
“Kenapa kamu menatapku dengan cara seperti itu, Nix? Apakah kamu bosan dan ingin latihan harian?”
Mendengar ucapan Adam, ekspresi Nix langsung berubah. Dia menoleh ke kiri dan kanan dengan panik, berpura-pura bingung dengan keadaan sekitar. Hal itu membuat tuannya terkekeh.
“Aku hanya bercanda. Tempat ini memang penuh debu, tidak terlalu nyaman. Lebih baik membersihkan tempat ini sebelum bersantai.”
Setelah mengatakan itu, Adam mengambil vakum cleaner sebelum akhirnya mulai membersihkan apartemen miliknya.
Waktu berlalu, malam datang begitu saja.
Setelah apartemen akhirnya dibersihkan, sosok Adam yang tampak masih segar memutuskan untuk mandi lagi. Sementara itu, si ayam memeiliki ekspresi kusam di wajahnya. Kelihatannya sangat tidak puas tetapi tidak berani mengeluh secara langsung.
‘Bos kejam itu memang tidak berbohong masalah libur satu hari, tapi masalah makanan … jangankan makan, bahkan tidak ada sepotong sayur pun di sarang ini!’
Selesai mandi, Adam yang menyadari bahwa tidak ada bahan makanan dalam kulkas memandang si ayam.
Pantas saja Nix sedari tadi diam.
Menggeleng ringan, dia kemudan berkata, “Aku akan pergi ke super market untuk membeli bahan makanan dan biji-bijian. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau aku membelikan kamu popcorn, Nix?”
Tidak tahu apa itu popcorn, Nix hanya memiringkan kepalanya dengan ekspresi konyol. Adam yang melihatnya terkekeh sebelum memasang senyum misterius di wajahnya.
“Kamu tunggu saja nanti. Mungkin kamu akan-”
Ring! Ring! Ring!
Mengangkat teleponnya, ekspresi Adam berubah.
“Halo? Ada apa, Jennifer?”
“PEMBOHONG!”
“...”
Apartemen milik Adam langsung sunyi. Mendengar teriakan ganas dari telepon, satu pemuda dan satu ayam saling memandang. Mereka tidak bisa berkata-kata.
“Kamu bilang kamu tinggal di rumah! Aku datang berkunjung ke cafe sore ini sepulang kerja. Kamu tidak ada di sana! Kamu pembohong, Adam! Hiks!”
Adam memandang Nix lalu berkedip. Si ayam juga berkedip ketika melihat tuannya. Keduanya punya pemikiran yang sama yaitu …
Wanita bernama Jennifer itu terlalu berlebihan ketika mengekspresikan perasaannya!
“Aku bilang aku ada di rumah, kan?” tanya Adam.
“Iya! Aku bertanya pada para pekerja di cafe kamu, mereka semua bilang kamu tidak ada di lantai dua.”
“Aku benar-benar ada di rumah, Jennifer. Aku bilang, kan? Aku tidak pergi ke cafe hari ini.”
__ADS_1
“Apa maksudmu!”
“Aku sering berada di cafe, tetapi sebenarnya aku memiliki apartemen sendiri. Hanya saja aku jarang tinggal di apartemen.
Aku sedang berada di sini karena tidak ingin mendengar kebisingan. Ya, sekalian membersihkan tempat ini.”
“...”
Sisi lain telepon langsung sunyi. Beberapa detik diam, suara marah kembali terdengar.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku, Adam! Jangan mencoba berbohong.”
“Kamu tidak bertanya? Dan, aku juga tidak berbohong.” Adam menjawab dengan amat santai.
“Kamu … kamu … katakan di mana alamatnya!”
“Gedung ZZ, apartemen nomor 088.” Seolah menyadari sesuatu, Adam terkejut. “Eh? Jangan bilang-”
“Aku akan pergi ke sana! Awas saja jika kamu membohongiku lagi!”
“Ini sudah malam, lebih baik-”
Tut tut tut …
Mendengar suara telepon terputus, ekspresi Adam stagnan. Dia lalu memandang Nix dengan ekspresi pahit.
“Sepertinya … hari ini kita tidak makan apa-apa dan hanya minum air putih, Nix.”
“Masih ada cara lain. Meski agak enggan, sepertinya aku harus memesan makanan cepat saji saja.”
Adam tidak terlalu suka makanan cepat saji karena kurang sehat. Namun jika terpaksa, pemuda itu pun tidak keberatan memakannya. Ya, daripada sama sekali tidak makan.
Nix yang tidak terlalu mengerti apa yang Adam katakan hanya mengangguk. Dia hanya mengerti bahwa tuannya membahas soal makanan. Ya, sama seperti Adam … daripada tidak makan, apa saja boleh!
Ponsel Adam sekali lagi berbunyi. Kali ini bukan telepon, tetapi sebuah pesan.
Jennifer : Kamu belum makan, kan?
Adam : Belum.
Jennifer : Bagus! Itu sangat pas. Aku akan membawakanmu sesuatu untuk makan malam.
Adam : …
Adam : Terima kasih.
Selesai membalas pesan, Adam menatap Nix lalu meghela napas panjang.
__ADS_1
“Kelihatannya kita berprasangka buruk kepada Jennifer, Nix.”
Mendengar ucapan Adam, Nix memasang ekspresi wajah tidak setuju. Bahkan terlihat tidak begitu puas.
‘Maaf, Bos kejam yang terhormat. Itu anda! Tuan Nix ini sama sekali tidak memiliki prasangka buruk. Hanya anda yang memiliki prasangka buruk kepada wanita itu.
Tolong jangan libatkan ayam yang memiliki hati suci ini!’
“...”
Melihat ayam yang tidak setuju dan berani mempertanyakan dirinya, Adam mendengus dingin.
“Sangat disayangkan, aku terlalu lapar. Kelihatannya makanan yang Jennifer bawakan akan kurang.”
Ucapan Adam membuat Nix tertegun. Si ayam kemudian mulai berkokok dengan tidak puas sambil menunjuk sang tuan dengan sayapnya.
‘Apakah kamu masih manusia, Bos kejam! Ini keterlaluan! Disuruh bekerja tanpa bayaran atau makanan, ini lebih buruk dari perbudakan!
Jangan kira aku tidak berani mela … wan.’
Melihat Adam yang entah bagaimana sudah membawa pisau dapur, Nix tercengang. Pikirannya melambat. Si ayam berjalan mundur perlahan sambil menatap tuannya dengan tenang.
‘Ini tidak adil, Bos jahat! Cukup! Aku tidak menginginkan makananmu! Makan saja sampai perutmu meledak lalu mati!’
Adam yang memegang pisau dapur memandang Nix yang ketakutan. Pemuda itu memiringkan kepalanya.
“Apakah kamu begitu enggan memakan daging monster itu? Aku tahu kalauwujudnya jelek, tetapi itu masih ikan lele. Seharusnya … itu bisa dimakan, kan?”
‘Eh?’
Nix yang mendengar itu tertegun. Dia tidak menyangka telah kembali salah paham. Ternyata yang dimaksud tuannya, si ayam tidak bisa makan makanan yang dibawa Jennifer. Sebagai gantinya, menyuruhnya memakan daging si monster.
Suara bel berbunyi memecah keheningan.
Adam menyuruh Nix bersembunyi sebelum membuka pintu. Lagipula, keberadaan seekor ayam mungkin tidak akan diterima di tempat seperti ini. Ketika membuka pintu, pemuda itu tertegun.
“Jennifer?” ucap Adam dengan ragu.
Meski tidak terlalu jauh, jelas wanita itu datang terlalu cepat.
Apakah dia melanggar peraturan lalu lintas? Dia bahkan berkeringat cukup deras.
Adam melihat sosok Jennifer. Wanita itu masih memakai seragam polisi. Penampilannya sedikit berantakan. Keringat mengalir di kulit cokelatnya yang kencang. Entah bagaimana kancing atas bajunya terbuka, membuat Adam melihat lembah dalam di antara dua gunung tinggi.
Terengah-engah, berkeringat, dan menatap dirinya dengan mata yang mempesona. Melihat penampilan wanita itu, tanpa sadar Adam menelan saliva.
Sambil mengangkat bungkusan yang dia bawa di tangan kanannya, Jennifer berkata dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
“Pesanan telah tiba.”
>> Bersambung.