Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Bukankah Ini Agak Keterlaluan?


__ADS_3

“Katakan saja, aku akan mempercayainya.”


Jennifer menatap tepat di mata Adam. Wanita memberi tampang tegas dan meyakinkan. Hal yang membuat sosok di depannya akhirnya menghela napas panjang.


“Itu adalah roh jahat. Sedangkan profesiku, bisa dibilang … aku seorang Exorcist.”


“...”


Jennifer langsung menatap Adam dengan ekspresi aneh. Tampak agak marah. Dia adalah seseorang yang tidak mempercayai hal semacam itu. Jadi dia merasa pemuda tampan di depannya itu sedang mengolok-olok dirinya.


“Apakah kamu bercanda, Mr Adam.”


“Aku sudah mengatakannya.” Adam mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh. “Kamu tidak akan mempercayainya.”


“Kamu ingin aku percaya bahwa hantu, roh jahat, dan semacamnya ada?”


Menghadapi Jennifer yang keras kepala, Adam hanya menggeleng ringan. Tidak berusaha lebih lanjut. Lagipula, tidak ada gunanya untuk mengatakannya berulang kali.


“Katakan yang sebenarnya, Mr Adam. Apakah itu makhluk mutan? Monster buatan atau semacamnya? Jangan bilang … kamu adalah agen dari organisasi rahasia tertentu.”


“...”


Adam menatap Jennifer yang setengah bercanda. Pemuda itu menopang dagu dengan ekspresi tenang. Menatap wajah cantik wanita di depannya dalam diam.


Merasakan tatapan Adam, Jennifer merasa jantungnya berdegup kencang. Dengan ekspresi agak panik, dia bertanya, “A-Apa?”


“Tidak ada apa-apa. Hanya saja, kamu terlihat cantik ketika tersenyum, Petugas Jennifer.”


“A-Apa maksudmu?” ucap Jennifer dengan rona merah di pipinya.


“Tidak ada apa-apa. Minumlah latte itu sebelum dingin. Jika tidak suka, aku akan menyuruh pelayan menggantinya dengan yang lain.”


“I-Ini tidak apa-apa.”


Jennifer mengambil cangkir latte lalu menyesapnya. Merasakan sensasi manis dan creamy, wanita itu melirik Adam dengan malu-malu.


Adam sendiri menyesap kopi hitam di cangkirnya. Orang-orang dari panti asuhan yang sama dengan dirinya masih sangat mengenal apa yang disukai pemuda itu. Merasakan pahit kopi dengan aroma yang cukup kuat, Adam memejamkan matanya. Tampak menikmati rasanya.


“J-Jadi … apakah kamu mau menceritakan yang sebenarnya, Mr Adam?” tanya Jennifer. Kali ini wanita itu bertanya dengan lembut, bahkan agak malu-malu.


“Panggil aku Adam, Petugas Jennifer. Dan … bolehkah aku memanggilmu Jennifer saja?”


“T-Tentu saja boleh … A-Adam.”


Melihat Jennifer yang gugup, Adam tersenyum lembut. Dia kemudian berbicara tidak cepat atau lambat.


“Sebenarnya … aku seorang kolektor.”


“Kolektor?” Jennifer memiringkan kepalanya, agak bingung.


“Ya. Bukan kolektor barang antik, tetapi makhluk-makhluk aneh. Kamu pasti sudah melihat Nix, kan?”

__ADS_1


“Ayam hitam itu?” tanya Jennifer.


“Ya. Nix memiliki kecerdasan layaknya anak kecil di awal sekolah dasar. Apakah menurutmu … ayam normal seperti itu?”


“Maksudmu …” Jennifer tercengang.


“Aku adalah seorang yatim piatu. Sejak kecil, aku berpikir bahwa makhluk fantasi seperi Naga atau Phoenix itu ada. Setelah dewasa, aku baru sadar itu hanya cerita.


Namun, aku juga masih percaya, di dunia ini … ada makhluk aneh yang tidak kita ketahui. Tidak ada di dalam buku bukan berarti tidak ada dalam kenyataan. Jadi, setelah dewasa aku mencoba menemukan mereka.


Apakah aku begitu aneh?”


Menghadapi Adam yang tersenyum menawan, Jennifer merasa jantungnya berdegup lebih cepat. Suhu tubuhnya naik, merasa pemuda di depannya begitu menyilaukan.


“Kamu menemukan mereka?” tanya Jennifer dengan ekspresi terpesona.


“Kamu melihatnya sendiri. Aku beruntung menemukan Nix. Juga, aku hanya mencoba mencaritahu makhluk di sungai itu. Tidak menyangka dia benar-benar ada. Aku merasa cukup beruntung.”


“Apakah kamu … mencoba menangkap makhluk itu?”


“Ya.”


Adam menjawab singkat sambil megangguk tenang. Tidak mungkin dia akan membicarakan keberadaan System dan perburuan roh jahat untuk Spirit Bead. Jadi pemuda tampan itu langsung membuat kebohongan.


“Bukankah … Bukankah itu berbahaya?”


“Aku merasa cukup kuat.”


“Apakah kamu tidak percaya?”


Setelah mengatakan itu, Adam berdiri. Dia berjalan mendekati Jennifer. Merasa agak gugup, wanita itu juga berdiri. Ketika Adam semakin mendekat, tanpa sadar wanita itu berjalan mundur perlahan. Tiba-tiba, Jennifer terkejut ketika punggungnya menyentuh dinding.


Pada saat itu juga, Jennifer melihat tangan Adam meluncur cepat. Memukul dinding di kanan dan kiri dengan telapak tangan, membuatnya terkunci dan tidak bisa mengelak. Jennifer merasakan napasnya semakin sesak. Kemudian, kedua wajah mereka berdekatan.


“Aku tanya … Apakah kamu tidak percaya?”


Melihat wajahnya terpantul dalam mata indah Adam, Jennifer bergumam pelan.


“A-Aku percaya.”


Jennifer sedikit mendongak, melihat wajah Adam yang semakin dekat, wanita itu memejamkan matanya.


Klak!


Suara pintu terbuka terdengar di telinga. Sosok pelayan kembali memasuki ruangan sambil membawa hidangan utama dengan senyum ramah di wajahnya. Namun, senyum di wajah pelayan langsung berubah.


“M-Maafkan saya! Saya … saya tidak melihat apa-apa!”


Melihat pelayan itu, Jennifer tertegun. Entah kenapa, dia merasa agak marah dan jengkel kepadanya sekarang. Wanita itu melihat Adam mundur dan pura-pura batuk.


“Letakkan saja di atas meja. Lain kali, ketuk pintu sebelum masuk. Itu adalah etika.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Adam, gadis pelayan itu mengangguk seperti burung pelatuk.


“S-Saya mengerti, Bos!”


“Kamu boleh pergi.”


“B-Baik, Bos!”


Melihat gadis itu pergi meninggalkan ruangan, suasana dalam ruangan tampak agak canggung. Suara Jennifer yang pura-pura marah kemudian terdengar.


“A-Aku percaya kamu kuat. Aku bertanya bukan karena aku peduli. Aku hanya penasaran! Kamu harus ingat itu, Adam!”


“Iya.” Adam tersenyum santai.


“Hmph!” Jennifer mendengus dingin, pura-pura marah untuk menutupi rasa malunya.


“Bagaimana kalau makan terlebih dahulu?” tanya Adam lembut.


“Jika kamu memaksa, aku hanya bisa menurutinya.” Jennifer pura-pura dipaksa, tetapi akhirnya juga makan bersama dengan Adam.


Setelah keduanya menyelesaikan makanan di atas piring mereka, suasanan dalam ruangan tampak agak canggung. Kali ini, suara Adam yang terdengar.


“Apakah aku bisa meminta bantuanmu, Jennifer?” tanya Adam.


“A-Apa? Kalau itu makan malam atau semacamnya, aku tidak ada waktu.” Jennifer mengalihkan pandangannya.


“Aku ingin kamu menutup area sungai tempat anak-anak menghilang untuk sementara waktu. Selain karena tidak ingin dilihat ketika mencoba mencari, aku tidak ingin ada korban lain.


Apakah … itu bisa?”


“...”


Jennifer diam sebentar. Dia kemudian melirik Adam.


“Normalnya, itu tidak bisa dilakukan. Namun kamu bertemu orang yang tepat, aku bisa melakukannya untukmu. Tidak! Maksudku, demi keamanan masnyarakat sekitar!


T-Tapi kamu harus berhasil menangkap atau membunuh makhluk itu.”


“Terima kasih, Jennifer.” Adam tersenyum lembut.


“Hmph! Sudah aku bilang, aku tidak melakukannya untukmu. Satu minggu … apakah satu minggu cukup?”


“Itu lebih dari cukup,” jawab Adam.


Meski terlihat tenang, Adam sebenarnya sangat gugup dalam hatinya. Dia secara iseng menggoda wanita di depannya. Pemuda itu juga secara iseng bertanya tentang hal itu. Namun siapa sangka Jennifer benar-benar bisa melakukannya.


Itu berarti, Jennifer memiliki kerabat dengan pangkat cukup tinggi di kepolisian. Lagipula, hal semacam itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh pemula seperti wanita itu.


Adam merasa bingung harus senang atau sedih. Hanya saja, dia mempertanyakan sesuatu dalam hati.


Bukankah ini agak keterlaluan? Ini … bisa dibilang penyalahgunaan kekuasaan, kan?

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2