
Mendengar ucapan Adam, pemuda itu menghirup udara dingin. Meski agak gemetar, dia masih berani mencibir.
"Hehehe ... apakah Anda berani melakukan hal semacam itu di tempat umum? Belum lagi, di tempat ini?
Saya akan memperingatkan anda. Saya mengenal pemilik manajer tempat ini. Jika anda tidak menarik kata-kata tadi ..."
"Kamu sudah datang, Hubert!"
Suara ceria terdengar dari belakang Adam. Beberapa saat kemudian, sosok pemuda rapi dan tampan datang menghampiri mereka.
Hubert yang melihat pemuda itu langsung tampak bangga. Dia kemudian langsung berkata dengan nada menyanjung.
"Maaf merepotkan anda, Bos Shawn. Saya benar-benar tidak pandai dalam memilih, jadi terpaksa meminta bantuan Bos Shawn untuk membantu."
Pemuda itu mengangguk, tetapi ekspresinya langsung terkejut ketika melihat sosok tampan Adam.
"Aku merasa punggung itu tampak akrab. Ternyata aku tidak mengenali orang yang salah. Hahaha! Ternyata kamu datang ke tempat ini, Ketua.
Apakah kamu sedang mencari mobil, Ketua? Serahkan padaku! Aku akan memberi harga terbaik untukmu!"
"..."
Melihat sosok Shawn, Adam terdiam. Dia tidak menyangka kalau pemuda yang memberinya gelar ketua Kelompok Wings of Freedom itu bisa muncul di tempat ini.
Bukan hanya Adam, bahkan Bella, Jennifer, Tina, Hubert, dan para sales wanita itu menatap ke arah Shawn dengan ekspresi tidak percaya. Bagi para pekerja, pemuda itu biasanya tampak sombong dan tak acuh. Namun sekarang ...
Berinisiatif untuk menyanjung dan menjilat?
"Hah ...." Shawn menghela napas panjang. "Meski kami berterima kasih kepadamu tentang perkembangan yang telah terjadi, kamu harusnya sekali-kali datang berkunjung, Ketua. Anak-anak benar-benar ingin bertemu denganmu."
"Aku—"
"Oh, iya? Apakah kamu sudah berkeliling, Ketua? Kalau belum, aku akan mengantarmu.
Hmm ... tampaknya sudah. Apakah kamu memiliki mobil yang telah diminati, Ketua?"
Tiba-tiba disela oleh pemuda cerewet itu, sudut bibir Adam berkedut.
"Tenang. Tidak perlu terburu-buru. Pilih saja yang kamu suka. Kecuali beberapa mobil khusus, jika ingin, aku bisa menemanimu melakukan test drive, Ketua.
Oh! Kamu juga mengenal Hubert?"
"..."
Melihat banyak orang yang memandangi dirinya dengan ekspresi terkejut dan bingung, Adam tampak agak suram. Meski dirinya mencolok, dia bukan tipe yang suka pamer.
'Ketua ini ... Ketua itu ... Ketua kepalamu!'
Ketika Shawn hendak kembali berbicara, tangan Adam terulur. Dia langsung menyentil dahi pemuda itu. Tampaknya gerakan halus dan santai, tapi ...
Bruk!
Shawn yang disentil dahinya roboh ke lantai. Tampak sebuah tanda hitam tepat di tengah dahinya. Sebuah luka gosong seolah dipukul benda berat.
__ADS_1
'Benar-benar dipukul di tempat!'
Orang-orang yang menonton langsung berseru dalam hati. Meski mereka tahu Shawn agak terlalu antusias dan berisik, mereka tidak menyangka Adam akan mengalahkannya di tempat tanpa sedikit pun keraguan.
"Aw! Aw! Aw!"
Bangkit setelah 'dipukul' oleh Adam, Shawn memegangi kepalanya. Tampaknya agak pusing. Dia kemudian menepuk debu di pakaiannya. Namun anehnya, pemuda itu sama sekali tidak tampak marah.
"Ah! Aku lupa! Seharusnya aku tidak memanggilmu 'Ketua' di luar, Senior."
"..."
Melihat ke arah Shawn yang tampaknya 'tercerahkan', sudut bibir Adam berkedut. Bella dan Jennifer di belakangnya bahkan menutup mulut untuk menahan tawa. Sedangkan orang lain, mereka sama sekali tidak berani bergerak atau berekspresi sesuka hati.
Masih takut dengan identitas Shawn!
"Maafkan aku, Senior."
"..."
Melihat ke arah Shawn, Adam menghela napas berat.
'Bukankah itu terlambat? Bukankah kamu canggung karena langsung memanggilku Senior setelah mengoceh Ketua ini, Ketua itu???'
Adam benar-benar merasa tak berdaya. Setahu pemuda itu, Shawn sebenarnya cukup baik dari segi IQ dan EQ. Namun entah bagaimana, kecerdasan orang itu langsung turun ketika berada di sekitarnya.
'Mungkinkah ini yang disebut fan kehilangan otak ketika melihat idolanya? Sungguh ...
Bukankah banyak artis atau idol di luar sana? Kenapa orang ini mengidolakan anak yatim-piatu sepertiku?'
Adam merasa kesulitan untuk menghadapi orang yang kehilangan kecerdasan mereka!
"Lupakan," ucap Adam setelah menghela napas panjang.
"Jadi, apakah kamu sudah menentukannya, Senior?"
Adam mengabaikan Hubert. Alasan dia pergi ke sini adalah untuk membeli mobil. Tidak berniat membuang-buang waktu untuk hal lain.
"Jadi, bagaimana menurut kalian, Bella? Jennifer?"
"Hmmm ..."
Mendengar pertanyaan Adam yang tiba-tiba, Bella dan Jennifer terkejut. Namun mereka masih merenung.
Melihat kedua kecantikan tersebut, Shawn merasa terkejut, tapi masih bisa mengontrol diri. Pemuda itu tidak bisa tidak bertanya.
"Yang mana dari mereka Saudari Ipar kami, Senior? Aku akan mengingatnya agar anak-anak tidak mencoba macam-macam.
Tentu saja, aku juga akan mengingat teman Saudari Ipar. Kamu bisa—"
"Mereka kekasihku."
"Oh ..." Shawn mengangguk. Namun ekspresinya tiba-tiba berubah. "En? Eh? Anu ... Permisi? Apa yang kamu katakan tadi, Senior?"
__ADS_1
"Mereka kekasihku."
"..."
Shawn menatap Adam dengan ekspresi terkejut. Lebih terkejut daripada orang yang bertemu dengan hantu.
'Omong kosong suci! Ketua masih begitu mampu!'
Melihat kedua wanita yang sama sekali tidak menyangkal dan tampak akrab, Shawn tidak bisa tidak berseru dalam hati.
"Anu ... Kak Adam?"
"Ada apa, Bella?"
"Menurutku, bagaimana kalau Maserati Ghibli? Tampak mewah, tetapi tidak semahal itu untuk kamu, kan?
Juga, ada empat kursi. Dibandingkan dengan mobil sport dua kursi, itu lebih cocok untuk kita bepergian bersama, kan?"
"Hmmm ..."
Adam mengangguk ringan.
"Menurutku Ferrari Roma lebih baik. Meski hanya dua kursi, tapi biasanya kamu pergi sendiri, kan?
Juga. Selain cocok untukmu, sesekali aku dan Bella bisa meminjamnya. Bukankah itu mobil elegan yang cocok untuk semua gender?"
Meski agak egois, Jennifer memiliki pendapatnya sendiri.
"Hmmm ..."
Adam mengangguk ringan. Dia kemudian menatap ke arah Shawn.
"Aku mempercayaimu, Shawn. Aku yakin kamu akan memberi pengaturan terbaik untuk kami dan tidak menipu.
Maserati Ghibli atas nama Bella, Ferrari Roma atas nama Jennifer. Juga, aku ingin Lamborghini Aventador dan Rolls-Royce Phantom.
Setelah prosesnya selesai. Kamu bisa mengantarnya ke rumah baruku, kan?"
Setelah mengatakan itu, Adam mengeluarkan kartu miliknya.
Hanya saja, otak orang-orang di sana termasuk Bella dan Jennifer tiba-tiba berjalan lambat.
"Anu ... Permisi? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu maksud, Senior? Bisakah kamu mengulanginya, Senior?"
"Hitung saja lalu gesek kartunya."
Adam berkata dengan nada datar.
Ekspresi Shawn tampak pucat. Pandangannya tentang dunia berubah. Dia sendiri kaya, tetapi tidak pernah mencoba membeli mobil mahal seolah membeli keripik kentang dan cola di supermarket seperti pemuda di depannya.
'Omong kosong suci! Apakah Ketua baru merampok bank akhir-akhir ini?'
Merasa agak bingung, pemuda itu hanya bisa mengutuk dalam hati.
__ADS_1
>> Bersambung.