
Di sebuah ruang makan yang tampak indah.
Sosok Melly tampak memakan hidangan di depannya dengan lahap. Dibandingkan dengan sebelumnya, gadis kecil itu tampak lebih hidup.
"Tampaknya akhir-akhir ini kamu bersenang-senang ... Melly."
Mendengar suara wanita yang tampak dingin dan membuat bulu kuduk berdiri, gerakan Melly sempat berhenti. Gadis itu berusaha memasang wajah datar, kemudian menatap ke sumber suara.
Selain sosok pria gemuk yang memakai jas bagus, tampak sosok wanita. Dia memiliki kulit putih pucat, rambut hitam lurus panjang, dan paras sangat cantik.
Hanya saja, ekspresi kosong tampak di wajah wanita cantik tersebut. Daripada menggambarkannya sebagai manusia, dia benar-benar lebih mirip sosok mayat pucat yang bisa bergerak.
Wanita itu bertanya dengan nada dingin. Ekspresinya tidak berubah, bahkan dia tidak memandang ke arah Melly. Tampak seperti sedang bertanya secara acak.
Akan tetapi, Melly tahu bahwa wanita itu ... ibunya sama sekali tidak sedang main-main.
"Saya tidak mengerti apa yang anda maksud, Ibunda."
Melly berkata dengan nada tenang seperti biasa. Namun tubuhnya masih sedikit gemetar, padahal dia telah berusaha menahannya.
Wanita itu sempat melirik sebentar ke arah Melly dan mengetahui bahwa gadis kecil itu berbohong. Dia kemudian kembali fokus pada hidangan di depannya. Memotong steak daging, wanita itu berkata dengan nada tak acuh.
"Kalau begitu tidak apa-apa. Namun sebagai ibu, aku ingin mengingatkan ...
Lebih baik jangan terlalu banyak bermain dengan anjing dan kucing liar. Ibu tidak ingin melihat kamu sakit ketika tidak sengaja dicakar atau digigit."
Mendengar ucapan ibunya, napas Melly tertahan. Dia yakin bahwa ibunya telah melihat bahwa dalam beberapa bulan terakhir, sejak Melly diselamatkan oleh Elbert ... gadis itu mulai sering berhubungan dengan bocah yang tampak polos dan ceria itu.
Mencoba menenangkan diri, Melly menunduk karena tidak ingin ibunya melihat ekspresi di wajahnya.
Setelah beberapa saat dan akhirnya tenang, Melly akhirnya berkata.
"Saya mengerti, Ibu."
__ADS_1
***
Bertahun-tahun berlalu begitu saja.
Tanpa terasa, Melly akhirnya menginjak dewasa.
Gadis itu menatap sosok lelaki tampan yang sudah dia kenal, dan berhubungan dengannya selama bertahun-tahun secara diam-diam.
"A-Aku takut kalau Ayah dan Ibu akan menolak, Elbert. Bagaimana kalau kita melarikan diri saja? Aku ... Aku merasa kalau semuanya tidak akan semudah yang kamu bayangkan."
Elbert yang memakai pakaian rapi tersenyum cerah ke arah Melly.
"Tenang saja, Melly. Aku telah lolos seleksi sebagai tentara. Setelah kembali dengan pangkat yang lebih tinggi, aku akan segera menikahi kamu."
"..."
Melihat senyum percaya diri di wajah Elbert, Melly menjadi lebih bingung. Di satu sisi, gadis itu merasa bahagia dan cukup bangga. Sementara di sisi lain, dia masih takut kalau kedua orang tuanya akan menolak Elbert yang hanya anak yatim-piatu, bahkan hanya keturunan petani.
"Elbert-"
Merasa tidak bisa membantah lagi, Melly yang luluh akhirnya mengangguk.
Satu jam kemudian, di ruang tamu rumah Melly.
"Jadi ... Saya ingin menikahi Melly setelah kembali, Tuan! Nyonya!"
Elbert berkata dengan ekspresi tegas dan penuh tekad.
Duduk di sofa yang berseberangan dengan Elbert, tampak sepasang suami-istri. Meski dibilang suami-istri, mereka tampak kurang cocok karena penampilan seperti langit dan bumi.
Sosok Melly berdiri di belakang kedua orang tuanya, menatap Elbert yang bersungguh-sungguh dengan ekspresi terharu, bahkan penuh cinta.
Melirik ekspresi ayahnya yang seolah akan 'meledak' kapan saja, Melly tahu semuanya tidak akan berjalan selancar itu. Namun ketika ayahnya hendak berdiri dan mencaci, ibu Melly menghentikan lelaki itu.
__ADS_1
Anehnya, lelaki paruh baya itu benar-benar tidak melawan dan hanya mengangguk ringan.
"Nak Elbert, kan?"
"I-Iya, Nyonya!"
"Kami tahu tekadmu." Wanita itu mengangguk. "Namun, kamu tidak akan pergi memberi harapan palsu atau mungkin kembali belasan tahun kemudian, membuat Melly kami menjadi perawan tua, kan?"
"Saya berjanji, dalam tiga ... tidak! Dua tahun saya akan kembali dengan prestasi militer yang cukup!
Sama sekali tidak akan membuat Melly menunggu lama dan tidak akan mengecewakan dirinya!"
"Sungguh semangat muda ..."
Wanita itu mengangguk ringan, bahkan menunjukkan senyum lembut di wajahnya.
"Kalau begitu, kami akan menjaga Melly dan menunggu kamu selama dua tahun. Namun, jangan sia-siakan kesempatan kami, Nak Elbert."
Mendengar ucapan wanita itu, Elbert yang mengira wanita itu sangat dingin dan sulit di hadapi terkejut. Dia langsung memberi hormat dan berkata dengan penuh semangat.
"S-Saya tidak akan membuat Tuan dan Nyonya kecewa!"
Melihat ke arah Elbert, wanita itu tersenyum.
"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ... dan pastikan untuk kembali dengan selamat, Nak Elbert."
"Terima kasih, Nyonya!"
Elbert merasa kalau ternyata 'ibu mertua' tidak begitu dingin seperti yang dia bayangkan.
Hanya saja, karena Elbert menunduk, dia tidak tahu ...
Dia tidak tahu bahwa meski tersenyum, daripada tampak cantik ...
__ADS_1
Senyum di wajah datar Ibu Melly itu justru tampak begitu mengerikan.
>> Bersambung.