Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Pergi Ke Sekte Thunder Fang


__ADS_3

"Ya. Kamu yang pertama kali mengatakan itu kepadaku, Hikari."


Adam berkata dengan ekspresi santai. Melihat ke arah Hikari yang menatapnya dengan senyum mengejek, pemuda itu menambahkan.


"Kamu tampak lebih cantik ketika tersenyum daripada saat menangis. Jadi cobalah untuk lebih banyak tersenyum mulai sekarang."


Mendengar ucapan Adam, rona merah muncul di pipi Hikari.


"Kamu benar-benar pintar merayu wanita, Adam!"


Hikari hendak memukul lembut pergelangan kepala Adam, tetapi pergelangan tangannya langsung ditangkap.


Adam memegang pergelangan tangan Hikari dengan tangan kirinya. Tangan kanannya langsung menyentuh dagu wanita itu. Dia kemudian berbisik pelan.


"Bagaimana kalau melakukan one night stand, Hikari? Jika kamu mau ... aku akan menganggap semua hutang itu lunas."


Mendengar bisikan itu, Hikari tertegun. Dia menatap ke arah Adam dengan ekspresi penuh provokasi.


"Apakah kamu tidak keberatan melakukannya dengan wanita paruh baya sepertiku? Kamu akan rugi jika melakukannya, kan?"


Melihat Hikari yang main-main dengannya, Adam menyeringai.


"Aku yakin, dengan sikapmu, kamu hanya pernah melakukannya dengan lelaki pertama yang meninggalkanmu. Jadi menurutku ..."


Tangan kiri Adam melepaskan pergelangan tangan Hikari. Dia kemudian memeluk pinggang wanita itu.


"Menurutku itu sama sekali tidak merugikan. Bahkan, mungkin kamu tidak bisa bertahan dalam satu malam." Adam kemudian berbisik ke telinga Hikari. "Aku benar-benar kuat."


"..."


Wajah Hikari langsung menjadi merah seperti tomat. Dia langsung mendorong Adam pergi sembari berkata.


"Sudah cukup main-mainnya. Dari mana kamu belajar merayu seperti itu, dasar b-jingan nakal."


Mendengar ucapan Hikari, Adam berhenti memeluk wanita itu dan malah mencubit kedua sisi pipinya.


"Yui pasti tidak percaya kalau ibunya yang lembut bisa berkata kasar."


"Hmph!"


"Karena perasaanmu sudah lebih baik, bagaimana kalau kembali? Atau untuk merayakan hari baru yang lebih cerah, kita makan terlebih dahulu?"


"Tidak perlu. Aku sama sekali tidak lapar."


Kruyuuuk~


Adam menatap ke arah perut Hikari yang menggeram. Pemuda itu mengangkat sudut bibirnya ketika melihat wajah malu Hikari. Jika bukan karena penjelasan Yui, dia pasti mengira kalau wanita cantik itu masih berusia 25 atau 26 tahun.


"Kalau begitu kita makan dulu. Tidak ada protes, aku yang akan membayarnya."


Adam menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas. Segera pergi ke restoran untuk makan malam.


***


Sampai di depan sebuah restoran seafood, Adam dan Hikari hendak masuk.


Hikari tampak agak ragu, karena tahu tempat itu cukup terkenal di kalangan teman-teman kerjanya dulu. Bagi mereka, tempat itu mahal. Jadi biasanya mereka makan di sana satu bulan sekali, mungkin beberapa bulan sekali. Tentu saja, Hikari tidak ikut karena dia harus berhemat.

__ADS_1


Ketika agak ragu, tiba-tiba Adam menggandeng tangannya lalu mengajaknya masuk.


'Pemuda ini ...'


Hikari mengeluh dalam hati. Merasa kalau Adam memang tampak baik, bahkan juga kaya. Jadi wajar kalau banyak perempuan yang menyukainya.


Seolah menyadari sesuatu, Hikari tiba-tiba berkata.


"Bukankah kamu sudah makan malam? Sebelumnya kamu keluar dengan seseorang, kan?"


"Tenang saja. Aku masih bisa makan beberapa piring."


"En? Kamu benar-benar sudah makan? Makan di luar meski sudah memiliki pacar? Bukankah kamu berlebihan?"


Mendengar bisikan Hikari yang penuh dengan nada tidak senang, Adam menggeleng ringan.


"Sebelumnya aku makan dengan pria paruh baya kekar, bagaimana mungkin mereka cemburu?"


"Eh?"


"Urusan bisnis."


Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Adam mengajak Hikari untuk menemukan tempat duduk lalu mulai memesan.


Melihat Hikari yang ragu ketika melihat harganya, Adam langsung memesan untuknya.


Lobster, Kepiting, Kerang, Udang ...


Melihat berbagai hidangan di depannya, Hikari tampak kewalahan. Sekali lagi wanita itu memandang Adam dengan ekspresi rumit.


"Seharusnya kamu tidak begitu baik kepada setiap wanita, Adam."


Adam berkata santai. Bahkan dulu dia menghindari hubungan dengan para gadis karena dia ingin fokus untuk mengejar tujuannya. Setelah dianggap cukup sukses, sekarang pemuda itu merasa lebih bebas untuk mengejar kesenangan lain.


Tentu saja, tanpa melupakan tujuan utamanya.


"Kalau kamu tidak—"


"Sudahlah. Makan terlebih dahulu. Apakah aku perlu menyuapimu, Hikari?"


"Aku bukan anak kecil!"


Hikari mendengus dingin.


Melihat itu, Adam terkekeh. Mereka berdua kemudian makan bersama.


Selesai makan sampai kenyang, Adam pergi untuk membayar dan kembali dengan sebuah tas plastik. Sebelum Hikari mengatakan sesuatu, pemuda itu langsung berkata.


"Kamu pasti memikirkan Yui, kan? Bawakan ini untuknya, tidak perlu merasa bersalah."


"..."


Hikari memandang ke arah Adam dengan ekspresi rumit.


Mereka berdua kemudian masuk dalam mobil lalu pergi menuju rumah Hikari. Dalam perjalanan, wanita itu tiba-tiba berkata.


"Seharusnya kamu mengatakan itu tanpa perlu menghiburku. Mungkin sekarang aku sudah jatuh ke tanganmu dan pergi ke hotel bersamamu.

__ADS_1


Kalau sekarang, aku tetap harus menolak ajakanmu. Seperti yang kamu bilang, aku akan lebih menghargai diriku sendiri.


Sama seperti sebelumnya."


Mendengar itu, Adam tersenyum.


"Itu baru semangat."


Mendengar ucapan Adam, Hikari pun ikut tersenyum.


Mobil melaju dengan tenang. Waktu berlalu begitu saja, dan akhirnya mereka tiba di rumah Hikari.


Turun dari mobil, Hikari membungkuk sopan sembari berkata.


"Terima kasih atas bantuannya, Adam."


Pintu mobil tertutup. Mobil tersebut putar balik, lalu pergi.


Hikari yang melihat mobil di kejauhan hanya bisa menghela napas panjang. Dia tahu Adam mencoba untuk menghindari tetangga yang akan membicarakan hal buruk jika pemuda itu mampir. Namun Hikari sendiri tahu, pasti banyak yang tidak senang dan menyebarkan desas-desus karena dia diantar pulang dengan mobil mahal.


'Ya ... setidaknya itu lebih baik daripada berjalan sendiri dan menghadapi bahaya di jalanan.'


Pikir Hikari sambil mencoba menyikapi semuanya dengan hal positif.


***


Beberapa hari berlalu begitu saja, hari dimana Lei Fan dan Lei Na datang untuk membeli batch pil gizi telah tiba.


Dalam markas Departemen Misteri cabang Kota B, Adam duduk di ruang santai sambil menunggu kedatangan kedua orang itu.


Sementara itu, anggota lain menatap Adam dengan ekspresi rumit.


Dari sampel dan laporan yang Adam kirim, pihak atas telah memberi respon positif karena tugas dilakukan dengan sangat baik. Bahkan setiap anggota yang ikut serta dalam misi mendapatkan bonus tambahan.


Mereka merasa kalau Adam benar-benar memanfaatkan pekerjaan ini dengan sangat baik. Daripada menjadi anjing pemerintahan, mereka jelas tahu kalau hubungan Adam dan pihak terkait adalah hubungan simbiosis mutualisme.


Benar-benar saling menguntungkan!


Setelah jam makan siang, akhirnya Lei Fan dan Lei Na tiba.


Mereka menyelesaikan transaksi dengan Adam. Setelah itu berbincang singkat dengan pemuda itu. Namun mereka terkejut ketika mendengar jawaban positif dari Adam.


"Anda benar-benar mau pergi ke Sekte Thunder Fang bersama kami, Mr Owl?"


"Ya." Adam mengangguk ringan. "Tidak ada salahnya untuk berkunjung sesekali, kan?"


Mendengar Adam yang santai, Lei Fan dan Lei Na saling memandang. Mereka sangat bersemangat karena pemuda itu akhirnya mau datang ke Sekte Thunder Fang.


Selain berkunjung, keduanya sebenarnya ingin Adam datang untuk memeriksa kondisi tubuh guru sekaligus wali mereka. Tidak menyangka kalau sosok Mr Owl yang tertutup benar-benar mau datang.


"Jadi, kapan anda bisa pergi, Mr Owl?"


Mendengar pertanyaan Lei Na, Adam tersenyum.


"Karena aku sudah bersiap, kita bisa berangkat kapan saja."


Melihat ke arah Lei Fan dan Lei Na, Adam juga sedikit penasaran. Pemuda itu benar-benar ingin mengunjungi Sekte Thunder Fang, salah satu sekte misterius yang masih ada sampai sekarang.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2