
"T-Terima kasih, Mr Owl!"
Mendengar ucapan Thomas, Adam mengangguk ringan.
"Kalau begitu, mari kita bicarakan masalah Kevin."
"Ada apa dengan Kevin, Mr Owl?"
Thomas tampak cemas ketika nama putranya disebutkan. Dia tampak tertekan dan linglung.
"Permainan akan dimulai nanti malam."
"Permainan? Jangan bilang-"
"Salah satu anak dan walinya akan menjadi korban."
"Lalu kita harus-"
"Tenang, Mr Thomas ... tetap tenang."
"Tapi-"
"Permainan akan dimulai nanti malam. Kemungkinan ketika lewat tengah malam. Sekarang masih baik-baik saja. Anda tidak perlu terlalu khawatir."
Mendengar ucapan Adam membuat Thomas menjadi lebih tenang.
"Sekarang yang anda perlukan adalah menghubungi rumah. Biarkan pembantu dan tukang kebun kembali ke rumah mereka.
Jika tidak, suruh mereka menginap di hotel malam ini."
"Kenapa?" tanya Thomas dengan ekspresi bingung.
"Mencegah sesuatu yang buruk tanpa sengaja terjadi kepada mereka. Anda dan istri anda juga bisa menginap di hotel.
Jika tidak ... anda bisa membawa Kevin ke sini. Biarkan putra anda menginap di tempat ini malam ini."
"TIDAK!" seru Thomas dengan ekspresi panik.
"En?"
Adam mengangkat alisnya, merasa agak bingung. Pemuda itu merasa bahwa Thomas kelihatannya menjadi kurang stabil dan nyaris gila.
"Apapun yang terjadi, saya ingin menemani Kevin sampai akhir! Saya dan istri saya harus berada di sisinya!"
"Kalau anda memaksa, saya tidak akan menolak. Namun, pegawai di rumah anda harus diliburkan untuk malam ini! Ini bukan permintaan ... tapi perintah dari Departemen Misteri!"
"Tidak apa-apa ... sama sekali tidak apa-apa."
Mendengar suara dingin Adam, Thomas terus mengangguk seperti burung pelatuk.
Pada saat itu, sosok Carole datang membawakan mereka dua cangkir teh panas yang masih mengepul.
"Silahkan, tehnya ..."
"Terima kasih, Nona Carole." Adam mengangguk ringan. "Minumlah, Mr Thomas."
"Saya tidak ingin minum, saya-"
__ADS_1
"Minum saja!" ucap Adam dingin.
Merasa takut dengan Adam, pria itu akhirnya meminum teh. Setelah menghabiskan satu cangkir teh, ekspresinya tampak agak lega.
"Pejamkan mata anda."
Mendengar ucapan Adam, Thomas benar-benar memejamkan matanya.
"Tenang ... hirup udara dalam-dalam dan keluarkan perlahan. Tenang ... semuanya akan baik-baik saja.
Tenang ..."
Adam berkata lembut sambil menggunakan skill Suzaku's Cry. Ekspresi Thomas yang awalnya kaku menjadi lebih rileks. Beberapa saat kemudian, pria itu akhirnya tertidur.
Melihat Thomas yang benar-benar tidur, Adam bangkit dari kursinya dan pergi kembali ke kamarnya. Namun ketika melewati dapur, dia dihentikan oleh James.
"Kamu masih tahu cara menghipnotis, Mr Owl?"
"Itu sama sekali buka hipnosis." Adam tidak setuju dengan ucapan James. "Aku hanya memberi sugesti. Mr Thomas pada dasarnya lelah secara fisik dan mental. Dipicu dengan minuman hangat yang menenangkan dan ucapan-ucapan lembut ... dia pasti akan tertidur. Bahkan jika bukan aku yang melakukannya."
"Benarkah?"
"Untuk apa aku berbohong? Aku tidak mendapat keuntungan apa-apa jika membohongimu."
Tapi aku akan rugi jika membicarakan salah satu kartu truf milikku kepadamu.
Adam mengatakan itu dalam hati. Melihat James yang agak linglung seperti sedang membayangkan sesuatu, pemuda itu memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak.
Nanti malam dia tidak akan tidur. Adam memilih untuk istirahat terlebih dahulu.
Memejamkan mata, Adam bergumam.
"Aku harap masalah ini segera selesai ..."
***
Sore harinya.
Adam yang telah bangun sudah bersiap. Dia kemudian pergi menuju ke ruang santai untuk membangunkan Thomas.
"Bangun, Mr Thomas."
Adam berkata sembari menepuk ringan pundak Thomas. Pria yang tidur sambil duduk itu langsung membuka matanya. Menggosok matanya, Thomas tampak agak linglung.
Setelah beberapa detik, dia tiba-tiba berdiri dengan ekspresi panik di wajahnya.
"Jam berapa sekarang? Hari apa? Bagaimana dnegan Kevin?"
"Tenang, Mr Thomas." Adam sekali lagi menepuk pundak pria itu. "Ini masih jam 15.30 dan masih di hari yang sama. Pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah anda. Kita pergi ke rumah anda pukul 16.00 tanpa penundaan."
Mendengar ucapan Adam, Thomas sekali lagi menjadi lega. Dia juga tampak lebih segar dan tidak terlalu tertekan. Jelas, tiga hari kurang tidur membuatnya berada di bawah tekanan mental yang berat.
"Baik."
Setengah jam kemudian.
Adam duduk di kursi co-pilot sambil melirik ke arah Thomas yang menyetir. Melihat bagaimana pria itu tampak lebih baik, Adam juga merasa cukup lega.
__ADS_1
Sebagai anggota departemen baru, Adam tidak ingin 'klien' menjadi gila atau semacamnya. Bukan hanya merugikan Departemen Misteri, tetapi nama baiknya juga akan rusak karena itu.
Jadi selain mengatasi sumber masalah, tugas Adam juga memastikan orang-orang yang berhubungan dengan masalah tersebut baik-baik saja. Ya ... kecuali orang yang terlibat dalam kasus, tetapi bukan bagiannya.
Contohnya teman Kevin dan ibu bocah itu. Meski itu sebenarnya berhubungan dengan kasus yang dia urus, karena mereka berada di luar pekerjaannya, juga tidak melapor, Adam dan Departemen Misteri tidak bisa disalahkan.
Setelah beberapa waktu berkendara, mereka akhirnya sampai ke tujuan.
Masuk ke dalam rumah, Adam melihat bahwa suasana rumah Thomas menjadi lbih suram padalah dirinya baru meninggalkannya dalam tiga hari.
“Selamat datang di rumah.”
Sosok istri Thomas berjalan menuruni tangga dari lantai dua bersama dengan putranya, Kevin. Selain mereka, tampaknya rumah telah menjadi sepi. Jelas para pekerja telah memilih untuk menurut pergi meninggalkan rumah untuk malam ini.
Lagipula, tidak banyak orang yang mau mengorbankan nyawa mereka sendiri. Jangankan mengorbankan, mempertaruhkan saja … tidak banyak yang berani.
“Paman Owl!”
Berbeda dengan istri Thomas yang melirik Adam dengan dingin, setelah menuruni tangga, Kevin segera berlari menuju ke arah pemuda bertopeng putih itu.
“Tidak terjadi apa-apa selama aku pergi kan, Kevin?”
“Tidak ada apa-apa.” Kevin terus menggelengkan kepalanya. “Tapi Ayah tampak khawatir. Lagipula, kami benar-benar tidak tahu bagaimana mengalahkan ‘Dia’ dalam permainan.”
Sebelum Kevin sampai di depan Adam, bayangan hitam melewatinya lalu menabrak sosok pemuda bertopeng itu.
Bayangan hitam tadi tidak lain adalah sosok ibu Kevin. Dia langsung memukuli dada Adam dengan ekspresi marah dan tertekan.
“Semua ini pasti salahmu! Kamu pasti menggunakan sihir untuk menipu Thomas dan Kevin! Apa yang kamu lakukan kepada keluarga kami!”
“Hentikan, Linda!” seru Thomas dengan ekspresi marah.
Ketika Thomas hendak menarik dan menampar wanita itu, suara Adam yang tenang terdengar.
“Tidak masalah, Mr Thomas. Biarkan istri anda meluapkan emosinya. Lagipula, hal-hal astral semacam itu memang terkesan tidak nyata. Biarkan saja.”
“Tapi-”
“Tidak apa-apa. Dia hanya kebingungan.”
Linda terus berteriak dan memukuli tubuh Adam dengan ekspresi tertekan. Dari penampilannya, kelihatannya wanita itu sama tertekannya dengan Thomas. Hal itu juga yang membuat Adam membiarkan wanita itu bertingkah sesukannya.
Pukulan Linda, seorang ibu rumah tangga yang tidak melakukan apa-apa selain mengurus anaknya sama sekali tidak membuat Adam merasa kesakitan. Baginya, itu hanya sebuah pijatan yang agak keras, tidak lebih.
Mungkin ini yang terjadi karena dia tidak bisa melepaskan rasa stressnya, kan? Jadi biarkan saja.
Pikir Adam ketika melihat Linda yang tampak tertekan. Menghela napas dalam hati, dia menggeleng ringan.
Ya. Dia sangat baik karena bisa menahan diri selama 2 tahun, mungkin lebih. Biarkan saja dia melampiaskannya kepadaku.
Setelah memikirkan itu, Adam berkedip dengan ekspresi aneh.
Errr … kelihatannya itu terdengar salah dan melenceng? Maksudku … melampiaskan emosinya dan amarahnya.
Menepis hal aneh yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya, Adam meyakinkan hatinya yang agak goyah dan bengkok.
>> Bersambung.
__ADS_1