
"Kamu benar-benar membuatku ketakutan, Mr Adam."
Duduk di kursinya, Andreas sekali lagi menghela napas panjang. Dia kemudian menatap ke arah Adam yang duduk santai sambil memangku sosok putrinya.
"Apakah anda melihat gambar yang saya dan teman-teman kirim, Mr Owl?"
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya.
"Panggil aku Paman Adam."
"En! Paman Adam!" Gadis itu memanggil dengan patuh.
"Gadis pintar," ucap Adam dengan senyum di wajahnya.
Berbeda saat berhadapan dengan orang dewasa, Adam tampak begitu lemah lembut terhadap para anak kecil. Bukan karena dia memiliki selera khusus atau semacamnya. Namun bagi pemuda itu, anak-anak kecil itu seperti kertas putih, masih begitu bersih. Jadi dia juga menghadapi mereka dengan bersih.
"Mr Adam?" panggil Andreas.
"Iya?"
"Tolong katakan, kenapa anda menginginkan informasi Golden Dew? Apakah Wings of Freedom—"
"Aku sudah bilang, Mr Andreas. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Wings of Freedom."
Andreas menatap ke arah Adam. Melihat tatapan serius Adam, pria itu akhirnya mengangguk.
"Lalu ... tolong jelaskan apa maksud anda yang sebenarnya. Lagipula, Golden Dew adalah salah satu situs berharga milik Phantom Blade. Salah satu tempat penghasil uang utama bagi kami."
"Jadi begitu ..."
Adam mengangguk. Dia akhirnya sadar, tampaknya Andreas awalnya salah paham. Orang itu mengira dirinya menginginkan Golden Dew, membuat Phantom Blade menurun dan akhirnya menekan kelompok itu perlahan.
"Seharusnya kamu tahu kalau aku seorang Kultivator kan, Mr Andreas?"
"Ya ... kurang-lebih."
Andreas mengangguk.
"Kalau begitu, kamu pasti tahu apa itu Kultivator jahat, kan?"
"..."
Andreas tidak menjawab, tetapi dia mengangguk. Bahkan jika belum bertemu secara langsung, dia masih mengingat jelas kengerian Liz, si penyihir. Kultivator jahat atau makhluk semacam itu ...
Benar-benar hal berbahaya dan harus disingkirkan!
"Aku mendapatkan informasi bahwa, tampaknya Phantom Blade sedang dekat dengan sekelompok Kultivator jahat."
"Itu jelas fitnah!"
Andreas langsung menjawab tegas. Bahkan jika mereka berurusan dengan kasus pembunuhan dan semacamnya, orang-orang di Phantom Blade jelas tidak ada hubungannya dengan para kultivator jahat seperti yang Adam katakan.
Seolah mengingatkan sesuatu, Andreas akhirnya berkata.
"Maksudmu ... Golden Dew?"
"Ya. Itulah sebabnya aku memerlukan bantuanmu. Aku membutuhkan informasi mendetail tentang Golden Dew, bahkan jika harus membayarnya."
"..."
Andreas menghela napas panjang. Melihat ekspresi serius di wajah Adam, dia akhirnya berkata.
"Kamu tidak harus membayar."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Aku pernah bilang, kan? Aku berhutang budi kepadamu. Meski seharusnya informasi ini rahasia para petinggi Phantom Blade, aku tahu kamu tidak akan membocorkannya. Jadi, anggap saja ini balas budi dariku.
Jadi, dengan ini kami impas, kan?"
"..."
"Tentu saja, aku juga akan merahasiakan identitasmu."
Andreas tersenyum.
Keduanya saling memandang. Memiliki ekspresi lega di wajah masing-masing, akhirnya keduanya berjabat tangan lalu berkata secara bersamaan.
"Sepakat."
Pada saat itu juga, Adam tiba-tiba berkata.
"Sebelum kita membicarakannya, lebih baik kamu membawa putri tidur kembali ke kamarnya, Mr Andreas."
Adam tersenyum lembut. Putri Andreas, gadis kecil itu entah kapan telah tertidur lelap dalam pelukan Adam. Mungkin karena merasa nyaman dan aman, atau sebaliknya ... merasa mengantuk karena bosan mendengarkan ocehan Adam dan Andreas.
Mengambil putrinya dengan senyum di wajahnya, Andreas berkata.
"Kali ini aku berhutang padamu."
Memang, jika bukan karena gadis kecil itu, mungkin keduanya telah mencoba saling membunuh hanya karena salah paham dan situasi tegang di Kota B.
Setelah mengatakan itu, Andreas membawa gadis itu pergi.
Beberapa saat kemudian, pria itu kembali. Duduk di kursinya, dia berkata.
"Minumlah terlebih dahulu, biar aku menceritakan informasi yang aku tahu."
"Kamu tidak mencampur racun atau obat pencahar di dalamnya, kan?" ucap Adam setengah bercanda.
"Jadi, sebenarnya Golden Dew itu tidak sepenuhnya dikendalikan oleh Phantom Blade. Lebih tepatnya, mereka cukup mandiri.
Phantom Blade sendiri hanya meminjamkan nama, membuat mereka aman dalam berkembang. Sedangkan personel, dan seluruh orang yang bekerja di sana tidak ada hubungannya dengan kami.
Bisa dibilang, kami hanya sebagai pencegah. Namun, kami dibayar cukup besar setiap tahunnya untuk meminjamkan nama kami kepada mereka. Jadi, transaksi yang terjadi di sana tidak sepenuhnya dalam kendali kami.
Bahkan, setelah peringatan Mr Ryuuji, kami mencoba menggali lebih dalam tentang obat-obatan terlarang yang mungkin diedarkan di Golden Dew. Akan tetapi, beberapa personel kami malah menghilang secara misterius.
Setelah mendengar darimu kalau semua ini ada hubungannya dengan kultivator jahat, tampaknya semuanya menjadi lebih masuk akal."
"..."
Mendengarkan ucapan Andreas, Adam merasa ada sesuatu yang agak salah. Setalah sadar, dia menatap ke arah pria itu dengan senyum masam.
"Tampaknya kali ini aku benar-benar bekerja secara gratis."
Ucapan Adam membuat Andreas merasa agak malu.
"Sebenarnya—"
"Mari buat kesepakatan."
Adam tiba-tiba menyela. Menatap ke arah Andreas, dia berbicara dengan serius.
"Meski hanya dalam nama, Golden Dew masih milik Phantom Blade. Jadi, jika aku dan Wings of Freedom menyerangnya, itu akan dianggap sebagai serangan tidak ramah, bahkan sinyal pertempuran.
Jadi, aku ingin kamu memberitahu kepada Ketua dan para petinggi Phantom Blade. Biarkan aku dan Wings of Freedom yang mengurus masalah ini, sekaligus membantu mereka untuk mencari dan menolong anggota Phantom Blade yang masih selamat dalam kasus ini."
__ADS_1
Menurut Andreas, saran Adam sudah bagus. Masalahnya, para tetua itu terlalu keras kepala dan sangat sulit diberitahu. Jadi dia menghela napas.
"Maaf, Mr Adam, sulit untuk mencari alasan agar mereka setuju."
"Kalau itu ... aku bisa memberimu alasan."
"En? Benarkah?"
"Ya. Jelaskan saja jika ada kemungkinan bahwa Kultivator jahat memanipulasi Golden Dew. Selain itu, katakan saja kemungkinan besar mereka juga yang mengedarkan obat-obatan terlarang.
Jika mereka bertanya bagaimana kamu tahu, katakan bahwa Adam yang memberitahu dirimu.
Katakan bahwa teman kekasihku adalah salah satu anggota kelompok berbahaya tersebut. Jadi, aku melacak dan akhirnya menemukan petunjuk di Golden Dew. Oleh karena itu, aku meminta izin untuk bertindak."
"Itu ... bukankah itu cerita asli?"
"Siapa bilang kita harus membuat banyak kebohongan."
"Jika demikian, mereka pasti curiga kalau kamu adalah Kultivator. Jadi, kemungkinan besar identitasmu akan terungkap."
"Kamu tidak perlu cemas soal itu." Adam tersenyum misterius. "Mereka jelas akan mencaritahu, tetapi ketika mereka mendapatkan informasi, mereka pasti akan menepis ide kalau aku adalah seorang Kultivator."
"Kenapa?"
'Karena mereka akan mengetahui bahwa aku adalah seorang Cryomancer.'
Adam menjawab dalam hati. Namun hanya tersenyum di permukaan.
Andreas tanpa daya hanya bisa kembali bertanya.
"Apakah kamu yakin mereka akan setuju?"
"Tentu."
"Bagaimana bisa?"
Adam mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh.
"Karena mereka tak akan rugi. Jika ada musuh, mereka tak harus bertempur, bahkan jika kehilangan Golden Dew, mereka tak akan rugi karena tidak lagi kehilangan personel.
Sedangkan jika tidak ada musuh, mereka lebih beruntung karena telah mempekerjakan orang secara cuma-cuma, dan masih memiliki hak atas Golden Dew yang masih aman.
Yang mana saja, Phantom Blade tidak akan lagi terluka. Jadi, semuanya sama-sama untung. Itulah kenapa mereka tidak menolak."
Setelah beberapa saat, Andreas akhirnya juga berkata.
"Ya ... analisis itu pasti tepat."
Adam kemudian menatap ke arah Andreas dan mengulurkan tangannya.
"Kalau begitu, apakah kita sepakat, Mr Andreas?"
"Tentu saja, kita sepakat."
Andreas menjabat tangan Adam.
Setelah berbincang sejenak, Adam akhirnya memutuskan untuk pamit. Namun sebelum pergi, pemuda itu berkata dengan senyum di wajahnya.
"Sebagai laki-laki, jangan ingkari janjimu, Mr Andreas."
"Tentu saja aku tidak akan lupa."
Andreas membalas ucapan Adam dengan ekspresi serius.
__ADS_1
Dengan demikian, rencana mereka berdua pun akhirnya dimulai.
>> Bersambung.