
Sore di hari berikutnya.
Setelah kembali ke apartemen bersama dengan Bella, Adam terkejut ketika melihat gadis yang menghalangi jalannya.
“Ada apa, Bell?”
Melihat ekspresi bingung Adam, Bella menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Apa yang telah anda lakukan, Kak Adam?”
“Yang aku lakukan?” Adam memiringkan kepalanya. “Apakah ini tentang tadi malam? Aku minta maaf tidak ikut makan malam, aku sangat sibuk karena sesuatu. Jadi-”
“Ini masalah Albert dan bawahannya.”
“Hmmm? Albert yang mengganggumu itu. Memangnya apa yang telah terjadi kepadanya?”
Melihat bagaimana Adam berakting dengan baik, Bella tampak ragu. Namun setelah memikirkannya baik-baik, gadis itu akhirnya bisa keras kepala.
“Saya tahu apa yang terjadi kepada mereka karena anda. Mereka semua mengalami luka yang sama. Kaki kiri dan lima jari di tangan kanan patah.
Saya akan bertanya … apakah anda benar-benar tidak terlibat?”
“...”
Melihat Bella yang berusaha untuk keras kepala, tetapi air matanya bisa tumpah kapan saja, Adam menghela napas panjang. Tidak langsung menjawab, dia memikirkan kalimat yang cocok.
“Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa kepada mereka. Hanya saja, beberapa kenalan membantuku untuk mengurus mereka.”
“Kenapa???” tanya Bella dengan ekspresi bingung.
“Karena mereka mengganggu kekasihku.”
“...”
Mendengar jawaban Adam, Bella merasa terharu. Dia memeluk sosok pemuda tampan di depannya. Gadis itu kemudian terisak, tampak senang sekaligus sedih.
“Bagaimana jika ada yang tahu? Bagaimana jika anda ditangkap polisi? Bagaimana jika-”
“Tidak apa-apa. Black Mamba dan rekan-rekannya telah terbiasa dengan masalah seperti itu. Sama sekali tidak perlu dipusingkan. Pasti, 100% aman.”
“Benarkah?”
“Tentu saja benar.”
“Lalu … kenapa kamu berurusan dengan penjahat semacam itu?” tanya Bella dengan ekspresi bingung.
“Tidak semua kelompok atau geng itu jahat. Sedangkan urusan dengan Black Mamba, beberapa hal terjadi sehingga mereka berhutang budi kepadaku.
__ADS_1
Ngomong-ngomong … aku melupakan sesuatu. Kamu ganti pakaian dulu.”
Setelah mengatakan itu, Adam melepaskan Bella lalu pergi menuju ke ruang latihan.
Melihat Adam yang peduli, tetapi meninggalkannya begitu saja membuat Bella merasa campur aduk. Dia merasa pemuda tampan itu sangat mempedulikannya. Di sisi lain, gadis itu merasa kalau mungkin Adam sudah bosan dan merasa agak risih ketikan dirinya di dekatnya.
Tersenyum lembut dengan tatapan agak sedih, Bella pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Baru memasuki kamar, gadis itu terkejut melihat Adam juga masuk ke kamar lalu mengunci pintu.
Sebelum Bella sempat bereaksi, Adam menariknya ke dalam pelukan.
“Aku tahu kamu malu dan tidak ingin merepotkanku. Aku tahu kamu mencoba melakukan yang terbaik untukku. Namun, aku harus minta maaf, Bell … Aku egois.”
Mendengar itu, Bella merasa agak linglung. Pada saat itu, suara Adam kembali terdengar.
“Aku tidak ingin kamu hanya menjadi nyonya kecil. Aku tahu aku sendiri seperti binatang buas yang tidak mudah terpuaskan. Jadi … apakah kamu masih mau menjadi salah satu kekasihku, yang sebenarnya?”
“...”
Bella terkejut ketika melihat Adam membuka sebuah kotak di tangannya. Melihat dua cincin di dalamnya, gadis itu merasa cincin itu terlalu menyilaukan. Karena kehidupannya yang begitu menderita sebelum bertemu dengan Adam, dia sangat mudah puas dengan keadaan.
Gadis itu tidak berharap untuk menikah. Menghabiskan waktu sebagai nyonya kecil Adam sudah membuatnya sangat bahagia. Namun melihat cincin yang berkilau itu, Bella merasa lebih bahagia.
Bella bahkan tidak mendengar bagian salah satu dari banyak atau semacamnya. Yang ada di kepalanya hanya Adam yang ingin menghabiskan hidup bersamanya.
Memegang tangan Adam, Bella menjawab dengan wajah berlinang air mata.
“Bersedia. Saya sangat bersedia.”
“Kak Adam … bawa aku.”
Mendengar itu, Adam tidak bisa lagi menahan diri. Pada akhirnya, mereka berdua menghabiskan sore sampai malam hanya untuk berolahraga.
Sekitar pukul sembilan malam.
Melihat gadis cantik yang meringkuk dalam dekapannya, Adam tersenyum lembut. Melihat cincin di jari manis mereka, pemuda itu mengecup kening Bella sebelum berkata dengan lembut.
“Aku akan menjagamu.”
Bella yang sudah tertidur seperti anak kucing hanya terus meringkuk dalam dekapan Adam. Ekspresi lelah dan bahagia terlihat jelas di wajahnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar membuat Adam agak terkejut. Dengan ekspresi malas, dia turun dari ranjang lalu mengambil celana pendek dan kaos yang berantakan. Pemuda itu menutup tubuh Bella dengan selimut sebelum memakai pakaiannya lalu pergi membuka pintu.
Membuka pintu, sudut bibir Adam, berkedut ketika melihat seekor ayam yang berdiri di depan pintu dengan sebuah mangkok kosong di sampingnya. Menatap ke arahnya, apa yang dipikirkan si ayam terlihat jelas oleh Adam.
‘Tuan ayam ini tidak peduli apa yang kamu lakukan, Bos. Olahraga sambil berbaring, duduk, atau berdiri … Tuan ayam ini tidak peduli. Hanya saja …
__ADS_1
Bisakah kamu memberi Tuan Nix ini makan malam sebelum fokus berolahraga?’
Melihat ekspresi konyol sekaligus tatapan menghina di wajah Nix, Adam benar-benar tidak bisa berkata-kata.
...***...
Sementara itu, dalam ruang sebuah rumah mewah di distrik 4.
“Saya benar-benar tidak menyangka, setelah sepuluh tahun berlatih, guru akhirnya mengizinkan saya turun gunung untuk mendapatkan pengalaman.”
Seorang pria berusia 23 tahun duduk di kursi sofa. Dia memiliki fitur wajah tampan, kulit putih sehat, dan warna rambut serta mata hitam.
Pria itu memakai hanfu yang biasanya digunakan untuk sehari-hari berwarna abu-abu dengan garis hitam. Dia memakai sepatu khas Tao berwarna hitam. Sebuah pedang terlihat bersandar di samping sofa.
Di sisi lain, tampak tiga orang yang duduk menghadap pria itu. Mereka adalah sepasang paruh baya dan seorang gadis yang amat cantik. Jika Adam di sana, dia akan mengenali gadis itu.
Dia adalah Clara, salah satu korban yang selamat dari SMA Blue Rose.
“Kami juga turut senang mendengar anda bahagia, Tuan Lei.”
Sosok yang merupakan Ayah Clara memuji pria yang dipanggil Tuan Lei itu.
Mendengar ucapan Ayah Clara, Tuan Lei menggeleng ringan. Dia menyatukan tangan untuk memberi hormat.
“Selain guru yang diselamatkan, bahkan saya harus merepotkan keluarga kalian lagi. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan kalian.”
Setelah mengucapkan rasa terima kasih, Tuan Lei kemudian mengambil tiga lembar kertas jimat. Jimat yang Clara gunakan sebelumnya untuk menangkal roh jahat.
“Memang tidak banyak, tetapi itu sudah batas saya. Saya sendiri tidak memiliki banyak jimat, adi tolong mengerti.”
Mendengar itu, Ayah Clara buru-buru membalas.
“Sama sekali tidak. Itu sudah sangat banyak. Benar-benar membantu keluarga kami untuk mengatasi kesulitan. Anda sebenarnya tidak perlu repot seperti itu.”
“Tolong diterima, atau Guru mungkin akan menghukum murid ini ketika kembali.”
“Kalau begitu terima kasih banyak, Tuan Lei.”
Sementara orang tuanya memuji sosok Tuan Lei, Clara malah penasaran. Tidak bisa menahan diri lagi, dia akhirnya bertanya.
“Boleh saya menanyakan sesuatu, Tuan Lei?”
Mendengar ucapan Clara. Tuan Lei mengangguk.
“Silahkan, Nona Clara. Selama itu bukan rahasia penting, anda boleh bertanya.”
Mendengar itu, Clara lega. Dengan ekspresi serius, gadis itu akhirnya bertanya.
__ADS_1
“Apakah anda tahu, Spiritualist dari aliran mana yang lebih sering dan menggunakan pedang kayu sebagai senjata mereka?”
>> Bersambung.