
"Apa yang kamu maksud dengan itu?"
"YA! Apakah kamu ingin menelantarkan kami!"
"Jelas orang itu ingin memecah belah kita!"
"Dia sengaja menakut-nakuti kami!"
"..."
Suara protes terdengar di telinga Adam, tetapi dirinya sama sekali tidak menggubris ucapan mereka. Sebaliknya, dia malah menunggu dengan tenang. Beberapa saat kemudian, selain Thomas dan putranya ... sosok Anderson, pria berjas hitam, dan sebuah keluarga kecil ikut dengan mereka. Itu berarti, ada tiga keluarga yang memilih tidak ikut bersama Adam.
Adam kemudian memandang sosok Liez yang hanya diam dan menunggu. Dia hendak bergerak, tetapi ekspresinya tiba-tiba berubah.
Ternyata di bawah kaki Adam ... tidak, lebih tepatnya di bawah kaki setiap orang terlihat banyak sekali sulur hitam yang menjerat kaki mereka semua. Gerakan semua orang di sana ternyata telah dikunci. Sama sekali tidak ada yang bisa melarikan diri.
Mengalihkan pandangannya dari sulur hitam yang mengikat kakinya, Adam melihat ke arah Liez. Pemuda itu mendapati wanita bergaun hitam sedang menatap dirinya dengan senyum lebar. Pada saat itu, dia baru sadar bahwa ada sesuatu yang salah.
Liez tiba-tiba menghilang dan muncul tepat di depan Adam.
"Jimat Es Pelindung!!!"
BANG!
Tiga cahaya pelindung melapisi tubuhnya, tetapi Adam tetap saja masih terguncang dan terpental. Tanpa sadar pemuda itu memejamkan mata dan pada saat dirinya membuka mata, dia tidak lagi berada di ruang keluarga itu lagi.
Adam langsung mencium aroma daging busuk. Melihat ke arah sekitar, dirinya sebuah ruang gelap dan sempit. Melihat ke sekelilingnya, dia menghirup napas dingin. Terlihat belasan bahkan puluhan mayat anak-anak yang menempel di dinding ruangan. Melihat tiga mayat baru, yaitu anak pria dari Crimson Wolf Gang dan kemungkinan dua lainnya adalah teman Kevin.
Bukankah ini yang ada di balik gaun Liez tadi?
Pikir Adam dengan ekspresi pahit di wajahnya. Orang lain bilang dibalik rok terdapat keindahan yang memesona. Tempat yang tidak bisa dipandang seenaknya karena akan membuat lelaki lupa diri. Sedangkan yang Adam lihat sekarang bukan ladang bunga indah atau semacamnya, tetapi ruangan sempit di mana lebih dari dua puluh mayat anak-anak dipajang di dinding.
"Apakah kamu di sini datang untuk bermain dengan kami, Kakak?"
"Wow! Aku sudah lama tidak melihat orang dewasa."
"Ya. Ibu bilang mereka mungkin memerlakukan kita dengan jahat, kan?"
"Apakah dia datang untuk menyakiti kami?"
"Ibu ... Ibu ... ada orang jahat yang masuk ke kamar kami."
"..."
Melihat ke ruang yang tiba-tiba dipenuhi suara anak-anak yang bercampur aduk membuat Adam tertegun.
Apakah ini ilusi? Apakah wanita itu benar-benar mencoba menyiksaku secara psikologis?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam benak Adam. Selain dirinya, hanya ada mayat anak-anak yang dipajang pada dinding. Seharusnya, setelah tidak ada hubungan lagi dengan dunia, roh anak-anak itu tidak lagi berada di dalam ruangan, kecuali ...
__ADS_1
Liez menjebak roh anak-anak di sini?
Membayangkan itu saja membuat Adam merasa tak nyaman. Wanita cantik bergaun hitam itu, Liez, dia benar-benar sudah gila. Adam tidak tahu apa yang membuatnya menjadi makhluk yang sejahat dan sekejam itu. Memikirkan nasib Kevi, anak-anak lain beserta wali mereka membuat pemuda itu menggertakkan gigi.
"Apakah kalian tahu jalan keluar dari tempat ini, Anak-anak?"
Pada saat Adam berkata demikian, ruangan tiba-tiba menjadi sunyi. Beberapa waktu kemudian, suara anak-anak kembali terdengar di benak pemuda itu.
"Apakah kamu akan pergi dari sini, Kakak?"
"Bukankah kamu datang untuk bermain dengan kami, Kakak?"
"Apakah kamu membenci kami, Kakak?"
"..."
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, tubuh Adam sedikit gemetar. Dia tidak tahu kenapa Liez mengurung jiwa anak-anak yang masih begitu polos seperti ini. Tidak peduli alasannya, tindakan semacam ini benar-benar sebuah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan begitu saja.
Menarik napas dalam-dalam, Adam membuka topengnya lalu tersenyum dengan tulus dengan air mata yang tertahan.
"Tidak. Aku di sini bukan untuk bermain dengan kalian. Sebaliknya, aku di sini untuk menjemput kalian."
Ucapan Adam benar-benar membuat ruang itu kembali sunyi.
"Menjemput kami?"
"Ya." ucap Adam.
"Bukan."
"Lalu ke mana kamu akan membawa kami pergi, Kakak?"
Mendengar pertanyaan itu, Adam berkata dengan tulus.
"Tentu saja, ke tempat yang lebih baik. Tempat dimana kalian seharusnya berada."
Pada saat Adam mengatakan itu, dinding ruangan tiba-tiba bergetar. Setelah beberapa guncangan, dinding itu berhenti bergetar. Tiga mayat anak lain tiba-tiba muncul di dinding.
"Aku janji akan membawa kalian keluar dari tempat ini. Jadi tolong ... tunjukkan aku jalan keluarnya."
Mendengar ucapan Adam, ruangan itu kembali sunyi. Begitu lama sunyi, sampai suara anak yang belum pernah Adam dengar sebelumnya berbicara.
"Jika kami membantumu ... bisakah kamu mengabulkan permintaan kami?"
Adam sempat terkejut. Melihat ke sumber suara, pemuda itu melihat kerangka anak kecil dengan pakaian petani biasa pada abad pertengahan. Agak ragu, dia tidak bisa tidak bertanya.
"Apa yang kamu ... tidak, kalian berenam inginkan?"
Setelah sunyi beberapa saat, suara anak kecil kembali terdengar.
__ADS_1
"Yang kami inginkan adalah ..."
***
"Mr Owl membohongi kita! Seharusnya aku tidak memercayainya!"
Thomas berseru dengan ekspresi tertekan. Melihat Adam yang menghilang secara tiba-tiba setelah ledakan cahaya, pria itu menduga bahwa Owl melarikan diri dan meninggalkan mereka sendiri.
Melihat ke sekeliling ruangan di mana tiga keluarga telah binasa, Thomas menjadi lebih tertekan. Tangan dan kakinya terikat, bahkan jika tidak terikat oleh sulur hitam yang mengerikan itu ... dia yakin tidak bisa melawan wanita bergaun hitam. Pria itu merasa putus asa dan menyalahkan Adam karena semuanya.
"Paman Owl pasti datang, Ayah. Dia pasti akan datang untuk menyelamatkan kita."
"Dia jelas meninggalkan kita!"
Kali ini bukan Thomas, tetapi Anderson yang mengatakan itu. Pria itu lebih tertekan dan merasa bodoh karena telah mengikuti Thomas. Dia merasa bukan hanya putrinya yang tertipu oleh Kevin, bahkan dirinya juga ikut tertipu dengan Thomas, ayah bocah itu.
"Tidak! Paman Owl pasti datang untuk menyelamatkan kita! Kita hanya perlu menunggu dengan sabar!"
Melihat Kevin bergeming, yang lainnya merasa bingung. Darimana bocah itu memiliki kepercayaan mutlak semacam itu.
Pria dengan setelan hitam yang memeluk putrinya sambil memegang pistol menatap ke arah Kevin. Setelah memikirkan sesuatu, dia menggeleng ringan. Namanya adalah Andreas, salah satu eksekutif dari sebuah kelompok bernama Phantom Blade. Itu adalah salah satu kelompok terkuat, bisa dibilang melebihi kelompok Crimson Wolf Gang.
Sebagai salah satu kelompok terkuat di Kota B, tentu Andreas pernah bertemu dengan Spiritualist, atau yang biasa dipanggil Kultivator. Alasan kenapa dia memilih untuk mengikuti sosok bertopeng itu karena jelas ... selain mengetahui jawaban, sosok itu tampak kuat dan bisa diandalkan.
Hanya saja, Andreas tidak menyangka bahwa roh jahat yang bernama Liez ini benar-benar licik dan kuat. Sosok pemuda bertopeng itu dibuat lengah lalu 'disingkirkan' lebih awal. Hal itu jelas adalah kabar buruk bagi mereka. Karena, tidak seorang pun yang tersisa tahu jawaban. Yang berarti ... mereka akan mati.
Soal Kevin yang sangat memercayai Adam, Andreas menganggap bocah itu agak putus asa dan mencoba meyakinkan diri sendiri. Terus meyakinkan diri sendiri agar tidak kehilangan harapan.
Melihat genangan darah di ruang keluarga, Andreas mengerutkan kening. Selain anak-anak yang diambil, Liez benar-benar memakan mayat para orang tua.
"Jadi ... siapa di antara kalian yang akan menjawab pertanyaan?"
Mendengar suara lembut wanita bergaun hitam itu, orang tua yang tersisa saling memandang.
"Apakah Owl atau siapalah itu tidak memberitahu dirimu jawabannya?" Anderson yang marah menoleh dan memelototi sosok Thomas.
"Dia tidak mengatakan apa-apa!"
Mendengar ucapan Thomas yang cukup putus asa, Andreas menghela napas panjang. Pria itu berpikir dalam hati.
Hanya sampai di sini ... kah?
BLARRR!!!
Ledakan keras terdengar dari bagian belakang rumah. Kepulan asap berdebu memenuhi rumah. Suara langkah kaki juga terdengar. Pada saat asap mereda, orang-orang melihat sosok pemuda bertopeng putih datang. Penampilannya berantakan, bahkan topeng yang dia kenakan kembali itu penuh dengan retakan.
Menepuk debu di pakaiannya, pemuda yang tampak cukup kelelahan dari gerakannya itu kemudian berkata.
"Aku datang di saat yang tepat, kan? Kalau begitu ... biarkan aku yang menjawabnya."
__ADS_1
>> Bersambung.