Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Sebuah Jebakan?


__ADS_3

Duduk dalam mobilnya, Adam menghela napas panjang.


Melihat ke arah tas berisi ‘setelan tempur’ miliknya, pemuda itu benar-benar tidak bisa banyak bicara. Membayangkan harus menemui para polisi dengan pakaian cosplay … Adam ingin membenturkan wajahnya ke dinding.


Pemuda itu kemudian menginjak pedal gas dan menuju ke lokasi sendirian, karena tidak mungkin berangkat dari apartemen bersama Jennifer. Sampai di lokasi yang cukup jauh dari tempat pertemuan, dia kemudian memarkir mobil di tempat parkir umum, lalu keluar dari mobil sambil membawa tasnya.


Beberapa waktu kemudian, Adam keluar dari toilet umum dengan setelan pertempuran miliknya. Dia kemudian pergi ke sebuah pohon dengan semak yang agak lebat lalu menyimpan tasnya di sana sebelum akhirnya berjalan menuju ke lokasi yang Jennifer tadi sebutkan.


Sampai di lokasi, mobil Jennifer telah menunggu.


“Bukankah kamu bilang lokasinya ada di sini?” tanya Adam.


“Tentu saja tidak. Aku yang akan membawamu ke sana, Crimson Owl.”


“...”


Melihat senyum di wajah Jennifer, Adam merasa ingin pulang. Menghela napas panjang, dia akhirnya masuk ke mobil. Duduk diam di kursi co-pilot.


“Pasang sabuk pengamanmu, Crimson Owl.”


“...”


Melirik ke arah Jennifer yang tersenyum, Adam akhirnya mengeluh.


“Bisakah kamu berhenti memanggilku seperti itu.”


“Apakah kamu marah?”


“...”


Adam hanya diam, terlalu malas untuk membalas Jennifer yang terkadang seperti anak kecil seperti itu. Karena tidak ada jawaban, wanita itu akhirnya hanya menginjak pedal gas dan menuju ke lokasi salah satu buronan berada.


Sampai di lokasi, beberapa orang menghampiri mobil polisi.


Melihat sosok Adam yang turun dalam mobil, banyak polisi yang tertegun. Mereka sama sekali tidak tertawa atau menganggap penampilan pemuda itu lucu. Hanya saja, mereka merasa agak aneh dan tidak terbiasa.


Lagipula, di dunia ini tidak ada pahlawan yang terbang sambil memakai ****** ***** di bagian luar, atau di mana seorang pemuda mengenakan setelan ketat laba-laba yang bergelantungan dari gedung satu ke gedung lainnya.


Memang ada jenis Spiritualist, seorang kultivator. Hanya saja, mereka menyembunyikan diri dari publik. Jadi, penampilan Adam lebih mirip tokoh-tokoh yang dia lihat dalam film.


“Owl?” tanya pria paruh baya yang kelihatannya kapten tim tersebut.


“Pemburu makhluk aneh, Owl.”


Adam mengangguk ringan. Melihat si kapten mengulurkan tangan, dia menjabat tangan lelaki paruh baya itu dengan santai.


“Apakah kamu yakin itu makhluk aneh?” tanya kapten tersebut.

__ADS_1


“Seperti perjanjian sebelumnya. Saya akan membantu untuk menangkap orang itu. Jika ada makhluk aneh, saya akan mengambilnya.”


“Eh? Tentu.” Kapten mengangguk.


“Kalau begitu tolong tunjukan lokasinya.”


“Apakah kamu memerlukan bantuan.”


“Seharusnya tidak. Namun jika kalian khawatir, tidak masalah untuk mengepung tempat itu. Menahan jika memang orang itu berhasil meloloskan diri.”


“Baik.”


Setelah itu, mereka pun akhirnya sampai ke lokasi yang disebutkan. Adam mengangguk ke arah para polisi sebelum akhirnya pergi menuju ke bangunan yang terbengkalai.


Sekitar lima belas menit kemudian.


Sosok Adam muncul sambil menyeret seorang wanita yang tidak sadarkan diri. Itu adalah wanita yang dia temui di jalan menuju Rumah Sakit Jiwa dulu. Orang pertama yang memberi petunjuk tentang perhiasan dari Abyss Jade.


Adam tidak berharap dengan rasa terima kasih dari para polisi, tapi ... melihat pemandangan di depannya membuat pemuda itu tidak bisa berkata-kata.


“Anda dicurigai atas tindakan mencurigakan serta pencurian barang bukti. Tolong angkat kedua tangan anda, Owl!” teriak Kapten.


Melihat belasan pistol yang diarahkan kepada dirinya, Adam merasa hatinya berubah menjadi dingin.


“Apa maksud dari semua ini, Kapten! Owl telah membantu kita dalam masalah ini. Seharusnya-”


Pada saat itu Jennifer sadar. Kepolisian memanfaatkan dirinya untuk menarik sosok ‘Owl’ keluar dari bayangan. Selain karena kasus itu terlalu penting, kelihatannya rekan-rekannya sangat menginginkan rahasia yang Adam sembunyikan.


Jadi begitu …


Jennifer menatap sosok Adam dengan ekspresi menyesal. Tidak menyangka dirinya malah menjadi masalah dan beban bagi sosok pemuda itu. Awalnya wanita itu senang karena terus mendapat pujian dan pencapaian dalam kepolisian berkat bantuan Adam. Tidak disangka, sikap egoisnya selama ini benar-benar menjadi masalah besar.


Adam menatap dan menghafal wajah para polisi yang menjebaknya. Pemuda itu kemudian melepaskan wanita yang dia seret dan mengangkat tangannya.


“Jangan bergerak atau kami akan menembak!” ucap kapten tersebut.


Mendengar itu, Adam menyeringai di balik topengnya sebelum melompat langsung ke dalam bangunan terbengkalai itu. Tidak menunggu lama, pemuda itu langsung melarikan diri dengan skill shadow stealth.


Adam tidak tahu apakah Jennifer sengaja menjebaknya atau tidak. Yang pasti, kepolisian … dia akan menaruh dendam kepada mereka. Meski dirinya diam, bukan berarti dirinya akan memaafkan mereka begitu saja.


Satu jam kemudian, di apartemen Adam.


Melihat Bella yang masih belum tidur, Adam segera berkata.


“Maafkan aku, Bell.”


“Eh? Kenapa tiba-tiba?”

__ADS_1


“Kemas berang-barang milikmu, kita akan pergi dari tempat ini secepatnya. Aku akan menjelaskan semuanya dalam perjalanan.”


Melihat bagaimana Adam yang buru-buru mulai mengemasi barang-barang penting khususnya yang berhubungan dengan bukti. Setelah itu, dia membawa Bella dan Nix pergi ke rumah yang ada di luar kota.


Dalam perjalanan, Adam juga menceritakan semuanya kepada Bella.


...***...


Keesokan harinya, dalam ruang interogasi.


“Katakan saja nama asli pria bernama Owl, Petugas Jennifer! Jangan menjadi pengkhianat yang memihak penjahat!”


Kapten yang memimpin operasi sebelumnya tampak marah kepada Jennifer. Setelah interogasi semalaman, dia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk apa-apa. Dia ingin menggunakan kekerasan, tetapi tidak bisa karena atasan melarangnya.


“Sudah aku bilang, aku tidak mengenal identitas asli Owl!”


“KAMU-”


“Brigadir Jenderal tiba,” polisi yang berjaga di luar ruang interogasi berseru sambil memberi hormat.


Suara kapten itu tercekat. Setelah beberapa saat, seorang pria paruh baya dengan ekspresi tegas dan wajah heroik memasuki ruang interogasi. Melihat itu, kapten langsung memberi hormat.


“Hormat kepada Brigadir Jenderal!” ucap si kapten.


Sementara itu, Jennifer yang duduk di kursinya tampak tidak peduli.


“Petugas Jennifer, anda dibebaskan dari segala tuduhan palsu. Semua yang terlibat dalam misi sebelumnya akan diinterogasi dan diselidiki dengan cermat.”


Mendengar ucapan Brigadir Jenderal itu, si kapten terkejut. Dia tidak menyangka situasinya bisa berubah secara tiba-tiba. Pria itu awalnya ingin memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan pujian lebih tinggi dan segera naik pangkat, tetapi malah menabrak dinding besi.


“T-Tapi, Brigadir Jenderal … Petugas Jennifer telah membela seorang-”


“Diam.” Brigadir Jenderal berkata dingin.


Setelah itu, kapten dan para petugas yang ikut dalam misi tadi malam tiba-tiba ditangkap, diinterogasi, dan mulai diselidiki secara menyeluruh.


Sementara itu, Brigadir Jenderal menatap sosok wanita cantik yang duduk dengan ekspresi tak acuh.


“Nona Jennifer-”


“Diam, Pak Tua. Aku sudah bilang, aku akan hidup mandiri. Sampaikan saja kepada Ayah bahwa aku tidak memerlukan bantuannya!”


“Beliau menyarankan anda untuk kembali. Tidak perlu lagi menjadi petugas kecil semacam ini. Beliau sangat menyesal, berharap bisa-”


“Aku tidak peduli! Kebencian semacam itu … mana mungkin aku bisa dengan mudah melupakannya!”


Bangkit dari kursinya, Jennifer meninggalkan ruangan dengan ekspresi dingin. Hal yang membuat Brigadir Jenderal itu menghela napas tanpa daya.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2