
Hari berikutnya, Adam sekali lagi pergi ke luar daerah.
Kali ini, pemuda itu pergi ke Kota E. Lebih tepatnya, pantai di daerah E yang tidak terlalu jauh dari pusat Kota E.
Karena jaraknya yang cukup jauh, Adam pergi ke sana dengan pesawat. Tentu saja, dia memberitahu kedua kekasihnya bahwa ada urusan bisnis.
Ya ... Setidaknya itu setengah benar.
Adam tiba di pantai pada sore hari. Turun dari taksi, pemuda itu langsung menjadi pusat perhatian.
Tidak seperti para pengunjung lain yang menggunakan celana pendek dan baju pantai, atau bahkan beberapa yang berani hanya menggunakan pakaian renang ... pemuda itu masih mengenakan kemeja hitam dan celana panjang hitam, lengkap dengan sepatunya.
Adam juga membawa koper.
Pada awalnya, itu membuat supir taksi berpikir apakah pemuda tersebut menyebutkan alamat yang salah. Namun ketika Adam berkata tujuannya adalah pantai, sopir itu tetap mengantarnya ke sana meski bingung.
"Hey, Tampan? Apakah kamu tersesat? Kenapa kamu membawa pakaian begitu rapi ketika pergi bermain di pantai?"
"Ya. Mungkinkah kamu salah alamat?"
"..."
Beberapa gadis mendekati Adam dan mulai menanyakan berbagai hal. Seperti seorang wanita cantik dengan bagian depan dan belakang menonjol yang pasti menarik perhatian laki-laki, para perempuan juga suka melihat lelaki tampan dengan tubuh bagus dan tempramen luar biasa.
Hal semacam itu wajar, jadi Adam sudah membiasakan diri.
"Aku datang ke sini untuk melakukan sesuatu. Maaf, gadis-gadis cantik ... Aku tidak bisa menemani kalian.
Aku sudah punya pacar, jadi aku tidak ingin pacarku sampai melihat pemandangan seperti ini dan salah paham."
Mendengar ucapan Adam, para gadis merasa senang. Seperti apapun perempuan, mereka pasti suka jika dipanggil dan dianggap cantik. Namun pada gadis pemberani itu kecewa ketika mendengar kalau Adam telah memiliki pacar.
Setelah secara halus 'mengusir' para gadis pemberani, yang beberapa bahkan memberi Adam nomor telepon dan menawarinya one night stand ... pemuda itu pergi menyusuri pantai. Dia berjalan begitu jauh, sampai akhirnya tiba di tempat yang sepi.
Melihat pemandangan indah matahari terbenam di pinggir pantai, Adam membuka koper lalu mengeluarkan dua guci keramik yang ditutup rapat.
"Bukankah kamu ingin membawa Nona kecil itu untuk melihat lautan, Pak Ozzie? Jadi aku membawa kalian ke sini."
Mengatakan hal itu, Adam menghela napas panjang.
Menurut ingatan Adam ketika menjalani hidup untuk mengikuti lelaki tua tersebut, ada dua hal yang ingin dilakukan oleh gadis kecil yang Pak Ozzie anggap seperti cucunya sendiri tersebut.
Pertama, ingin melihat bunga matahari merah.
__ADS_1
Terakhir, ingin melihat lautan.
Tampaknya gadis kecil itu penasaran. Lagipula, meski telah mengikuti ibunya pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya, dia belum pernah melihat lautan.
Pak Ozzie sendiri berniat untuk membuat bunga matahari merah, lalu membawa abu gadis kecil tersebut untuk dihanyutkan bersama dengan ombak lautan. Seperti keinginannya semasa hidup, untuk melihat seperti apa lautan tersebut.
Hanya saja, selain kehabisan waktu, Pak Ozzie sendiri juga telah kehilangan kedua kakinya. Jadi mustahil untuk datang ke pantai. Belum lagi, di masa itu transportasi masih begitu sulit.
Adam membuka dua guci keramik, lalu mengambil segenggam abu di setiap tangan.
Pemuda itu membuka kedua tangannya, membiarkan angin laut berembus membawa abu ke laut.
Dia terus mengulanginya dengan sabar. Tidak langsung membuang seluruh abu, Adam membiarkan segenggam demi segenggam abu dibawa pergi.
Tepat ketika matahari terbenam, dua guci akhirnya dikosongkan.
Melihat bintang-bintang mulai bermunculan menghias langit malam, Adam mengemasi barang bawaannya lalu berbalik pergi.
Menyempatkan diri untuk melihat garis horizon yang menghubungkan laut dan langit di kejauhan, pemuda itu tersenyum lembut sembari berkata.
"Sekarang aku tidak lagi berhutang budi kepadamu, Pak Ozzie. Selamat tinggal ..."
***
Duduk dekat jendela, Adam melihat pemandangan laut di kejauhan. Pemuda itu sedang memikirkan kedua kekasihnya. Adam percaya kalau mereka setia kepadanya, tetapi dirinya juga tahu betapa egoisnya dirinya.
Adam tidak ingin kalau wanitanya dekat dengan laki-laki lain. Namun sebaliknya, dia malah sering bertemu dengan wanita cantik di sana-sini. Mengingat perbuatannya sendiri, pemuda itu menghela napas panjang.
"Jika hanya dianggap sebagai ayah gula, aku tidak akan segan. Namun mereka jelas akan menjadi istriku.
Juga ... tidak ada aturan yang mengharuskan lelaki monogami di dunia ini."
Adam menghela napas panjang. Pada awalnya, pemuda itu berpikir kalau semuanya akan mudah karena tidak ada hukum yang melarang. Namun dia salah besar.
Perasaan manusia itu terlalu rumit. Seperti Adam atau para laki-laki yang egois. Mereka semua ingin memiliki lebih banyak wanita, tetapi juga ingin para wanita itu 100% setia.
Menurut Adam, itu kurang logis dan agak bodoh.
Wanita sama sekali bukan boneka atau mainan. Mereka juga memiliki perasaan. Jika terlalu egois, mereka juga bisa berpaling pergi, karena apa yang orang-orang sebut cinta dan hasrat hanya terpisah sebuah dinding tipis.
Ketika melihat seorang lelaki tampan, atau wanita cantik ... lawan jenis pasti akan tertarik. Jantung mereka mungkin berdebar kencang. Namun bukan berarti itu cinta.
Cinta ... adalah sesuatu yang terlalu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1
Mengingat bagaimana Bella dan Jennifer yang begitu tulus kepadanya, Adam tidak ingin mengecewakan mereka.
Pemuda itu tahu bahwa dirinya memiliki banyak kesibukan. Namun dia juga sebisa mungkin untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka.
"Tampaknya aku harus mengajak mereka untuk berjalan-jalan. Lagipula, mereka pasti cukup lelah dan ingin beristirahat sejenak."
Mengingat rumah baru yang tidak lama akan segera selesai, Adam mengangkat sudut bibirnya.
Meski sudah bilang kepada keduanya kalau dirinya ingin pindah ke tempat yang lebih luas, mereka berdua belum tahu kalau Adam telah memberi rumah besar dan mengurus banyak hal yang merepotkan.
"Mereka pasti tidak akan menduga kalau aku sudah mempersiapkan rumah baru.
Selain rumah milikku sendiri, seharusnya aku juga menyiapkan hadiah pribadi untuk mereka.
Hmmm ... mari pesan cincin. Lalu saat rumah selesai dibenahi, ajak mereka untuk membeli mobil."
Memikirkan ekspresi terkejut dan bahagia di wajah Bella dan Jennifer, Adam mengangguk puas. Namun dia juga ingin mempersiapkan hadiah yang paling mereka tunggu.
Ya. Buku tentang teknik kultivasi yang sesuai dengan mereka.
Adam percaya, meski tidak abadi, paling tidak ... mereka akan memiliki umur panjang ketika bisa berkultivasi. Sekarang saja, pemuda itu yakin akan hidup lebih dari 100 tahun dengan kondisi fisik masih bugar.
Tentu saja, tidak selama itu jika dia dibunuh atau mati dengan cara tidak wajar.
Sebenarnya, lebih baik Kultivator mulai berkultivasi sejak dini karena semakin awal mereka mencapai tingkat tinggi, semakin lama kondisi tubuh baik akan terjaga.
Setidaknya, Adam yakin kalau penampilannya tidak akan begitu banyak berubah bahkan ketika dia berusia empat puluhan.
"Hal-hal semacam ini benar-benar bertentangan dengan banyak pengetahuan umum."
Adam menghela napas panjang.
Semakin banyak dia berpikir, pemuda itu merasa kalau jalannya menjadi semakin rumit.
Jadi pada akhirnya, pemuda itu merasa kalau lebih baik menjalaninya saja daripada terlalu memikirkannya.
Tentu saja, menjalaninya dengan baik dan tetap menggunakan otaknya.
Melihat ke langit malam, pemuda itu akhirnya bergumam pelan.
"Karena sudah berada di Kota E. Lebih baik aku datang ke tempat itu."
>> Bersambung.
__ADS_1