
Keesokan harinya.
"Maafkan aku, Nam. Aku tidak bisa selalu menemanimu. Paling-paling, aku hanya bisa datang setiap 2 minggu atau 3 minggu sekali."
Telah mengemasi barang-barang miliknya, Adam yang berdiri di depan pintu berkata kepada Nam dengan ekspresi menyesal di wajahnya.
"Tidak apa-apa, Guru. Meski tidak memiliki teman seperti di kota, tapi tempat ini lebih baik daripada desa saya tinggal sebelumnya. Terlebih lagi, sekarang saya tidak sendiri.
Ada Blacky dan Whitey di sini."
Adam melihat sosok Nam yang tersenyum. Di belakangnya, tampak dua anakan wolfdog dengan warna hitam dan putih polos. Keduanya adalah hewan peliharaan yang Adam beli khusus untuk Nam sebelum datang ke sini. Jelas, pemuda itu merasa kasihan pada Nam yang harus diasingkan di tempat ini.
Menatap sosok bocah polos itu, Adam memegang pundak bocah itu.
"Kamu bisa sedikit santai ketika latihan, Nam. Habiskan lebih banyak waktu untuk bermain dengan kedua wolfdog itu juga.
Guru janji, Guru akan segera menemukan cara. Setelah semuanya menjadi lebih baik, kamu bisa kembali bersamaku ke Kota B. Okay?"
"Baik, Guru."
Nam mengangguk patuh. Terlihat lebih senang daripada sebelumnya. Jelas, meski tidak mengeluh, untuk bocah seusia dengannya ... hidup sendiri jelas sebuah ujian berat.
"Kalau begitu aku akan pergi."
Mengatakan itu, Adam akhirnya pergi keluar menuju ke mobilnya. Bergegas kembali ke Kota B!
***
__ADS_1
Malam harinya, di rumah Adam.
"Sungguh ... kenapa kalian harus melakukan ini?"
Adam menatap ke arah Jennifer dan Bella. Lebih tepatnya, ke arah sebuah tato bunga hitam tepat di bawah leher mereka.
Ya ... itu adalah salah satu solusi yang Adam temukan secara tidak sengaja.
Kontrak darah, skill yang dia dapatkan ketika dia membuat ikatan dengan Blood Fairy. Skill tersebut memiliki efek khusus, membuat orang lain yang membuat kontrak darah akan menjadi budak darah serta tidak akan mengkhianatinya. Dari efeknya saja, sudah jelas itu bukan skill dalam kategori 'baik'.
Adam telah mencobanya kepada Nam, dan berhasil. Kontrak itu dibuat ketika pihak lain menyetujui kesepahaman tersebut. Dengan kata lain, sepenuhnya menyerahkan hidup mereka kepada Adam.
Ya. Bukannya Adam tidak percaya kepada Nam, tetapi dia mencegah hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan. Sedangkan kedua kekasihnya, pemuda itu sama sekali tidak ingin mereka juga menjadi budak darahnya.
Belum lagi, kontrak darah bukan tanpa batasan. Pada saat di level bronze, ada batas untuk 5 kontrak. Sedangkan ketika naik ke tingkat silver, sekarang menjadi 15 kontrak. Setelah menggunakannya kepada Nam, Jennifer, dan Bella ... masih tersisa 12 kontrak darah yang bisa dia buat.
Juga, kontrak darah juga memiliki batasan lain. Adam hanya bisa membuatnya, atau mengontrak manusia. Jadi pikirannya untuk memelihara banyak Spirit Beast dan memperkuat mereka dengan memanfaatkan celah sistem tidak berhasil.
Sebaliknya, Mary juga hanya bisa mengontrak Spirit Beast dengan atribut jahat, seperti bayangan, kegelapan, dan racun. Selain itu, ada batasan lain dimana makhluk yang dia kontrak tidak boleh berada dua level besar di atasnya.
Tentu, meski banyak kekurangan, banyak juga kelebihan.
"Tentu saja kami melakukannya agar kamu 100% percaya kepada kami, Sayang."
Ucapan Jennifer menyadarkan Adam dari lamunannya.
"Kalian tidak perlu bertindak begitu jauh. Kalian telah memberikan segalanya. Jadi, sudah sepantasnya aku memercayai kalian."
__ADS_1
"Bukankah sebagai lelaki, kamu memiliki fantasi untuk memiliki budak cantik yang siap melayani?" goda Jennifer.
"Sepertinya lebih baik menggunakan kontrak darah itu untuk melatih murid. Mereka bisa menjadi senjata atau perisai saat dibutuhkan. Membantuku untuk menangani banyak hal."
"..." Bella hanya menatap Adam diam.
Sementara itu, Jennifer menghentakkan kakinya. Dia cemberut ketika berkata dengan nada tidak puas. Merasa diabaikan!
"Tentu ... aku sangat bersyukur mengetahui kalian berdua begitu setia kepadaku."
Mengetahui perubahan ekspresi kedua kekasihnya ketika tanpa sengaja mengungkapkan pendapatnya, Adam segera menghibur dan memuji keduanya.
Jennifer mendengus dingin, sebelum akhirnya berkata.
"Baguslah jika kamu sadar begitu baiknya kami."
"..." Adam tersenyum canggung.
Bella menatap ke arah Adam dengan ekspresi berhati-hati. Pada akhirnya, dia dengan ragu bertanya.
"Jadi, bagaimana selanjutnya anda ingin bertindak, Kak Adam?"
Mendengar pertanyaan Bella, Adam menjadi lebih serius. Setelah beberapa saat diam, pemuda itu akhirnya membuka mulutnya.
"Mari kita mulai dari Wings of Freedom."
>> Bersambung.
__ADS_1