Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Fukurou


__ADS_3

"Langsung tenang?"


Bu Nancy dan suaminya tampak terkejut. Bukan hanya mereka, bahkan Carole yang mengikuti Adam juga merasa takjub.


Perempuan itu awalnya hanyalah wanita kantoran biasa, belum pernah melihat h aneh dan ajaib seperti itu secara langsung. Bahkan sampai sekarang dia menganggap dirinya sendiri normal. Itu juga karena Carole tak pernah sadarkan diri ketika menggunakan kemampuannya.


Carole sendiri memiliki toleransi alkohol yang rendah dan mudah mabuk. Bisa dibilang, kekuatan yang cukup luar biasa itu ... sama sekali tidak bisa dia gunakan sesuka hati.


Jika Adam tahu, dia pasti sudah mengeluh kepada James karena memberinya rekan yang tidak bisa diandalkan.


Bukan hanya Spirit Beast yang menjadi beban, bahkan rekan manusia juga beban.


Pemuda itu pasti akan mengeluh tentang keberuntungannya dalam mendapatkan team. Dia pasti memilih bermain solo, 1 vs everyone daripada membawa team yang sama sekali tidak bisa membantu dirinya.


"Tolong bantu saya melepaskan ikatannya, Pak. Bu Nancy ... tolong ambilkan segelas air putih."


"B-Baik!" jawab keduanya dengan gugup.


Beberapa saat kemudian, seluruh ikatan dibuka dan Bu Nancy telah kembali membawa segelas air. Gadis yang berbaring di ranjang hanya menatap langit-langit dengan ekspresi kosong, sudah tidak lagi meronta dan mengutuk semua yang mendekati dirinya.


"A-Apakah putri saya baik-baik saja, Mr Owl? Apakah dia kerasukan? Apakah jiwanya menghilang? Apakah—"


"Mohon untuk tetap tenang, Bu Nancy. Semuanya sama sekali tidak melenceng dan akan baik-baik saja."


"Benarkah???" tanya wanita paruh baya itu dengan ekspresi gugup.


"Benar." Adam mengangguk. "Untuk tahap selanjutnya, ini cukup rahasia. Jadi bisakah anda dan suami anda menunggu di luar?"


"Itu ..." Bu Nancy tampak ragu.


"Tenang saja. Saya bisa menjamin untuk tidak melakukan hal-hal buruk kepada pasien.


Kami agen khusus dan bertindak secara profesional."


Bu Nancy memandang suaminya. Melihat pria paruh baya itu mengangguk, dia mengangguk sembari menjawab.


"Baik, Mr Owl. Tolong rawat putri saya!"


"Sudah tugas saya, Bu Nancy."


Melihat keduanya hendak pergi, Adam menambahkan.


"Tolong jaga pintu, Nona Carole."


"B-Baik!" ucap Carole sebelum keluar dari ruangan.


Kelihatannya wanita itu juga percaya bahwa Adam akan melakukan ritual pengusiran roh atau semacamnya. Padahal ... itu sangat berbeda daripada yang mereka bayangkan.


Adam membantu sosok gadis yang berbaring itu duduk. Dia kemudian bertanya dengan nada lembut.


"Namamu siapa, Gadis cantik?"


"Nasya ..." ucap gadis itu dengan suara lirih.


Adam kemudian mengambil segelas air putih lalu membantu Nasya minum. Beberapa saat kemudian, dia kembali bertanya.


"Ada masalah apa? Kenapa kamu terlihat begitu tertekan sampai berpikir tidak perlu lagi hidup di dunia ini?"


"Ronn ... b-jingan itu ..." gumam Nasya dengan ekspresi penuh dengan kebencian.


"Ron? Siapa Ron?" tanya Adam.

__ADS_1


"Pacar—" Nasya menggeleng ringan. "Bukan. B-jingan itu adalah mantan saya, Pak."


"Aku tidak setua itu. Kamu bisa memanggilku Kak Owl. Ngomong-ngomong ... kamu punya saudara atau saudari?"


"Tidak." Nasya menggelengkan kepalanya.


"Lalu kamu bisa menganggapku sebagai satu." Adam berkata lembut. "Ada apa? Apa yang terjadi padamu dan Ron? Kalau kamu tidak keberatan ... kamu bisa bercerita denganku."


"..."


Nasya menatap sosok pria dengan setelan hitam dan topeng putih di depannya. Meski sosok itu adalah orang asing, dia merasa sosok Adam bisa dipercaya dan bisa diandalkan.


Hal itu terjadi karena keadaan bawah sadarnya. Nasya sedang memikirkan sosok yang bisa dia andalkan karena tidak bisa menghadapi semuanya sendiri. Ditambah dengan efek Suzaku's Cry ... gadis itu merasa aman dan nyaman di sekitar Adam.


"Jika tidak ingin bercerita, tidak perlu dipaksakan."


Adam mengambil langkah mundur. Tidak terburu-buru sama sekali.


"Tidak, Kak Owl ... Aku ingin bercerita agar lega."


"Kalau begitu silahkan," ucap Adam lembut.


"Sebenarnya aku dan Ronn adalah teman sejak SMP. Bukan hanya teman, kami bahkan sudah berpacaran sejak kelas 8 SMP."


"..."


Okay ... ini yang dilakukan anak zaman sekarang?


Adam mengeluh dalam hati, tetapi tetap mendengar cerita Nasya. Suara gadis itu kembali terdengar.


"Kami berjanji untuk terus ... terus saling mencintai sampai menikah, punya anak, cucu, dan mati."


"..."


Pikir Adam dalam diam.


"Sekarang saya berada di kelas 11 SMA, jadi kami sudah bersama 3 tahun kan?"


"Benar."


Adam mengangguk ringan. Agak terkejut karena hubungan cinta monyet semacam itu bisa berjalan begitu lama.


"Itu semua berubah ketika Ronn mulai berkumpul dengan gerombolan anak nakal di SMA saya. Dia mulai sering mengeluh kalau penampilanku kurang, sikapku, dan banyak hal lain.


Dia juga mulai meminta hal-hal aneh. Namun aku menolaknya. Menurut ajaran ayah dan ibu, cinta itu tidak hanya sekadar pelampiasan hasrat.


Bergandengan tangan, pelukan, mungkin cium pipi atau kening ... aku masih bisa mentolerir itu. Namun tidak lebih!


Hal itu membuat Ronn marah. Dia berkata pasangan sekarang sama sekali tidak masalah jika melakukan hal itu. Mungkin karena perbedaan pendapat, kami bertengkar.


Aku pikir kami bisa saling memahami, tetapi aku salah ..."


"En?" Adam memiringkan kepalanya. "Ada apa?"


"Selama aku menjaga jarak dengan lelaki lain, ternyata orang itu malah mengejar perempuan lain di sana-sini!


Salah satu sahabat saya mengirim foto, foto di mana Ronn jalan bersama teman sekelasku. Bukan hanya jalan, mereka terlihat mesra ... bahkan berciuman bibir dengan bibir!


Aku juga mendengar mereka pernah pergi ke hotel."


"Kamu percaya?" tanya Adam.

__ADS_1


"Tentu awalnya aku tidak percaya. Namun setelah melihat dengan mata kepala sendiri ... aku dipaksa percaya!


Aku memperjuangkan semuanya demi masa depan kami, tetapi dia malah seperti itu! Hidupku seperti sudah tidak berarti, aku—"


"Berniat bunuh diri hanya karena patah hati?"


"..."


Melihat Nasya hanya diam, Adam menggelengkan kepalanya.


"Kamu bodoh, Nasya."


"Apakah yang aku lakukan salah?"


"Sangat salah!" Adam mengangguk ringan.


"Ronn itu sama sekali bukan segalanya untukmu. Kamu harus sadar bahwa dirimu masih memiliki keluarga, teman, mungkin sahabat.


Dunia tidak akan berakhir hanya karena kamu kehilangan satu lelaki. Sebaliknya, kamu harus bersyukur telah melihat sikap buruknya. Sehingga ... kamu sama sekali tidak perlu menikah dengan orang yang salah.


Apakah aku benar?"


Mendengar penjelasan Adam, ekspresi Nasya menjadi lebih cerah.


"Kamu benar, Kak Owl."


"Kamu dipengaruhi oleh roh jahat dan aku telah membersihkannya. Sekarang sudah tidak apa-apa, kan? Kamu merasa bodoh karena mencoba bunuh diri, kan?"


"Iya, Kak Owl."


Mendengar itu, Adam mengangguk lembut.


"Apa yang perlu kamu lakukan sekarang adalah memperbaiki diri sendiri. Kamu memang sudah baik, tetapi kamu masih bisa menjadi lebih baik lagi.


Lebih banyak berolahraga dan belajar agak fisikmu semakin menawan dan prestasi kamu cemerlang. Pada saat itu, orang tua dan teman-teman akan bangga kepadamu.


Selain itu, Ronn pasti akan menyesal meminta kamu putus. Namun saat itu kamu akan sadar ... yang mengejar kamu bukan hanya Ronn saja. Jadi abaikan saja dia dan rayuan tidak berguna itu.


Semua kedok terbongkar, jadi tinggalkan!"


"Apakah ... Aku bisa menjadi sebaik itu?"


Nasya tampak ragu.


Adam mengelus kepala gadis cantik itu lalu memberinya semangat.


"Tentu saja, kamu bisa. Kamu cantik dan terlahir di keluarga berada. Apa yang perlu kamu lakukan hanya memperbaiki sikap dan terus melangkah maju ...


Dunia yang luas menanti kamu!"


Mendengar ucapan Adam, mata Nasya penuh dengan bintang. Tampak lebih cerah dan bersemangat.


"Terima kasih, Kak Owl ... Tidak. Fukurou-sama!"


"..."


En? Fukurou? Itu burung hantu, kan?


Gadis kecil ... kamu tidak akan menjadi fan yang gila dan berbahaya, kan?


Melihat bagaimana Nasya memandangnya dengan ekspresi penuh harap dan pemujaan, sudut bibir Adam berkedut.

__ADS_1


Ini ... tidak serius, kan?


>> Bersambung.


__ADS_2