Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Terima Kasih Atas Nasihatnya, Senior


__ADS_3

Ketika melihat ke arah Bella, Adam menyadari sesuatu.


Tidak langsung kembali ke apartemen, Adam menginjak pedal gas dan memutar setir ke arah lain. Hal itu membuat Bella yang duduk di kursi co-pilot tampak bingung. Keduanya kemudian sampai di sebuah mall.


“K-Kak Adam?”


“Ada apa?” tanya Adam yang telah memarkir dan mematikan mesin mobilnya.


“U-Untuk apa kita datang ke tempat ini?”


“Kamu tidak bisa memakai pakaian itu terus, kan? Kita akan membeli pakaian.”


“T-Tapi …”


Belum sempat Bella membalas, Adam telah turun dari mobil. Merasa agak ragu, gadis itu akhirnya ikut turun. Keduanya kemudian mulai jalan-jalan bersama. Pada saat itu, keduanya tidak banyak bicara. Belum lagi, Bella melihat Adam kelihatannya fokus terhadap ponselnya.


Apakah … apakah itu gadis lain?


Memikirkan itu, Bella langsung menggeleng ringan. Dia tidak ingin berpikir negatif. Gadis itu hanya mengikuti Adam dalam diam.


Sementara itu, Adam yang fokus ke ponselnya sebenarnya sedang menghubungi Nicholas. Tidak bisa dipungkiri, meski dirinya cukup handal dalam berbisnis dan mengumpulkan uang, dia sama sekali tidak terlalu paham tentang fashion dan style.


Bahkan, kebanyakan pakaian yang ada di lemari tidak pemuda itu pilih sendiri. Nicholas akan mengajaknya pergi lalu membeli ini dan itu. Hanya saja, kebanyakan yang ada di lemarinya adalah jenis kemeja baik lengan panjang atau pendek.


Merek tas? Gucci? Chanel? LV?


Bahkan jika aku tidak tahu fashion, aku tahu merek Adidas dan Nike!


Membaca benyak pesan dari Nicholas, Adam terdiam. Dia tidak menyangka hal-hal akan menjadi cukup rumit. Pada akhirnya, mengikuti pesan sahabatnya untuk mengganti suasana, pemuda itu akhirnya mengajak Bella untuk membeli barang dari Uniqlo serta H&M.


Selain itu, Adam juga mengajak Bella untuk membeli pakaian dan sepatu olahraga Nike. Bukan hanya untuk gadis itu, dia juga membeli pakaian dari Uniqlo dan Nike yang cocok dengan milik Bella. Bukan couple, tetapi terlihat serasi. Ya … tentu saja pelayan toko yang menyarankannya.


Beberapa jam kemudian.


“I-Ini sudah cukup, Kak Adam. Ini terlalu banyak.”


Bella merasa cemas. Dia sama sekali belum pernah berbelanja seperti itu. Belum lagi, semua itu sama sekali tidak murah. Gadis itu tidak terlihat membawa apa di tangannya, jadi ucapannya agak aneh.


Tidak terlihat membawa apa-apa, tetapi Bella yang mengingat apa yang terjadi sebelumnya sudah kelelahan secara mental. Adam telah membeli 7 set pakaian dari Uniqlo dan 7 set pakaian dari H&M menurut saran palayan toko. Karena tidak ingin membawanya, dia meminta jasa pengiriman dan disetujui.


Itu baru pakaian Bella. Sedangkan untuk dirinya sendiri, Adam membeli 7 set dari Uniqlo. Sedangkan dari H&M, dia tidak membelinya. Alasan pemuda itu membeli 7 set hanya karena ingin mengganti suasana. Adam juga membeli pakaian dan sepatu olahraga Nike untuk mereka berdua.


Melihat bagaimana Adam berbelanja, Bella ketakutan.


Boros … terlalu boros.

__ADS_1


Mendengar ucapan Bella, Adam tampak bingung.


“Apakah kamu tidak memerlukan tas?”


Menurut yang dikatakan Nicholas, para gadis suka membeli tas dengan merek ternama. Jadi, Adam berniat membelikannya satu. Namun dia tidak menyangka kalau Bella menolaknya begitu saja.


“T-Tidak perlu.”


Atas desakan Bella, pada akhirnya mereka membeli beberapa pakaian dengan merek lokal tetapi dengan kualitas yang baik. Lagi-lagi, Adam memesan 7 set untuk Bella gunakan di apartemen. Namun, kali ini gadis itu harus membawanya sendiri.


Melihat beberapa tas belanja di tangannya, Bella menghela napas panjang. Dia merasa tertekan. Gadis itu merasa bersalah. Merasa dirinya adalah gadis penggali emas yang suka memanfaatkan pasangannya. Padahal, Adam sendiri yang membelikannya. Namun Bella yang tidak pernah diperlakukan seperti itu malah agak tertekan.


“Kenapa kamu melamun, Bella?”


Mendengar suara Adam, Bella tersadar dari lamunannya. Gadis itu kemudian menggeleng ringan. Ketika keduanya hendak berjalan pergi, suara seorang perempuan terdengar.


“Hey? Bukankah itu Bella?”


Menoleh ke arah sumber suara, Adam dan Bella melihat sosok gadis dengan rambut cokelat bergelombang berjalan menuju mereka. Berbeda dengan penampilan Bella yang sederhana, gadis itu memakai sepatu hak tinggi dan pakaian yang tampak agak glamor. Di sampingnya tampak seorang lelaki berbadan gempal. Usianya kelihatannya ada di pertengahan tiga puluhan. Orang itu memakai jas dan tampak cukup sombong.


“Tina???” ucap Bella.


Gadis bernama Tina itu mengabaikan sosok Bella, tetapi malah memandang ke arah Adam. Melihat sosok pemuda tinggi, putih, tampan, dan menawan itu membuatnya terdiam.


“Bella, ini?”


Sebelum Bella bisa menjawab, Adam langsung memperkenalkan diri. Melihat bagaimana Adam memperkenalkan diri dengan sopan dan penuh wibawa, ditambah suaranya yang lembut … Tina memandang Bella dengan ekspresi tidak puas.


Tidak hanya Tina, pria di sampingnya juga tampak tidak puas ketika melihat Tina memandang Adam dengan kagum. Pria itu terkejut ketika melihat sosok Bella yang cantik meski berpakaian sederhana. Melihat tas belanja berisi beberapa pakaian merek lokal yang tidak terlalu mahal, pria itu mendnegus dingin.


“Untuk apa tampan dan sopan jika tidak bisa membelikan kebutuhan pasangannya.”


Mendengar itu, Bella tampak tidak senang. Sementara itu, Tina langsung melihat tas belanja yang dibawa oleh Bella. Melihat sosok tampan Adam, dia menggeleng ringan.


“Memang pacarmu tampan, Bella. Namun kamu juga harus melihat ke depan. Jika kamu hanya melihat ketampanan, mungkin saja kamu akan kesulitan di masa depan. Lagipula, tampan saja tidak membuatmu kenyang dan berpakaian cantik.”


“Kak Adam adalah-”


Sebelum Bella melanjutkan, Adam menepuk pundaknya lalu menggeleng ringan. Pemuda itu kemudian berkata dengan sopan ke arah pria paruh baya berbadan gempal itu.


“Terima kasih atas nasihatnya, Senior. Saya akan berusaha dan bekerja keras agar pasangan saya bahagia.”


“Hmph!”


Pria itu mendengus dingin, tampak sombong. Namun ketika melihat Adam yang tidak marah dan masih cukup hormat, dia sedikit mengangguk.

__ADS_1


“Selama kamu berusaha keras. Meski tidak sebaik aku, mungkin kamu bisa membelikan pakaian bagus untuk pasanganmu dan juga membeli mobil yang lumayan.


Aku ingatkan. Bekerja keras, anak muda. Tidak baik jika kamu tidak bisa merawat gadis cantik seperti nona ini. Jika tidak, cepat atau lambat kamu pasti akan ditinggalkan.”


Melihat bagaimana pria paruh baya itu mengedipkan mata ke arahnya, Bella merasa agak jijik. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi sikap sombongnya.


Sementara itu, Tina juga tidak puas. Dia mencubit pria paruh baya itu dengan ekspresi marah.


“Beraninya kamu menggoda gadis lain di depanku.”


“B-Bukan begitu, Sayang.”


“Hmph! Jika kamu tidak membawaku untuk makan malam, aku akan mengabaikanmu.”


“Tentu saja, Sayang. Mari pergi.”


Tina menatap Bella dengan ekspresi meremehkan, menunjukkan beberapa tas belanja berisi pakaian bermerek sebelum pergi dengan pria paruh baya itu.


“Kak Adam, tadi-”


“Tidak apa-apa,” ucap Adam dengan senyum lembut. “Kalau begitu, kita juga kembali?”


“En.”


Adam dan Bella kemudian pergi ke tempat parkir di lantai B1. Keduanya tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Tina dan pria paruh baya itu.


Melihat Adam dan Bella, kedua orang itu juga kaget. Pria paruh baya itu kemudian bertanya.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Nak?”


“Kami di sini untuk mengambil mobil lalu pulang, Senior.”


“Hah? Jadi kamu membawa mobil ayahmu?”


Pria paruh baya itu berkata dengan nada sedikit mengejek. Dia bersandar di sebuah mobil Mercedes-Benz Cla-Class berwarna perak dengan ekspresi sombong. Tina yang berdiri di sampingnya juga menggelengkan kepala.


Adam tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lembut lalu mengajak Bella untuk berjalan ke arah keduanya. Namun bukannya menghampiri keduanya, dia berhenti tidak jauh dari mereka berdua.


Adam kemudian berjalan menuju mobil BMW 4 Series Convertible yang terparkir di sebelah Mercedes-Benz Cla-Class itu. Dia membantu Bella memasukkan belanjaan mereka ke dalam bagasi. Membukakan pintu untuk Bella sebelum akhirnya juga masuk ke mobil.


Karena bagian atas dibuka, Tina dan pria paruh baya itu masih bisa melihat Adam dan Bella yang berada di mobil.


Pemuda itu menyalakan mesin mobil, menoleh ke arah pria paruh baya itu lalu mengangguk sopan. Setelah itu, di depan mata kedua orang yang terkejut itu dia segera menginjak pedal gas dan pergi dari sana.


Benar-benar meninggalkan kedua orang yang terdiam.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2