Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Bukan Manusia?


__ADS_3

Kembali ke mobilnya, Clara yang pucat segera mengeluarkan pil gizi dari saku lalu menelannya. Bersandar ke kursi, gadis itu mengeluh dalam hati.


Tidak bisakah Owl itu memperlakukan wanita dengan lebih lembut? Meski itu sudah masuk perjanjian, rasa sakitnya benar-benar keterlaluan.


Clara kemudian segera mencari kotak P3K yang telah dia bawa. Sambil mensterilkan luka di perut lalu menutupnya, gadis itu menggertakkan giginya.


Aku harap kamu berhasil, Owl. Jangan mengecewakan aku dan membuat pengorbananku sia-sia.


...***...


Sementara itu, di gedung terbengkalai.


“Kamu sudah dikelilingi, Owl. Menyerah saja, kali ini kamu tidak bisa lolos. Aku sudah mempersiapkan diri.


Meski kamu menggunakan jimat kabut es yang menyebalkan itu … kamu tetap tidak bisa lari.”


Melihat Obi yang tampak agak gila sekaligus bahagia, Adam terlihat tak acuh. Dia sama sekali tidak peduli dengan gertakan pria itu. Sebaliknya, dia malah bertanya dengan tenang.


“Namamu Obi … kan?”


“HAHAHA! Kenapa? Apakah kamu ingin mengingat nama orang yang menghabisi dirimu?”


“Tidak.” Adam menggeleng ringan. “Apakah kamu pernah mendengar sebuah peribahasa?”


“Peribahasa apa?”


“Anjing menggonggong tidak menggigit.”


Adam berkata dengan nada tak acuh, menatap sosok Obi dengan ekspresi dingin.


Mendengar itu, urat nadi muncul di dahi Obi. Pria itu benar-benar marah. Ingin mencabik-cabik sosok Adam yang masih tampak tak acuh.


“Tembak dia! Bunuh dia untukku!”


Ketika Obi mengatakan itu, suara tembakan terus terdengar.


Adam langsung melesat ke arah salah satu pria yang memegang senapan di tangannya kekar itu sembari terus menghindari peluru yang menghujani dirinya. Memegang erat bokken yang dilapisi aura tipis di tangan kanannya, pemuda itu sesekali melakukan gerakan menebas sambil terus berlari.


“Mustahil … dia benar-benar menghindari dan mengangkis peluru dengan pedangnya?”


Salah satu pria yang melihat Adam datang ke arahnya tampak terkejut. Dalam sekejap, mata pria itu terbelalak dan tampak kaget. Menjatuhkan senapan di tangannya, dia memegangi lehernya.

__ADS_1


Darah terus mengalir dari leher pria itu sebelum jatuh ke tanah. Ketika banyak yang terkejut dengan kejadian tiba-tiba semacam itu, sosok Adam telah melesat ke arah pria lain dan memotong kerongkongannya.


“BUNUH DIA! BUNUH DIA SEKARANG JUGA!!!”


Teriakan Obi menyadarkan para pria bersenjata itu. Obi sendiri juga membawa senjata dan mulai menembaki Adam.


Di bawah hujan peluru, Adam yang terus menghindari dan menangkis setiap tembakan yang nyaris mengenainya tampak seperti sedang menari. Dia akan mendatangi satu per satu musuh dan membunuhnya tanpa sepatah kata.


Hal itu membuat para pria dengan setelan hitam itu menjadi lebih ketakutan. Pada saat mereka terus menembak dan mendengar suara tembakan, ekspresi mereka tiba-tiba menjadi pucat ketika menyadari sesuatu.


Meski bergerak begitu cepat dan kuat, selain suara tangkisan peluru … kenapa kami tidak mendengar langkah kaki Owl? Gerakan lainnya pun juga tidak bersuara?


Menghadapi sesuatu yang aneh dan tidak mereka ketahui, para pria dengan setelan hitam itu ketakutan. Keringat dingin membasahi punggung mereka. Bulu kuduk mereka berdiri, benar-benar merasa tidak sedang menghadapi manusia.


Satu per satu pria jatuh dengan luka di leher mereka. Pada saat itu, salah satu pria jatuh ke tanah dengan ekspresi ketakutan ketika melihat sosok Adam yang melesat ke arahnya.


“Tolong ampuni saya, Tuan! Saya berjanji akan berubah dan-”


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mata pria itu terbelalak ketika darah mulai mengalir di lehernya.


“IBLIS! TIDAK MUNGKIN KITA MELAWAN IBLIS! LARI … LARI SEJAUH MUNGKIN!”


Tidak tahu siapa yang berteriak, satu per satu pria membuang senapan yang cukup berat di tangan mereka lalu berlari menjauh dengan ekspresi ketakutan di wajah mereka.


Obi berteriak dengan marah. Namun para pria itu sama sekali tidak mempedulikannya. Dibandingkan dengan kekejaman Obi, mereka lebih takut nyawa mereka akan direnggut begitu saja oleh pria dengan sebutan Owl itu.


Melihat bagaimana yang lainnya berlari untuk hidup mereka, Adam sama sekali tidak peduli. Pemuda itu tiba-tiba mengeluarkan jimat kertas dari balik pakaiannya.


“Jimat pelindung … perisai es.”


Crack!


Pada saat pelindung es menyelimuti dirinya, pelindung itu langsung retak dan pecah. Lalu … sebutir peluru jatuh dan berguling di atas tanah.


Adam kemudian melirik ke arah lantai tiga gedung terbengkalai lalu melihat sosok pria dengan setelan hitam yang mengarahkan sniper ke arahnya.


Pria yang menggunakan sniper itu menatap sosok Adam dengan ekspresi terkejut. Ketika memperhatikan topeng merah, dia melihat sepasang iris biru yang menatapnya dengan dingin. Tampak begitu dingin dan tak acuh.


Tidak mungkin dibunuh!


Pikiran itu adalah yang pertama muncul ketika melihat Adam berhasil menahan serangannya. Berbeda dengan para antek lain, pria yang menggunakan sniper itu menghirup napas dalam-dalam dan menenangkan pikirannya.

__ADS_1


Dia sebenarnya takut, tetapi tetap tenang karena Adam berada ratusan meter dari dirinya. Melirik ke arah Obi yang agak gila, pria itu memilih untuk mengemasi senjatanya lalu segera pergi dari sana.


Melihat pria itu berlari, Adam yang tampak tenang menghela napas lega dalam hatinya.


Itu hampir saja! Jika aku tidak merasakan niat membunuh itu … kemungkinan besar peluru itu benar-benar akan membunuhku!


Adam sendiri lega ketika menyadari jimat miliknya cukup kuat untuk menahan serangan sniper. Menghela napas dalam hati, pemuda itu kemudian menatap Obi yang tercengang. Pria itu berhenti menembak karena kehabisan peluru.


“Kamu benar-benar membunuh mereka semua?” tanya Obi dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.


“Lalu?” ucap Adam dengan nada tak acuh.


“Kamu tidak jauh lebih baik daripada para Kultivator Jahat, Owl!”


“Sejak awal aku tidak pernah berkata bahwa diriku adalah orang baik. Yang pasti, aku hanya membalas sesuai dengan harga yang harus dibayar.


Kalian siap membunuh tetapi tidak siap dibunuh? Bukankah itu naif? Ya … paling tidak aku bukan orang yang naif seperti Lei Fan atau Lei Na.”


Dengan bokken masih dilapisi darah yang menetes ke tanah, Adam berkata dengan nada tenang. Sama sekali tidak ada jejak penyesalan dalam kata-katanya.


“KAMU …” Obi tampak geram.


“Kalian seharusnya tidak datang ke Kota B, Obi.” Adam berkata dengan tenang. “Seharusnya kalian tidak melakukan perbuatan berbahaya sekaligus mencolok seperti itu.”


“HAHAHAHA! Sepertinya aku benar-benar meremehkan dirimu, Owl. Kalau begitu …”


Obi tiba-tiba mengeluarkan sebuah pil merah darah. Sebelum Adam sempar bereaksi, pria itu langsung menelan pil tersebut.


Pada saat itu juga, Adam melihat tubuh Obi membengkak menjadi lebih besar dan tampak begitu ganas. Otot-otot di seluruh tubuhnya terus menggeliat dengan cara aneh seperti ribuan cacing yang hidup. Aura di tubuhnya juga meningkat dengan tajam.


“Karena naik ke Spiritualist bintang jelas tidak cukup, aku harus melakukan ini! Bahkan jika aku mati, kamu juga harus mati … OWL!”


Obi langsung melesat ke arah Adam. Tentu pemuda bertopeng merah itu juga tidak hanya diam. Keduanya saling berhadapan. Obi langsung memukul dengan ganas dan Adam langsung mengayunkan pedangnya dengan tatapan tak acuh.


Bang!


Suara ledakan terdengar ketika sosok Obi dan Adam terpental mundur beberapa meter. Obi sendiri sangat terkejut melihat pemuda bertopeng merah itu masih bisa menahan serangannya setelah meminum pil terlarang itu.


Sementara itu, mata Adam menyempit ketika merasakan tangan kanannya mati rasa. Dia benar-benar merasa agak aneh dan heran.


Pil apa yang sebenarnya Obi minum? Dia … benar-benar naik ke Silver Spirit (low)?

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2