Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Kami Bukan Psikiater


__ADS_3

"Ngomong-ngomong ... lencana dan id card kalian telah tersedia. Aku lupa memberikannya."


"..."


Melihat James yang sembrono, yang lainnya tersenyum pahit. Mereka tidak menyangka akan dipimpin oleh ketua semacam itu.


Setelah beberapa saat, James kembali lalu membagikan lencana dan id card.


Mereka semua kemudian menyimpannya. Selain Adam yang memakai pakaian serba hitam seperti sebelumnya, Jasmine, Carole, dan Douglas memakai jas hitam dengan kemeja putih dan dasi hitam di dalamnya.


Meski lebih mirip pegawai kantor daripada detektif atau agen khusus, mereka tampak lebih baik daripada James yang masih tampil berantakan.


Adam dan tiga orang lain menyimpan lencana dan id card mereka dibalik jas/coat.


James kemudian mencatat sesuatu dalam kertas kecil sebelum menyerahkan kepada Adam.


"Ini alamat yang harus kamu tuju, Mr Owl."


Menerima tugas itu, Adam mengangguk ringan.


"Baik."


Adam kemudian menatap ke arah Carole.


"Apakah kamu memiliki nomor ponsel Ketua dan yang lainnya, Nona Carole? Jika tidak, tolong minta terlebih dahulu agar mempermudah komunikasi."


"Bagaimana dengan anda, Mr Owl?"


"Aku tidak ingin nomor atau identitas milikku dilacak, jadi aku serahkan masalah ini kepadamu, Nona Carole."


"B-Baik!"


Setelah mengatakan itu, Carole meminta nomor ponsel Jasmine dan Douglas. Itu karena dia telah memiliki nomor ponsel James.


Melihat Carole mengangguk ke arahnya, Adam balas mengangguk. Dia kemudian menatap ke arah James.


"Sarana transportasi—"


"Tentu saja naik taksi atau kendaraan umum. Kami tidak memiliki kendaraan milik kami sendiri seperti pihak polisi."


"..."


Meski sudah menduga itu, Adam masih tidak bisa berkata-kata. Dia kemudian menatap ke arah Carole.


"Hubungi taksi untuk menjemput di depan markas, aku akan mengurus biayanya."


"A-Anu ... Ini misi bersama, lebih baik kita—"


"Kamu cukup melakukan tugasmu, Nona Carole. Aku juga akan melakukan bagianku.


Aku tidak bisa menghubungi dan memesan taksi, jadi aku serahkan padamu. Sebaliknya, aku mengurus biaya, jadi itu adil."


"Tapi—"


"Kami berangkat dahulu," ucap Adam sembari sedikit membungkuk kepada James, Jasmine, dan Douglas. "Mari berangkat, Nona Carole."


"B-Baik!"


Meski agak bingung, Carole buru-buru mengikuti Adam.


Melihat sosok Adam yang meninggalkan ruangan, Douglas mengalihkan pandangannya ke arah James.

__ADS_1


"Kapan kita berangkat, Ketua?"


"Apakah kalian tidak bisa melihat? Aku akan mandi terlebih dahulu. Kalian santai saja dulu, aku akan segera kembali."


"..."


Melihat James pergi ke lantai dua, Douglas dan Jasmine saling memandang dengan senyum pahit di wajah mereka.


Dibandingkan dengan Wakil Ketua ... Ketua benar-benar tidak bisa diandalkan!


***


"Apakah kalian ingin pergi ke pesta kostum atau semacamnya? Benar-benar memakai pakaian semacam itu ..."


Pria tua yang duduk di kursi kemudi taksi terkekeh ketika melihat ke spion. Melihat sosok Adam dan Carole yang diam saja.


"Tidak, Pak. Kami sedang bekerja." Adam masih menjawab sopan.


"Apakah kamu seorang bodyguard, Nak? Keputusan yang bagus memakai topeng putih semacam itu.


Meski itu pekerjaan, banyak orang yang akan mengincar kamu atau mungkin keluargamu karena pihak musuh majikan merasa kamu mengganggu.


Pekerjaan semacam itu cukup berbahaya. Pastikan keselamatan diri, Nak."


"Terima kasih nasihatnya, Pak."


"Hahahaha ... Ini adalah yang harus dilakukan oleh generasi tua kepada generasi berikutnya.


Okay. Karena ini komplek perumahan orang kaya, taksi tidak bisa masuk. Jadi aku hanya bisa mengantarkan sampai di sini."


"Terima kasih."


"Siapa kalian dan untuk keperluan apa kalian datang?"


Sampai di depan area komplek perumahan, Adam dan Carole dihentikan oleh petugas. Ketika wanita itu hendak menjawab, Adam menghentikannya.


"Tolong hubungi rumah nomor 303. Katakan saja dari pihak polisi khusus."


Adam tidak akan sesumbar untuk mengatakan Departemen Misteri di mana-mana. Selain belum terbentuk lama dan tidak memiliki reputasi, departemen baru tersebut bersikap rahasia. Jadi dirinya tidak bisa asal berbicara.


Kedua petugas keamanan saling memandang. Mereka kemudian benar-benar menghubungi rumah tersebut. Beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka bertanya.


"Jika boleh tahu, nama saudara dan saudari ini?"


"Sebut saja Owl dan Oni, mereka pasti akan paham."


"Mrs Owl dan Mr Oni, baik. Kami—"


"Mr Owl, dan Mrs Oni ..." Adam menjelaskan.


Kedua petugas langsung menatap sosok Carole yang menunduk malu. Keduanya pasti heran, bagaimana sosok cantik sepertinya bisa dipanggil Oni. Meski begitu, mereka masih mengangguk.


"Dimengerti."


Beberapa saat menunggu, kedua petugas langsung memberi hormat kepada Adam dan Carole.


"Maaf membuat kalian menunggu, Petugas Owl ... Petugas Oni."


"Sama sekali tidak masalah." Adam menjawab santai.


"Kalau begitu biarkan kami mengantar kedua petugas menuju lokasi."

__ADS_1


"Maaf merepotkan kalian," ucap Adam.


"Sama sekali tidak."


Setelah itu, Adam dan Carole pun akhirnya diantar menuju ke rumah nomor 303, tempat mereka akan menjalankan misi.


Sampai di depan rumah, mereka disambut oleh pasangan paruh baya dengan penampilan glamor yang khas.


"Terima kasih karena kedua petugas sudah mau segera datang," ucap seorang wanita dengan pakaian glamor ketika melihat sosok Adam dan Carole yang datang.


"Ibu Nancy?" tanya Adam.


"Ya. Ini saya!"


"Perkenalkan, saya Owl dan rekan saya Oni. Tidak perlu ragu, anda bisa langsung menjelaskan situasi apa yang dialami tanpa perlu ditutup-tutupi.


Kerahasiaan pasti sangat aman di tangan kami."


"Saya lega mendengarnya. Silahkan masuk!"


"Baik."


Adam dan Carole memasuki rumah besar dan indah tersebut. Keduanya kemudian duduk di ruang tamu.


"Sebenarnya itu terjadi tadi malam. Putri kami berdua tiba-tiba mengamuk, seperti kehilangan kewarasannya. Gadis itu menghancurkan banyak hal di kamarnya.


Tidak hanya itu, dia bahkan sempat beberapa kali mencoba bunuh diri. Pada akhirnya, kami terpaksa untuk mengikatnya di ranjang."


"Bisakah anda membawa kami untuk menemuinya?"


"Apakah kedua petugas tidak beristirahat sebentar? Pelayan kami sedang membuatkan teh."


"Tidak perlu." Adam menggeleng ringan. "Keselamatan putri anda adalah prioritas utama."


"..."


Pasangan paruh baya itu saling memandang dengan ekspresi terkejut, bahkan takjub.


"Kalau begitu tolong ikuti kami."


Mengikuti kedua orang itu, mereka berdua kemudian sampai di kamar. Masuk ke dalam ruangan, mereka melihat sosok gadis cantik yang diikat pada ranjang, bahkan mulutnya ditutup dengan plester.


Gadis itu terus meronta. Tanpa sepatah kata, Adam langsung menghampiri gadis itu lalu membuka penutup mulutnya.


"Terkutuk! Lepaskan aku! Bunuh aku! Tidak ada lagi gunanya aku hidup di dunia!"


"Tenanglah ..."


Suara lembut Adam terdengar. Rasanya mirip dengan angin hangat di musim semi. Membuat perasaan nyaman dan tenang.


Ya. Adam tidak hanya berbicara, tetapi juga mengaktifkan skill Suzaku's Cry.


Melihat bahwa gadis itu langsung tenang, Adam tampak agak bingung. Itu berarti, apa yang terjadi kepada gadis itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan makhluk aneh.


Adam juga tidak merasakan keberadaan makhluk aneh di sekitar. Hal itu langsung memperkuat dugaannya. Dia tidak bisa tidak bertanya dalam hatinya.


Jika gadis ini depresi dan stress, kenapa malah mengubungi Departemen Misteri? Ini tidak ada sangkut pautnya, kan?


Kami bukan psikiater!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2