saling memandang. Karena Adam setuju, mereka sama sekali tidak naif dan tidak menahan diri. Mereka bertiga memesan menu paling mahal. Sementara itu, Bella tampak linglung karena tidak terbiasa memesan, belum lagi di restoran mahal semacam itu.


Adam dengan senang hati memilih dan memesan hidangan yang kelihatannya Bella suka. Tinggal bersama dalam waktu yang cukup lama, tentu dirinya tahu apa yang disukai dan dibenci gadis itu. Masalahnya, Bella menyukai banyak hal yang cukup sederhana dan tidak terlalu banyak membenci sesuatu.


Karena pengalaman hidupnya, gadis itu jelas bukan tipe pemilih.


Beberapa waktu berlalu. Selesai makan, mereka berlima duduk santai di sana dan tidak langsung pergi. Membiarkan perut mereka mencerna makanan lebih baik sebelum pergi.


“Kak Adam … apakah kamu tidak memiliki kenalan yang bisa diandalkan? Atau kamu masih mau menerima gadis lain?”


Melihat penampilan Adam yang menawan, tempramen tenang, dan kekayaan yang bisa mendukung untuk hidup lebih baik membuat Nina tidak bisa tidak bertanya.


Mendengar itu, Tina dan Lulu saling memandang. Meski mereka memiliki pemikiran yang cukup mirip, mereka tidak akan begitu langsung. Belum lagi menanyakan hal semacam itu di depan kekasihnya sendiri.


Adam memandang ke arah Nina, gadis itu setinggi Bella, memiliki rambut diwarnai pirang, kulit kecokelatan, dan tubuh menonjol di bagian depan serta belakang. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Lulu. Gadis itu memiliki penampilan cantik gadis Asia. Rambut hitam lurus, kulit putih agak pucat, iris mata hitam, dan memiliki tubuh baik meski dibungkus oleh sweater tebal.


Adam tersenyum sebelum menggeleng ringan.


“Maaf, aku tidak memiliki pemikiran seperti itu. Sedangkan teman … tampaknya aku tidak memiliki teman yang begitu bisa kalian andalkan.”


Mendengar itu, ketiga gadis itu tampak kecewa. Namun hal itu juga wajar. Mereka baru saja bertemu dan belum terlalu kenal. Membicarakan hal semacam itu sama sekali tidak pantas. Bahkan jika mereka sudah lebih saling mengenal, ketiga gadis itu tahu Adam tidak berniat memperkenalkan mereka kepada seseorang, belum lagi mengambil mereka.


“Ternyata kamu ada di sini, Lulu!”


Teriakan terdengar ketika sosok pria paruh baya berbadan gempal memasuki restoran lalu berjalan ke arah Adam dan yang lainnya. Mendengar suara itu, tubuh Lulu sedikit gemetar.


“Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini? Aku sudah menyuruhmu untuk pulang lebih awal! Sore ini aku harus menghibur tamu penting!”

__ADS_1


Pria paruh baya itu mengangkat tangannya hendak memukul Lulu di depan publik. Adam berdiri lalu dengan santai menangkap pergelangan tangan pria paruh baya itu.


“Melakukan kekerasan di depan umum itu tidak baik, Paman.” Adam masih berkata sopan.


“Apa yang coba kamu lakukan, Bocah? Aku Ayah Lulu! Aku berhak mengajari gadis ini karena berperilaku seenaknya dan tidak mendengar orang tuanya!”


Mendengar itu, Adam melirik ke arah Lulu yang menunduk. Namun dia sama sekali tidak melepaskan pergelangan tangan pria paruh baya itu. Adam memang tidak tahu pihak mana yang benar atau salah, tetapi pemuda itu tidak ingin melihat pemandangan semacam itu terlihat di depannya.


Pada saat itu, sosok pemuda tampan dengan rambut cokelat bergelombang yang disisir rapi berjalan ke arah mereka. Pemuda itu mengenakan jas dan dibelakangnya tampak dua bodyguard yang menjaga dirinya.


“Tuan Matthew, mohon tunggu sebentar! Saja bisa segera menyelesaikan semua ini!”


Mengabaikan pria paruh baya itu, sosok pemuda yang dipanggil Tuan Matthew itu berhenti lalu memandang sosok Adam. Pemuda itu kemudian sedikit membungkuk.


“Tidak menyangka akan bertemu dengan anda di sini, Ketua.”


“...”


Mendengar itu, orang-orang di restoran yang awalnya berbisik tiba-tiba terdiam. Mereka tidak menyangka akan ada perubahan mendadak seperti dalam drama semacam itu. Jangankan orang-orang, Adam sendiri merasa cukup bingung.


Melihat Adam yang hanya menatapnya dalam diam, Matthew merasa agak malu. Dia dengan sopan melanjutkan.


“Mungkin anda tidak terlalu memperhatikan saya, Ketua. Saya adalah salah satu rekan Shawn.”


Mendengar nama Shawn, Adam langsung mengingat beberapa sosok orang dalam Wings of Freedom. Dia kemudian mengingat sosok pemuda berambut acak-acakan, berpenampilan sangat bebas dan selalu memakai kacamata hitam. Adam menatap sosok di depannya lalu bergumam pelan.


“Matt?”


“Ya! Senang anda mengingat saya, Ketua!” Matthew yang biasanya dipanggil Matt di Wings of Freedom itu tersenyum.


“...”


Bagaimana aku bisa mengenalimu? Penampilanmu sekarang sangat bertolak belakang, Okay? Siapa akan menduga kalau kamu adalah Matt yang sembrono itu?


Adam melepaskan pergelangan tangan pria paruh baya itu lalu memandang ke arah Matt sambil menggeleng ringan. Dia tidak menyangka kalau banyak anggota dari Wings of Freedom ternyata adalah generasi kedua dari keluarga-keluarga kaya.

__ADS_1


Sementara itu, pria paruh baya yang melihat Matthew sangat menghormati bahkan menyanjung Adam merasa dunianya runtuh. Dia menggigil ketakutan, benar-benar langsung berlutut di lantai sambil berkata.


“Pria tua ini salah karena tidak mengenali anda, Ketua. Tolong maafkan pak tua ini!”


Perkataan dari pria paruh baya berbadan gempal membuat banyak orang memandang ke arahnya. Sementara itu, Adam yang menatap Ayah Lulu itu malah bertanya kepada Matthew.


“Apakah dia juga anggota, Matt? Kenapa aku belum pernah melihatnya?”


“Tentu saja bukan! Bukankah anda tahu kelompok kita berisi para pemuda? Paling-paling dia berkata seperti itu karena tidak mengetahui nama anda, Ketua.”


“Jadi begitu …” Adam memegang dagu, melirik ke arah Lulu sebelum bertanya, “Apakah kamu keberatan jika ayahmu pilang terlebih dahulu, Lulu?”


Mendengar pertanyaan Adam, Lulu sedikit terkejut. Dia langsung menggeleng dengan cepat.


“Saya tidak keberatan, Kak-” Suara Lulu tercekat. “Maksud saya … Ketua.”


Adam mengangguk ringan sebelum menatap Matthew. Pemuda itu langsung mengerti dan berkata dengan nada santai.


“Kalian berdua tunggu apa lagi? Tolong ‘antar’ pria ini pulang terlebih dahulu.”


Tanpa mengatakan apa-apa, kedua bodyguard itu langsung menjalankan perintah. Mereka langsung menyeret Ayah Lulu keluar dari restoran.


...***...


Pada saat yang sama, di jalan luar Kota B.


“Sepertinya ada yang mengikuti kita, Tuan Lei.”


Seorang lelaki mengenakan setelan layaknya seorang bodyguard yang sedang menyetir melihat ke arah spion lalu berkata kepada Li Fan yang duduk di kursi co-pilot.


Benar saja. Beberapa saat kemudian, dua mobil sedan hitam melewati mereka lalu menghadang jalan. Dua mobil lain dari jenis yang sama langsung menutup jalan di belakang mereka.


Setelah itu, pintu dari keempat mobil terbuka. Banyak pria dengan setelan hitam turun, tetapi Lei Fan melihat ke arah tertentu di mana seorang pria besar berkulit hitam dan kekar berada. Melihatnya, pemuda itu langsung bergumam.


“Apa yang dilakukan Kultivator Jahat di tempat seperti ini?”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2