Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Ketemu!


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Duduk di belakang markas Wings of Freedom, Adam menikmati teh sore.


Banyak yang telah terjadi dalam satu minggu ini. Wings of Freedom telah selesai mencaplok area barat, bahkan perbatasan dengan area selatan kota. Nama mereka juga semakin sering terdengar dari mulut ke mulut penduduk Kota B.


Banyak warga yang takut dengan mereka. Namun, banyak juga penduduk yang menghormati dan bersyukur karena adanya mereka, khusunya penduduk kelas bawah dan para gelandangan.


Setelah Wings of Freedom menguasai area barat, tidak ada lagi pencopetan, perampokan, dan pemerkosaan di area barat kota. Tampaknya, para penjahat yang biasa beraksi di pinggiran kota ketakutan dan tidak berani berbuat banyak.


Tidak hanya itu, Black Wings bahkan merekrut para pemuda yatim-piatu yang tak memiliki tempat tinggal atau tempat untuk pulang. Mereka diserap oleh Black Wings dan dilatih untuk menjadi bagian keluarga Wings of Freedom.


Tidak berhenti di sana, untuk orang-orang yang kurang mampu tetapi memiliki keluarga, Wings of Freedom tidak menyerapnya. Akan tetapi, mereka masih mau mempekerjakan mereka di toko-toko atau warung jalanan kecil milik Black Wings. Tentu saja, selain gaji para karyawannya, keuntungan dari bisnis digunakan untuk membiayai perkembangan Black Wings.


Seperti yang dikatakan oleh Adam sebelumnya, Black Wings dan White Wings tidak dicampuradukkan. Mereka memiliki tujuan masing-masing dan arah perkembangan masing-masing. Oleh karena itu, mereka harus lebih mandiri. Black Wings harus bisa menghasilkan uang walau tak seberapa, dan White Wings harus bisa menumbuhkan petarung kuat meski hanya beberapa.


Bisa dikatakan, dibandingkan dengan area lain, bagian barat Kota B benar-benar menjadi uang paling tenang dan damai. Pendatang baru mungkin tidak percaya bahwa ada kelompok yang mengendalikan area tersebut karena terlalu damai.


"Pilihanku untuk menyerahkan Wings of Freedom kepadamu memang tidak salah, Senior Adam."


Berdiri di belakang Adam, Shawn memandangi langit dengan senyum di wajahnya. Mengingat kelompok kecil yang berisi anak-anak nakal dari keluarga kaya lalu membandingkannya dengan Wings of Freedom sekarang, pria itu menggelengkan kepalanya.


Shawn sendiri tidak merindukan Wings of Freedom yang dulu. Karena bahkan setelah kelompok mereka menjadi besar, para anggotanya masih akrab satu sama lain. Sama sekali tidak terlihat saling menjauhi karena pangkat atau posisi mereka. Tentu saja, waktu santai adalah waktu santai dan waktu kerja adalah waktu kerja. Mereka tidak mencampur urusan pribadi dengan urusan kelompok. Hal itu yang membuat Wings of Freedom akan tetap harmonis.


"Omong-omong ... jika boleh tahu, anak itu siapa, Senior Adam?"


Shawn menatap ke halaman belakang, di sana, tampak seorang anak pendek mengenakan topeng putih polos. Bocah itu bertarung dengan dua orang dewasa sendirian. Menggunakan bokken di tangannya, dia memanfaatkan tubuh pendeknya untuk menghindar dan menangkis berbagai serangan dengan baik. Meski kekuatannya tidak sebanding dengan orang dewasa, dia benar-benar masih bisa mengalahkan dua orang dewasa.


"Dia adalah muridku, kamu bisa memanggilnya One."


"..."

__ADS_1


Tentu, setelah kedatangan bocah itu tiga hari yang lalu, Shawn tahu bahwa bocah bertopeng itu dipanggil One. Namun dia tidak bodoh, One jelas code name bocah itu dan bukan nama aslinya.


Bocah itu, One ... adalah identitas lain Nam. Karena identitasnya begitu sensitif, sekarang dia harus terus menyembunyikannya.


Tidak tega meninggalkan Nam di desa terlalu lama, Adam memutuskan untuk membawa Nam ke Wings of Freedom. Bahkan, selain Nam, pemuda itu telah mencari anak-anak yatim-piatu di bawah umur dari desa-desa daerah Kota B, para anak buangan yang tak memiliki tempat tinggal.


Adam telah membeli bangunan besar tidak jauh dari markas Wings of Freedom. Di sana akan menjadi tempat tinggal anak-anak tersebut. Tempat itu akan beroperasi seperti panti asuhan sekaligus pangkalan militer dan sekolah. Ya ... Adam berniat untuk membuat tim yang dilatih secara sembunyi-sembunyi dan tidak ditunjukkan ke publik.


Dipimpin oleh Nam, kelompok kecil yang tidak mencolok itu dinamai Grey Wings. Tentu saja, hanya Adam, Nam, dan para calon anggota yang akan mengetahui itu. Bahkan Shawn beserta anggota Wings of Freedom lainnya tidak tahu apa yang Adam coba lakukan. Bagi mereka, pemuda itu hanya berperilaku dermawan untuk mengumpulkan anak-anak tanpa keluarga dan rumah. Memberi mereka rumah hangat, makanan, dan juga pendidikan.


Shawn melihat ke arah Nam. Bocah bertopeng itu membuatnya sedikit tertekan. Bahkan jika Nam lebih lemah dari Shawn dan tiga orang lainnya, tetapi setelah beberapa tahun, bocah itu harus bisa menyusul mereka.


Benar-benar membuat empat pemimpin merasakan tekanan!


'Seperti yang diharapkan dari Senior Adam, bahkan muridnya adalah monster kecil yang ganas!'


Pikir Shawn dengan senyum masam di wajahnya.


"Yo! Apakah ada yang merindukanku?!"


"Kamu datang, Matt."


Adam berkata santai.


Matt mengangguk dengan ekspresi hormat. Dia kemudian maju ke halaman belakang. Menghampiri Nam, pemuda itu tersenyum.


"Kali ini mengalahkan dua orang, One?! Tampaknya jika aku tidak serius, kamu akan segera menyusulku."


"Um ... Terima kasih, Kak Matt."


Matt tertawa ketika mendengar ucapan Nam yang agak polos dan kekanak-kanakan. Dalam tiga hari, sebagai orang paling bebas di Wings of Freedom, Matt adalah orang yang paling akrab dengan Nam selain Adam.

__ADS_1


"Lihat! Hadiah untukmu! Minumlah nanti di kamar setelah mandi."


Matt memberikan sebotol susu rasa buah kepada Nam. Bocah itu menerimanya dan berkata dengan nada agak kewalahan.


"Terima kasih, Kak Matt."


"Kalau begitu aku pergi!"


"En." Nam mengangguk kecil.


Melihat ke arah Matt, Adam dan Shawn saling melirik. Mereka tidak banyak berkomentar.


Dari mulut Shawn, Adam mengetahui bahwa Matt pernah memiliki adik lelaki. Namun adiknya meninggal dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Jika masih hidup, dia seharusnya seusia dengan Nam. Oleh karena itu, mereka berdua merasa wajar ketika Matt menunjukkan sisi kakak ketika berhadapan dengan Nam.


Tentu saja, mereka berdua tidak membahasnya di depan Matt. Mereka tidak ingin membuka luka lama, jadi hanya menonton dalam diam.


"Omong-omong, aku membawakan hal yang mungkin membuatmu senang, Ketua."


Menggaruk belakang kepalanya dengan senyum di wajahnya, Matt berjalan ke arah Adam lalu memberikan amplop coklat. Melihat itu, sudut bibir Shawn berkedut.


"Seharusnya kamu memberikan laporan terlebih dahulu, kan? Kamu benar-benar ... haah ..."


Shawn menghela napas panjang. Tahu kalau Matt bersemangat karena Nam, dia akhirnya hanya tersenyum pahit.


"Tidak apa-apa," ucap Adam santai.


Adam membuka amplop coklat besar itu lalu melihat apa yang ada di dalamnya. Ada beberapa lembar kertas berisi catatan, tetapi dia tidak fokus di sana. Sebaliknya, pemuda itu menatap beberapa foto yang dia letakkan ke atas meja karena ...


Itu adalah beberapa foto Lulu yang diambil baru-baru ini!


Membaca kertas berisi penjelasan, mata Adam menyempit. Ekspresinya menjadi lebih serius, tetapi dia juga tampak cukup puas.

__ADS_1


"Akhirnya aku menemukanmu ..."


>> Bersambung.


__ADS_2