Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Pasti Berat


__ADS_3

"Lama tidak berjumpa, Mrs Hikari."


Adam berkata lembut kepada wanita di depannya.


Wanita itu mengenakan kemeja putih dan rok hitam yang tampak sedikit kekecilan. Meski berusia tiga puluhan, dia memiliki sosok yang indah. Bahkan cukup mempesona.


Mungkin karena telah dewasa dan matang sepenuhnya, Mrs Hikari tampak lebih mempesona daripada putrinya, Yui.


Adam melirik ke arah tas di tangan Hikari. Melihat beberapa dokumen di sana, sepertinya dia telah menebak apa yang sedang terjadi.


"Naik. Saya akan mengantar anda pulang," ucap Adam.


Melihat ke arah Adam lalu ke mobil sport yang dibawa pemuda itu, Hikari tampak ragu. Setelah beberapa saat, dia berkata.


"Tidak perlu, Nak Adam. Aku bisa berjalan pulang sendiri."


Adam menatap ke arah Hikari yang curiga kepada dirinya. Menggelengkan kepalanya, pemuda itu membujuk.


"Ini sudah malam. Berbahaya bagi wanita secantik anda untuk berjalan sendiri. Lagipula, banyak penjahat yang berkeliaran di malam hari.


Meski ada hukum, anda pasti tahu yang saya maksud, Mrs Hikari."


"..."


Hikari memandang Adam dengan tatapan rumit. Pada akhirnya, wanita itu menghela napas panjang lalu mengangguk.


"Kalau begitu maaf sudah merepotkanmu, Nak Adam."


"Sama sekali tidak merepotkan."


Adam berkata santai. Dia kemudian membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Hikari untuk duduk. Namun ketika wanita itu hendak masuk ke mobil, suara tidak menyenangkan terdengar.


"Jadi begitu ... ternyata j-lang ini lebih suka yang muda. Ternyata selama ini kamu berpura-pura polos, padahal sama dengan para wanita murahan itu."


Adam dan Hikari menoleh ke sumber suara. Di sana tampak pria paruh baya gemuk yang memakai jas biru tua. Rambut pirangnya disisir ke belakang, dia memakai kacamata berbingkai emas. Bahkan juga jam tangan dan beberapa cincin emas.


"Jangan berbicara sembarangan, Mr Brandon. Nak Adam adalah—"


"Memangnya hubungan kami ada hubungannya denganmu, Pak Tua?"


Tanpa menunggu Hikari menjawab, Adam langsung menyela.


Brandon yang mendengar ucapan Adam terdiam sejenak. Urat nadi muncul di dahinya. Menggertakkan gigi dengan wajah merah, dia berseru.


"Siapa yang kamu bilang Pak Tua, Bocah!"


Adam melirik ke arah Brandon dengan tenang. Dia berkata dengan nada datar.


"Apakah kamu pendengaranmu memburuk karena usia? Aku bahkan telah berbicara cukup lantang, Pak Tua."


"Beraninya kamu menghinaku, Bocah! Apakah kamu tidak tahu siapa aku!"


Mengabaikan Brandon yang marah, Adam menoleh dan menatap Hikari.


"Siapa Pak Tua itu, Mrs Hikari?"

__ADS_1


"Dia adalah pengawas di PT tempat aku bekerja sebelumnya."


"Ya ... jadi dia yang menargetkan kamu sebelumnya."


Adam berkata dengan nada datar.


Pada saat Yui meminjam uang darinya, Adam awalnya agak bingung karena Hikari tidak mendapatkan bantuan sedikit pun dari pihak PT padahal itu adalah kecelakaan kerja.


Meski biasanya perusahaan agak kejam, paling tidak mereka juga masih sedikit membiayai perawatan. Ya, meski terkadang hanya 25%-50% dari biaya perawatan.


Namun karena Hikari tidak mendapatkan bantuan apapun, jelas ada yang sedang menargetkan dirinya.


Pada awalnya, Adam berpikir hal itu disebabkan oleh wanita lain yang cemburu kepada Hikari. Ternyata dia salah. Hikari memang tanpa sengaja mengalami kecelakaan, tetapi ada yang menggunakan kecelakaan itu untuk mendapatkan keuntungan dari wanita itu ... juga putrinya.


"Beraninya kamu mengabaikan aku, Bocah! Apakah sekarang kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan! Hah?!


Jangan kira hanya karena kamu menggunakan mobil sport, kamu sudah kaya!"


"..."


Adam melirik ke arah mobilnya sendiri. Meski bukan yang paling mahal, setidaknya itu juga mobil kelas atas. Pemuda itu sebenarnya juga mampu membeli Lamborghini Aventador dan ingin membelinya. Hanya saja, dia tidak kalah dengan egonya.


Adam memiliki prinsip untuk tidak membeli barang dengan harga lebih dari 10% tabungannya. Tampaknya cukup ekstrem, tetapi hal itu memang masih bisa diterapkan dengan kesungguhan hati. Dari awal dia berwirausaha, berbisnis, dan sampai sekarang. Adam sudah memiliki konsep seperti itu.


Adam tahu kalau banyak mobil yang lebih mahal dan memiliki penampilan lebih menawan, tapi dia hanya ingin membelinya ketika harganya memang sudah cocok dengan kantongnya.


Menjalani kehidupan kedua, Adam menjauhi kebiasaan membeli suatu barang dengan mencicil atau bahkan berhutang demi memenuhi gengsi. Karena dia tahu, terkadang, ada masa dimana kamu tidak harus peduli dengan gengsi karena gengsi tidak bisa dimakan.


Melihat mobil yang telah menemaninya cukup lama, Adam tersenyum.


Adam kemudian menatap ke arah Brandon. Melihat aksesoris di tubuhnya lalu ke arah mobilnya, yang meski lebih mewah, tetapi tidak terawat ... pemuda itu menggelengkan kepalanya.


Awalnya, Adam ingin membiarkan pria paruh baya gemuk itu. Namun ketika melihat Brandon mulai semakin sombong, dia hanya bisa memberinya sedikit pelajaran.


"Pak tua ..."


Adam menghampiri Brandon. Sebelum pria itu merespon, dia langsung mengambil kacamata miliknya.


"Mrs Hikari tidak ingin kamu mendekatinya, jadi, tidak bisakah kamu menjauh?"


"Memangnya apa urusanmu! Kamu tidak ada hubungannya dengan ini!"


Teriakan Brandon membuat banyak pejalan kaki melihat ke arah keduanya. Bahkan banyak yang mulai saling berbisik.


"Aku mungkin tidak ada hubungannya dengan ini. Namun jika kamu menggunakan cara menjijikkan untuk mendekati atau memaksa wanita itu, aku akan ikut campur.


Aku tidak peduli jika kamu mencoba mengacaukan orang lain, tetapi bukan orang-orang yang dekat denganku. Tentu, kamu boleh mencobanya ..."


Brandon melihat sepasang mata biru yang menatapnya dengan ekspresi tak acuh.


Adam menatap ke arah Brandon. Akibat pengalamannya dalam ruang hitam dan sinkronisasi dari skill warisan leluhurnya, tempramen pemuda itu cukup banyak berubah. Tidak seperti sebelumnya ketika dia agak ragu dan mengasihani seseorang. Pemuda itu menganggap kalau nyawa manusia dan binatang tidak memiliki banyak perbedaan.


Niat membunuh langsung diarahkan ke Brandon, membuat pria paruh baya yang selalu dimanjakan dalam hidupnya itu gemetar ketakutan. Dia merasa kalau tatapan pemuda itu seperti tatapan binatang buas yang mengamati mangsanya.


"Kamu boleh mencobanya jika tidak takut mati ..."

__ADS_1


Adam berbisik pelan, tetapi Brandon langsung mundur beberapa langkah dan jatuh duduk ke jalanan karena tersandung. Dia menatap Adam dengan ekspresi horor.


Pemuda itu mengulurkan tangan untuk mengembalikan kacamata yang dia ambil sebelumnya, tetapi Brandon tiba-tiba berteriak.


"J-Jangan mendekat!"


Entah bagaimana, di mata Brandon, Adam tidak sedang mengembalikan kacamata, tetapi seperti sedang mengarahkan senjata tajam ke arahnya.


Melihat reaksi berlebihan itu, Adam tahu kalau niat membunuhnya tampaknya telah berkembang terlalu banyak dan agak tidak terkendali.


Melemparkan kacamata kembali ke pria paruh baya itu, Adam berbalik pergi. Sama sekali tidak berniat untuk meladeni pria paruh baya itu.


Brandon menjerit ketakutan ketika melihat kacamata yang dilempar ringan.


Banyak pejalan kaki mulai berbisik sambil menunjuk Brandon.


"Benar-benar menjijikkan, bukan hanya sikapnya menjijikkan, bahkan dia juga pengecut."


"Ewww ... Dia bahkan mengompol di depan umum."


"Ngomong-ngomong, siapa pemuda tadi? Apakah anggota geng besar atau semacamnya?"


"Mungkin seperti itu. Meski tidak diarahkan kepadaku, aku merasa kalau pemuda itu ganas."


"Ya. Lebih baik tidak main-main dengan orang sepertinya."


"..."


Sementara banyak orang yang membicarakan Brandon, Adam telah pergi bersama dengan Hikari.


Ketika mengemudi, Hikari terus menatap Adam dengan ekspresi berterima kasih, tetapi juga agak takut, dan malu.


"Ada apa, Mrs Hikari?"


Masih fokus ke jalanan, Adam bertanya santai.


"Tidak ... bukan apa-apa. Apakah kamu anggota geng atau semacamnya, Nak Adam?"


"Apakah anda takut, Mrs Hikari? Tenang saja, saya tidak ada hubungannya dengan mereka."


"Omong-omong ..."


"Iya?"


"Kenapa kamu mau repot-repot membantuku, Nak Adam? Kita tidak begitu akrab, dan—"


"Karena kita agak mirip."


"Eh?"


Hikari yang disela oleh Adam terkejut. Sebelum dia bertanya dimana mereka mirip, pemuda itu kembali berkata.


"Melakukan segalanya sendirian, pasti berat, kan? Jadi ..."


Adam melirik ke arah Hikari sambil tersenyum lembut.

__ADS_1


"Setidaknya izinkan aku sedikit membantu."


>> Bersambung.


__ADS_2