
"Murid???"
Nam balik bertanya dengan ekspresi bingung dan kaget.
"Ya." Adam mengangguk. "Kamu akan ikut bersama denganku ke Kota B. Kamu akan tinggal di HQ Departemen Misteri. Di sana kamu akan bersekolah dan hidup seperti anak biasanya. Namun ... kamu juga harus berlatih dalam bimbinganku."
"..."
Melihat ke arah Nam yang terdiam dan tidak bisa berkata-kata, Adam akhirnya menyadari sesuatu.
"Mungkin ini terlalu tiba-tiba, tetapi aku benar-benar tulus. Kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Kami akan tinggal paling lama tiga hari jika memang sumber masalah belum ditemukan.
Kamu bisa memikirkannya sampai kami akan pergi dari desa."
"Apakah ... apakah saya masih bisa kembali untuk menjenguk Paman dan yang lainnya?"
Mendengar pertanyaan Nam, Adam mengerutkan keningnya. Setelah berpikir beberapa saat, dia mengangguk.
"Kamu boleh mengunjungi kerabat. Tentu saja, hanya dalam waktu yang ditentukan. Aku bisa memberimu waktu satu minggu pada saat liburan musim panas dan satu minggu pada liburan musim dingin.
Karena kamu pergi ke kota untuk belajar dan berlatih, aku berharap kamu bisa fokus kepada tujuan utama itu. Tentu saja, aku tidak memaksa kamu untuk ikut, Nam."
"Bolehkah saya bertanya sesuatu, Kak Petugas Owl?"
"Ada apa?" tanya Adam.
"Kenapa anda begitu baik kepada saya? Bukankah saya aneh? Saya bahkan dianggap anak terkutuk?"
"Kamu sama sekali tidak aneh. Sebaliknya, kamu anak anak spesial, Nam. Alasan kenapa aku ingin menjadikan kamu sebagai murid juga karena hal spesial tersebut.
Jika kamu seperti anak-anak desa lainnya, justru aku tidak akan memiliki keinginan untuk membawa kamu sebagai muridku."
"Spesial???" gumam Nam dengan ekspresi bingung. Sepertinya masih tidak memercayai Adam.
"Iya."
Adam mengangguk ringan. Pemuda itu kemudian berdiri dari tempat duduknya. Dia kemudian menambahkan.
"Ikuti aku."
Setelah mengatakan itu, Adam kemudian mengajak Nam keluar dari rumah lalu menuju ke halaman belakang rumah. Karena desa kecil itu berada di sebuah gunung, area di pinggiran desa merupakan hutan yang tidak terlalu lebat.
Sampai di belakang rumah, Adam kemudian mengambil dua buah batu kerikil. Pemuda itu kemudian memberikan satu kepada Nam.
"Coba bidik ranting pohon yang mana saja, Nam. Lempar sekuat tenaga."
Mendengar ucapan Adam, Nam menjadi lebih bingung. Akan tetapi bocah itu masih melakukan yang Adam suruh. Dia melempar kerikil ke salah satu cabang pohon tak jauh dari halaman belakang. Kemudian ...
__ADS_1
Tidak ada apa-apa yang terjadi.
Ya. Semuanya masih tampak sunyi. Nam kemudian menatap ke arah Adam dengan ekspresi bingung dan penasaran. Sebagai tanggapan, pemuda itu berkata dengan nada ringan.
"Lihat."
Adam menjepit kerikil yang agak tipis di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Energi Qi mengalir menyelimuti kerikil kecil. Hal itu sebenarnya sulit dilakukan, tetapi dia masih bisa melakukannya karena pencapaian dalam teknik pedang 'Autumn Sword' dan 'Spring Sword' mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Swoosh!
Adam langsung mengayunkan tangannya dengan kecepatan luar biasa. Dia kemudian melemparkan kerikil yang dilapisi energi Qi angin ke arah sebuah cabang pohon di kejauhan.
Bruak!
Cabang pohon diledakkan. Cabang, ranting, dan dedaunan langsung jatuh ke tanah dengan keras. Kejadian yang tiba-tiba itu membuat Nam ternganga.
Bocah itu kemudian menatap ke arah Adam dengan mulut terbuka lebar. Tampak sama sekali tidak memercayai apa yang dilihatnya barusan.
Nam merasa sedang bermimpi. Setelah merasakan sakit ketika mencubit tangannya sendiri, dia menatap ke arah Adam dengan ekspresi takjub.
"Apakah kamu melihatnya dengan jelas, Nam?"
Pertanyaan Adam membuat Nam tersadar dari lamunannya.
"S-Saya melihatnya dengan jelas, Kakak Petugas Owl!"
"Kamu spesial, dan kelak akan bisa melakukan hal semacam itu." Adam berkata dengan suara tenang.
"Apakah kamu merasa bahwa itu kuat?"
"Ya! Sangat ... kuat!"
Nam mengangguk terus seperti seekor ayam yang mematuk beras.
"Karena itu kuat, berarti itu juga dianggap membahayakan."
"Membahayakan???" Nam memiringkan kepalanya dengan ekspresi linglung.
"Ya. Karena berbahaya, hal semacam itu mungkin akan menyakiti orang-orang yang tidak bersalah.
Jadi, aku ingin memberimu dua pilihan. Kamu tetap berada di desa, tetapi berjanji kepadaku kalau tidak akan mencoba belajar apakah menggunakan kekuatan 'spesial' semacam itu. Atau ...
Jadilah muridku. Tidak hanya akan memiliki kehidupan yang lebih baik, aku juga akan mengajari kamu untuk mempelajari kemampuan 'spesial' milikmu itu."
"Nam memberi hormat kepada Guru!"
Meski tidak terlalu mengerti, Nam memberi hormat kepada Adam sesuai dengan yang dia dengar dari anak-anak kampung.
__ADS_1
Adam yang melihat Nam memberi hormat dengan cara tradisional tersenyum.
"Bagus." Adam mengangguk ringan. "Mulai sekarang kamu adalah muridku."
"Baik, Guru."
Melihat ke arah Nam yang tampak penurut dan patuh, Adam tampak puas.
***
Sore harinya.
Setelah mendengar seluruh cerita dari Nam, Adam memegang dagu. Pemuda itu akhirnya mengetahui apa yang telah terjadi dalam kehidupan bocah itu.
Melihat ke arah Nam, Adam menghela napas panjang.
"Ikuti aku, Nam. Kamu harus berkenalan dengan rekan-rekan yang lainnya."
"Baik, Guru."
Pada saat keduanya berjalan bersama, Nam akhirnya menatap gurunya.
"Selain saya, apakah ada murid lain, Guru?"
"Tidak." Adam menggelengkan kepalanya. "Kamu adalah murid pertamaku."
"Sungguh?"
"Benar."
Adam yang berjalan di samping Nam mengacak-acak rambut bocah itu sambil terkekeh.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua akhirnya sampai di rumah kepala desa. Sampai di sana, suasana tampaknya cukup suram.
"Kamu akhirnya kembali, Mr Owl."
Melihat ekspresi berat di wajah James, Carole, dan Jasmine ... Adam tidak bisa tidak bertanya.
"Ada apa?" tanya Adam.
Ketiga orang itu menatap ke arah Adam, sebelum akhirnya James berkata.
"Pada saat kamu membahas sesuatu dengan Nam ... ada warga kampung sebelah yang hilang."
Mendengar itu, ekspresi Adam menjadi lebih serius. Awalnya, orang-orang hilang pada saat jam malam. Lebih tepatnya, setelah mata hari tenggelam. Mereka tidak menyangka bahwa akan ada perubahan yang tiba-tiba semacam itu.
Melihat ke arah ketiganya, Adam Menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kalau begitu kita pergi ke lokasi sekarang."
>> Bersambung.