
Suasana langsung menjadi hening dan khidmat, tidak sampai suara lain tiba-tiba terdengar.
Ring! Ring! Ring!
Menoleh ke sumber suara, yang lainnya melihat Renald yang menunduk malu. Pemuda itu mengangguk ringan dengan tatapan minta maaf sebelum mengangkat teleponnya.
“Halo?”
“Lihat jam berapa ini? Kenapa kamu belum pulang bagaimana jika ada orang yang menculikmu?”
“Aku adalah seorang polisi, Mama! Tidak mungkin orang ingin menculik polisi, kan?”
“Oh … Jadi kamu mulai mencoba membantah? Wanita ini bilang, pulang … Se-ka-rang!”
“...”
Beep … beep … beep …
Melihat ekspresi kosong di wajah Renald, Adam dan tiga orang lainnya hampir tertawa.
Renald sendiri merasa sangat malu dimarahi oleh ibunya lewah telepon. Belum lagi caranya memanggil, setelah dipikir … dia merasa itu cukup memalukan. Pemuda itu tampak agak bingung sekarang. Jika tidak kembali, ibunya pasti marah. Jika kembali, mungkin dia akan kehilangan kesempatan untuk mendapat ‘teman’ yang selama ini dia inginkan.
“Ibumu menyuruhmu pulang, jadi pulanglah.”
Mendengar ucapan Adam, Renald agak terkejut dan merasa agak kecewa.
“Saya …” Renald menggeleng ringan sebelum berkata. “Kalau begitu saya kembali terlebih dulu, Kak Adam … semuanya.”
Renald bangkit dari kursinya lalu beranjak pergi. Ketika baru beberapa langkah, suara Adam kembali terdengar di telinganya.
“Jika ada kesempatan, lain kali kita berkumpul lagi.”
“Senior Adam benar, kita bahkan belum sempat bersulang. Lain kali minta izin kepada ibumu untuk kembali lebih lambat, Renald.” Shawn menambahkan.
“Aku tidak sopan sebelumnya, aku harap kamu tidak ambil hati,” ucap Brock.
“Aku rasa kita bisa membicarakan banyak hal lain kali.” Setelah mengatakan itu, Randy terkikik dengan cara yang agak unik.
“...”
Mendengar itu, Renald yang sebelumnya tidak memiliki teman merasakan sensasi hangat dalam hatinya. Dia merasa ingin menangis karena terharu, tetapi bisa menahannya. Pemuda itu menoleh, menatap Adam dan tiga lainnya sebelum berkata.
“Kalau begitu … lain kali saya yang akan membayar semua tagihannya.”
Melihat senyum di wajah Renald, Adam dan tiga orang lainnya melambai santai.
Setelah Renald pergi, Adam mendengar Shawn yang mulai bernostalgia, padahal mereka baru wisuda tahun lalu. Hanya saja, Adam merasa cukup terkejut dengan perubahan penampilan Shawn dalam satu tahun.
__ADS_1
Satu jam kemudian.
“Setelah ini kamu mau pergi ke mana, Senior Adam? Apakah pulang?”
Memikirkan Bella dan Jennifer yang ada di apartemen, Adam menggeleng ringan.
“Mungkin berkendara sebentar untuk mencari udara segar.”
“Apakah kamu tidak sibuk, Senior Adam?”
“Tidak terlalu. Memangnya ada apa, Shawn?”
“Bagaimana kalau mampir ke HQ kami?” tanya Shawn.
“HQ? Jangan bilang … kamu membuat kelompok sendiri?”
“Ya … bisa dibilang begitu. Meski hanya kelompok kecil,” ucap Shawn.
“Kalau begitu aku akan mampir.”
Mendengar jawaban Adam, Shawn tampak senang. Bukan hanya Shawn, bahkan Brock dan Randy juga ikut senang. Setelah membayar, mereka kemudian menuju ke tempat parkir.
“Kamu bisa membeli mobil sendiri setelah satu tahun. Anda luar biasa, Senior Adam.”
Mengatakan itu, Shawn kemudian pergi menuju ke mobil Chevrolet Camaro SS yang terparkir tidak jauh dari sana. Sedangkan Brock dan Randy pergi ke arah Jeep Wrangler 4.0 YJ keluaran tahun 1996 berwarna hitam.
Awalnya Shawn tampak terkejut. Meski sedikit lebih murah daripada miliknya, jelas pemuda itu tahu bahwa Adam mengandalkan keringatnya sendiri untuk membeli mobil. Tidak seperti dirinya yang diberi oleh ayahnya.
Hal itu membuat Shawn merasa agak malu sekaligus kagum. Melihat Adam yang mengangguk ringan, dia kemudian menyalakan mobil, Menginjak pedal gas, mereka akhirnya pergi dari bar Golden Grass menuju HQ.
...***
...
Setelah mengikuti mobil Shawn, Adam akhirnya sampai di sebuah rumah bergaya mediterania klasik yang cukup luas.
Melihat rumah itu, sudut bibir Adam berkedut.
“Bukankah dia berkata akan membawaku ke HQ? Jangan bilang yang disebut HQ adalah rumahnya sendiri.”
Setelah memarkir mobil, Adam keluar dari mobil lalu pergi menghampiri Shawn.
Sementara itu, Shawn yang melihat ekspresi aneh di wajah Adam menggaruk belakang kepalanya. Dia berkata dengan ekspresi agak menyesal.
“Ya … ini HQ kami. Awalnya ini adalah rumah mendiang kakek dan nenekku. Namun karena ayah yang seharusnya mewarisi tempat ini sudah memiliki rumah sendiri, akhirnya bangunan ini tidak digunakan.”
“...”
__ADS_1
Mendengar ucapan Shawn, Adam menghela napas panjang. Pemuda itu merasa cukup iri. Dibandingkan dengan dirinya sendiri yang harus banting tulang untuk keperluannya sendiri, orang itu benar-benar tinggal menerima hasil jadi.
“Apa nama kelompok yang kamu buat? Berapa banyak anggotanya?” tanya Adam dengan santai sambil mengikuti Shawn untuk masuk ke dalam rumah.
“Wings of Freedom.” Shawn berkata dengan nada cukup bangga. “Karena masih berdiri kurang dari setengah tahun, baru ada 56 anggota termasuk aku, Brock, dan Randy.”
“Nama yang bagus,” ucap Adam sambil mengangguk.
“Sebenarnya ini agak lucu, Senior Adam. Awalnya aku ingin membuat kelompok seperti organisasi bawah tanah yang kuat dan keren, tetapi malah berakhir sebaliknya.”
“Maksudmu?” tanya Adam bingung.
“Daripada geng yang berbahaya, Wings of Freedom malah seperti organisasi masyarakat.”
Bukan Shawn, kali ini Brock yang sedari tadi diam yang menjawabnya.
“Menyingkirkan pengaruh geng di daerah sekitar, membantu masyarakat sekitar untuk melakukan sesuatu, uang yang didapat dari masyarakat sebagian besar digunakan untuk membangun atau memperbaiki fasilitas umum … dan sebagainya.” Randy menambahkan.
“...”
Mendengar itu, Adam sedikit terkejut. Tidak menyangka masih ada yang mencoba membuat organisasi baik semacam itu sekarang.
“Selamat malam, Kak Shawn! Kak Brock! Kak Ran!”
Masuk ke dalam rumah, beberapa pemuda yang ada di sana langsung menyambut mereka dengan hangat dan antusias. Melihat itu membuat Adam merasa kalau organisasi ini menarik.
Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan santai. Namun di sana tidak ada banyak orang beberapa ruang lain. Bahkan sepi.
“Di sini biasanya aku dan beberapa pengurus kelompok ini bersantai, Senior Adam. Kamu boleh duduk di mana saja.”
Setelah mendapat sambutan dari Shawn, Adam memilih salah satu sofa untuk duduk santai. Dia kemudian mengamati ruangan dengan ekspresi agak penasaran.
“Apakah kamu tahu, Senior Adam? Sebenarnya aku membuat ini karena terinspirasi darimu,” ucap Shawn.
“Kamu bercanda?” Adam terkekeh.
“Tidak. Melihatmu selalu fokus pada tujuanmu tetapi sama sekali tidak mengabaikan orang-orang di sekitar yang membutuhkan bantuanmu, aku merasa kamu seperti pahlawan tanpa nama
Waktu itu … aku berpikir. Jika ada sekelompok orang yang saling mendukung dan membantu orang-orang yang membutuhkan, itu pasti sangat baik. Jadi, akhirnya aku membuat kelompok ini.”
“...”
Adam terdiam, tidak menyangka tindakannya yang sederhana masih bisa menginspirasi orang lain. Daripada bangga, dia malah merasa agak malu. Lagipula, pemuda itu merasa dirinya bukan orang baik dan masih banyak kesalahan. Merasa sangat tidak pantas!
Pada saat itu, suara Shawn kembali terdengar.
“Karena awalnya kelompok ini dibuat denganmu sebagai contoh, apakah … kamu mau menggantikanku menjadi ketua dari Wings of Freedom, Senior Adam?”
__ADS_1
>> Bersambung.