
“Kemana sih dia? Katanya udah ada disini?” Bu Elin sedikit celingukan mencari seseorang setelah duduk di kursi empuknya.
“Apa Ibu ada janji dengan seseorang?” Tanya Via pada Bu Elin.
“Iya, tadi Danar telpon minta ketemuan di sini.” Sahut Bu Elin seraya meraih ponselnya dari dalam tas.
Deg!
Danar?
Akhirnya hal yang paling Via khawatirkan akan terjadi juga. Ia akan lebih sering ketemu Danar setelah dirinya menerima tawaran kerja dari Bu Elin. Via berusaha tenang dan menguasai dirinya.
Emang Danar itu siapa sih? Dia bukan siapa-siapa! Dia cuman laki-lak biasa yang kebetulan anak angkat dari Bu Elin. Aku nggak boleh begini. Via bermonolog dalam hati.
Eh, emangnya aku kenapa? Emangnya Danar juga kenapa? Aku sama dia nggak kenapa-napa kan? Nggak ada apa-apa kan? Ish, kok aku jadi merasa aneh sendiri sih?
“Vi?” Bu Elin membuyarkan batin Via.
“Oh, eh iya Bu?” Sahut Via agak tergagap.
“Kita pindah ke dalem, Danar udah nunggu di sana ternyata.” Ajak Bu Elin yang sudah berdiri, rupanya tadi ia berkirim pesan dengan Danar selagi Via sibuk dengan monolog dalam hatinya.
Via segera bengkit mengikuti Bu Elin ke bagian dalam restoran yang lebih private. Ternyata private room restoan itu cozy banget, keseluruhan ruangannya didominasi dengan warna pastel dan biru dongker.
“Ah, itu dia!” Seru Bu Elin begitu melihat Danar.
Danar yang melihat ibu angkatnya datang bersama Via jelas sekali terlihat sangat terkejut, namun ia segera menyetel wajah rupawannya dengan senyuman manis nan memikat yang sanggup membuat kambing lewat pun klepek-klepek dibuatnya, wkwkwkk....
Danar segera menyambut kedatangan Bu Elin dengan mencium punggung tangannya, sementara ia dan Via hanya saling mengangguk dan melempar senyuman.
“Ibu kok bisa sama Via?” Pertanyaan itu langsung meluncur begitu saja.
“Iya, untung ada Via.” Bu Elin menyahuti agak sebel.
“Maksud Ibu?” Danar mengernyitkan dahi heran.
“Oh, iya. Apa Ibu belum bilang kalo Via sekarang akan bekerja dengan kita mengurus resort?” Tanya Bu Elin yang ingat kalau belum memberitahukannya pada Danar.
Danar menggeleng pelan, kemudian melihat pada Via dengan tatapan dan senyum samar.
Eh, kenapa dia ngeliatin aku sambil senyum begitu?
“Tadi itu untung ibu ajakin Via buat presentasi konsep yang udah kamu ajuin. Kamu tau hasilnya? Via luar biasa, nggak salah emang ibu menerimanya.” Bu Elin memuji dangan menatap Via bangga.
“Oh, jadi itu tadi yang buat konsepnya..?”
“Iya, itu Danar yang bikin, Vi. Tapi karena dia ada pertemuan dengan klien mendadak ya jadi saya ajakin kamu deh.” Papar Bu Elin.
“Makasih ya, Vi. Kamu udah bantuin presentasi.” Ucap Danar.
Via hanya membalas dengan senyuman.
“Terus, gimana tadi hasil pertemuan kamu dengan klien dari luar kota itu?” Tanya Bu Elin pada Danar.
“Biasa aja, kayaknya kita nggak usah menerima tawaran kerjasama dengannya.”
“Kok gitu?”
“Dia minta komisi yang terlalu besar.”
“Ck, kamu itu kenapa kaku banget jadi orang? Harusnya kamu bisa negosiasi, kan sayang kalo kita nggak bisa manfaatin peluang ini.”
Danar hanya mengangkat bahu acuh.
“Ya udah deh, kalian pesan makanan duluan.” Ucap Bu Elin karena melihat waiter sudah datang membawakan daftar menu. “Ibu mau ke toilet sebentar.” Bu Elin bangkit meninggalkan mereka berdua.
Kecanggungan segera menyergap Via dan Danar, untungnya ada mas waiter yang berdiri menjadi orang ketiga diantara mereka.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Danar kemudian.
Via melihat ke daftar menu. “Aku mau spicy salmon teriyaki.”
“Kamu suka salmon?” Tanya Danar melirik Via.
Via hanya mengangguk karena matanya masih menekuni daftar minuman. “Minumnya fruite tea aja deh.” Putus Via seolah tak menemukan minuman yang diinginkannya.
“Spicy salmon teriyaki dua sama fruite teanya juga dua ya.” Ucap Danar pada waiter.
Eh, kok dia nyama-nyamain aku sih pesen makannya?
“Baik, mohon ditunggu sebentar.” Pelayan mengangguk sopan sebelum pergi meninggalkan mereka.
Canggung lagi. Danar lebih berusaha untuk menerima kenyatan bahwa perempuan yang bersamanya kini adalah istri orang, makanya dia kelihatan lebih banyak diam. Sedangkan Via juga sibuk menata hati dan pikirannya agar tak tergoda dengan pesona Danar yang menghanyutkan.
“Danar, ibu harus pergi duluan nih. Ayah kamu barusan nelpon ngajakin ibu mengahdiri acaranya Pak wali kota.” Bu Elin muncul dengan agak tergesa sambil merapikan pakaiannya.
What? Bu Elin mau pergi? Terus aku gimana dong…
“Danar, nanti tolong kamu anterin Via pulang ya?” Pinta Bu Elin pada Danar.
“Emh, saya naik taxi aja, Bu. Motor saya kan masih di kantor.”
“Kalo gitu Danar anterin kamu ke kantor. Saya minta maaf ya, Vi. Harus buru-buru karena suami saya mendadak menghubingi saya begini.” Bu Elin mengusap lembut bahu Via. “Danar, antein Via ke kantor, oke?”
Danar mengangguk.
“Oya, besok saya kabarin kamu lagi ya, Vi. Karena tim kamu belum beres, jadi nggak papa ya saya kasih jadwal kerjakaan kamu masih acak-acakan?” Bu Elin merasa kurang enak hati pada Via. “Sambil kita tunggu calon managernya lagi di trining dulu.” Lanjut Bu Elin agak berbisik melirik pada Danar.
Lagi-lagi Via hanya tersenyum.
Setelah Bu Elin pergi tak lama waiter datang membawakan makanan mereka. Mereka pun sejanak larut dalam aktifitas masing-asing menikmati makan siang mereka, meski sebenarnya hati Via sangat tak tenang. Diam-diam ia berdoa memohon keajaiban agar tak usah pulang sama Danar.
“Oya, kamu kok bisa kerja di kantor ibu, Vi?” Danar membuka obrolan disela-sela makannya.
Via lega kerana Danar memecah kebisuan diantara mereka.
“Iya, itu Khusni yang carikan. Aku juga nggak tau sebelumnya kalo mau diajakin kerja di tempat Bu Elin.” Sahut Via mulai bisa bersikap biasa.
__ADS_1
“Emangnya kalo kamu tau lebih dulu, kamu nggak bakalan mau ya?”
Via menghentikan makannya, melihat Danar sekilas lantas mengambil gelasnya. Danar memperhatikan Via yang lagi minum.
“Kamu … nggak mau kerja di tempat ibu?” Tanya Danar lagi.
“Emh, aku nggak bilang begitu.” Sahut Via kemudian melanjutkan makannya. “Kenapa kamu bisa berpikiran kayak gitu?” Gantian Via yang menodong Danar.
“Dari mana kamu tau kalo aku punya pikiran kayak gitu?” Danar malah balik nanya.
“Kan kamu tadi yang nanya kayak gitu duluan?”
“Kan aku cuman nanya aja.”
Via mengalah, ia memilih segera menghabiskan makan siangnya.
“Kamu mau es krim nggak?” Tanya Danar seusai makan.
“Eum …, lain kali aja deh. Aku udah kenyang.”
“Ok, kalo gitu aku pesen es krimnya satu aja. Kamu nggak buru-buru kan?”
Via menggelang, apa mau dikata ia tepaksa tinggal lebih lama berdua dengan Danar yang baru saja memesan es krim seusai makan siang.
Drrrrt .... drrrrrt ….
Ponsel Via begetar sepertinya ada panggilan masuk, Via cukup senang juga karena ia nggak harus bengong menunggui Danar makan es krim.
“Om Jaka?” Gumam Via melihat layar ponselnya. “Halo, Om. Assalamualaikum.”
“Wa alaikumsalam, elu di amna, Vi? Gue ada di rumah elu nih sama Denaya.” Sahut Om Jaka dari seberang.
“Hah? Ada di rumah aku? Ngapain Om?” Kok nggak ngasih kabar dulu sih?” Via agak terkejut juga.
“Ya maen lah, masa mau razia! Gimana sih lu, orang didatengin Omnya malah nanyanya aneh-aneh, bukannya seneng gue ama bini gue dateng mau silaturahmi. Kan kita udah lama nggak ketemu? Dasar ponakan kagak berperasaan lu!” Omel Om Jaka bertubi-tubi.
Via malah nyengir diomelin begitu sama Om Jaka hingga membuat Danar yang baru saja menerima es krimnya mengernyitkan kening menatap Via heran.
“Iya deh, maaf. Tapi aku lagi di luar nih Om.”
“Iye, diluarnya dimana? Gue samperin dah! Bini gue nih ngebet banget pingin ketemu elu! Tau deh, kayaknya sih mau curhat dia! Mau berbagi pengalaman malam pertama kayaknya!” Papar Om Jaka asal yang kemudian terdengar jeritan melengking karena Om Jaka baru saja dihadiahi cubitan maut di pinggangnya oleh Denaya.
“Eh, kenapa Om? Kok teriak begitu?” Via agak kaget.
“Nggak papa, Vi. Kejepit pintu mobil nih jari gue!”
“Waduh! Kok bisa Om?”
Om jaka masih mengusap-usap pinggangnya dengan Denaya melotot disampingnya. Sesaat kemudian Via mendapatkan ide cemeralang.
“Halo, Om? Masih disitu kan?”
“Iya iya Vi”
“Om Jaka sama Denaya nyusul aja ya kesini, aku lagi di Safana Restaurant nih.”
“Eh, lagi ngapain lu? Sama siapa?”
“Ok, shareloc ya. Gue kesana sekalian makan siang deh, kebetulan banget kita juga belum makan.”
KLIK
Om Jaka mengakhiri panggilanngya. Hati Via senang bukan main, ternyata Tuhan Maha Baik mengabulkan doanya yang diam-diam. Yess, dia akan minta pulang bareng Om Jaka dan Denaya, jadi nggak usah pulang bareng Danar.
“Om aku sama istrinya mau nyusul kesini, boleh kan?” Tanya Via pada Danar.
“Boleh, kenapa nggak?” Danar cuek terus menyendokkan es krim ke dalam mulutnya.
“Oya, aku mau shalat dzuhur dulu. Di sini ada musholanya kan?” Lagi-lagi Via mendapatkan ide agar nggak lebih lama berduaan dengan Danar.
“Ada. Mau aku anterin?”
“Nggak usah, aku tanya waiter aja.” Via bangkit.
Danar menatap kepergian Via, lantas menghempaskan punggung jengah ke sandaran kursi. Es krim kesukaannya yang tadi asyik dinikmati kini dibiarkan mencair begitu saja.
Hampir lima belas menit berlalu, Via kembali dan Danar nampak sibuk dengan ponselnya.
“Udah selesai?” Tanya Danar pada Via yang duduk kembali di tempatnya.
“Udah.”
Danar pun gantian pergi meninggalkan Via dan Via nggak bertanya Danar mau kemana. Via membuka ponselnya mendapati pesan dan panggilan tek terjawab dari Om Jaka. Ketika Via hendak berdiri mencari Omnya yang kemungkinan sudah sampai, Om Jaka dan Denaya terlihat menghampirinya.
“Ya elah, gue telponin lu malah kagak dijawab!” Om jaka langsung ngomel sementara Via cipika cipiki dengan Denaya.
“Tadi abis sholat, Om.” Sahut Via seraya menggandeng Denaya duduk di sampingnya.
“Temen lu mana? Tadi kataya lagi sama teman?” Om Jaka celingukan.
“Lagi ke mushola.”
“Han, kamu mau makan apa?” Tanya Om Jaka kemudian pada Denaya.
“Apa aja deh, Beb. Aku ngikut aja.” Denaya nggak mau ikut pusing, karena dia langsung antusias berbagi cerita tentang perjalanannya ke Jakarta beberapa waktu yang lalu sampai dengan acara bagi-bagi sembako gratis ide suaminya sebagai ganti acara resepsi pernikahannya.
“Hemm, perempuan kalo udah ngerumpi jadi lupa sama laki!” Gerutu Om Jaka setelah memesan makanan pada waiter.
“Wah, hebat banget! Keren itu, aku salut deh sama Om. Idenya luar biasa.” Puji Via tulus.
“Iya, cuman mertua elu aja yang kagak suka sama ide gue!” Om Jaka keki.
Denaya menyenggol lengan suaminya dengan sikunya. “Udah ah, jangan bahas itu.”
“Eh, Danar. Kenalin ini Om Jaka, dan ini Denaya istrinya.” Ucap Via memperkenalkan mereka begitu Danar kembali.
“Jadi temen elu laki?” Ceplos om Jaka sambil menjabat tangan Danar.
__ADS_1
“Saya teman kerja Via, Om.” Balas Danar dengan senyuman seolah ingin mengklarifikasi pikiran Om jaka.
“Teman kerja? Sejak kapan elu kerja, Vi?” Om Jaka makin heran.
“Sejak kemarin, hehe…” Via malah nyengir.
“Oke, setelah ini kamu harus ceritain semuanya. Om mau makan dulu, laper banget soalnya.” Putus Om Jaka yang mendapati pesanan makanannya sudah datang.
Via dan Danar saling tatap sejenak, kemudian keduanya menunduk dan sama-sama meraih ponselnya untuk pura-pura menyibukkan diri.
“Nah! Sekarang ceritain kenapa kamu mendadak jadi wanita karir?” Om Jaka mendorong piringnya yang sudah kosong.
“Minum dulu lah Beb, nggak sabar amat nanyain Via. Kayak mau ngintrogasi maling aja!” Protes Denaya menyodorkan minuman untuk suaminya.
Om Jaka menyedot minumannya, lantas kembali ke pertanyaannya semula pada Via.
Via malah senyum, bingung juga mau nyeritain dari mana. Intinya dia cuman bilang kalo dia jenuh di rumah dan dia minta ijin sama Mirza untuk cari kerjaan, eh nggak lama teman Mirza datang nawarin kerja di tempat ibu angkatnya Danar.
“Wah, menarik juga tuh. Boleh kalo gue ikut kerja sama di pengembangan resort bos elu, Vi?” Om Jaka jadi antusias setelah mendengarkan cerita Via.
Via malah menatap tak yakin.
“Om Jaka serius?” Tanya Danar.
“Apa muka gue kelihatan kayak lagi ngelawak?” Om Jaka balik bertanya.
“Pelan-pelan aja, Beb. Nggak usah buru-buru kalo mau investasi lagi. Kita kan baru aja selesai dengan perusahaan yang lama.” Denaya mengingatkan.
“Tapi ini beneran peluang bagus, Han. Kita udah pernah membahasnya kan? Kita memang punya keiginan untuk kembali invest di kota setelah semua urusan di Jakarta selesai kan?” Om Jaka ingat rencananya semula dengan istrinya.
Denaya hanya mengiyakan.
“Kalo Om beneran tertarik, nanti bisa ketemu dengan ibu saya.” Ucap Danar.
“Oke, kapan itu? Jangan lama-lama ya, gue udah kebelet nih!”
“Sebelah sana ada toilet, Om! Gratis!” Timpal Via kesal akrena Omnya mulai somplak.
Selanjutnya Om Jaka terlibat pembicaraan yang sangat serius dengan Danar membuat Via dan Denaya menarik diri dan memilih untuk kembali ngerumpi, Denaya memerlihatkan foto-fotonya selama di Jakarta. Via menanggapi dengan sesekali diselingi tawa renyah. Beberapa kali danar tampak mencuri pandang ke arah Via yang asyik dengan Deanaya.
“Emh, Vi. Kamu bisa atur jadwal ketemu Om Jaka dengan Ibu?” Tanya Danar seolah ingin Via ikut dalam pembicaraan seriusnya.
“Oh, kenapa? Eh, maksudku, kapan itu?” Via agak tergagap.
“Om Jaka bisanya kapan?” Danar bertanya pada Om Jaka.
“Gue sih free, terserah aja.”
“Oke, aku hubungi Sera dulu ya, minta jadwalnya Bu Elin nanti.”
Danar mengangguk.
Setelah dirasa cukup, mereka pun beranjak dari restoran.
“Emh, Danar, aku pulang sama Om Jaka dan Denaya ya, soalnya mereka juga mau sekalian mampir ke rumah.” Ucap Via ketika sampai di parkiran.
“Oh, oke.” Sahut Danar mengangguk pelan. Ia pun terpaksa harus merelakan Via pulang dnegan Om Jaka, padahal hatinya sudah sempat berbunga-bunga bermekaran kala ibunya mengamanatkan mengantar Via pulang ke kantor.
“Vi, cuman persaan aku aja apa beneran ya? Danar kayaknya ada sesuatu deh sama kamu.” Bisik Denaya sebelum mereka masuk mobil.
Via kaget demi mendengar penuturan Denaya. “Sesuatu Apaan?”
“Dia ada hati kayaknya sama kamu.”
“Ngaco, ah!”
“Beneran. Dari cara dia natap kamu, aku yakin dia kayaknya ada perasaan khusus sama kamu.”
“Dena, kamu jangan mengada-ada deh.” Lirih Via.
“Ya, moga aja aku salah. Kamu hati-hati ya, dia bahaya banget buat kamu. Apa dia masih single?”
Via mengangguk. Danaya dan Via saling diam. Via membatin, ternyata Denaya bisa menangkap gelagat mencurigakan dari Danar.
“Hoy! Kalian ngapain masih aja pada bengong disitu? Mau gue tinggal?” Om Jaka menyembulkan kepalanya dari balik jendela mobil.
“Haish, ngomel aja deh kamu Beb!” Balas Denaya sebel.
Via dan Denaya pun bergegas masuk mobil. Denaya duduk di jok belakang sama Via seraya menyerahkan bingkisan untuk Via yang tadi sempat dibahasnya di restaurant.
“Eh, kamu kok duduk di belakang sih, Han?” protes Om Jaka.
“Sekali-kali lah. Udah cepetan jalan, bawel deh!” Perintah Denaya yang kemudian asyik ngerumpi lagi sama Via. Via terpeseona dengan kain sutra Madukara pemberian Denaya.
“Heem, nasib … nasib …. Gini nih kalo nyupirin emak-emak, kagak dianggep!” Om Jaka menggerutu sendiri sambil terus melajukan mobilnya menuju kantor Via.
❤️❤️❤️❤️❤️
Naaah, gitu deh.... ☺️☺️☺️
Ada yang ikut khawatir atau seneng nggak nih dengan kedekatan Via dan Danar?😂😂
Dukung othor selalu yaa dengan tinggalkan jejak disini 😍😍
Terima kasih sudah membaca.🙏🙏
luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1