
Halooow akak... maaf ya telat up lagi 🙏🙏
Ada kesibukan dengan anak sulung nih di long week end. 😃😃
tapi aku bakalan balas dengan crazy up kok nanti🤩🤩
dan mohon maaf untuk akak othor yang belum sempet ku feedback ya, nanti pasti meluncur.😍😍
oke, yuuk cuss ....❤️❤️
____________
Sofi keluar kamar dengan senyum mengembang cerah ceria hingga membuat ayah mertuanya terheran-heran.
“Selamat pagi, semuanya.” Sapa Sofi begitu sampai di ruang makan dan sang pelayan mempersiapkan kursi untuknya.
Tuan Alatas hanya melihat sekilas tak berniat menjawab sapaan menantunya.
“Pagi.” Sahut Ramzi pendek.
“Sayang, biar aku tuangkan teh untukmu.” Sofi meraih teko kecil di dekatnya.
Ramzi sontak terkaget-kaget kayak baru kena sengatan listrik tiba-tiba dipanggil sayang. Namun tentu saja ia menyembunyikannya. Apalagi Tuan Alatas. Laki-laki tua itu melihat tajam pada menantunya, tapi Sofi pura-pura tak melihatnya, ia memberikan cangkir keramik pada suaminya setelah menuang tehnya.
“Silakan, suamiku.” Ucap Sofi dengan senyum terbaiknya.
Apa maunya perempuan tak tau diri ini? Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba dia bersikap baik pada Ramzi? Aku yakin dia hanya pura-pura saja. Da pasti punya maksud tersembunyi. Dasar perempuan licik! Dia pikir bisa mengelabuhiku dengan drama murahannya itu? Huh! Tidak semudah itu, Esperanza! Batin Tuan Alatas geram.
Ramzi menyesap teh hangat yang disodorkan Sofi.
“Terima kasih.” Ucap Ramzi setelah tenggorokan dan kerongkongannya terasa hangat.
“Sama-sama, suamiku.”
Drama yang dimainkan Sofi membuat Tuan Alatas menyudahi sarapannya lebih awal. Ia pergi meninggalkan meja makan begitu saja, seulas senyuman samar terukir di bibir Sofi.
Pasti si tua Bangka itu enek banget liat dramaku barusan. Sama kok, Pak tua. Aku juga enek banget harus pura-pura baik di depan kalian, tapi ini semua demi membuat perhitungan dengan kalian yang sudah berani menghilangkan janinku.
Sofi senyum-senyum sendiri sambil memainkan pisau dan garpunya hingga tak menyadari Ramzi yang sudah selesai sarapan dan bangkit.
“Sayang, kau sudah selesai?” Tanya Sofi melihat pada suaminya.
“Ya.”
Sofi ikut bangkit, ia berdiri di depan Ramzi dekat sekali. Lantas tangannya membetulkan letak dasi Ramzi seraya mengusap jas suminya dan melancarkan jurus rayuan pulau kelapanya.
“Apa kau tak mau menemaniku sarapan dulu? Duduklah sebentar, aku belum selesai.” Pinta Sofi setengah merajuk manja.
Ramzi menghela nafas. Jujur, situasi seperti ini yang ia kehendaki sedari dulu ketika ia mengahrapkan Sofi menjadi istrinya. Namun amarah yang belum sepenhnya pupus dari hatinya membuat Ramzi menekan semua keinginannya itu.
“Aku harus segera ke kantor, karena ada meeting pagi ini.” Sahut Ramzi tanpa melihat pada wajah istrinya.
Sofi berakting lagi dengan memasang wajah cemberutnya.
“Kita kan sudah sepakat untuk memulai lagi semuanya dari awal?” Desak Sofi.
Ramzi terdiam.
Tuan Alatas muncul lagi dengan kepala pelayan yang membawakan tas kerjanya dan berhenti karena melihat Ramzi da Sofi.
“Ram, apa kau akan kembali memakai piyamamu dan masuk ke kamar tidur atau pergi ke kantor menemui clientmu?” Tuan Alatas melihat tajam pada putranya dan bergegas melanjutkan langkahnya.
Ramzi memalingkan wajahnya melihat pada istrinya.
“Aku harus pergi sekarang.” Ucap Ramzi bergegas menyusul langkah ayahnya.
Tak pelak hal itu membuat Sofi jengkel.
Dasar tua Bangka! Aku tau kau tak menyukaiku, tapi lihat saja, akan aku buat kau bertekuk lutut memohon belas kasihanku! Awas saja kau! Geram Sofi dalam hati lantas memutar langkahnya kembali masuk ke kamar dan melupakan begitu saja sarapannya yang belum usai.
__________
Via baru saja selesai video call dengan Mirza yang sudah berada di Jakarta dengan diantar Om Jaka dan Denaya kemarin sore ke stasiun kota. Perasaannya hampa tia-tiba. Baru saja ditinggal sebentar, hatinya sudah gundah gulana seperti ini. Bagaimana jika ditinggal Mirza berlayar nanti? Meski dia sudah mengalaminya berulang kali dari waktu pertama menikah sejak lima tahun lalu, tapi rasanya kepergian Mirza kali ini akan meninggalkan rasa berbeda di hati Via. Betapa tidak, sekarang dirinya tinggal di rumah kontrakan jauh dari orang tua dan saudara-saudaranya, meski ada Yanti yang berjanji akan selalu siap membatunya tapi tetap saja tak akan sama rasanya dengan tinggal di rumah sendiri. Apalagi sekarang dia sedang berbadan dua.
Ah, tiba-tiba Via jadi mellow. Ia mengusap-usap perutnya dengan hati tak karuan. Sedari pagi tadi masih bergelung di tempat tidur belum sempat sarapan atau minum susu seperti pesan Mirza sebelum pergi. –“jika tak berselera makan, paling tdak minumlah susu ibu hamil, agak calon anak kita ini tak kelaparan, sayang.” Begitu pesan Mirza sebelum pergi kemarin sore.
Dengan malas Via beranjak keluar kamar menuju dapur. Sampai disana dia juga bingung mau ngapain. Via hanya berdiri memandangi isi kulkas yang isinya tak seberapa. Sebetulnya Yanti pernah bilang kalau pagi selalu ada tukang sayur yang lewat di kompleks perumahan mereka dan lumayan lengkap jualannya. Tapi ini sudah terlalu siang, tukang sayur pun pasti sudah lewat sedari tadi.
Tomat, wortel, syrup, keju dan paprika. Hanya ada itu di dalam kulkas Via.
__ADS_1
“Masa iya aku masak sayur wortel diaduk sama syrup dan parutan keju?” Keluh Via masam.
Namun ketika ia hendak menutup kembali pintu kulkasnya karena tak punya ide, tiba-tiba pandangannya bertumbuk pada bungkusan plastik putih di rak bagian bawah.
“Oh iya!” Mata Via berbinar seraya meraih bungkusan itu dan membukanya dengan senyum lebar.
“Hai, apa kabar kau onde-onde mini yang bulat sempurna dengan wijen ganjil?” Via menyapa kawanan onde-onde itu seperti sedang berbicara dengan teman lama yang sudah sekian purnama tak bertemu. “Maafkan aku yang telah mengabaikanmu, ya…”
Via membawa one-onde itu, ia menyalakan kompor, menaruh wajan dan mengisi miyak goreng ke dalamnya secukupnya. Setalah minyak goreng itu panas, Via mencemplungkan onde-onde satu per satu ke dalamnya. Ya, Via lagi ngangetin sekumpulan onde-onde yang tentu saja sudah keras tak empuk lagi bentuknya.
Setelah selesai semua, Via membawanya ke meja makan dan memandangi onde-onde kesayangannya itu dengan rasa haru. “Kau menyelamatkanku, terima kasih ya.” Via berbicara pada satu onde-onde mini yang diraihnya.
Cup! aem…, aem ….
Via memberikan kecupan terima kasih sebelum memasukkkan si onde-onde mini itu ke dalam mulutnya. Satu persatu sekawanan onde-onde mulai berkurang dari piring di hadapan Via sampai kemudian terdengar suara ketukan pintu dari depan.
Tok … tok .. tok …
Via segera beranjak. Pasti itu Yanti, pikir Via.
“Assalamualaikum.” Terdengar suara salam yang mebuat Via mempercepat angkahnya.
“Wa alikumsalam.” Jawab Via meraih handle pintu.
“Olive ...!” Pekik Yana seraya merentangkan kedua tangannya begitu pintu terbuka.
“Yana?” Via tak percaya dengan sosok yang tau-tau muncul di depannya.
“Iya, ini aku!” Yana meyakinkan sambil memeluk sahabatnya itu.
“Kok nggak ngasih tau dulu sih mau dateng, Yan? Kebiasaan deh, kamu!” Kesal Via sambil melerai pelukannya.
“Ye, orang aku tadi jalan ke sini udah nelpon kamu dulu tapi nggak diangkat kok.”
“Mas sih?” Tanya Via. “Oh iya, hpku di kamar ku silent, aku barusan dari dapur, hehe…”
“Hu, dasar Ovile!”
“Ekhem!” Sebuah deheman mambuat dua sahabat yang lagi lepas kangen itu tersadar kalau ada orang lain disitu.
“Eh, maaf cintaku, sampe lupa kalo ada kamu.” Yana cengengesan pada Khusni yang sadari tadi dikacangin.
“Cintaku? Ih, sok uwu kamu, nikah aja belum!” Cibir Via.
“Ya ampun, darling? Panggilan apa lagi itu? Dadar guling maksudnya?” Via makin gatel kupingnya mendengar panggilan aneh-aneh dari dua sijoli itu.
“Ya elah, protes aja! Suruh masuk kek, ini tamu kehormatan kamu suruh berdiri terus disini aja nih? Kamu pikir aku ini kayak Nyonya Meener yang kuat berdiri sejak tahun 1957?” Omel Yana kesal pula.
“1952, darling.” Ralat Khusni.
“Oh, masa sih? Udah ganti ya? Perasaan tahun1957 deh, cintaku.”
“Iya, udah ganti, daling.”
“Ah, beda-beda tipis ini nggak papa lah cintaku.”
“Iya aja deh buat kamu mah, darling.”
“Hedewh! Jijik banget sih denger kalian, mau muntah aku!” Via memutar bola matanya sambil menjulurkan lidahnya seolah mau muntah beneran.
Bukannya marah, Yana sama Khusni malah terkekeh melihat Via yang nampak kesel banget itu. Via lantas mendahului mereka masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Eh, kok kayaknya ini bau masakan ya? Kamu barusan bikin apaan, Olive? Baunya harum gini?” Yana mengendus-endus sisa aroma one-onde mini yang mnyeruak sampai ke ruang tamu. Perasaan Via dari tadi biasa aja nggak nyium apa-apa, tapi Yana bisa tajam gitu ya indera penciumannya?
“Boro-boro masak, orang baru aja bangun kok.” Sahut Via.
“Masa? Tadi katanya baru dari dapur?” Yana tak percaya lantas dia menuju dapur.
Kebiasaan banget kelakuna si Yana emang suka seenaknya sendiri.
“Tunangan kamu emang idungnya udah kayak alat tes kehamilan ya, sensitif banget!” Ucap Via pada Khusni.
Husni malah terkekeh mendengarnya.
“Cintaku, kamu mau dibikinin minum apa?” Teriak Yana dari dapur.
“Apa aja, darling!” Balas Khusni berteriak pula.
“Nggak usah teriak bisa nggak sih? Kayak di hutan aja!” Semprot Via kesal pada Khusni.
__ADS_1
“Maaf deh, hehe….” Khusni malah cengengesan. “Oh iya, Mirza mana? Kok nggak kelihatan?” Tanya Khusni kemudian.
“Lagi ke Jakarta medical chck up.”
“Berarti mau berlayar lagi?”
“Iya.”
“Ciye, bakal ditinggal lagi dong?” seloroh Khusni.
Via merengut, tak lama Yana datang dengan nampan berisi 3 gelas minuman dingin dan sepiring onde-onde mini sisa Via barusan.
“Minuman datang…” Ujar Yana sambil meletakkan gelas-gelas itu dia atas meja. “Ini ada one-one masih angetan, kamu bilang nggak masak apa-apa? Takut diminta ya? Pelit banget sih kamu!” Yana ngomel-ngomel sambil mencomot beberapa biji ode-onde mini itu.
“Beneran nggak masak kok, itu beli pas kapan hari itu terus aku masukin kulkas dan aku goreng lagi.” Via menjelaskan dan tak terima kalo dirinya dibilang pelit.
“Tapi masih enak kok, nyam… nyam ..nyam …” Yana mengunyah onde-onde itu.
“Kamu ini apa aja pasti dibilang enak, dasar perut karung!” Cibir Via.
“Kamu mau, cintaku? Aaaa, buka mulutnya.” Yana nyuekin Via malah nyuapin Khusni. “Enak kan, cintaku?”
“Enak lah, kalo kamu yang ngasih apa aja juga pasti enak kok rasanya, darling.” Puji Khusni.
“Kalian ini romantisnya over dosis deh. Ih, amit-amit jabang bayi…” Via mengusap-usap perutnya. “Jangan latian mereka ya, Nak. Mereka itu lebay.” Ucap Via berbicara pada perutnya.
Kontan saja Yana dan Khusni melotot dan saling pandang.
“Olive, kamu lagi hamil?” Tanya Yana tak bisa menyembunyikan rasa penasaranya.
Via mengangguk dengan senyuman.
“Beneran?” Yana meyakinkan.
“Iya.”
“Huaaah, selamat ya Oliveku, sayang…” Yana merentangkan kembali kedua tangannya dan memeluk sahabatnya itu erat. “Akhirnya ya setelah sekian lama?” Ucap Yana ikut bahagia. “Popaye mana? Kok dari tadi aku nggak liat dia, aku mau kasih dia ucapan selamat juga.”
“Lagi di Jakarta, katanya agi medical check up karena mau berlayar lagi.” Khusni menjelaskan.
“Beneran?” Tanya Yana lagi meyakinkan.
“Iya, emang udah waktunya kok, Yan.”
“Ya udah, nggak papa. Janagn sedih, ini semua kan demi kamu dan calon anak kalian nanti.” Hibur Yana tulus.
Via mengangguk, ia bersyukur juga punya sahabat seperti Yana, meski suka seenaknya sendiri tapi selalu menyemangati dan mendukunya dalam situasi apapun.
“Aih, pasti lucu banget ya sebentar lagi aku pasti bakalan dipanggil tante sama anak kamu.” Yana ikutan mengelus perut Via yang masih rata. “Wah, kok aku bisa ketinggalan berita bahagia ini sih? Aku seneng banget! Tapi kenapa kamu nggak bilang dari waktu kita ketemu di kantorku? Berapa bulan sekarang usia kandungannya, Liv?” cerocos Yana bertubi-tubi.
“Mungkin baru masuk 6 minggu, Yan. Aku juga belum USG.”
“Kok bisa? Cepet lah periksa, biar kamu tau perkembangannya. Ini anak pertama kamu lho, kamu harus memastikan segalanya berjalan dengan baik. Jangan sampe nanti kenapa-napa kamu telat mengetahuinya.” Omel Yana udah kayak emak-emak aja.
“Iya Yan, iya. Nanti aku juga bakalan peiksa kok. Bawel ah!”
“Ye, ini semua kan demi kebaikan kamu dan calon bayi kamu, Olive.” Yana tak terima dikatain bawel. “Coba aja kalo aku yang hamil, pasti aku bakalan USG tiap bulan. Aih, aku kok jadi kepingin hamil juga. Pasti seru ya Liv, kalo kita hamil samaan, terus lahirannya samaan, anak-anak kita juga tumbuh dan besar bersama. Wah seru banget kayaknya!” Yana terus nyerocos heboh sendiri.
Via dan Khusni cuman snyum-senyum mendengar ocehan Yana yang lagi ngayal itu.
“Cintaku, kapan kamu akan menghamiliku? Aku udah nggak sabar pingin hamil anak kita.” Ucap Yana kemudian pada Khusni.
“Eh, menghamili kamu?” Khusni jadi kaget ditodong pertanyaan begitu.
“Iya, cepetan hamilin aku dong. Biar aku bisa hamil samaan sama Olive.” Yana bersemangat sekali.
“Yana! Mana boleh? Nikah dulu baru hamil!” Seru Via sambil melotot memperingatkan sahabatya itu.
“Kalo aku sih kapan aja oke, darling. Sekarang juga ayok aja, aku siap mengahamilimu.”
PLAK!
“Dasar somplak!”
_______
Nah lo! Si Yana belum juga nikah tiba-tiba mau hamil aja 🤣🤣🤭
Ikuti terus kelanjutannya ya Kak ☺️
__ADS_1
Dan jangan lupa tinggalkan jejak yaa😍😍
luv u all🤗🤗🤗😘😘😘