
Satu minggu setelah pertemuan antar kedua kelompok.
Duduk di sofa, Adam menatap sosok yang tampak begitu santai di sudut ruangan. Melihat Nix yang tampak bosan ketika mematuk jagung dalam mangkuk di depannya, sudut bibir pemuda itu berkedut.
Minggu lalu, Adam akhirnya memaksakan diri untuk membawa Nix kembali ke apartemen dengan kandang burung besar yang dicat dengan warna emas. Awalnya pemuda itu ingin membeli kandang biasa yang disesuaikan agar si ayam bisa masuk ke dalamnya. Namun si ayam itu keras kepala, benar-benar meminta dirinya membeli kandang custom yang bisa dibilang … cukup mahal.
Mengingat bagaimana orang-orang menatapnya ketika membawa kembali seekor ayam dalam kandang burung, Adam merasa sangat malu. Namun dirinya terpaksa melakukannya. Pemuda itu tidak bisa menyembunyikan Nix selamanya.
Keluar untuk makan lalu tidur di dalam lautan jiwa … tidak mungkin aku mengizinkannya!
Selain itu, sangat sia-sia jika sampai makhluk tingkat silver seperti Nix harus dibesarkan sebagai ayam potong. Jadi akhirnya Adam membawa si ayam kembali ke apartemen.
Awalnya pengurus gedung tidak mengizinkannya. Namun setelah menunjukkan bahwa Nix itu tidak berisik, cerdas, dan bisa diatur … ditambah beberapa lembar kertas, pengurus akhirnya mengizinkan si ayam tinggal.
Bella pun tampak bingung ketika Adam pulang membawa ayam … hias. Setelah mendengar beberapa penjelasan pemuda itu, dia langsung menerimanya.
“Kenapa kamu tidak memakan jagungnya, Nix? Apakah kamu bosan?”
Sosok Bella yang keluar dari dapur menghampiri Nix lalu mengelus kepala si ayam itu dengan lembut. Melihat si ayam yang terlihat nyaman, sudut bibir Adam berkedut.
Karena Bella tahu bahwa dirinya kultivator, Adam bilang bahwa Nix adalah ayam bermutasi. Jadi dirinya melatih si ayam untuk memperkuat kemampuannya. Namun karena gadis itu, rencananya sedikit melenceng.
Awalnya Adam meminta Nix untuk melubangi plat besi 100 kali sehari. Namun Bella berkata bahwa kasihan jika sampai si ayam terluka dan kelelahan. Gadis itu menyarankan untuk menurunkannya menjadi 10 kali. Tentu saja Adam langsung menolak.
Setelah berdebat dan melihat ekspresi sedih di wajah Bella, akhirnya Adam setuju untuk menurunkannya menjadi 25 kali sehari. Dia masih mengingat jelas ekspresi dan apa yang dipikirkan Nix saat itu.
‘Gadis suci … kamu pasti Miko (gadis pendeta) yang dikirim oleh leluhur Suzaku Yang Agung untuk menyelamatkan Tuan Ayam ini dari cekeraman iblis jahat itu!
Huhuhu! Ini sangat mengharukan … akhirnya … akhirnya ada yang bisa menangkal iblis jahat itu untuk menyiksa Tuan Ayam yang lelah ini!’
Adam benar-benar ingin memukul si ayam, tetapi merasa agak tidak berdaya. Seandainya Kyoko atau Yuki cukup kuat, Adam pasti tidak ingin membiarkan si ayam menyebalkan itu keluar untuk bertingkah seenaknya.
Meski demikian, Adam juga masih merasa cukup bersyukur karena keberadaan Nix. Dengan adanya ayam itu di rumah, dia merasa cukup aman untuk meninggalkan Bella sendiri.
‘Tenang saja, Bos! Aku akan menjaga Miko dan base kita! Kamu boleh berkeliling sesukamu!’
Mengingat bagaimana Ayam mencoba menirukan hormat tentara tetapi dengan ekspresi yang terlalu bahagia, Adam benar-benar membuat janji untuk menyeretnya keluar untuk melawan puluhan atau ratusan roh iblis setelah Kyoko cukup kuat untuk menjaga Bella.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong … Kak Adam?”
“Ada apa, Bell?”
“Mohon tunggu sebentar!” ucap Bella sebelum pergi menuju ruang jahit. Setelah kembali, dia membawa pakaian yang dilipat rapi sebelum berkata. “Tolong dicoba! Karena anda tidak memberi referensi, saya hanya bisa membuatnya sesuai bayanganku.”
“Terima kasih. Kalau begitu aku akan mencobanya.”
Beberapa menit kemudian, Adam berdiri di depan cermin dengan ekspresi tertegun. Bukannya apa yang Bella buat tidak bagus atau kurang nyaman. Sebaliknya, itu tampak indah dan nyaman. Hanya saja … itu kurang cocok dengan apa yang dia maksud dengan pakaian bertempur.
Ini malah mirip baju cosplay!
Melihat pakaian bagian atas dan celana panjang berwarna abu-abu cerah serta dengan aksesoris yang tampak indah, sudut bibir Adam berkedut. Melihat aksesoris seperti syal merah, dia tiba-tiba mengingat salah satu kostum dari game yang dia mainkan dalam kehidupannya dulu.
Tartaglia? Benar-benar kostum si narsis itu?
Adam tertegun. Belum lagi melihat bagian perut yang sedikit terbuka, dia hanya bisa bertanya-tanya.
Aku tahu kamu suka abs, Bell. Namun aku akan membawanya keluar untuk bertempur okay?
“A-Apakah anda tidak menyukainya, Kak Adam?”
Mendengar suara Bella, Adam menoleh ke arah gadis yang melirik dari balik pintu. Tampak agak gugup.
“Apakah kamu memikirkan ini, Bell?”
“S-Saya pikir itu cocok untuk anda, Kak Adam.”
“Lalu … bagaimana dengan sekarang?”
Bella menatap sosok Adam dari atas ke bawah. Tatapannya berhenti sebentar ketika melihat bagian perut yang sedikit terbuka. Dengan rona merah di pipinya, dia mengangguk.
“Ditambah sepatu hitam dan sarung tangan berbahan kulit, itu pasti akan lebih cocok, Kak Adam.”
Melihat bagaimana Bella bertindak profesional meski agak malu, Adam kagum. Menggunakan bahan untuk membuat jas terbaik dan beberapa bahan khusus, apa yang dia pakai sekarang memang pakaian kelas atas. Bukan baju ‘cosplay’ pada umumnya.
Meski tidak bisa menahan serangan senjata tajam atau peluru, pakaian yang Bella buat memang nyaman digunakan untuk sekadar santai atau bahkan bertarung. Hanya saja, Adam menemukan masalah yang paling penting.
__ADS_1
Ini terlalu mencolok, kan? Belum lagi … apakah ini meyakinkan? Aku tidak akan terkena copyright, kan?
“A-Apakah anda tidak menyukainya, Kak Adam?” tanya Bella sambil menunduk.
Melihat Bella yang sepertinya akan menangis kapan saja, Adam segera menghiburnya.
“Tentu saja aku menyukainya. Selain cocok, bukankah pakaian ini tampak keren? Aku merasa nyaman memakainya.”
“Benarkah?” tanya Bella.
“Tentu saja benar. Hanya saja … aku merasa lebih baik memakai kaos sport hitam di dalamnya. Ya … aku merasa ini agak memalukan.”
“En.” Bella mengangguk. “Kalau begitu saya akan mencoba menyelesaikan sepatu dan sarung tangan secepatnya agar anda bisa memakainya, Kak Adam.”
Melihat Bella yang menjadi lebih bersemangat untuk mendandani dirinya, Adam merasa agak tidak berdaya. Pada akhirnya, dia hanya bisa menghela napas panjang sambil mengangguk.
Ring! Ring! Ring!
Mendengar ponselnya berdering, Adam segera mengambil ponsel itu. Melihat bahwa Shawn menelepon, ekspresi pemuda itu menjadi lebih serius.
“Halo?”
“Senior! Black Mamba datang ke base kami bersama para bawahannya!”
“Hah?” Adam terkejut. “Apakah mereka membuat masalah?”
“Tidak! Black Mamba memohon kepadaku agar memanggilmu datang kemari.”
“...”
Ekspresi Adam stagnan. Dia pikir Shawn dipukul atau base dalam bahaya, ternyata pemuda itu hanya terlalu bersemangat karena Black Mamba datang untuk memohon.
Adam kemudian menghela napas panjang sebelum berkata.
“Suruh mereka menunggu. Aku akan ke sana.”
>> Bersambung.
__ADS_1