
Week end ini sesuai rencana Mirza bakal nengok empangnya yang lagi panen bandeng, ehh empangnya Haji Barkah maksudnya. Kan belum resmi jadi milik Mirza ya? Empang seluas 20 hektar itu baru akan berpindah kepemilikan setelah selesai panen akhir pekan ini. Sayangnya Via tak bisa turut serta karena harus menghadiri acara gathering tahunan perusahaan Bu Elin. Meski pun Mirza dan Via masih merasa lelah setelah acara syukuran di panti, tapi mereka tetap pergi juga. Via diantar Mirza ke kantornya selepas sarapan. Dari sana dia pergi dengan bus pariwisata menuju sebuah hotel di Bogor. Sedangkan Mirza akan berangkat bersama Om kesayangannya yang paling keren sedunia Om Om, siapa lagi kalo bukan Om Jaka Sutrisna.
Sebelum pulang, Mirza sengaja mampir ke mini market untuk membeli perbekalan beberapa botol minuman dingin dan camilan mengingat perjalanannya cukup jauh. Tak lupa pula mengisi bahan bakar mobilnya. Sebelum mobilnya sampai di depan rumah, dari kejauhan ia melihat seseorang sudah berdiri menunggunya di luar pagar rumahnya yang terkunci.
NGIIK…
Mirza menghentikan mobilnya dan keluar menemui orang yang telah menunggunya itu.
“Om Jaka?” Mirza agak surprise demi melihat penampilan Om semata wayangnya yang tampil lain dari biasanya itu.
“Iye gue. Dari mana aja lu lama banget? Gue ampe lumutan nungguin. Udah pintu pagar lu dikunci lagi, dari tadi gue berdiri disini udah kayak tiang bendera 17 agustusan tau kagak lu?” Omel Om Jaka kesal pada Mirza yang memindai penampilannya dari ujung kepala sampai ujung jempol kakinya. “Kenapa sih lu? Kayak belum pernah liat orang ganteng aja?” Om Jaka membetulkan letak kaca mata hitamnya yang nggak kenapa-napa, dia cuman pengen gaya aja gitu, biar cool. Ehe! 😆
“Om Jaka mau kemana, kok penampilannya gitu amat?”
“Ye kenapa emang? Kalah keren lu sama gue?” Kali ini Om Jaka membenahi letak topi petnya yang juga nggak kenapa-napa. Cuman biar makin cool juga, ehe! 🤭 “Udah cepetan lu siap-siap, gue udah garing dari tadi nunggun elu tau!”
“Lah, Om Jaka nggak bawa mobil?” Mirza celingukan mencari mobil Om Jaka.
“Kagak, gue tadi dianterin sama karyawan toko biar elu kagak bolak balik jeput gue.”
“Ya udah yok, langsung aja! Nih kunci mobilnya.” Mirza memberikan kunci mobilnya pada Om Jaka.
“Jadi gue nih yang nyetir?” Om Jaka mau nggak terima tapi Mirza cuek berjalan mendahului. “Dasar ponakan nggak ada akhlak.” Gerutu Om Jaka seraya mulai melajukan mobilnya.
Matahari terus merambat naik, mereka sudah keluar dari kota. Perjalanan menuju empang kali ini lebih santai bagi Mirza karena sudah tak lagi penasaran dengan keberadaan empang Haji Barkah, tak seperti perjalanan pertamanya beberapa waktu lalu. Lagu lawas Pance Pondaag versi akustiknya Felix mengalun menemani perjalanan mereka. Mirza meraih kantong camilan yang ia simpan di jok tengah. Samar-samar Om Jaka ikut bersenandung.
🎵Tiap malam engkau ku tinggal pergi
Bukan, bukannya aku sengaja
Demi kau dan si bua hati
terpaksa aku harus begini🎶
🎵Tiap hari hingga malam berakhir
Ku tahu kau tersiksa karena diriku
sejujurnya aku katakan
tiada satu pengganti dirimu ... 🎶
Mirza melirik Omnya sambil menikmati keripik kentengnya. “Matching banget emang sama penampilannya. Vintage!” Gumam Mirza disertai senyuman.
Om Jaka menoleh. “Gue maksudnya?”
“Denaya nggak marah Om Jaka peke pakean kayak gitu?” Mirza balik nanya disela-sela mengunyah camilannya.
“Justru Dena yang nyuruh gue pake pakean kayak gini. Biar kagak ada yang naksir katanya.”
“Palingan juga ikan bandeng yang naksir!” Seloroh Mirza membuka botol minuman dinginnya.
“Jangan salah lu, kalo pas panen empang kayak gini banyak ciwi-ciwi cantik disana. Biasanya anaknya para penyewa empang yang kerja di luar kota pada pulang. Anaknya Pak Parto, Pak Karto, Pak Warto, Pak Narto semuanya pada kumpul. Dan mereka itu seksi, semok, bahenol asoy malehoy-lehoy tau kagak lu?” cerocos Om Jaka.
“Terus Denaya cemburu gitu? Takut suaminya ditaksir sama ciwi-ciwi itu?” Mirza meletakkan botol minumannya begitu saja di atas dash board.
“Ya kan Dena sadar kalo lakinya tamvan menawan, makanya gue disuruh pake baju yang nyeleneh gini biar tuh ciwi pada ilfil sama gue. Eh, taunya gue malah makin cakep gini yak?” Om Jaka merapikan syal yang melilit di lehernya.
“No comment ah.” Mirza melengos membuang pandangannya.
Mobil yang dikemudikan Om Jaka kini sudah memasuki perkampungan padat dekat pantai. Mirza menegakkan posisinya yang agak melorot. “Hoaam ….” MIrza menutup mulutnya yang menguap.
“Ngantuk lu? Kita udah nyampe nih, jangan tidur.” Om Jaka mengambil jalan belok kiri dan berhenti di depan sebuah rumah yang cukup bagus.
Pak Narto pemilik rumah itu yang merupakan orang kepercayaan Haji Barkah langsung keluar menyambut begitu mengetahui Om Jaka datang.
“Mari, mari Mas Jaka …” Ajaknya ramah mengiring Om Jaka dan Mirza masuk rumah.
“Kita langsung ke empang aja, Pak. Ponakan gue Mirza mau liat panennya nih.” Tunjuk Om Jaka pada Mirza yang berdiri d sampingnya, Mirza hanya tersenyum.
“O gitu? Ya sudah kalo gitu tunggu sebentar, saya ambil wadah dulu biar nanti sekalian untuk bawa ikannya ya?” Sahut Pak Narto. “Jum! Jumilah!” Pak Narto berseru memanggil seseorang.
Seorang perempuan muda dengan mengenakan short pant dan kaos tanpa lengan yang super ketat hingga dua bukit lancipnya menonjol seolah ingin menantang dunia keluar dengan wajah kesal. “Ada apa sh, Pak? Teriak-teriak mulu?” Ketusnya.
“Ambilin drum Jum, buat wadah ikan.” Pinta Pak Narto pada perempuan muda yang dipanggil JUmilah itu.
“Drum?” Tanyanya heran. “Ambil aja sendiri deh Pak, aku lagi repot dandan nih.”Sahut si Jumilah yang tengan memegang bedak dan lipstrik di tangannya padahal dempulnya udah tebel banget dan bibirnya udah semerah cabe kematengan.
“Disuruh kok malah nyuruh lagi sih? Cepetan, ambilin! Mas Jaka sama ponakannya mau bawa ikan pulang soalnya.”
Jumilah melihata pada Om Jaka dan Mirza yang berdiri tak jauh dari ayahnya. Senyuaman sok manis lantas segera terbit di wajahnya. “Eeh, ada Mas Jaka? Aku kira siapa, soalnya pangling aku.” Ucap Jumilah dengan gaya centilnya. “Sebentar ya Mas, aku ambilin dulu drumnya. Mas Jaka jangan kemana-mana, tungguin Jum disini.” Jumilah segera ngibrit masuk rumah.
“Nah, yang kayak gini-gini yang kudu dihindari, Za.” Bisik Om Jaka pada Mirza.
“Anak Pak Narto kayaknya suka sama Om Jaka tuh.” Ledek Mirza berbisik pula.
“Ini baru satu, ntar di empang masih ada serenceng lagi.”
“Ini Pak drumnya.” Jumilah muncul dengan membawa drum berukuran kecil. “Eh, tunggu.” Cegah Jumilah pada ayahnya yang sudah akan pergi.
“Apa. Jum?” Tanya Pak Narto.
“Aku ikut Bapak ya ke empangnya naik mobil Mas Jaka.” Jumilah melirik genit pada Om Jaka.
“Bukannya kamu naik motor?”
“Nggak jadi, Pak. Nanti kulit aku yang mulus dan glowing ini bisa gosong terkena sengatan sinar ultraviolet.”
“Mas Jaka, apa nggak keberatan kalo Jumilah ikut naik mobil?” Tanya Pak Narto pada Om Jaka.
“Emh ….”
__ADS_1
“Ya jelas nggak lah, Pak.” Sela Mirza “Yok, kita pergi sekarang aja.”
“Wah, Mas baik banget deh. Mas keponakannya Mas Jaka ya? Siapa namanya? Sama gantengnya kayak Mas Jaka ya?” Jumilah mengulurkan tangan pada Mirza dengan kerlingan genit.
Enak aja! Gantengan juga aku kemana-mana kali daripada si Om somplak ini! Batin Mirza nggak terima.
“Jangan ganjen kamu!” Pak Narto menepak tangan Jumilah kesal. “Masuk sana, nggak usah kecentilan! Maaf ya Mas Jaka, Mas Mirza.” Pak Narto jadi nggak enakan.
Perjalan ke empang sebenarnya tak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit namun terasa lama bagi Mirza dan Om Jaka karena Jumilah terus berdendang sepanjang jalan dengan suaranya yang serak-serak sember membuat kuping tetiba terasa gatal. Jumilah cuek aja nyanyi meski Pak Narto udah ngomel-ngomel, seolah dia sengaja ingin tebar pesona sama kedua laki-laki yang duduk di jok depan itu.
🎶Urip sun lagi ketiban lintang
Gemerlap cahya sinare terang
Dasar nasib sun lagi kaberan
Di demeni ning juragan empang🎵
🎵Rasa seneng sun ora kejagan🎶
Duwe demenan macem sampean
Uwonge boral bli perhitungan
Ngupai sewakan bandeng se empang🎵
🎶Duh kakang kula demen sampean
Demene kula sampe bleg-blegan
Yen ora teka sanja sedina
Kekatonen bae kaya ning mata🎵
🎶Yen bener kakang arep temenan
Nglamar kula nggo pendamping sampean
Ngomongo karo mimi lan mama
Lamaran sampean pasti ditrima🎵🎶
(eaa…. Sawerannya mana….?😂😂 Lyrik from google. Terjemahannya cari sendiri-sendiri yak… wkwkwk…😆😆🤭🤭🤭)
❤️❤️❤️❤️❤️
Via dan semua karyawan perusahann Bu Elin sebentar lagi mencapai tempat tujuan. Bus melaju melewati jalan menanjak. Pemandangan di kiri kanan khas pegunungan membuat mata Via yang masih merasakan kantuk menjadi melek. Bus pariwisata yang ia tumpangi baru saja keluar dari tol. Ia menggeliat perlahan coba meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Cila yang duduk disampingnya yang sedang terlelap merasa terusik dengan kegiatan Via.
“Hemm, udah nyampe mana nih?” Cila juga menggeliat.
“Udah masuk Bogor kayaknya.” Sahut Via. Lalu tiba-tiba ia merasakan mual di perutnya, Via meringis memegangi perutnya.
“Kenapa, Vi?” Tanya Cila yang menyadari Via tengah meringis kesakitan.
“Perut kamu sakit? Aku kayaknya bawa minyak kayu putih deh.” Cila memeriksa tas selmpangnya. “Atau kamu mau muntah?” Cila jadi panik.
Via menggeleng pelan. “Cuman sedikit mual.”
“Ini, pakai ini.” Cila memberikan botol kayu putih kecil miliknya.
Via mengoleskannya sedikit ke bagian perutnya. Cila yang biasaya selalu julid bareng Milen dan Vony sudah berubah jadi perhatian dan baik pada Via karena tau Via sedang hamil. Cila menata bantal dan meyetel jok Via agar bisa lebih santai.
“Kamu istrirahat aja, nanti aku bangunin kalo kamu ketiduran.” Ucap Cila.
“Maksih ya, Cil.”
Cila tersenyum kemudian menyetel juga AC agar tak terlalu dingin buat Via.
Bus terus melaju, perjalan yang semula cukup lancar kini harus tersendat karena jalanan mulai macet, hal lumrah yang terjadi kala week end di kota Bogor. Cila sedikit melongok ke depan untuk melihat kendaraan yang kini mulai merambat pelan. “Syukur deh jalan lagi.” Lirih Cila kembali ke posisinya semula.
Via nampak terpejam, namun raut wajahnya kentara menahan sakit. Cila meraba kening Via yang terasa sangat dingin dengan keringat mengembun di pelipisnya.
“Astaga! Kamu kayaknya masuk angindeh.” Cila kembali panik. “Sabar ya Vi, bentar lagi nyampe nih kayaknya.”
Benar saja, bus yang mereka tumpangi lajunya melambat dan terasa berbelok memasuki sebuah halaman luas. GREEN GARDEN HOTEL, tulisan besar terpampang di depan sebuah bangunan megah itu.
“Vi, kita udah nyampe. Bentar ya aku cari bantuan dulu.” Ucap Cila.
“Eh Cil, kanapa Via?” Tanya Milen yang duduk di seberang rupanya dia baru bangun tidur, mukanya lecek banget.
“Masuk angin dia. Gue mau cari pertolongan.”
“Pertolongan gimana maksudnya? Tinggal ajak turun aja, kita kan langsung check in biar dia langsung istirahat di kamar.”
“Lo gak liat dia lemes banget gitu?” Cila menunjuk Via dengan matanya.
"Apaan sih ribut-ribut?” Omel Vony yang juga baru bangun tidur di sebelah Milen.
“Aha! Gue tau siapa yang bisa bantuin Via!” Cetus Milen mengacuhkan pertanyaan Vony.
CIIT….
NGIIK….
Bus berhenti dengan sempurna setelah berputar-putar di tempat parkir.
“Lo tunggun Via disini ya?” Milen segera bangkit menyeruak ke depan bergeges turun.
“Vi, kamu masih kuat jalan nggak?” Tanya Cila.
Via mengerjapkan kadua matanya. “Udah nyampe hotel ya?” tanyanya lemah.
“Udah. Kita turun yok. Barang-barang kamu biar dibawain Vony. Aku papah kamu aja ya, takut jatuh soalnya kamu lemes banget gitu.”
__ADS_1
“Hem, maaf ya jadi ngerepotin.”
“Nggak papa. Von! Ambilin koper Via tuh di atas, bawain masuk ke hotel!” Perintah Cila pada Vony yang lagi ngucek-ngucek cucian, ehh lagi ngucek-ngucek mata maksudnya.
“Kok gue sih?” Protes Vony.
“Elo nggak liat si Via sakit?”
“Ya suruh aja orang lain! Kanapa musti gue? Emangnya gue kuli angkut?” Vony merapikan riasannya cuek.
“Elo tuh ya bener-bener nggak ada setia kawannya sama temen!” Omel Cila kesal.
“Suruh aja tuh sopir bisnya atawa kernetnya! Enak aja lo nyuruh-nyuruh gue!” Vony beranjak karena semua penumpang sudah turun.
“Kenapa Via, Cil?” Tanya seseorangyang yang datang dari pintu belakang mengejutkan ketiganya.
“Eh, Pak Bos Danar….” Vony menoleh nggak jadi pergi.
“Kayaknya masuk angin Pak, dari tadi perutnya mual. Terus badannya juga dingin banget.” Terang Cila.
“Digendong aja Pak, kayaknya Via lemas banget deh.” Usul Milen yang baru nyampe menyusul Danar.
Danar mendekat, Cila menyisih memberikan ruang untuk Danar.
“Vi, kamu masih kuat jalan?” Tanya Danar.
Via mengangguk.
“Ayok, aku bantu.” Danar membantu Via bangkit namun kemudian ia roboh kembali ke tempat duduknya.
“Astaga, dia pingsan kayaknya Pak!” Pekik Milen.
Tanpa buang waktu Danar segera mengakat tubuh lemas Via ke dalam gendongannya.
“Lewat depan aja Pak, biar cepet. Biar kopernya Via saya yang bawa.” Ucap Vony sok perhatian seraya mengambil koper kecil milik Via.
“Nggak usah!” Serobot Cila. “Biar gue aja, lagian gue yang satu kamar sama Via!”
“Ish, ya nggak papa kali biar gue aja!” Vony tak mau kalah.
“Minggir lo! Pak Bos mau lewat tuh. Dasar sok peratian, sok baik lo! Tadi aja lo nggak mau gue mintain tolong bat bawain koper Via!” Cila menumpahkan kejengkelannya pada Vony yang kontan gelagapan.
“T-tadi kan … gue ….”
“Mau sampe kapan kalian berdebat?” Ucap Danar dingin. “MInggir!” Danar menatap tajam pada Vony yang mengahlangi jalannya.
“Sukurin lo!” Cila mencibir lantas segera mengekor langkah Danar keluar dari bis.
Pemandangan langka soal Pak Bos yang menggendong salah satu karyawannya turun dari bus itu menyita perhatian para karyawan lain yang sedang chek in di loby. Danar tak memepedulikan tatapan kepo para pegawainya. Meski sesekali lirikan tajam ia alamatkan pada beberapa pasang mata yang langsung tertunduk seketika saat sorot mata sang Pak Bos menyorot mereka.
“Pak, kita mau kemana? Kan aku belum check in?” Cila mengejar langkah lebar Danar menuju lift.
Untung pintu lift segera terbuka begitu Danar menekan angka lnatai kamarnya.
“Pak Bos, maaf ….”
“Janagn banyak tanya!” Potong Danar yang seketika membuat Cila bungkam, cila pun akhirnya memang memilih diam, mereka hanya bertiga di dalam lift. Via nampak terpejam dalam gendongan Danar. Danar menatap lurus ke depan. Cila tak berani lagi buka suara.
Ting!
Pintu lift terbuka. Danar segera keluar diikuti Cila yang terbirit-birit menyuusl langkah Pak Bosnya yang kemudian berhenti di sebuah kamar.
“Tolong ambilin key card di saku saya.” Ucap Danar.
“Ha? Apa pak?” Cila bingung.
“ambilin key card di saku saya!” ulang Danar lebih tegas.
“Key card Pak Bos? Di saku?” Ulang Cila dengan raut makin bingung.
“Ambil nih di skau kemeja!” Danar menunjuk saku kemaja dengan matanya.
Dengan agak gemetar Cila mengambil key card itu, parasaan canggung dan sungkan tentu saja dirasakannya.
“Cepetan buka!” Perintah Danar.
Cilia segera menurut. Pintu terbuka Danar segera masuk dan membaringkan Via di atas kasur.
“Kamu tolong tungguin Via ya, nggak usah ikut acara pembukaan nggak papa. Aku sgera hubungi dokter.” Danar mulai sibuk dengan ponselnya dan ke luar menuju balkon kamar untuk berbicara di telpon.
Cila mengamati ruangan kamar yang sangat luas itu. design dan interior dalam ruangan itu sangat mewah dan megah. Ia sedikit ragu apa iya dia dan Via akan bermalam di kamar hotel semewah ini? Cila meletakkan kedua koper yang sedari tadi diseretnya ikut pontang panting mengejar langkah sang pak bos, lantas melepaskan sepatu Via dan menyelimuti tubuh Via yang masih tampak lemas. Nafasnya terdengar sangat pelan.
“Sebentar lagi dokter akan datang. Kamu temani saja Via istirat disini, setelah Via baikan kalian boleh ke kamar kalian.” Ucap Danar kemudian langsung keluar ruangan.
Kaaan?? Beneran, ini memang bukan kamar buat gue sama Via? Mana ada kamar karyawan mewah begini?
Batin cila yang siap-siap mengambil tempat di sisi lain ranjang yang super lebar dan empuk itu untuk barbaring sejenak sekedar meluruskan kakinya yang terasa pegal.
“Hhhh…. Kapan lagi tiduran di kamar Pak Bos yang super mewah gini?” Gumam Cila seraya tersenyum.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hi, readers tersayang akoh semuanya…..
Terima kasih sudah selalu setia ngikutin cerita dan mendukung otornya ya 🙏🙏🙏❤️❤️❤️
Jempol mana jempol….?😂😂
Komennya juga yaaa….😁😁
Mohon dimaafkan kalau banyak typo dan kesalahan. lagi ngejar up nih ceritanya. 😆😆
Sehat-sehat ya semuanya 🙏😇😇
__ADS_1
Love you all pokokmen!🤗🤗🤗😘😘😘