Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Bunuh Saja Aku


__ADS_3

Bella merasa kesialan selalu menimpa hidupnya semenjak dirinya menjadi remaja. Khususnya ketika gadis itu berada di kelas 10 SMA, pada saat kedua orang tuanya meninggal dunia.


Pada saat Bella masih kecil, dia hidup sangat bahagia. Selain cerdas sejak kecil, gadis itu tampak lebih ceria. Dia selalu mendapat nilai baik di sekolah dan membuat kedua orang tuanya bangga.


Keluarga mereka tidak terlalu kaya. Sederhana tetapi begitu hangat dan harmonis, mungkin begitulah cara paling cocok untuk menggambarkannya. Namun kehidupan itu mulai berubah ketika Bella beranjak SMP.


Kedua orang tuanya tahu Bella begitu cerdas, dan tidak ingin putri tersayang berakhir seperti mereka. Keduanya ingin Bella masuk ke universitas terbaik, mendapat gelar, lalu menjalani kehidupan yang lebih baik dibanding mereka.


Oleh karena itu, orang tua Bella mulai bekerja lebih keras untuk menyisihkan uang mereka untuk masa depan putrinya. Dari waktu itu, mereka mulai sibuk dan jarang memiliki waktu untuk Bella.


Bella yang cerdas tahu bahwa kedua orang tuanya berjuang untuknya. Meski agak sedih, dia juga tidak ingin mengecewakan mereka. Gadis itu mulai jarang berteman, bahkan mulai menutup diri. Dia terus fokus belajar, belajar, dan belajar. Benar-benar tidak ingin mengecewakan orang tuanya.


Ketika Bella berada di kelas 10 SMA, duka menimpanya. Orang tuanya yang sedang melakukan perjalanan bisnis perusahaan mengalami kecelakaan dan meninggal. Belum dianggap dewasa, paman dan bibinya akhirnya menjadi wali Bella.


Kedua orang itu baik pada Bella dan menghibur gadis itu pada awalnya. Ya, pada awalnya.


Setelah satu bulan, sikap mereka berubah total. Tidak hanya dingin, bahkan mereka memperlakukan Bella dengan kejam. Gadis itu diperlakukan lebih buruk daripada pembantu rumah tangga.


Bekerja mengurus rumah tanpa bayaran, bahkan makan makanan seadanya. Menghadapi semua itu, Bella masih menggertakkan gigi dan menahan diri. Pada saat usianya sudah dianggap dewasa, dia berniat mengambil warisan dari kedua orang tuanya lalu pergi.


Namun, ternyata apa yang ditinggalkan orang tuanya baik itu rumah kecil atau tabungan benar-benar telah dihabiskan oleh keluarga pamannya itu. Bella sangat marah, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Pada saat itu, Bella sudah bisa dianggap dewasa. Jika diibaratkan dengan buah, meski belum matang secara sempurna, bisa dibilang dirinya sudah layak dipanen. Gadis itu tumbuh menjadi sangat cantik dan mempesona.


Bella merasakan tatapan jahat dari paman dan putra pamannya dari waktu ke waktu. Sampai suatu malam, kedua orang itu hampir menajiskannya. Untung saja dirinya bisa melarikan diri lalu melapor polisi.


Akan tetapi dunia kembali berpaling darinya. Kedua orang itu sama sekali tidak dipenjara bahkan tidak dianggap bersalah. Mereka berkata bahwa Bella tidak memiliki bukti.


Setelah kejadian itu, kedua orang itu kelihatannya marah dan mencoba menargetkan Bella. Tentu saja gadis itu sadar. Pada akhirnya dia menggertakkan gigi. Karena sudah dewasa, dia melapor bahwa dirinya tidak perlu wali dan pergi meninggalkan rumah mengerikan itu.


Tidak memiliki uang bahkan hanya memiliki beberapa pakaian usang, gadis itu mulai mencari pekerjaan paruh waktu di sana sini. Bella masih ingat dengan jelas, itu terjadi ketika dirinya berada di kelas 12.


Tertekan karena harus segera menghadapi ujian, tidak memiliki tempat untuk tinggal, bahkan tidak bisa makan. Gadis itu pada akhirnya tinggal di sebuah kuil setiap malamnya. Di sebuah kuil kecil tanpa ada pengurusnya.


Pada siang hari, Bella akan mandi di toilet umum lalu pergi ke sekolah. Pulang sekolah dia akan mencoba mencari pekerjaan paruh waktu, tetapi akhirnya kembali dengan kecewa.

__ADS_1


Untuk makanan, Bella sampai mencuri sesembahan dari orang yang datang ke kuil. Dia minta maaf kepada Dewa yang entah ada atau tidaknya. Gadis itu hanya ingin menyambung hidupnya dengan cara yang lebih baik.


Hampir satu minggu Bella jalani dengan cara seperti itu. Sampai akhirnya, gadis itu benar-benar putus asa.


Pada saat di sekolah, dia sempat mendengar salah satu kelompok gadis membicarakan bagaimana cara menghasilkan banyak uang. Gadis-gadis dari keluarga biasa tetapi ingin memiliki barang-barang mahal, hanya ada dua cara.


Salah satunya mencari pekerjaan paruh waktu, bekerja keras dan mengumpulkan uang untuk membelinya. Sedangkan cara terakhir, sangat mudah dan cepat. Mencari pria paruh baya berhidung belang lalu menghabiskan satu malam dengannya.


Bella yang putus asa sempat berpikiran untuk mengikuti kelompok gadis nakal itu dan melakukannya. Namun dia ingat bagaimana orang tuanya membesarkannya, ingat bagaimana keduanya selalu menasihatinya untuk menjadi gadis baik.


Pada akhirnya, Bella tidak melakukannya dan kembali ke kuil kecil itu sambil menangis. Dia masih bisa bersekolah karena memiliki beasiswa. Jika tidak, gadis itu pasti sudah bingung harus melakukan apa lagi di hidupnya.


Bella mengingatnya dengan jelas.


Pada hari yang sama. Suatu sore seorang nenek yang biasanya memberi sesembahan berupa buah dan beberapa makanan kecil menghampirinya.


“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Setelah melewati malam yang diselimuti kegelapan, pasti ada cahaya.”


Bella masih mengingat jelas kalimat itu. Nenek itu kemudian mengajak Bella pergi ke rumahnya. Wanita itu memberi Bella semangkuk bubur hangat dan menyuruhnya tinggal. Awalnya gadis itu ragu, dia hampir tidak bisa mempercayai orang lain. Namun pada akhirnya, sekali lagi Bella mencoba percaya.


Wanita tua itu kemudian menyuruh Bella tinggal di rumahnya, menemani dan merawat wanita tua itu. Si Nenek itu hidup sendiri dan hidupnya juga tidak terlalu baik.


Suami nenek itu telah meninggal. Dua putra pergi ke kota lain, berkeluarga dan hidup di sana. Hampir tidak pernah menemuinya. Sedangkan putri bungsu dan cucu perempuannya meninggal. Menantu? Lelaki itu pergi setelah istrinya meninggal.


Apa yang wanita tua itu miliki adalah sebuah toko kecil sekaligus rumahnya. Dia bilang kepada Bella, jika tidak keberatan … gadis itu boleh tinggal dengannya.


Tentu saja Bella mau. Bahkan sangat mau melakukannya.


Selain hari-hari bersama kedua orang tuanya. Hari bersama nenek itu adalah hari terbaik dalam hidupnya.


Hidup Bella mulai stabil. Dia bersekolah seperti biasa. Sepulang sekolah, gadis itu akan menjaga toko dan merawat sang nenek. Kehidupan yang sederhana, tetapi membuatnya sangat bahagia.


Setiap awal bulan, sang nenek juga memberinya upah. Awalnya Bella menolak, tetapi sang nenek memaksanya. Tidak banyak, tapi gadis itu menyimpan dan menabungnya.


Tanpa terasa waktu berlalu. Bella lulus SMA dengan nilai terbaik dan mendapat rekomendasi untuk mengajukan beasiswa kuliah. Awalnya dia bingung apakah harus menerima atau tidak, tetapi si nenek menyuruh gadis itu menerimanya.

__ADS_1


Karena itu juga harapan mendiang ayah dan ibunya, akhirnya Bella setuju. Dia kuliah di universitas terdekat. Awalnya pulang setiap sore, tetapi karena dirinya terlihat lelah, si nenek menyuruhnya kembali di akhir pekan saja. Lagipula, universitas juga menyediakan asrama gratis untuk mahasiswa atau mahasiswi berprestasi.


Kehidupan seperti itu sangat membuat Bella bahagia dan bersyukur. Meski tidak memiliki banyak teman, bahkan hampir tidak ada, dia merasa masih memiliki si nenek. Namun … akhirnya si nenek juga meninggalkanya.


Ketika memasuki semester ke-5, Bella mendapat kabar dari tetangga bahwa nenek yang selama ini merawatnya akhirnya tutup usia. Gadis itu sangat sedih, apa yang membuatnya lebih sedih adalah sikap kedua putra si nenek.


Setelah beliau meninggal, mereka berdua datang. Jangankan bersedih, keduanya malah memperebutkan warisan.


Bella yang hanya orang luar akhirnya memutuskan untuk pergi. Meski sebenarnya, si nenek memberinya sedikit warisan. Namun Bella tidak ingin terlibat masalah dan menyerahkan warisan itu kepada kedua putra si nenek.


Bagi Bella, kebaikan nenek yang mau merawatnya dan memberinya tempat untuk berteduh sudah cukup.


Setelah itu, Bella melanjutkan hidupnya. Tinggal di asrama dan mendapat subsidi dari mahasiswi berprestasi, dia bisa bertahan. Ya, seharusnya begitu, tapi setelah setengah tahun bertahan … kenyataan kejam kembali menamparnya.


Bella tidak disukai oleh mahasiswi lainnya, bahkan kerap mendapat bullian. Sampai-sampai, gadis itu hanya bisa menggunakan kamar mandi umum lebih awal di pagi hari … atau sangat lambat di malam hari. Selain waktu itu, mahasiswi lain berpura-pura menggunakannya bahkan sengaja tidak memberinya tempat.


Ditambah lagi, Bella mulai menjadi target Albert. Dia hampir tertangkap basah dan mendapat masalah akhir-akhirnya. Dan hari ini … gadis itu menerima kabar bahwa keluarga pamannya kembali mencari dirinya.


Ya. Bukan untuk minta maaf, tetapi menjodohkan dirinya dengan lelaki paruh baya yang merupakan bos di tempat kerja pamannya.


Malam harinya, Bella mandi dengan suasana hati yang sangat berat. Pikiran negatif memenuhi kepalanya. Bahkan dia tidak fokus ketika memegang cermin tangannya dan menjatuhkannya.


Pada saat itu, Bella melihat sosok hitam menerobos. Karena tidak memakai kacamata miliknya, gadis itu tidak melihat dengan jelas.


Hanya saja … itu pasti seorang laki-laki.


Bella tahu apa yang orang itu lakukan. Dia sudah membayangkan kehidupan baik yang coba dia pertahankan akan hancur. Sekeras apapun dirinya mencoba, dunia sama sekali tidak berpihak kepadanya.


Maafkan Bella, ayah … ibu … nenek …


Dalam kesedihan yang begitu berat. Emosi negatif membuat dirinya benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.


Bella lelah … Bella ingin ikut kalian … tidak bisakah sekali ini saja Bella menjadi egois?


Tolong … tolong … tolong bunuh saja aku.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2