
"Apakah anda yakin untuk mengatasi semua ini sendirian, Mr Owl?"
Carole yang pernah menjalankan misi dengan Adam yakin dengan kemampuan pemuda bertopeng itu. Hanya saja, ada sedikit keraguan. Dia tidak ingin melihat sosok yang baik dan murah hati itu meninggal hanya karena harus menjalankan misi sendiri.
Belum lagi, Carole juga mulai mengerti bahwa pekerjaan yang dia terima memiliki upah yang begitu banyak, belum termasuk bonus dan lainnya buka tanpa alasan.
Rasanya mereka seperti menjadi tentara bayaran yang berada di perbatasan Medan perang. Mereka berjalan di atas sebuah tali. Sedangkan di bawah mereka ... ada sebuah jurang gelap dan dalam.
Mereka berjalan di batas kehidupan dan kematian.
Bukan hanya Carole, misi yang Adam terima membuat para anggota lain juga merasa cukup ragu.
"Ya, aku akan melakukannya sendiri."
Adam tampak tenang. Merasakan perasaan depresi di sekitarnya, pemuda itu terkekeh.
"Kalian tidak perlu khawatir. Meski sesekali akan berada dalam misi berbahaya, hal semacam itu belum tentu terjadi satu bulan sekali. Anggap saja aku cukup sial karena terlibat dengan game terkutuk itu.
Hari ini aku akan pulang. Aku ingin mempersiapkan diri dua sampai tiga hari."
"Tapi, saat itu—"
"Yakinlah, James. Tidak akan terjadi apa-apa. Tidak mungkin 'Dia' memiliki waktu setiap malam untuk berburu.
Karena kasus pembunuhan terjadi tadi malam, lebih tepatnya lewat tengah malam. Kemungkinan besar 'Dia' akan kembali berburu malam, tiga hari kemudian."
Adam langsung menyela ucapan James. Meski itu hanya perkiraan, pemuda itu benar-benar harus kembali untuk mengambil beberapa item seperti pil gizi, pil penyembuhan, dan jimat. Tidak hanya itu, dia harus mempersiapkan senjata dan mempersiapkan diri dengan lebih baik.
'Bahkan seekor singa harus berburu seekor kelinci dengan segenap tenaga.'
Mengingat kalimat itu, Adam tidak berniat main-main. Belum lagi, ini menyangkut hidupnya sendiri.
Tidak peduli seberapa kuat lawannya, pemuda itu harus mempersiapkan diri. Apakah dia akan menang atau kalah, yang terpenting adalah berjuang segenap tenaga.
"Kamu ... tidak akan melarikan diri, kan?"
Mendengar pertanyaan konyol James, Adam menggeleng ringan.
"Sebenarnya aku ingin melarikan diri. Namun karena sudah terlibat, aku tidak bisa melarikan diri lagi. Jadi kamu bisa tenang."
"Sungguh?" James agak bimbang.
"Ya. Lagipula, aku juga tidak ingin menjadi seorang buronan." Adam berkata dengan nada setengah bercanda.
Melihat bahwa Adam bisa terlihat riang, yang lainnya tampak cukup lega. Mungkin mereka berpikir bahwa masalahnya tidak sebesar yang mereka bayangkan.
"Kalau begitu, sebagai pemimpin, aku memberimu izin untuk tidak datang selama 3 hari. Namun ..."
"Ada apa?" tanya Adam.
"Pastikan kembali sesegera mungkin."
Mendengar itu, Adam mengangkat sudut bibirnya.
"Aku pasti tidak akan lari."
***
Tiga hari kemudian.
Adam sudah memakai setelan hitam miliknya. Kali ini dia membuat jimat sebanyak yang dia bisa dalam waktu itu. Pemuda itu juga menyadari sesuatu yang sangat penting.
__ADS_1
Adam hampir melupakan bahwa dirinya memiliki item bag dari System.
Karena dirinya berhubungan dengan Lei Fan dan Lei Na dimana item yang mereka berdua bawa tidak dapat masuk ke dalam item bag karena kurangnya kualitas, Adam hampir melupakan hal penting itu.
Padahal dia sendiri menyimpan beberapa barang di item bag miliknya itu.
Sebenarnya selain pakaian dan bokken miliknya, Adam sebenarnya bisa membawa semua item penting. Hanya saja, dia memilih untuk menunggu selama tiga hari.
Selain karena tidak ingin menunggu terlalu lama, Adam menghabiskan waktunya untuk menemani Bella dan Jennifer. Dia mengatakan semuanya dengan jujur, tetapi juga terus meyakinkan bahwa nyawanya sama sekali tidak dalam bahaya.
"Apakah anda benar-benar harus pergi, Kak Adam?"
Melihat Bella yang mengantarnya dengan ekspresi tertekan, Adam hanya menghela napas panjang sebelum memeluk lembut tubuh gadis itu.
"Aku harus pergi. Yakinlah ... semuanya akan baik-baik saja," ucap Adam sebelum mengecup lembut bibir gadis itu.
"Aku berangkat, Sayang."
"En."
Bella mengangguk dengan wajah merah. Meski malu, gadis itu sekarang membalas pelukan Adam. Dia terus menatap sosok kekasihnya tanpa bersembunyi.
Gadis itu terus berdoa agar semua berjalan dengan lancar sehingga Adam bisa segera kembali.
***
Beberapa kemudian.
Adam akhirnya sampai di markas para anggota Departemen Misteri cabang Kota B berada. Masuk ke dalam rumah bergaya kolonial itu, dia terkejut melihat sosok James yang langsung menghampiri dirinya.
"Akhirnya kamu datang, Mr Owl!"
"Ada apa?" tanya Adam.
"Pria bernama Thomas datang ke tempat ini setiap hari untuk menunggu kamu."
"Bukankah aku hanya pergi tiga hari?"
"Ya ... Maksudku ketika kamu pergi, dia datang di siang hari dan menunggu sampai petang sebelum pulang!"
"Sekarang dia sudah datang?" Adam memiringkan kepalanya.
"Ya." James mengangguk. "Mr Thomas datang setiap pagi. Tidak pulang sampai petang."
"Bawa aku menemuinya."
"Kamu tidak naik ke kamar dulu?"
"Kita temui klien terlebih dahulu."
Mendengar Adam yang tampak santai, James menjadi cukup lega.
Adam kemudian mengikuti James menuju halaman belakang rumah. Karena menunggu terlalu lama dan merasa tidak enak jika dilihat oleh klien lain, James menyuruh Thomas untuk menunggu di ruang santai bagian belakang rumah.
Di sana pria itu bisa melihat beberapa bunga dan tanaman hijau. Paling tidak, itu membuat suasana hati menjadi lebih segar dan agak ringan.
Sampai di ruang santai, Adam melihat sosok Thomas yang duduk di sofa dengan secangkir teh tak tersentuh di meja tak jauh darinya. Pria itu duduk melamun dan membiarkan teh sampai dingin tanpa meminumnya.
Melihat pria yang sebelumnya begitu tampan menjadi acak-acakan, Adam menggeleng ringan.
"Anda tampak berantakan, Mr Thomas."
__ADS_1
Mendengar suara Adam, Thomas yang melamun tiba-tiba tersadar. Menoleh ke arah pemuda bertopeng itu, dia tampak marah sekaligus bahagia.
"Kenapa anda baru muncul, Mr Owl! Kenapa! Nyawa Kevin dalam bahaya setiap malam! Saya—"
"Cukup, Mr Thomas. Anda bukan atasan atau bos saya. Bukankah Kevin baik-baik saja? Apakah ada serangan lain dalam tiga hari ini?"
"Itu ... Tidak ada." Thomas tampak tertekan.
"Tolong suruh Douglas membuatkan teh lagi, Ketua. Tambahkan mint agar sedikit segar dan menenangkan."
Adam berkata dengan nada santai.
Mendengar ucapan Adam, James menganggukkan kepalanya sebelum berbalik pergi.
"Mr Thomas, silahkan duduk kembali."
Adam berkata dengan ekspresi tenang sebelum duduk ke kursi yang berseberangan dengan posisi Thomas. Dia kemudian melihat wajah pria yang sebenarnya baik itu.
Rambut berantakan, kulit berminyak serta pucat, kantung mata hitam, kumis dan janggut yang tumbuh agak berantakan. Satu kata untuk menggambarkannya ...
Kacau.
Thomas jelas merasa tertekan dari segi fisik dan mental. Adam menghela napas panjang, merasa kasihan ketika melihatnya.
"Sebelum saya mulai berbicara, apakah anda ingin menanyakan sesuatu?"
"Di mana anda selama tiga hari ini?"
"Rumah. Menghabiskan waktu bersama dengan kekasih, menghibur serta meyakinkan bahwa saya akan baik-baik saja. Tentu saja ... mempersiapkan diri."
"Mempersiapkan diri?" tanya Thomas dengan ekspresi linglung.
"Ya."
"Untuk apa?"
"Bukankah saya sudah bilang sebelumnya? Nyawa anda dan istri anda tidak dalam bahaya sama sekali. Itu karena aku adalah 'peserta' dalam permainan ini. Menggantikan kalian berdua dalam peran 'wali' untuk Kevin.
Kenapa anda begitu tertekan? Apakah anda terlalu menyayangi Kevin?
Yang anda perlu lakukan sekarang adalah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Kemungkinan dimana saya dan Kevin akan gagal dalam permainan ini."
"Tidak bisa! Kevin adalah putra saya satu-satunya! Dia adalah penerus satu-satunya untuk saya!"
"Bukankah anda—"
"Saya tidak bisa melakukannya! Saya telah menderita 'penyakit itu' sejak dua tahun lalu!
Kevin adalah harapan satu-satunya bagi saya! Mr Owl ... tidak peduli berapa banyak uang yang anda minta, tolong selamatkan putra saya!"
"Bodoh." Adam berkata dingin.
"Apa?" Thomas tampak linglung.
"Aku sudah terlibat. Tanpa Anda suruh dan minta pun, saya harus melakukannya."
Adam kemudian tersenyum di balik topengnya. Menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan, dia kemudian berkata dengan tak acuh.
"Lagipula, setelah menerima misi ... itu sudah menjadi tanggung jawabku."
>> Bersambung.
__ADS_1