
Dua hari kemudian.
"Apakah kalian tidak mau bangun? Ini bukan hari libur."
PLAK!
Tangan Adam yang mengguncang tubuh Jennifer dan Bella langsung ditampik oleh Jennifer.
Wanita membuka matanya. Ekspresi lelah tampak jelas di wajahnya. Menatap ke arah Adam, wanita itu berkata dingin.
"Kami hampir dua malam tidak tidur! Tidak bisakah kamu menahan diri?!"
"..."
Mendengar keluhan Jennifer, Adam merasa agak canggung. Pura-pura batuk, dia kemudian berkata.
"Aku sudah bilang merindukan kalian. Jadi—"
"Kita bertiga tidur di ranjang sama setiap malam! Apanya yang rindu seolah bertahun-tahun tidak bertemu!"
Kaki Jennifer keluar dari selimut dan menendang Adam. Tentu saja, tendangan semacam itu dengan mudah dihindari olehnya.
"Ck!"
Jennifer mendecak tak puas. Melihat Adam yang menghindari serangannya, wanita itu langsung berkata.
"Tidak bisakah kamu mengalah dengan kekasihmu sendiri? Apakah kamu masih menyebut dirimu sebagai laki-laki?"
"..."
Adam hanya bisa diam. Ketika wanita marah, lebih baik diam. Ya, meski terkadang diam saja salah ... tetapi lebih baik diam karena jika mencoba bicara, wanita hanya akan lebih marah.
"Kalau begitu aku akan pergi untuk—"
"Buatkan kami sarapan terlebih dahulu. Apakah kamu begitu tidak bertanggung jawab?
Jangan bilang sudah ada gadis lain?
Bahkan jika ada, kamu tidak boleh melupakan yang lama, kan? Dulu kamu pernah bilang akan bersikap adil, kan?"
Menghela napas panjang, Adam akhirnya menuruti permintaan mereka.
Lagipula, dia juga merasa bersalah karena telah mengajak mereka berolahraga sampai pagi dua jari terakhir. Padahal keduanya juga harus kuliah atau bekerja di siang hari.
Sekitar satu jam kemudian.
Duduk mengelilingi meja makan, mereka bertiga makan sarapan bersama. Hanya saja, mata Bella tampaknya sulit untuk terbuka. Gadis itu tampaknya bisa jatuh kapan saja.
"Sungguh ... bukankah mereka bilang semakin tinggi tingkatan, semakin sulit naik level?
Kenapa aku merasa kalau kecepatan mu berkultivasi sama sekali tidak melambat, Sayang?
Kalau begini lama-lama kami berdua akan semakin tertinggal semakin jauh."
"Bersabarlah sebentar, aku sedang mencoba mencarikan teknik kultivasi yang baik dan cocok untuk kalian."
"Hah?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Adam, mata Jennifer terbelalak.
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Kamu benar-benar bisa diandalkannya, Sayang."
Melihat Jennifer dengan mudah mengubah wajahnya, Adam tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya dia memutuskan untuk fokus memakan sarapannya.
***
Siang harinya.
"Senang bertemu dengan kalian, Mr Oleander ... Mr Andros."
Kali ini Adam makan bersama dua pengusaha.
Salah satunya adalah seorang lelaki paruh baya pirang dengan rambut pirang bergelombang. Sebenarnya dia tampan, hanya saja, penampilannya cukup flamboyan sekaligus bertingkah agak feminim. Namanya Oleander, mirip Pak Ozzie ... dia biasanya bekerja untuk membuat taman bunga.
Banyak taman perumahan elit di Kita B yang digarap oleh Oleander dan rekan-rekannya. Selain tingkahnya yang agak aneh, pria itu memiliki skill yang baik.
Sedangkan yang lainnya adalah sosok lelaki paruh baya pendek gemuk dengan wajah agak tidak mencolok. Mungkin yang membuatnya mencolok adalah rambut klimis yang disisir ke belakang. Namanya Andros, seorang penjual ikan hias.
Meski penampilannya tidak meyakinkan, pria itu sebenarnya lebih kaya dibandingkan Brock dan Oleander. Dia menjual banyak ikan hias berkualitas dengan harga tinggi.
Selain menjual ikan, dia juga memiliki dua tim di bawahnya. Satu adalah tim yang pandai membuat berbagai jenis kolam ikan. Tim lain pandai membuat aquascape.
Jangan memandang rendah pembuat kolam tersebut. Apa yang mereka buat bukanlah kolam ikan lele atau ikan konsumsi yang tampak sederhana.
Sebaliknya, mereka membuat kolam untuk ikan hias dengan berbagai gaya indah. Seperti bentuk air terjun buatan, tetapi tampak begitu alami dan memanjakan mata.
"Seperti yang dikatakan Mr Brock, anda benar-benar masih muda dan menjanjikan, Mr Adam."
Oleander berkata dengan senyum yang membuat bulu kuduk Adam berdiri.
"Berhenti menggodanya, Mr Oleander. Kita di sini untuk berbisnis. Bukan untuk memuaskan hobi anehmu."
"Cih! Pak Tua yang kasar."
"Aku hanya beberapa tahun lebih tua darimu, Banci."
"Apa kamu bilang?!"
"Uhuk! Uhuk!"
Adam langsung pura-pura batuk untuk menghentikan mereka yang bertengkar seperti kucing dan anjing.
"Saya tidak ingin banyak menunda waktu kalian, Tuan-tuan.
Sebenarnya saya sudah memiliki rencana. Jadi tolong lihat dan beri komentar anda."
Setelah mengatakan itu, Adam mengeluarkan setumpuk kertas lalu meletakkannya di atas meja.
Oleander dan Andros berhenti berdebat. Mereka kemudian melihat sebuah denah rumah yang digambar oleh Adam terlebih dahulu.
Di sana tampak sebuah tanah luas yang dikelilingi dinding tinggi. Ada sebuah rumah besar, tanah kosong cukup luas di kiri rumah, taman depan, dan taman belakang.
__ADS_1
Taman depan memiliki luas sekitar setengah rumah besar tersebut. Sedangkan taman belakang memiliki luas sama, bahkan sedikit lebih luas daripada rumah.
Ya. Itu adalah denah tanah dan rumah yang Adam beli.
Oleander menatap ke arah gambar-gambar lain lalu mengerutkan kening.
"Saya tahu kalau gaya sederhana sebuah jalan lurus di depan rumah dengan taman bunga tulip di kanan dan kiri jalan cukup indah. Saya juga tahu anda berniat membangun garasi di sebelah kiri rumah. Namun ...
Kenapa anda ingin membangun tembok untuk membagi dua bagian lahan belakang rumah?"
Mendengar itu, Adam tersenyum. Dia menunjuk ke halaman depan.
"Seperti yang anda sebutkan, saya ingin membuat taman depan seperti taman mansion khas bangsawan Eropa.
Sedangkan di belakang rumah, saya ingin sebuah taman juga dengan gaya Eropa, tetapi dengan lebih banyak jenis bunga warna-warni. Oleh karena itu, saya menyerahkan semuanya kepada anda.
Sedangkan tembok ini ..."
Adam menunjuk ke arah tembok yang membagi belakang rumahnya.
"Saya ingin membuat sebuah tempat bersantai yang memiliki gaya berbeda, jadi perlu tembok cukup tinggi dan sebuah pintu besar.
Setelah melewati pintu tersebut, saya ingin melihat sebuah kolam ikan besar dengan koi dan bunga teratai. Bangun sebuah jembatan kecil melewati kolam.
Di bagian paling belakang, saya ingin membuat paviliun kecil dengan gaya tradisional dengan sebuah taman bunga matahari yang tidak perlu terlalu luas.
Bukankah itu tampak indah?"
Mendengar ucapan Adam, Oleander dan Andros terkejut. Khususnya Andros.
Pria itu membayangkan sebuah pemandangan indah pedesaan, tetapi dikelilingi empat tembok. Sebuah pemandangan indah yang tidak bisa dilihat di kota.
Memang indah, tapi masalahnya, membangun sesuatu seperti itu bisa dianggap cukup rumit. Membutuhkan banyak biaya, dan perawatannya tidak begitu mudah.
"Ide anda memang luar biasa, Mr Adam. Hanya saja—"
Sebelum Andros berkata, tiba-tiba Adam menyela.
"Uang tidak menjadi masalah."
Mendengar itu, Oleander dan Andros saling memandang.
"Saya juga sudah menghubungi Mr Brock. Dia akan membuat garasi di sebelah kiri rumah dan membangun tembok untuk membagi dua lahan belakang rumah."
Adam kemudian menunjuk bagian kosong di sisi kanan rumah.
"Meski tidak begitu luas, jalan ini seharusnya cukup untuk kalian lewati untuk mengangkut material ke bagian belakang rumah. Setelah tembok dibangun terlebih dahulu, kalian bisa bekerja di waktu yang sama tanpa menggangu satu sama lain.
Jadi ... bagaimana menurut kalian?"
Oleander dan Andros kembali saling memandang.
"Jika anda yakin dengan masalah biaya, kita bisa membahas semua detail tentang waktu, jumlah tenaga kerja, bayaran, dan lainnya."
Andros langsung berkata dengan blak-blakan.
Mendengar kalau keduanya setuju, Adam tersenyum cerah.
__ADS_1
"Kalau begitu, senang bekerjasama dengan kalian!"
>> Bersambung.